KOMPAS.com -El Nino adalah pergeseran angin dan arus yang tidak dapat diprediksi di atas perairan Pasifik tropis yang secara signifikan memengaruhi iklim di seluruh planet.
Kini, peneliti menemukan pola angin dan arus tersebut memiliki 'saudara' misterius yang dijuluki sebagai El Nino baru.
Pola itu, seperti dikutip dari Science Alert, Senin (29/7/2024) muncul lebih jauh ke selatan di Pasifik subtropis barat daya menuju Australia dan Selandia Baru.
Meski wilayah yang mengendalikan pergeseran cuaca ini relatif kecil, namun juga dapat memicu pergeseran iklim di seluruh Belahan Bumi Selatan.
Tim peneliti internasional yang membuat penemuan ini mengatakan bahwa hal ini akan sangat penting dalam memahami perubahan iklim di tahun-tahun mendatang.
"Penemuan ini seperti menemukan perubahan baru dalam iklim Bumi," kata ahli meteorologi Balaji Senapati dari Universitas Reading di Inggris.
"Hal ini menunjukkan bahwa wilayah laut yang relatif kecil dapat memiliki dampak yang luas pada pola cuaca dan iklim global." paparnya lagi.
Dengan menggabungkan pengamatan nyata dan pemodelan iklim mencakup 300 tahun, peneliti dapat melacak apa yang mereka sebut sebagai pola W4.
Pola ini berulang setiap tahun di Belahan Bumi Selatan dengan empat wilayah udara hangat dan dingin yang bergantian.
Dengan menggabungkan pengamatan dunia nyata dan pemodelan iklim canggih yang mencakup 300 tahun, para peneliti dapat melacak apa yang mereka sebut sebagai pola W4, yang berulang setiap tahun di Belahan Bumi Selatan dengan empat wilayah udara hangat dan dingin yang bergantian.
Tim tersebut juga menemukan bahwa wilayah yang lebih kecil di dekat Australia dan Selandia Baru berfungsi sebagai tuas kendali untuk W4, dengan perubahan suhu laut di bagian dunia ini pada gilirannya memengaruhi suhu atmosfer di subtropis selatan dan garis lintang tengah.
Saat pola angin berubah, kedalaman lapisan atas air yang lebih hangat di laut berubah yang kemudian memberi dampak pada perubahan suhu di atmosfer.
Angin barat kemudian dapat membawa udara yang hangat atau dingin ke seluruh dunia dalam pola iklim W4 yang tidak lazim.
Menurut penelitian, pola iklim ini berbeda dari yang lain yang kita ketahui, termasuk El Niño dan fenomena saudaranya, La Niña.
"Memahami sistem cuaca baru ini dapat meningkatkan prakiraan cuaca dan prediksi iklim, terutama di Belahan Bumi Selatan," kata Senapati.
"Ini dapat membantu menjelaskan perubahan iklim yang sebelumnya misterius dan dapat meningkatkan kemampuan kita untuk memprediksi cuaca ekstrem dan peristiwa iklim."
Tampaknya pola cuaca ini mulai terjadi selama musim panas di Belahan Bumi Selatan, antara Desember dan Februari.
Dan meskipun sistem ini baru saja diidentifikasi, para peneliti berpikir sistem ini telah memengaruhi cuaca dunia sejak lama.
Yang tidak dibahas tim dalam penelitian ini adalah bagaimana perubahan dalam El Niño baru ini dapat terjadi.
Namun, kita sudah tahu Belahan Bumi Selatan mengering, menghangat, dan semakin banyak badai, dan pola cuaca ini akan membantu menjelaskan alasannya.
"Diperlukan pemahaman yang lebih baik tentang hubungan antara variabilitas iklim Belahan Bumi Selatan dan Pasifik subtropis barat daya," tulis para peneliti dalam makalah yang mereka terbitkan.
Penelitian ini telah diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research: Oceans.