REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rosita, ibunda atlet panjat tebing Veddriq Leonardo, mengaku memiliki hadiah khusus untuk anaknya, yakni doa, setelah berhasil meraih medali emas dalam Olimpiade Paris 2024. Dia mengaku tidak membawa hadiah apa-apa dari Pontianak di Kalimantan Barat, kecuali doa untuk anak tercintanya.
"Hadiah khusus dari saya cuma doa, selalu berdoa untuk kesuksesan dia. Semoga Veddriq sehat terus, berlatih terus, berjuang, dan mengharumkan nama Indonesia, itu saja harapan saya," kata Rosita saat menyambut anaknya pulang dari Paris di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten, Selasa (13/8/2024) tengah malam.
Menurut Rosita, selama mengikuti Olimpiade Paris, sebagai orang tua dia hanya bisa mendukung dari jauh. Dia juga terus berkomunikasi dengan anaknya untuk menyemangatinya.
"Saya setiap hari sering teleponan," kata Rosita.
Rosita mengungkapkan, anaknya selalu meminta doa setiap kali berkomunikasi melalui telepon seluler.
"Ya dia minta doa agar bisa rebut emas untuk Indonesia, dia juga bilang kepada saya agar menjaga kesehatan," kata dia.
Veddriq kaget disambut langsung oleh keluarganya saat tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ia mengaku tidak mengetahui bila ibu, ayah, dan keluarga lainnya, ikut menyambut kepulangannya dari Paris, Prancis, karena mereka sebelumnya berada di Pontianak, Kalimantan Barat.
"Ya, saya senang dan kaget juga, soalnya baru tahu ada keluarga juga ikut menyambut di bandara," kata Veddriq.
Veddriq menyatakan medali emas Olimpiade Paris sangat berkesan karena persiapan sudah dilakukan sejak empat tahun lalu.
"Ya kalau persiapan sudah cukup lama, karena pemusatan latihan nasional (pelatnas) 'kan ada empat tahun kurang lebih untuk persiapan Olimpiade ini," kata atlet kelahiran Pontianak, 27 tahun silam itu.
Veddriq mengungkapkan...
Veddriq mengungkapkan, pertandingan selama kualifikasi babak penyisihan unggulan, eliminasi, hingga final sangat berkesan baginya.
Itu karena semuanya berlangsung ketat sehingga sangat menguras tenaga dan pikiran untuk fokus.
Dia berterima kasih kepada masyarakat Indonesia yang sudah mendoakan dan mendukung perjuangannya dalam Olimpiade Paris.
Veddriq menjadi atlet panjat tebing Indonesia satu-satunya yang meraih medali Olimpiade. Tiga rekannya gagal dalam nomor speed panjat tebing Olimpiade 2024.
Veddriq dan atlet angkat besi peraih emas, Rizki Juniansyah, tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, bersama sejumlah peserta Olimpiade lainnya, yaitu atlet panjat tebing Desak Made Rita Kusuma Dewi, Rajiah Sallsabillah, dan Rahmad Adi Mulyono, serta atlet angkat besi Nurul Akmal.
Para atlet didampingi oleh Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia untuk Olimpiade Paris 2024, Anindya Bakrie.
Mereka disambut oleh Menpora Dito Ariotedjo dan Anggota Komite Olimpiade Internasional (IOC Member) Erick Thohir.
Sebelum pulang ke Indonesia, Rizki dan Veddriq mewakili Indonesia dalam upacara penutupan Olimpiade Paris 2024, Senin dini hari WIB lalu.
Rizki yang menjadi lifter Indonesia pertama yang menjuarai Olimpiade, ditunjuk sebagai pembawa bendera dalam defile upacara penutupan.
Veddriq juga ikut dalam kontingen Merah Putih berjumlah 15 orang, termasuk dua perwakilan CdM Arkan Lukman dan Zaenal Asikin, Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (PB FPTI) Yenny Wahid, pelatih panjat tebing Triyanto Budi Santosa, pelatih angkat besi Triyatno, serta rekan-rekan sesama atlet Nurul Akmal, Rahmad Adi Mulyono, Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Rajiah Sallsabillah.
REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Para peraih medali Olimpiade Paris 2024 mengaku akan menggunakan bonus pemberian pemerintah yang mereka terima bakal dipergunakan untuk memperbaiki fasilitas tempat latihan di daerah masing-masing.
Seperti yang disampaikan peraih medali emas di cabang olahraga angkat besi Rizki Juniansyah, misalnya, ia sadar bahwa dirinya dibesarkan dan dibentuk menjadi atlet di sebuah tempat yakni Sasana Bulldog Gym yang ada di Kota Serang, Banten.
