JAKARTA, investor.id – Menjelang akhir 2024, sektor properti mendapat “kado manis” dari pemerintah berupa rencana perpanjangan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Raksasa pengembang seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menyambut antusias kebijakan ini yang diproyeksikan menjadi katalis positif penjualan.
Usulan perpanjangan insentif diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang berharap sektor properti dan otomotif dapat terus didukung agar daya beli masyarakat tetap terjaga. “Dua hal tersebut kami usulkan untuk diperpanjang. Lamanya perpanjangan akan dibahas lebih lanjut dengan Menteri Keuangan,” jelas Airlangga di Jakarta (3/11/2024).
Langkah pemerintah ini diharapkan memberikan dampak domino terhadap perekonomian nasional. “Kita melihat daya beli masyarakat masih rendah, sehingga perlu didorong dengan insentif ini,” tambah dia. Dengan PPN DTP, Airlangga mengatakan, masyarakat bisa menikmati harga properti yang lebih terjangkau, khususnya bagi segmen menengah yang membutuhkan hunian.
Menanggapi kebijakan terbaru ini, pengembang properti besar seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA), optimistis terhadap dampak positif dari kebijakan ini.
Direktur BSDE Hermawan Wijaya menyatakan, perpanjangan PPN DTP ini membuka peluang untuk meningkatkan penjualan produk siap huni, termasuk rumah tapak dan apartemen. “Kami optimistis, kebijakan ini akan mendorong pertumbuhan jangka panjang di sektor properti dan pencapaian prapenjualan kami pada akhir tahun,” jelas Hermawan kepada Investor Daily, Selasa (5/11/24).
Sebagai informasi, BSDE mencatat kinerja impresif pada kuartal III-2024. Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 52,73% menjadi Rp 2,70 triliun dibanding tahun lalu.
Selain itu, pendapatan usaha BSDE hingga akhir September 2024 juga naik sebesar 37,75% menjadi Rp 10,07 triliun, secara tahunan. “Pertumbuhan tersebut didukung tingginya minat konsumen terhadap produk kami, baik residensial maupun komersial,” jelas Hermawan.
Dia menambahkan, keberlanjutan dan inovasi akan menjadi pilar utama perusahaan dalam mempertahankan dan meningkatkan kinerja keuangan. “Kami optimistis, dengan pencapaian solid tahun ini dan akan terus mengembangkan produk sesuai kebutuhan pelanggan di lokasi strategis,” imbuhnya.
Bukan hanya BSDE, performa mengesankan turut diperlihatkan CTRA yang mengalami peningkatan pendapatan usaha sebesar 8,01% menjadi Rp 7,11 triliun dalam 9M24.
Direktur Ciputra Development, Harun Hajadi, menuturkan pertumbuhan penjualan CTRA didorong oleh stabilnya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). “Yang terpenting adalah suku bunga KPR tetap stabil, sehingga daya beli konsumen tidak terganggu,” ungkap Harun.
Rekomendasi dan Target Harga
Perpanjangan insentif PPN DTP dinilai menjadi katalis positif bagi emiten properti yang sedang merencanakan strategi akhir tahun. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyebut, tren pertumbuhan laba bersih emiten properti diproyeksikan berlanjut hingga akhir 2024, didorong kebijakan pelonggaran moneter Bank Indonesia serta insentif pemerintah.
"Pengembang bisa memanfaatkan rendahnya biaya pinjaman untuk meningkatkan penjualan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA)," ujar Nafan. Dirinya merekomendasikan Accumulative Buy saham BSDE dengan target harga Rp 1.630.
Secara terpisah, Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas menyarankan, investor tetap waspada sambil mencermati potensi window dressing saham properti pada akhir tahun. “Tren positif ini didukung pemulihan ekonomi dan potensi penurunan suku bunga,” ungkap dia.
Dalam rekomendasinya, Sukarno mematok target harga BSDE di level Rp1.440, kemudian CTRA di posisi Rp1.450, dan saham PWON di level Rp 560 dalam 12 bulan ke depan.
Dengan adanya insentif PPN DTP, para pengembang optimistis menyongsong 2025 dengan rencana besar. BSDE, sebagai contoh, akan terus memperkuat strategi pemasaran dan pengembangan proyek di area strategis seperti Jabodetabek, Surabaya, dan Balikpapan.
Sedangkan CTRA memproyeksikan, produk hunian dengan rentang harga Rp1,5-2,5 miliar sebagai pendorong utama pertumbuhan mereka.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News