Garuda Indonesia membuka lowongan kerja untuk lulusan S1 sebagai awak kabin di Makassar dan Manado. Daftar sebelum 7 Oktober 2024 melalui website atau email. [268] url asal
Maskapai penerbangan Garuda Indonesia membuka lowongan kerja untuk lulusan sarjana atau S1. Lowongan kerja yang dibuka untuk divisi awak kabin di Makassar dan Manado.
Pembukaan lowongan kerja telah berlangsung sejak 3 Oktober dan akan ditutup pada 7 Oktober 2024 pukul 23.59. Bagi yang ingin melamar lowongan tersebut bisa dilakukan di website https://career.garuda-indonesia.com.
Selain itu, lamaran kerja juga bisa dilakukan via email ke fa.recruitment@garuda-indonesia.com. Subjek untuk email lamaran FA 2024. Lamaran bisa dilakukan pada Senin-Jumat pukul 08.00 sampai 16.00 WIB.
Simak syarat umum untuk lowongan awak kabin Garuda Indonesia
1. Wanita dan Warga Negara Indonesia (WNI) 2. Belum menikah (tidak pernah menikah) 3. Sehat jasmani dan rohani 4. Tidak memiliki pengalaman sebagai awak kabin 5. Fasih berbahasa Inggris dengan kemampuan komunikasi yang baik (kemampuan bahasa asing lainnya menjadi nilai tambah) 6. Berorientasi pada pelayanan, berdedikasi, dan berpengalaman dalam interaksi langsung
Persyaratan Khusus Lowongan Kerja Garuda Indonesia
1. Sarjana (S1) 2. Usia minimal 21 tahun dan maksimal 26 tahun 3. Tinggi badan minimal 160 cm dengan berat badan dan postur tubuh yang proporsional 4. Tidak menggunakan kacamata selama proses seleksi dan pelatihan (sangat disarankan menggunakan lensa kontak dengan maksimal minus 5.00 dan silinder 2.00) 5. Bersedia mengikuti semua tahapan seleksi rekrutmen awak kabin
Dokumen yang harus disiapkan
1. Surat Lamaran & Curriculum Vitae 2. Foto Kartu Identitas (KTP) 3. Fotokopi ijazah Sarjana (S1) Sertifikat 4. Vaksin Covid dosis 1-3 5. Resep kacamata dari Dokter Spesialis Mata 6. Persyaratan Foto: • Satu lembar foto seluruh badan ukuran postcard • Satu lembar foto tampak samping • Satu lembar foto close-up ukuran 4x6
Menjadi awak kabin mungkin adalah cita-cita banyak orang. Dapat dilihat dari selalu tingginya antusiasme pendaftar hingga berasal dari berbagai daerah. Sehingga, perjalanan mencapainya pun juga tak mudah.
Selain harapan memiliki pendapatan yang di atas rata-rata, banyak juga yang berkeinginan mendapatkan pengalaman bekerja sambil liburan atau mengunjungi berbagai destinasi. Ya, hal itu mungkin dicapai jika menjadi pramugari ataupun pramugara.
Namun di balik itu, ada cerita perjuangan tak mudah bagi setiap awak kabin. Kru kabin dituntut memiliki berbagai keahlian, seperti bahasa asing, attitude yang baik, ketangkasan evakuasi, memadamkan api, hingga melayani. Tak hanya itu, tantangan pun juga hadir dari tekanan yang dimiliki dari setiap pribadi.
Misalnya yang dituturkan oleh awak kabin yang sedang menjalani pelatihan di Lion Group, yakni Chreisna Bayu. Ia adalah putra daerah Kalimantan Utara, yakni tepatnya berasal dari Tanjung Selor.
Sebagai putra daerah, ia menuturkan perjalanan yang ditempuh untuk menjadi awak kabin dilakukan dengan tidak mudah. Ia bukan berasal dari keluarga yang tersohor, ayahnya adalah buruh bangunan dan ibunya merupakan ibu rumah tangga dan memiliki usaha makanan.
Sebelumnya ia berkarir di bidang kreatif, seperti menjadi MC di beberapa event dan pelatih marching band. Lalu di tengah kebingungan karir, tercetus keinginannya untuk menjadi seorang pramugara.
Namun, banyak kerabatnya yang pesimis dengan keinginannya karena anggapan standarisasi awak kabin yang terlalu tinggi. Selain itu, ada pula keberatan dari keluarga yang turut menambah tekanan di dirinya.
"Saya dan adik-adik saya dari kampung itu kita berpikiran kalau menjadi seorang pramugara atau pramugari itu harus cantik, harus tinggi, harus orang kota, kita mikir dulu kan kayak gitu ya. Setelah itu, harus punya banyak uang karena kita mikir untuk sekolahnya itu mahal sekali gitu kan," imbuhnya kepada detikcom di kawasan perkantoran Lion Group, Kabupaten Tangerang, Senin (9/9/2024).