"Insya Allah ke depanya saya akan memperbaiki semua Sasana Bulldog Gym untuk lebih baik lagi, agar nanti saya bisa berprestasi lagi untuk menyumbangkan medali-medali di ajang lainnya," kata Rizki di Tangerang, Rabu (14/8/2024).
Selain itu, sisa bonus yang mengalir dari pemerintah tersebut juga digunakan sebagai tabungan demi mempersiapkan kehidupan masa depan ketika pensiun nanti.
Hal itu disadari bahwa atlet merupakan profesi yang tidak menjamin kehidupan hingga hari tua. Jika atlet semakin berumur maka performa pun akan kian menurun sehingga sulit untuk terus berprestasi.
"Semoga bonus ini bisa bermanfaat dan bisa ditabung sebaik mungkin untuk saya," ungkap dia.
Tak jauh berbeda diungkapkan peraih medali emas Veddriq Leonardo. Sebagai atlet panjat tebing yang mempunyai batas umur, maka ia harus pintar dalam mengelola bonus yang diterimanya.
Setiap bonus yang mengalir kepadanya, bakal ditabung demi mempersiapkan kehidupan masa depan ketika tidak lagi sebagai menjadi atlet.
"Namun, sebagian nanti akan saya persembahkan untuk orang tua saya, dan juga sebagian lagi untuk memperbaiki tempat latihan (panjat tebing, Red)," paparnya.
Kontingen Indonesia menghuni peringkat ke-39 dengan mengoleksi dua medali emas dan satu medali perunggu pada klasemen akhir Olimpiade Paris 2024.
Perolehan medali emas tim Merah Putih disumbangkan melalui cabang olahraga panjat tebing dan angkat besi.
Di panjat tebing, Veddriq Leonardo membawa pulang medali emas di hari ke-12 penyelenggaraan Olimpiade Paris 2024 usai menjadi yang tercepat di nomor Speed putra.
Sedangkan di angkat besi, Rizki Juniansyah yang tampil di kelas 73 kg putra menggondol medali emas di hari yang sama setelah total angkatannya tak dapat dilampaui oleh lifter dari negara-negara lain.
Medali Indonesia pertama di Olimpiade Paris 2024 diraih melalui cabang olahraga bulu tangkis. Gregoria Mariska Tunjung yang tampil di nomor tunggal putri mengamankan medali perunggu.
Atlet peraih emas, berhak mendapatkan bonus masing-masing sebesar Rp 6 miliar, berdasarkan arahan dari Presiden.
Kemudian, untuk atlet peraih medali perunggu akan diberikan bonus sebesar Rp 1,650 miliar dan pelatih atlet peraih emas masing-masingnya mendapat Rp 2,750 miliar.
REPUBLIKA.CO.ID, IKN -- Presiden Joko Widodo memastikan akan memberikan bonus kepada para atlet peraih medali di Olimpiade Paris 2024. Jumlahnya pun akan naik dibandingkan Olimpiade Tokyo 2020 yang digelar 2021.
“Yang jelas akan diberikan bonus, baik yang telah meraih medali emas maupun perunggu,” kata Jokowi di sela kunjungan kerja di Ibu Kota Nusantara (IKN), Selasa.
Joko Widodo menyebut bonus untuk atlet peraih medali emas akan ditingkatkan dari sebelumnya Rp5,5 miliar menjadi Rp6 miliar.
"Emasnya kalau dulu berapa? Rp 5,5 (miliar) ya. Ya ini Rp 6 (miliar)," kata Jokowi.
Kontingen Indonesia menghuni peringkat ke-39 dengan mengoleksi dua medali emas dan satu medali perunggu pada klasemen akhir Olimpiade Paris 2024.
Perolehan medali emas tim Merah Putih disumbangkan melalui cabang olahraga panjat tebing dan angkat besi.
Di panjat tebing, Veddriq Leonardo membawa pulang medali emas pada hari ke-12 penyelenggaraan Olimpiade Paris 2024 usai menjadi yang tercepat di nomor speed putra.
Selang beberapa jam dari angkat besi, Rizki Juniansyah yang tampil di kelas 73 kg putra menggondol medali emas setelah total angkatannya tak dapat dilampaui oleh lifter dari negara-negara lain.
Medali Indonesia pertama di Olimpiade Paris 2024 diraih melalui cabang olahraga bulu tangkis. Gregoria Mariska Tunjung yang tampil di nomor tunggal putri mengamankan medali perunggu.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora Raden Isnanta mengatakan bonus bagi para peraih medali Olimpiade Paris 2024 akan diumumkan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.
