#30 tag 24jam
Bahan Bakar SAF Lebih Mahal, Maskapai: Manajemen Traffic Udara Lebih Penting
Penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau SAF sudah dimulai di Indonesia. Namun harga yang lebih mahal bikin maskapai pusing. [800] url asal
#sustainable-aviation-fuel #bahan-bakar-berkelanjutan
(detikFinance) 26/09/24 14:05
v/15598787/
Denpasar - Penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) sudah dimulai di Indonesia. Namun harga bahan bakar yang lebih mahal bikin maskapai pusing, yang bayar siapa, konsumen apa maskapai?
Soal harga bahan bakar ini jadi masalah selama beberapa waktu terakhir, yang bikin harga tiket meroket. Penggunaan SAF memang membuat industri ini lebih berkelanjutan, tetapi ada kekhawatiran yang disampaikan maskapai.
CEO Airasia Group Tony Fernandes agak khawatir mengenai SAF ini. Poin pertama dia menilai ada industri lain yang bikin emisi CO2 tak kalah tingginya dari industri penerbangan tetapi selalu industri penerbangan yag disorot.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tony mengatakan industri itu adalah kecerdasan buatan (AI) dan mata uang kripto. Keduanya sama-sama haus daya dan membuat emisi yang tak kalah besar.
Menurut data IMF, listrik yang digunakan oleh peralatan berdaya tinggi untuk "menambang" aset kripto sangat besar, satu transaksi Bitcoin memerlukan jumlah listrik yang kira-kira sama dengan yang dikonsumsi rata-rata di Ghana atau Pakistan dalam tiga tahun. Setiap kueri yang dimasukkan ke ChatGPT memerlukan listrik 10 kali lebih banyak daripada pencarian Google, karena listrik yang dikonsumsi oleh pusat data AI.
Penambangan kripto dan pusat data bersama-sama menyumbang 2 persen dari permintaan listrik dunia pada tahun 2022. Dan pangsa itu kemungkinan akan naik menjadi 3,5 persen dalam tiga tahun. Berdasarkan proyeksi dari Badan Energi Internasional, itu akan setara dengan konsumsi Jepang saat ini, pengguna listrik terbesar kelima di dunia.
Sementara menurut Tony, industri penerbangan menyumbang sekitar 2-3 persen emisi global. "Tapi kenapa selalu kami (penerbangan) yang disorot. Jika Anda lihat AI, bitcoin, maka penerbangan akan terlihat sangat kecil. Data center ChatGPT itu konsumsi daya listriknya sangat besar, tapi penerbangan yang dapat perhatian lebih besar dari pemerintah dibanding industri itu," ujarnya dalam sebuah forum di Bali beberapa waktu lalu.
Sebagai maskapai penerbangan, lanjut Tony, peran untuk menurunkan emisi memang terbatas, yang paling berperan adalah produsen pesawat. "Mereka harus memberikan teknologi yang lebih baik dan mereka saat ini cukup memberikan hal itu, efisiensi pesawat juga lebih bagus, jadi produsen berperan lebih penting dalam hal emisi nol," ujarnya.
"Kekhawatiran saya dengan SAF apa kita bisa membuat perbedaan dengan kontribusi 2-3 persen. Dan jika melihat struktur biayanya, sekarang dibandingkan dengan bahan bakar jet, harganya lebih mahal siapa yang bayar? Apakah konsumen?," ujarnya.
Dari berbagai sumber, harga SAF sekitar 1,5 sampai 6 kali lebih mahal dibanding bahan bakar jet tradisional.
Menurut informasi dari seorang pejabat perusahaan penerbangan di tanah air, per bulannya, maskapai harus mengeluarkan biaya tambahan Rp 12 miliar untuk menggunakan SAF.
Dirut Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam kesempatan terpisah mempertanyakan struktur tarif yang sama. Dia mengatakan alangkah baiknya jika harga SAF ini bisa sama dengan harga bahan bakar jet tradisional.
"Kita mesti menuju ke sana (SAF) dan kita kan sudah tes. Soal harga tentu harus didiskusikan bersama. Kalau naik siapa yang menanggung? Maskapai atau penumpang? Kalau harga sama apakah ada yang mau mensubsidi?," ujarnya.
Sebenarnya, menurut Tony Fernandes, ada cara yang lebih praktis dalam menurunkan emisi penerbangan yakni memperbaiki lalu lintas udara.
"Saya ingin bicara tentang hal yang bisa dilakukan saat ini, kadang kita kalau take off atau taxi itu lama. Kalau bandara dan lalu lintas bisa lebih baik, bisa menurunkan bahan bakar. Jika lebih cepat dan lebih tinggi pesawat terbang maka pesawat menggunakan lebih sedikit bahan bakar," ujarnya.
Tony Fernandes menyoroti pentingnya pembahasan tentang SAF yang sangat krusial bagi industri penerbangan.
"Saya berharap pemerintah benar-benar mempertimbangkan kebijakan ini dengan cermat, mengeksplorasi berbagai bahan baku, serta terus berkolaborasi dengan industri penerbangan terkait penggunaannya," ujar Tony.