Chreisna menjelaskan bahwa soal finansial adalah salah satu penghalangnya. Karena berasal dari keluarga sederhana, ia berambisi untuk langsung lolos dalam percobaan pertama. Hal itu mengingat biaya perjalanan dari rumah ke Jakarta cukup tinggi. Ia pun memiliki motivasi tersendiri untuk menjadi pembuka jalan bagi kerabatnya di daerah.
"Jadi saya ke sini itu sebenarnya antara direstui dan tidak direstui gitu. Direstuinya ya selagi baik, selagi saya pengen saya bisa menjalani, nggak direstuinya kayak nanti bagaimana kehidupannya di sini itu biayanya besar loh. Orang tua juga nggak bisa sanggup buat membiayai secara terus-menerus," tuturnya.
Profesi sebagai awak kabin, pramugari dan pramugara, tak hanya terpandang, tapi juga sarat tantangan. Ada jalan panjang yang harus ditempuh. (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Dan beruntungnya ia, dapat langsung lolos dalam percobaan pertama. Selain itu, ia pun dibebaskan dari biaya-biaya pendidikan untuk menjadi kru kabin.
"Saya memberanikan diri untuk mencoba menjadi seorang pramugara agar nantinya kedepannya adik-adik saya, teman-teman saya yang ada di kampung, yang ada di perbatasan Kalimantan Utara itu bisa mengikuti jalan saya untuk berkarir di penerbangan. Stigma orang-orang Kalimantan, teman-teman saya yang ada di pedalaman bahwa menjadi seorang Flight attendant seorang pramugara atau pramugari itu harus mengeluarkan biaya besar. Itu salah, sebenarnya cukup punya kemampuan bisa berbahasa Inggris, attitude dan behaviornya itu lebih ditingkatkan lagi menjadi lebih baik, kita bisa kok menjadi seorang pramugari dan pramugara," jelasnya.
Cecilia Natasha Wulan Febryan, Kru kabin Lion Group. (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Tak hanya Chreisna, ada pula Cecilia Natasha Wulan Febryan. Cecil, sapanya, adalah teman satu angkatan dari Chreisna. Ia pun juga menuturkan tantangan yang juga cukup sulit pernah dialami.
Ia yang sempat mengambil sekolah penerbangan di kampung halamannya Bali, lebih dulu malang melintang di berbagai pekerjaan karena pandemi. Berbagai pekerjaan telah ia cicipi, misalnya saja menjadi waitress, SPG di toko elektronik, hingga pasasi di bandara.
Lalu, berawal bekerja di pasasi dan kerap melihat pramugari yang rupawan, ia pun berkeinginan untuk mencoba peruntungan. Namun perjalanannya tak bisa dibilang mulus. Terhitung ia mesti mencoba hingga tiga kali.
"Saya kan gampang putus asa masalahnya, jadi saya udah kayak 'kayaknya aku nggak bisa deh'," ujarnya.
Beruntung, Ia berhasil menjaga dan menguatkan mentalnya kembali hingga menjadi pramugari. Namun, perjalanannya belum berhenti, ada beberapa hal yang mesti dikuasai. Cecil pun sempat kaget karena ternyata menjadi pramugari tak semudah yang dilihat.
"Lumayan panjang kan recruitmennya itu, saya lolos terus ternyata. Saya mikir, saya kira Pramugari itu gampang masuknya, kayak kerja biasa pas sekali sekali ngelamar besoknya kerja udah kerja gitu. Ternyata nggak, ada psikotes, English test, kayak banyak kan, terus med test juga gitu," terangnya.
Tentunya, cerita mereka berdua adalah contoh dari sekian banyak cerita perjuangan dari para awak kabin meraih cita-citanya. Nah, apakah para traveler memiliki cita-cita serupa?
Awak kabin dituntut harus tangkas melayani kebutuhan penumpang di udara. Tak hanya itu, mereka juga ternyata wajib bisa bertindak cepat di air. [598] url asal
Awak kabin dituntut harus tangkas melayani kebutuhan penumpang di udara. Tak hanya itu, mereka juga ternyata wajib bisa bertindak cepat di air.
detikcom berkesempatan mengunjungi komplek perkantoran Lion Group di Balaraja, Kabupaten Tangerang, pada Senin (9/9/2024). Di sana, kami diajak mampir melihat berbagai pelatihan pramugari dan pramugara di Lion Group Training Center (LGTC).