Dilansir dari laman, CNBC News, Indonesia menjanjikan 300 ribu dolar AS atau sekitar Rp 4,7 miliar untuk peraih medali emas, Rp 2,3 miliar untuk peraih medali perak dan Rp 956 juta untuk peraih medali perunggu. Sementara negara tetangga Malaysia menjanjikan 216 ribu dolar AS atau Rp 3,4 miliar bagi atletnya yang menyumbangkan medali emas ke negeri jiran tersebut. Untuk peraih medali perak dijanjikan Rp 1,03 miliar dan Rp 350 juta untuk peraih medali perunggu.
Tuan rumah Perancis juga dilaporkan telah menaikan insentif uang tunai. Peraih medali emas dijadwalkan menerima 80 ribu euro (Rp 1,3 miliar) hingga 15 ribu euro (Rp 261 juta) lebih banyak yang ditawarkan di Olimpiade Tokyo.
Selain bonus berupa uang tunai, beberapa atlet dari beberapa negara juga memberikan hadiah tambahan seperti apartemen, mobil dan lainnya yang diberikan baik dari pemerintah ataupun pihak swasta. Peraih medali Korea Selatan pun dijanjikan akan mendapatkan uang pensiun sebagai tambahan atas bonus yang didapat.
REPUBLIKA.CO.ID, PARIS - Saat ini, Olimpiade Paris 2024 sedang berlangsung, puluhan medali pun telah dibagikan. Selain meraih medali, boneka masket olimpiade dan kotak misteri, pada umumnya para peraih medali bakal menerima bonus. Baik itu dari pemerintah atau swasta sebagai apresiasi atas usaha para atlet.
Beberapa negara pun memberikan bonus dengan angka yang cukup fantastis untuk para peraih medali, baik emas, perak atau perunggu. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan CNBC News dari Komite Olimpiade Nasional, Asosiasi Olahraga dan laporan lokal, Hong Kong dan Singapura memberikan bonus tertinggi bagi para pemenang olimpiade mereka. Insentif tunai bagi atlet Hongong yang berlaga di Paris naik 20 persen dari Olimpiade Musim Panas Tokyo.
"Peraih medali emas akan menerima 6 juta dolar Hong Kong (Rp 12,26 miliar), untuk peraih medali perak dan perunggu masing-masing akan mendapatkan 3 juta dolar (Rp 6,13 miliar) Hong Kong dan 1,5 juta dolar Hong Kong (Rp 3,06 miliar)," ujar Kepala Sekertaris Administrasi Hong Kong Chan Kwok-ki pada Juli lalu, dikutip dari CNBC News, Jumat (9/8/2024).
Hong Kong mendapatkan medali pertamanya di cabang olahraga renang dan anggar. Vivian Kong memenangkan medali pertama Hong Kong dari cabang olahraga renang, selanjutnya ada medali dari cabang anggar disumbang oleh pemain anggar Cheung Ka-long. Sementara perenang Siobhan Bernandette Haughey yang mengantongi medali perunggu pada nomor gaya bebas 200 meter putri.
Negara tetangga Indonesia, Singapura juga memberikan bonus yang cukup tinggi untuk para peraih medalinya. Untuk peraih medali emas, pemerintah Singapura berjanji akan memberikan bonus sebesar 1 juta dolar Singapura (Rp 12 miliar), kemudian 500 ribu dolar Singapura (Rp 6 miliar) untuk peraih medali perak dan 250 ribu dolar Singapura (Rp 3 miliar) bagi atlet yang menyumbangkan medali perunggu.
Indonesia menjanjikan 300 ribu dolar AS atau sekitar Rp 4,7 miliar untuk peraih medali emas, Rp 2,3 miliar untuk peraih medali perak dan Rp 956 juta untuk peraih medali perunggu. Sementara Malaysia menjanjikan 216 ribu dolar AS atau Rp 3,4 miliar bagi atletnya yang menyumbangkan medali emas ke negeri jiran tersebut. Untuk peraih medali perak dijanjikan Rp 1,03 miliar dan Rp 350 juta untuk peraih medali perunggu.
Negara tuan rumah Perancis juga dilaporkan telah menaikan insentif uang tunai. Peraih medali emas dijadwalkan menerima 80 ribu euro (Rp 1,3 miliar) hingga 15 ribu euro (Rp 261 juta) lebih banyak yang ditawarkan di Olimpiade Tokyo.
Selain bonus berupa uang tunai, beberapa atlet dari beberapa negara juga memberikan hadiah tambahan seperti apartemen, mobil dan lainnya yang diberikan baik dari pemerintah ataupun pihak swasta. Peraih medali Korea Selatan pun dijanjikan akan mendapatkan uang pensiun sebagai tambahan atas bonus yang didapat.