Di Eropa, untuk penerbangan yang ingin masuk ke sana, harus mematuhi aturan SAF. Regulator Eropa mewajibkan maskapai menggunakan SAF sebesar 2% dari bahan bakar yang tersedia di bandara Uni Eropa pada tahun 2025, meningkat menjadi 6% pada tahun 2030, 20% pada tahun 2035 dan secara bertahap menjadi 70% pada tahun 2050.
(ddn/fem)
Pertamina Patra Niaga dan SGI-Bell Textron Inc Dorong Pemakaian SAF
Penyaluran SAF di Bandara Ngurah Rai ini menandai bahwa Indonesia dapat beradaptasi dengan tuntutan bauran energi di industri penerbangan internasional. [877] url asal
#pertamina-patra-niaga #bahan-bakar-berkelanjutan #saf
(detikFinance - Energi) 20/09/24 14:57
v/15289891/
Jakarta - PT Pertamina Patra Niaga terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi energi di sektor penerbangan melalui distribusi Sustainable Aviation Fuel (SAF). Pada perhelatan Bali International Airshow 2024 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, bekerja sama dengan Sayap Garuda Indah (SGI) dan Bell Textron Inc., helikopter Bell 407 menjadi yang pertama di Indonesia sebagai helikopter yang menggunakan SAF, menandai momen penting dalam mendukung dekarbonisasi di sektor penerbangan.
Dalam acara pengisian perdana dan demo penerbangan helikopter SGI di Bali International Air Show 2024 (19/09), Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan mengatakan bahwa komitmen distribusi Pertamina SAF menjadi komponen kunci dari tujuan keberlanjutan yang lebih luas, sehingga semakin banyak penggunaan SAF di armada penerbangan yang turut berperan mencapai carbon footprint yang lebih rendah di sektor penerbangan.
"Bila tahun lalu Pertamina SAF telah berhasil melalui flight test pada pesawat komersial berjenis Boeing 737-800 NG, saat ini SGI resmi mengadopsi Pertamina SAF untuk helikopter Bell 407 dan menjadi Helikopter pertama yang menggunakan SAF di Indonesia untuk mengurangi emisi karbon dan mendukung upaya global dalam memerangi perubahan iklim," jelas Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan, dalam keterangan tertulis, Jumat (20/09/2024).
Riva menambahkan bahwa momen penyaluran SAF di Bandara Ngurah Rai ini menandai bahwa Indonesia dapat beradaptasi dengan tuntutan bauran energi di industri penerbangan internasional, di mana saat ini SAF menjadi solusi jangka menengah bagi penerbangan untuk mengurangi jejak karbon, tanpa memerlukan perubahan pada pesawat, infrastruktur bandara, atau rantai pasokan bahan bakar jet.
Pertamina SAF sendiri telah memenuhi berbagai standar internasional, termasuk sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk program Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) dan Renewable Energy Directive-European Union (RED-EU).
Pertamina juga memastikan bahwa SAF ini aman digunakan, memenuhi standar yang ditetapkan oleh American Society of Testing and Materials (ASTM) dan terdaftar sebagai Corsia Eligible Fuel (CEF) oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).
"Sinergi ini tidak hanya mendorong teknologi penerbangan berkelanjutan tetapi juga menunjukkan visi bersama Pertamina Patra Niaga, SGI dan Bell dalam menciptakan masa depan penerbangan yang lebih bersih dan ramah lingkungan," tambah Riva.
Investasi SGI dalam SAF sejalan dengan komitmen mereka terhadap praktik berkelanjutan dan menunjukkan visi bersama untuk masa depan penerbangan yang lebih bersih.
"Di SGI, kami bangga berada di garis depan transformasi penerbangan menuju keberlanjutan di Indonesia. Adopsi SAF bukan hanya langkah dalam mengurangi emisi karbon, ini adalah komitmen untuk masa depan yang lebih baik bagi industri kami dan planet ini. Bermitra dengan Pertamina dan Bell Helicopters sangat selaras dengan tujuan ESG kami, memperkuat dedikasi kami terhadap inovasi dan tanggung jawab. Kolaborasi ini menjadi contoh kuat tentang bagaimana kita dapat mencapai dampak lingkungan yang berarti melalui kemitraan strategis, dan kami berharap dapat memperluas penggunaan SAF sebagai bagian dari misi kami yang lebih luas untuk memimpin jalan dalam penerbangan berkelanjutan di seluruh wilayah," ungkap CEO PT Sayap Garuda Indah, François Lassale.
Tak hanya itu, sinergi ini pun terwujud berkat dukungan Bell, produsen helikopter terkemuka yang mendukung implementasi SAF dalam armada buatannya. Kemitraan ini memfasilitasi transisi ke praktik penerbangan yang lebih berkelanjutan dan mempercepat pengurangan emisi karbon di sektor penerbangan.
"Bell merasa terhormat dapat bergabung dengan SGI dan Pertamina Patra Niaga dalam mendukung penerbangan helikopter pertama di Indonesia yang menggunakan bahan bakar penerbangan berkelanjutan," kata Direktur Pengembangan Bisnis Bell untuk Asia Pasifik, William Dickey.