Salah satu yang kami saksikan adalah praktik evakuasi awak kabin yang dilakukan di air. Saat kami berkunjung, para awak kabin terlihat tengah dibimbing dan diberi instruksi oleh para instruktur senior terkait praktik-praktik simulasi penyelamatan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam simulasi ini, mereka terlebih dahulu melakukan pemanasan. Setelah itu, para kru memasuki sesi pemasangan kanopi di perahu karet evakuasi. Pemasangan kanopi tersebut dikhususkan untuk evakuasi di malam hari. Adanya kanopi di atas perahu karet dapat menangkal angin malam yang dingin, sehingga kondisi para penumpang bisa agak hangat.
Adapun perahu karet evakuasi tersebut dapat menampung puluhan orang sekaligus. Perahu ini siap sedia di setiap pesawat dan akan digunakan jika terjadi kegentingan ataupun jika dibutuhkan.
Kemudian, para awak kabin pun diinstruksikan melakukan teknik evakuasi di dalam air. Tetapi sebelumnya, mereka diwajibkan menggunakan pelampung terlebih dulu. Dari mockup pesawat Boeing 737 di tepi kolam, para pramugari dan pramugara terjun ke air.
Di dalam air, mereka pun diberi beberapa simulasi penanganan. Seperti misalnya cara menaiki perahu evakuasi, turun dari perahu, hingga mengusir hewan buas semisal ada hiu.
Awak kabin Lion Group yang tengah melakukan pelatihan evakuasi di air. (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Pasalnya, dalam kondisi krisis, para penumpang dan awak kabin tak bisa memilih tempat mendarat. Bisa saja mereka mendarat di laut lepas. Tentunya, ketangkasan awak kabin di air pun juga dibutuhkan, tak kalah ketangkasannya di udara.
Sesi pelatihan evakuasi di air tersebut adalah salah satu pelatihan yang wajib dilakukan para kru kabin di Lion Group. Selain itu, setiap 12 bulan sekali para pramugari atau pramugara juga diwajibkan mengikuti praktik itu lagi. Hal itu disebut agar para kru selalu ingat terkait metode evakuasi dan siap siaga di setiap perjalanannya.
"Melalui pelatihan yang komprehensif ini, Lion Air Group memastikan bahwa setiap pramugari dan pramugara siap memberikan pelayanan prima dengan sepenuh hati," ujar Corporate Communications Strategic of Lion Group, Danang Mandala Prihantoro, kepada detikcom.
Di sisi lain, salah satu awak kabin yang baru bergabung, Chreisna Bayu, mengaku terkejut dengan tugas dan tanggung jawab yang berat yang dimiliki para kru penerbangan.Tak hanya tampil rupawan, mereka juga dituntut mampu melayani hingga paham teknik evakuasi.
"Semakin kita mempelajari tentang safety semakin takut kita, tapi merasa semakin aman juga gitu. Jadi knowledge sama yang kita dapati di sini itu sudah terlatih dan udah bisa kita terapkan," ujar Chreisna, dalam sesi wawancara.
Penerbangan United Airlines dialihkan karena masalah medis yang dialami oleh penumpang. Satu pesawat sampai menderita.
Dilansir dari Fox Business pada Selasa (30/7/2024), penerbangan UA2477 itu take off dari Houston menuju Boston. Armada Boeing 737-800 itu mengangkut 155 penumpang.
Menurut FlightAware, pesawat itu meninggalkan Bandara Interkontinental George Bush pada Minggu pukul 09.30. Pesawat itu tiba di Bandara Internasional Dulles sekitar pukul 13.30.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penerbangan itu berangkat dari Virginia tak lama setelah pukul 17.15 waktu setempat dan diperkirakan tiba di Bandara Internasional Logan tak lama sebelum pukul 20.00 waktu setempat.
Menurut audio yang diunggah di RadarBox.com, seorang anggota kru dilaporkan menggambarkan situasi dengan "cukup buruk."
"Saya berbicara dengan kru dan sepertinya di sana situasinya cukup buruk, masih sangat buruk," kata karyawan tersebut.
"Kru muntah-muntah dan penumpang di sekitar mereka meminta masker," dia menambahkan.
Usai mendarat, pesawat menjalani pembersihan menyeluruh. Perwakilan maskapai sedang berupaya agar penumpang dapat segera berangkat ke Boston.
Seorang juru bicara Bandara Internasional Dulles mengatakan kepada FOX Business bahwa tidak ada yang dibawa ke rumah sakit setelah pesawat mendarat.
"Tidak ada penumpang atau kru yang dirawat atau dipindahkan saat pesawat tiba di Bandara Internasional Dulles," kata juru bicara tersebut.
"Karena ini merupakan 'biohazard', saya rasa kami mungkin perlu mendaratkan pesawat ini secepatnya," tambah anggota kru tersebut.
Tidak diberitahu dengan jelas apa 'biohazard' yang dimaksud.