Selain rejeki nomplok sebesar 63 juta won korea atau sekitar Rp 735 juta, peraih medali emas Korea Selatan juga diberikan pilihan berupa uang pensiun bulanan seumur hidup sebesar satu juta won atau uang sekaligus sebesar 67,2 juta won atau sekitar Rp 782 juta. Sementara peraih medali perak mendapat Rp 35 juta won dan peraih medali perunggu mendapat 25 juta won. Beberapa atlet juga dapat menerima hadiah lain seperti minuman gratis dan transportasi.
Menariknya, pada Olimpiade di Tokyo 5 tahun lalu, para atlet asal Malaysia yang mewakili di Olimpiade Tokyo mendapatkan makanan dan teh tarik gratis seumur hidup. Teh tarik adalah minuman teh susu panas yang sangat populer di kawasan Asia Tenggara termasuk di Indonesia.
Pemain tenis meja asal Jepang Kasumi Ishikawa juga mendapatkan hadiah yang tak diduga berupa 100 karung beras setelah memenangkan medali perak di Olimpiade Tokyo. Peraih medali emas bulu tangkis Indonesia Apriyani Rahayu dan Greysia Poli juga mendapatkan warisan lima ekor sapi, restoran bakso dan rumah baru saat mendapatkan medali emas di Olimpiade Tokyo.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah sejarah manis ditorehkan cabang olahraga (cabor) angkat besi di pentas Olimpiade Paris 2024. Melalui lifternya Rizki Juniansyah, berhasil mempersembahkan medali emas bagi Indonesia.
Ini merupakan medali emas kedua bagi kontingen merah putih. Malam Jumat yang membawa berkah. Karena beberapa jam sebelumnya, lagu Indonesia Raya berkumandang dan sang merah putih berkibar di tiang tertinggi setelah Veddriq Leonardo meriah emas di panjat tebing.
Angkat besi kian menegaskan bahwa cabor ini bukan lagi lapis kedua di bawah bayang-bayang bulu tangkis yang biasanya selalu menjadi penyumbang medali emas, sejak Indonesia partisipasi pada multi event terbesar di dunia ini.
24 tahun lalu atau tepatnya pada Olimpiade Sydney 2000, angkat besi mengawali peroleh medalinya. Kala itu lifter putri Lisa Rumbewas mempersembahkan medali perak. Tidak hanya satu medali perak, di benua Kanguru tersebut cabor yang mengandalkan kekuatan tangan dan kaki ini juga meraih dua medali perunggu melalui lifter Putri Sri Indriyani dan Winarni.
Sejak itu angkat besi selalu konsisten untuk menyumbang medali. Pada perhelatan Olimpiade Athena 2004, Lisa Rumbewas back to back untuk mempertahankan medali peraknya.
Setelah itu era kejayaan lifter putra mulai mengikuti jejak lifter putri. Muncul bintang baru angkat besi Indonesia Eko Yuli Irawan. Pada debutnya di Olimpiade Beijing 2008, Eko meraih perunggu, Triyatno meraih perunggu, dan Lisa Rumbewas juga masih bisa mendapat perunggu.
Empat tahun berikutnya di London, Eko Yuli mampu mempertahankan medali perunggu di Olimpiade 2012. Sedangkan Triyatno justru mampu meningkatkan menjadi perak, serta lifter putri Citra Febrianti. Hanya angkat besi yang mampu sumbang medali di edisi ini.
Pada Olimpiade Rio de Janeiro Brazil, dua medali perak mampu disumbangkan angkat besi melalui Eko Yuli dan Sri Wahyuni Agustiani.
Di Tokyo tahun 2021, lagi-lagi angkat besi menunjukkan kehebatannya dengan menyumbang tiga medali, satu perak dari Elo Yuli dan dua perunggu dari Rahmat Erwin Abdullah dan Windy Cantika Aisah.
Setelah hampir seperempat abad akhirnya Kilauan medali angkat besi di olimpiade semakin kinclong. Di mana akhirnya Lifter Rizki Juniansyah yang baru berusia 21 tahun dan pertama kali main di olimpiade mempersembahkan medali emas pertama di cabor ini bagi Indonesia.
#@
Berbeda dengan cabang olahraga masuk kategori permainan, biasanya sering terjadi kejutan dalam sebuah pertandingan. Tim atau pemain yang tak diunggulkan bisa saja tiba-tiba yang keluar sebagai pemenangnya.
