JAKARTA, investor.id – Calon atlet seharusnya melakukan cek kesehatan jantung, khususnya ada tidaknya kelainan otot jantung. Hal ini untuk mencegah terjadinya henti jantung seperti yang dialami atlet bulutangkis Cina, Zhang Zhi Jie, saat bertanding di turnamen Badminton Asia Juniar Championships 2024 di Yogyakarta.
“Kalau melihat kasusnya itu atlet jatuh pingsan, lalu kejang-kejang, itu terjadi henti jantung yang kemudian mengakibatkan kematian,” ungkap Chairman of BraveHeart Center RS Brawijaya Healthcare, dokter ahli jantung (kardiolog) Dr dr Muhammad Yamin, SpJP (K), SpPD, FACC, FSCAI, FAPHRS, FHRS di Jakarta, baru-baru ini.
Henti jantung, kata dr Yamin, berbeda dengan serangan jantung. Henti jantung biasanya disebabkan karena adanya konslet kelistrikan jantung. “Kalau listrik jantung yang paling sering adalah ion-ion yang mengatur kelistrikan jantung mengalami mutasi genetik yang mengakibatkan dengan pencetus tertentu seperti olahraga, berenang, atau karena kebisingan misalnya, ion itu bisa memicu irama jantung menjadi kacau sehingga mengancam atau membuat denyut jantungnya berhenti,” kata dr Yamin.
Konslet listrik jantung ini, lanjut dr Yamin, bisa disebabkan karena kelainan struktur jantung, yaitu ada penebalan otot jantung. “Pada beberapa orang, ada kelainan struktur organ jantung yang dibawa sejak lahir sudah tebal karena adanya kelainan gen-gen yang mengatur otot jantung. Otot yang tebal tersebut berpotensi membuat kelistrikan jantung itu konslet. Pada profesi atlet, biasanya karena sering berlatih lebih keras dari biasanya. Otot yang awalnya sudah tebal menjadi lebih tebal. Maka semakin tebal otot jantung akan semakin mudah untuk konslet,” papar dr Yamin.
Lakukan Screening
Karena itu, kata dr Yamin, calon atlet seharusnya melakukan screening pemeriksaan apakah memiliki kelainan struktur jantung berupa penebalan otot. “Kalau ternyata ada kelainan penebalan otot, ya jangan jadi atlet. Karena atlet kan harus latihan intensif sehingga otot jantungnya akan semakin menebal, mudah konslet, sehingga menyebabkan henti jantung lalu kematian,” tegas dr Yamin.
Sayangnya, otot jantung yang tebal secara genetik, tidak bisa diobati untuk mengurangi ketebalannya. “Yang bisa dilakukan adalah dijaga supaya penebalannya tidak bertambah,” tegas dr Yamin.
Di luar negeri, cerita dr Yamin, kalau mau jadi atlet kompetitif harus ikut pemeriksaan screening. “Kalau ototnya tebal, kita larang, oh bapak gak cocok jadi atlet,” tegas dr Yamin lagi.
Prosedur screening adalah, calon atlet akan dilakukan anamnesis atau wawancara, lalu dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, kemudian rekam jantung, USG jantung dengan echo.
Wawancara yang dilakukan, lanjut dr Yamin, akan mengarah kepada adakah kelainan bawaan, adakah saudaranya yang mengalami kematian mendadak yang mengarah kepada kelainan bawaan, adakah keluhan, dan lain-lain.
“Kalau dari hasil wawancara kita curiga, lakukan rekam jantung. Lakukan USG, namanya echo, bisa melihat ke dalam jantung, adakah penebalan, seberapa tebalnya, adakah sumbatan katup. Kalau dikategorikan berisiko tinggi, ya kita sarankan tidak menjadi atlet,” tegas dr Yamin lagi.
Sayangnya di negara Asia, screening untuk olahraga kompetitif ini tidak intensif dilakukan. “Karena itu Brawijaya Helathcare melalui BraveHeart akan menggalakkan sport cardialogy, yaitu ilmu perjantungan yang berkaitan dengan olahraga, termasuk preparticipation screening, yaitu penapisan sebelum orang olahraga terutama atlet karena dia yang palig berisko, karena intensitas latihannya jauh lebih berat dari orang yang olahraga biasa, sehingga potensi terjadi penebalan ototnya jauh lebih tinggi,” jelas dr Yamin.
Selain atlet, preparticipation screening ini juga ditagetkan dapat dilakukan pada komunitas-komunitas olahraga. “Kalau ada yang berpotensi penebalan jantung, ya kita follow up, supaya dia aman untuk berolahraga. Jadi jangan takut untuk tetap berolahraga,” ujar dr Yamin yang mengungkap, berdasarkan statistik, olahraga kompetitif basket paling banyak terjadi henti jantung.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News