"Tonggak sejarah ini menyoroti dedikasi Bell terhadap solusi bahan bakar alternatif dan diskusi berkelanjutan kami dengan para pelanggan dan regulator di seluruh Indonesia dan kawasan ini terkait penerapan SAF. Bersama-sama, kami berharap dapat memajukan penerapan teknologi penerbangan rendah karbon," tambah William Dickey.
VP Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso di tempat terpisah menyampaikan bahwa Pertamina Group terus memasarkan SAF tidak hanya untuk transportasi udara jenis pesawat namun juga untuk helikopter, hal ini dilakukan untuk mendorong pemanfaatan SAF yang lebih luas.
"Tidak hanya untuk pesawat, Pertamina Patra Niaga telah mampu mendistribusikan SAF untuk transportasi udara jenis helikopter dengan SGI. Ini membuktikan bahwa produk Pertamina SAF diakui oleh industri aviasi dan ke depannya akan memberikan dampak positif tidak hanya secara finansial namun juga untuk kontribusi perusahaan pada pengurangan emisi karbon," ungkap Fadjar.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
(prf/ega)
Perluas Distribusi SAF, Pertamina Patra Niaga Dukung Dekarbonisasi Penerbangan
Distribusi SAF ini menunjukkan komitmen Pertamina Patra Niaga dalam menyediakan solusi bahan bakar berkelanjutan untuk industri penerbangan. [617] url asal
#pertamina #bahan-bakar #bahan-bakar-berkelanjutan
(detikFinance - Energi) 20/09/24 13:49
v/15288148/
Jakarta - PT Pertamina Patra Niaga terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi energi di sektor penerbangan melalui distribusi Sustainable Aviation Fuel (SAF). Pada perhelatan Bali International Airshow 2024 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Pertamina Patra Niaga menyalurkan SAF kepada maskapai nasional Citilink, sebagai bagian dari komitmen bersama terhadap peta jalan SAF yang ditetapkan oleh Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarives).
Distribusi SAF ini menunjukkan komitmen Pertamina Patra Niaga dalam menyediakan solusi bahan bakar berkelanjutan untuk industri penerbangan, yang sejalan dengan upaya global untuk menekan emisi karbon dan mencapai target dekarbonisasi.
"Momen penyaluran pertama SAF di Bandara Ngurah Rai ini menandai bahwa Indonesia dapat beradaptasi dengan tuntutan bauran energi di industri penerbangan internasional, dimana saat ini SAF menjadi solusi jangka menengah bagi penerbangan untuk mengurangi jejak karbon, tanpa memerlukan perubahan pada pesawat, infrastruktur bandara, atau rantai pasokan bahan bakar jet," ungkap Riva Siahaan, Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, dalam keterangan tertulis, Jumat (20/9/2024).
Pertamina SAF telah memenuhi berbagai standar internasional, termasuk sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk program Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) dan Renewable Energy Directive-European Union (RED-EU). Pertamina juga memastikan bahwa SAF ini aman digunakan, memenuhi standar yang ditetapkan oleh American Society of Testing and Materials (ASTM), dan terdaftar sebagai Corsia Eligible Fuel (CEF) oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).
"Langkah baru menuju penerbangan berkelanjutan ini mampu mengurangi emisi karbon dari bahan bakar fosil, sebab Pertamina SAF merupakan campuran dari bahan baku terbarukan yaitu Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah," tambah Riva.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Citilink Indonesia, Dewa Rai, menyatakan bahwa kemitraan dengan Pertamina Patra Niaga merupakan langkah strategis bagi Citilink dalam mendukung pengurangan emisi karbon, khususnya di sektor penerbangan yang semakin penting untuk menjaga kelestarian lingkungan.
"Komitmen kami untuk mengurangi emisi karbon didukung sepenuhnya oleh Pertamina Patra Niaga. Kami berharap, di masa mendatang Pertamina Patra Niaga akan terus meningkatkan penggunaan SAF, guna mendorong keberlanjutan industri penerbangan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat global," ujar Dewa Rai.
Lebih lanjut, Dewa Rai menjelaskan bahwa pada tahap awal kerja sama ini, Citilink telah berhasil melakukan uplifting SAF sebesar 30 KL untuk empat hari kegiatan selama penyelenggaraan Bali International Airshow 2024. Pencapaian ini menjadi langkah awal yang menunjukkan potensi besar SAF sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan untuk masa depan penerbangan.
VP Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso di tempat terpisah menyampaikan bahwa setelah sebelumnya Pertamina Patra Niaga bermitra dengan perusahaan maskapai internasional, kini pemasaran Pertamina SAF juga telah dilakukan ke perusahaan maskapai nasional dalam rangka mendorong penggunaan SAF di tanah air.
"Jika sebelumnya Pertamina Patra Niaga telah mendistribusikan SAF kepada Virgin Australia Airlines, kini dengan Citilink. Harapannya kedepan SAF akan semakin diminati dan tentunya akan memberikan dampak baik pengurangan emisi karbon di industri aviasi baik Indonesia dan global," jelas Fadjar.
(prf/ega)