Untuk Olimpiade Paris 2024 misalnya di Cabor Bulu tangkis, para pemain unggulan banyak yang bertumbangan dan tak mampu merebut medali emas, padahal dia yang lebih diunggulkan. Tunggal Putra asal China Shi Yu Qi tak mampu dapat medali.
Sedangkan Pasangan ganda putra China Taipei Lee/Yang Wang Chi-Lin walaupun juara bertahan Olimpiade 2021. Namun saat tampil di Paris bukanlah pasangan yang diunggulkan. Tetapi hasilnya mampu mempertahankan medali emasnya.
Lain halnya di cabor terukur seperti atletik, renang, panahan, panjat tebing nomor kecepatan dan juga pastinya angkat besi. Semua sudah terukur. Jadi jika tidak ada faktor X, hampir pasti atlet unggulan lah yang akan keluar sebagai pemenang.
Dua medali emas Indonesia dari Panjat Tebing Veddriq Leonardo dan angkat besi Rizki Juniansyah menegaskan hal itu. Walaupun ada faktor lainnya tetapi data pencapaian waktu Veddriq sebelum Olimpiade serta angkatan Rizki jadi patokan.
Kepala Bidang pembinaan dan prestasi Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (Kabid Binpres PP PBSI), Hadi Wihardja menyatakan berdasarkan data yang ada sebelumnya peluang Rizki dapat emas beberapa pekan jelang Olimpiade adalah sebesar 98,6 persen.
"Dengan data parameter saya Rizki saya harapkan bisa kembali ke 365kg total angkatan yang membuat dia menjadi Rangking 1. Namun dari latihan 20 juli kemarin potensi tersebut dengan 365 dan target yang lebih , sudah memiliki peluang 98,61 for Gold," ujar Hadi ketika dihubungi Republika, Jumat (9/8/2024).
Hadi menambahkan, sepekan lalu saya melihat di Instagram Zhi Shiyong pesaing Rizki asal China. Kita sempat terkejut, mengingat tanggal 3 Agustus masih berani menarik snatch 150 kg, sebanyak 2 kali, ini merupakan angkatan 90 persen dari best nya yang akan mempengaruhi penampilannya tanggal 9 dini hari tadi.
"Jika lifter mengangkat menembus lebih dari 70 persen dalam sepekan itu, akan berpotensi loss power di Hari H, khususnya power. Untuk Rizki, sepekan sebelumnya sempat coba 200 (kg). Sebelum berangkat saya sudah ingat kan pelatih jangan angkat lebih dari 70 persen, ternyata meraka terapkan dan saya berterima kasih buat coach Triyatno, serta Rusli yang memahami persaingan tingat elite, penuh dengan tekanan dan tantangan," jelasnya.
Harapan setelah Olimpiade Paris 2024, menurut Hadi, PABSI akan menyiapkan lifter pelapis. "Segera kami menyiapkan lagi Eko-Eko, Rizki-Rizki yang lain, dengan kerja sama dengan pihak BUMN dan support penuh dari Ketum PABSI Bapak Rosan Perkasa Roeslani, kegiatan kejuraan level usia 12-14, 15-17, 18-19 dan senior, wajib hukumnya di tingkatkan."
"Tentunya dengan meningkatkan juga kualitas pelatih yang mumpuni, dan mau belajar terus. Apalagi jika di Olimpiade Los Angeles 2028 kelas di angkat besi bisa kembali 14 kelas, saya yakin bertambah lagi pundi pundi medali ke Indonesia," imbuh Hadi yang juga anggota research and coaching development Asia untuk angkat besi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah sejarah manis ditorehkan cabang olahraga (cabor) angkat besi di pentas Olimpiade Paris 2024. Melalui lifternya Rizki Juniansyah, berhasil mempersembahkan medali emas bagi Indonesia.
Ini merupakan medali emas kedua bagi kontingen merah putih. Malam Jumat yang membawa berkah. Karena beberapa jam sebelumnya, lagu Indonesia Raya berkumandang dan sang merah putih berkibar di tiang tertinggi setelah Veddriq Leonardo meriah emas di panjat tebing.
Angkat besi kian menegaskan bahwa cabor ini bukan lagi lapis kedua di bawah bayang-bayang bulu tangkis yang biasanya selalu menjadi penyumbang medali emas, sejak Indonesia partisipasi pada multi event terbesar di dunia ini.
24 tahun lalu atau tepatnya pada Olimpiade Sydney 2000, angkat besi mengawali peroleh medalinya. Kala itu lifter putri Lisa Rumbewas mempersembahkan medali perak. Tidak hanya satu medali perak, di benua Kanguru tersebut cabor yang mengandalkan kekuatan tangan dan kaki ini juga meraih dua medali perunggu melalui lifter Putri Sri Indriyani dan Winarni.
Sejak itu angkat besi selalu konsisten untuk menyumbang medali. Pada perhelatan Olimpiade Athena 2004, Lisa Rumbewas back to back untuk mempertahankan medali peraknya.
Setelah itu era kejayaan lifter putra mulai mengikuti jejak lifter putri. Muncul bintang baru angkat besi Indonesia Eko Yuli Irawan. Pada debutnya di Olimpiade Beijing 2008, Eko meraih perunggu, Triyatno meraih perunggu, dan Lisa Rumbewas juga masih bisa mendapat perunggu.
Empat tahun berikutnya di London, Eko Yuli mampu mempertahankan medali perunggu di Olimpiade 2012. Sedangkan Triyatno justru mampu meningkatkan menjadi perak, serta lifter putri Citra Febrianti. Hanya angkat besi yang mampu sumbang medali di edisi ini.
Pada Olimpiade Rio de Janeiro Brazil, dua medali perak mampu disumbangkan angkat besi melalui Eko Yuli dan Sri Wahyuni Agustiani.
Di Tokyo tahun 2021, lagi-lagi angkat besi menunjukkan kehebatannya dengan menyumbang tiga medali, satu perak dari Elo Yuli dan dua perunggu dari Rahmat Erwin Abdullah dan Windy Cantika Aisah.
Setelah hampir seperempat abad akhirnya Kilauan medali angkat besi di olimpiade semakin kinclong. Di mana akhirnya Lifter Rizki Juniansyah yang baru berusia 21 tahun dan pertama kali main di olimpiade mempersembahkan medali emas pertama di cabor ini bagi Indonesia.
#@
Berbeda dengan cabang olahraga masuk kategori permainan, biasanya sering terjadi kejutan dalam sebuah pertandingan. Tim atau pemain yang tak diunggulkan bisa saja tiba-tiba yang keluar sebagai pemenangnya.
Untuk Olimpiade Paris 2024 misalnya di Cabor Bulu tangkis, para pemain unggulan banyak yang bertumbangan dan tak mampu merebut medali emas, padahal dia yang lebih diunggulkan. Tunggal Putra asal China Shi Yu Qi tak mampu dapat medali.
Sedangkan Pasangan ganda putra China Taipei Lee/Yang Wang Chi-Lin walaupun juara bertahan Olimpiade 2021. Namun saat tampil di Paris bukanlah pasangan yang diunggulkan. Tetapi hasilnya mampu mempertahankan medali emasnya.
Lain halnya di cabor terukur seperti atletik, renang, panahan, panjat tebing nomor kecepatan dan juga pastinya angkat besi. Semua sudah terukur. Jadi jika tidak ada faktor X, hampir pasti atlet unggulan lah yang akan keluar sebagai pemenang.
Dua medali emas Indonesia dari Panjat Tebing Veddriq Leonardo dan angkat besi Rizki Juniansyah menegaskan hal itu. Walaupun ada faktor lainnya tetapi data pencapaian waktu Veddriq sebelum Olimpiade serta angkatan Rizki jadi patokan.
Kepala Bidang pembinaan dan prestasi Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (Kabid Binpres PP PBSI), Hadi Wihardja menyatakan berdasarkan data yang ada sebelumnya peluang Rizki dapat emas beberapa pekan jelang Olimpiade adalah sebesar 98,6 persen.
"Dengan data parameter saya Rizki saya harapkan bisa kembali ke 365kg total angkatan yang membuat dia menjadi Rangking 1. Namun dari latihan 20 juli kemarin potensi tersebut dengan 365 dan target yang lebih , sudah memiliki peluang 98,61 for Gold," ujar Hadi ketika dihubungi Republika, Jumat (9/8/2024).
Hadi menambahkan, sepekan lalu saya melihat di Instagram Zhi Shiyong pesaing Rizki asal China. Kita sempat terkejut, mengingat tanggal 3 Agustus masih berani menarik snatch 150 kg, sebanyak 2 kali, ini merupakan angkatan 90 persen dari best nya yang akan mempengaruhi penampilannya tanggal 9 dini hari tadi.
"Jika lifter mengangkat menembus lebih dari 70 persen dalam sepekan itu, akan berpotensi loss power di Hari H, khususnya power. Untuk Rizki, sepekan sebelumnya sempat coba 200 (kg). Sebelum berangkat saya sudah ingat kan pelatih jangan angkat lebih dari 70 persen, ternyata meraka terapkan dan saya berterima kasih buat coach Triyatno, serta Rusli yang memahami persaingan tingat elite, penuh dengan tekanan dan tantangan," jelasnya.
Harapan setelah Olimpiade Paris 2024, menurut Hadi, PABSI akan menyiapkan lifter pelapis. "Segera kami menyiapkan lagi Eko-Eko, Rizki-Rizki yang lain, dengan kerja sama dengan pihak BUMN dan support penuh dari Ketum PABSI Bapak Rosan Perkasa Roeslani, kegiatan kejuraan level usia 12-14, 15-17, 18-19 dan senior, wajib hukumnya di tingkatkan."
"Tentunya dengan meningkatkan juga kualitas pelatih yang mumpuni, dan mau belajar terus. Apalagi jika di Olimpiade Los Angeles 2028 kelas di angkat besi bisa kembali 14 kelas, saya yakin bertambah lagi pundi pundi medali ke Indonesia," imbuh Hadi yang juga anggota research and coaching development Asia untuk angkat besi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) merasa bangga dengan capaian para atlet yang berhasil meraih medali di Olimpiade Paris 2024. Dia memastikan, pemerintah akan memberikan bonus bagi mereka yang mengharumkan nama bangsa.
"Nanti dibicarakan, yang jelas pasti ada bonus," kata Presiden memberikan keterangan pers usai acara penyerahan SK TORA dan Peninjauan Expo Festival LIKE 2 di Balai Sidang Jakarta (JCC), Jakarta, Jumat (9/8/2024).
Jokowi pun mengapresiasi keberhasilan Indonesia meraih dua emas di Olimpiade Paris 2024 melalui Veddriq Leonardo di cabang panjat tebing putra dan Rizki Juniansyah di cabang olahraga angkat besi 73 kg putra.
"Ya saya sangat senang, saya sangat mengapresiasi dan masyarakat saya kira semuanya senang terhadap perolehan emas dari Veddriq Leonardo di panjat tebing dan juga baru saja Rizki Juniansyah di angkat besi. Saya kira negara mengapresiasi, rakyat juga sanggat bangga terhadap capaian emas ini," ucap Presiden.
Sebelumnya, Veddriq berhasil mengamankan medali emas pertama untuk Indonesia setelah memenangi final nomor speed putra pada Kamis (8/8/2024). Sedangkan atlet angkat besi (lifter) putra Rizki Juniansyah berhasil menyabet medali emas pada pertandingan angkat besi kelas 73 kg putra Olimpiade Paris 2024 pada Jumat (9/8/2024).
Rizki mengatakan, medali emas yang diraihnya sebagai kado Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Republik Indonesia. "Alhamdulillah saya sangat bersyukur kepada Allah SWT bisa buat sejarah medali emas pertama untuk angkat besi di Olimpiade. Ini untuk angkat besi Indonesia," kata Rizki dalam keterangan resmi dari NOC Indonesia yang diterima di Jakarta.
Raihan itu membuat Indonesia melesat naik ke posisi 28 dalam klasemen medali Olimpiade 2024 dengan dua medali emas dan satu perunggu, yang diraih Gregoria Mariska Tunjung dari bulu tangkis tunggal putri.
Para atlet yang berjaya di Olimpiade Paris 2024 dari sejumlah negara tertentu tak hanya mendapatkan kebanggaan karena mencetak prestasi kelas dunia. Di luar sorotan media, para atlet pemenang bakal menggelembung koceknya karena akan menerima bonus besar sepulang dari Paris.
Sejumlah negara terbiasa mengganjar atletnya dengan bonus besar untuk peraih emas karena susahnya berdiri di podium tertinggi pada pesta olahraga sejagat ini. Sementara di sisi lain, ada juga yang tak memberikan ganjaran finansial, melainkan insentif yang memudahkan atlet seperti beasiswa pendidikan, tunjangan, dan lainnya.
Menurut laporan yang dikutip dari givemesport, atlet Tim Inggris Raya dilaporkan tidak menerima imbalan untuk mengamankan podium di Olimpiade. Hal yang sama berlaku untuk negara-negara peserta lainnya, termasuk Selandia Baru, Norwegia, dan Swedia.
Namun, negara-negara yang jarang mendapatkan medali memberikan bonus fantastis. Berikut perhitungan 10 negara yang bersedia membayar mahal untuk prestasi atlet mereka di Olimpiade.
1. Hong Kong 768 ribu dolar AS (sekira Rp 12 Miliar)
Hong Kong menduduki peringkat teratas dalam hal membayar atlet mereka yang memenangkan medali emas. Atlet pertama yang mendapatkan 768 ribu dolar AS atau sekira Rp 12 Miliar karena menyabet emas Vivian Kong Man, yang menang di cabang olahraga anggar.
2. Indonesia Rp 5,5 Miliar (sekira 344 ribu dolar AS)
Indonesia menjadi negara nomor dua yang memberikan bonus super besar kepada peraih emas olimpiade. Di olimpiade Tokyo 2021 bonus emas dari pemerintah sebesar Rp 5,5 miliar. Ini belum dari pihak pemerintah provinis asal atlet yang juga biasanya memberikan bonus. Jika dihitung bonus dari pihak swasta, jumlahnya makin berlipat. Selain uang tunai, ada yang memberikan tempat tinggal atau bonus-bonus lain di luar uang tunai, misalnya terbang gratis seumur hidup.
3. Israel 275 ribu dolar AS (sekira Rp 4,4 Miliar)
Meskipun target utamanya adalah emas, bahkan bisa berdiri di podium Olimpiade saja masih sangat menguntungkan bagi para atlet Israel. Peraih perunggu dari Israel dilaporkan dibayar lebih dari Rp 2 Miliar oleh pemerintah mereka.
4. Serbia 218 ribu dolar AS (sekira Rp 3,5 miliar)
Novak Djokovic adalah nama paling terkenal yang mewakili Serbia di Paris. Bintang tenis kelas dunia ini meraih medali emas ke dalam daftar penghargaan yang dimilikinya. Ia dan atlet Serbia lainnya berhasil meraih posisi tiga besar di ajang masing-masing akan mendapatkan uang pensiun nasional di samping bonus besar karena meraih medali.
5. Malaysia 214 ribu dolar AS (sekira Rp 3,4 Miliar)
Tidak seperti negara-negara yang telah dibahas sebelumnya, ada perbedaan besar dalam hadiah uang yang dibayarkan oleh Malaysia berdasarkan posisi podium yang diraih oleh para atlet mereka. Memenangkan emas akan mendapatkan lebih dari Rp 3,4 miliar sementara mereka yang berada di posisi ketiga hanya mendapatkan 10 persen dari angka tersebut.
6. Italia 196 ribu dolar AS (sekira Rp 3,1 miliar)
Nicolo Martinenghi dari Italia berhasil mengalahkan Adam Peaty dari Tim Inggris dan Nic Fink dari Tim Amerika Serikat di nomor 100 meter gaya dada. Ini bukan hanya momen yang membanggakan bagi sang perenang, namun ia juga menjadi orang Italia pertama yang berhasil meraih emas dan bayaran besar bagi negaranya di Olimpiade 2024.
7. Lithuania 182 ribu dolar AS (sekira Rp 2,9 miliar)
Pemerintah Lithuania membayar para atlet dan pelatih untuk memenangkan medali. Para atlet Olimpiade Lithuania juga mendapatkan tunjangan sewa rumah setelah mereka pensiun dari karier sebagaia atlet. Hadiah sebesar Rp 2,9 miliar untuk medali emas cukup mengesankan.
8. Moldova 171 dolar AS (sekira Rp 2,7 miliar)
Pemerintah Moldova memberikan hadiah sekitar 11.000 USD atau sekira Rp 175 juta bahkan untuk finis di posisi kedelapan. Angka ini dikalikan lebih dari 10 kali lipat untuk mereka yang finis di podium. Denis Vieru meraih medali perunggu di cabang olahraga judo, yang berarti ia adalah orang pertama yang meraih hadiah ini di Paris 2024.
9. Latvia 155 ribu dolar AS (sekira Rp 2,5 miliar)
Latvia menghitung jumlah yang harus dibayarkan kepada para atlet dengan memberi bonus 60 persen untuk medali di bawahnya. Ini berarti jika peraih emas mendapatkan Rp 2,5 miliar, maka peraih medali perak akan mendapatkan lebih dari Rp 1,4 miliar, dan medali perunggu akan dihargai sekitar Rp 875 juta. Memenangkan emas dalam pertandingan beregu akan menghasilkan hadiah sebesar Rp 7,5 miliar yang dibayarkan kepada semua pemain dan pelatih yang terlibat.
10. Hungaria 154 rubu dolar AS (sekira Rp 2,4 miliar)
Hongaria meraih enam medali emas pada tahun 2021 dan berharap dapat mengulangi hasil yang mengesankan itu tiga tahun kemudian. Sejumlah besar uang akan dibayarkan sebagai hadiah untuk kesuksesan. Bahkan peraih medali perunggu pun akan mendapatkan bayaran yang cukup besar, yaitu sekitar Rp 1,4 miliar.