#30 tag 24jam
Jika Gencatan Senjata Disepakati, Akankah Iran Tunda Serang Israel?
Iran telah bersumpah akan memberikan respon keras terhadap pembunuhan Ismail Haniyeh. [712] url asal
#iran #iran-serang-israel #iran-siap-serang-israel #bagaimana-iran-akan-serang-israel #gencatan-senjata #gencatan-senjata-hamas-israel #gencatan-senjata-di-timur-tengah #ayatullah-khamenei #militer-ira
(Republika - Khazanah) 14/08/24 05:36
v/14390647/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ancaman Iran untuk melakukan serangan skala penuh terhadap Israel dilaporkan bisa ditunda dengan catatan ada kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pekan ini. Reuters melaporkan, kesepakatan tersebut akan menahan Iran untuk tidak melakukan pembalasan langsung terhadap Israel atas pembunuhan pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, di Teheran, kata tiga pejabat senior Iran.
Iran telah bersumpah akan memberikan respon keras terhadap pembunuhan mantan perdana menteri Palestina yang dilakukan ketika ia mengunjungi Teheran akhir bulan lalu. Secara eksplisit, Iran dan Hamas menyalahkan Israel. Israel tidak mengonfirmasi atau membantah keterlibatannya. Untuk mencegah eskalasi memanas, Angkatan Laut AS telah mengerahkan kapal perang dan kapal selam ke Timur Tengah untuk memperkuat pertahanan Israel.
Salah satu sumber, seorang pejabat senior keamanan Iran, mengatakan kepada Reuters, Iran, bersama dengan sekutunya seperti Hizbullah, akan melancarkan serangan langsung jika perundingan Gaza gagal atau Israel merasa bahwa mereka memperlambat negosiasi. Sumber-sumber tersebut tidak mengatakan berapa lama Iran akan membiarkan perundingan berjalan sebelum memberikan respon.
Risiko perang Timur Tengah yang lebih luas setelah pembunuhan Haniyeh dan komandan Hizbullah Fuad Shukr membuat Iran telah terlibat dalam dialog intensif dengan negara-negara Barat dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir. Dialog tersebut dilakukan terkait cara-cara untuk mengalibrasi pembalasan, kata sumber-sumber itu, yang semuanya berbicara tanpa menyebut nama karena sensitivitas masalah ini.
Dalam komentar yang diterbitkan pada Selasa, duta besar AS untuk Turki mengonfirmasi Washington meminta sekutu untuk membantu meyakinkan Iran untuk meredakan ketegangan. Tiga sumber pemerintah regional menggambarkan percakapan dengan Teheran untuk menghindari eskalasi menjelang perundingan gencatan senjata Gaza, yang akan dimulai pada hari Kamis di Mesir atau Qatar.
"Kami berharap respon kami akan tepat waktu dan dieksekusi dengan cara yang tidak membahayakan gencatan senjata," misi Iran untuk PBB mengatakan pada Jumat dalam sebuah pernyataan. Kementerian Luar Negeri Iran pada Selasa mengatakan bahwa seruan untuk menahan diri bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Iran dan Korps Garda Revolusi Iran tidak segera menanggapi pertanyaan untuk berita ini. Kantor Perdana Menteri Israel dan Departemen Luar Negeri AS juga tidak menanggapi pertanyaan.
"Sesuatu dapat terjadi secepatnya dalam pekan ini oleh Iran dan proksinya... Itu adalah penilaian AS dan juga penilaian Israel," kata juru bicara Gedung Putih John Kirby kepada wartawan pada Senin."Jika sesuatu terjadi pekan ini, waktunya tentu saja dapat berdampak pada pembicaraan yang ingin kami lakukan pada Kamis," tambahnya.
Hamas meragukan apakah gencatan senjata akan terjadi..
Pada akhir pekan lalu, Hamas meragukan apakah perundingan akan dilanjutkan. Israel dan Hamas telah mengadakan beberapa putaran pembicaraan dalam beberapa bulan terakhir tanpa menyepakati gencatan senjata akhir.
Di Israel, banyak pengamat percaya bahwa sebuah balasan akan segera terjadi setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengatakan Iran akan menghukum dengan keras Israel atas serangan di Teheran.
Kebijakan regional Iran diatur oleh pasukan elit Garda Revolusi, yang hanya bertanggung jawab kepada Khamenei, pemimpin tertinggi negara itu. Presiden baru Iran yang relatif moderat, Masoud Pezeshkian, telah berulang kali menegaskan kembali sikap anti-Israel Iran dan dukungannya terhadap gerakan-gerakan perlawanan di seluruh kawasan sejak menjabat bulan lalu.
Analis yang berbasis di Iran, Saeed Laylaz, mengatakan bahwa para pemimpin Republik Islam sekarang ingin mengupayakan gencatan senjata di Gaza, "untuk mendapatkan insentif, menghindari perang habis-habisan, dan memperkuat posisinya di wilayah tersebut."
Laylaz mengatakan Iran sebelumnya tidak terlibat dalam proses perdamaian Gaza, namun kini siap untuk memainkan peran kunci.
Iran, kata dua sumber itu, sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan perwakilannya ke perundingan gencatan senjata, yang merupakan yang pertama kali dilakukan sejak perang dimulai di Gaza.
Perwakilan Iran tidak akan secara langsung menghadiri pertemuan, namun akan terlibat dalam diskusi di belakang layar untuk menjaga jalur komunikasi diplomatik dengan Amerika Serikat sementara negosiasi berlangsung. Para pejabat di Washington, Qatar dan Mesir tidak segera menanggapi pertanyaan tentang apakah Iran akan memainkan peran tidak langsung dalam perundingan.
Dua sumber senior yang dekat dengan Hizbullah mengatakan Teheran akan memberikan kesempatan pada perundingan tersebut namun tidak akan mengurungkan niatnya untuk melakukan pembalasan.Gencatan senjata di Gaza akan memberikan Iran perlindungan untuk melakukan respon simbolis yang lebih kecil, kata salah satu sumber tersebut.
Israel melancarkan serangannya ke Gaza setelah para pejuang Hamas menyerbu masuk ke Israel selatan pada tanggal 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang, sebagian besar warga sipil, dan menangkap lebih dari 250 sandera, menurut perhitungan Israel.Sejak saat itu, hampir 40.000 warga Palestina telah terbunuh dalam serangan Israel di Gaza, menurut kementerian kesehatan.
Gedung Putih Simpulkan Iran akan Lancarkan Serangan ke Israel Pekan Ini
Namun, AS tidak mengetahui skala serangan Iran ke Israel. [376] url asal
#iran-serang-israel #iran-akan-serang-israel #iran-segera-serang-israel #israel #iran #as #gedung-putih
(Republika - News) 13/08/24 16:45
v/14362265/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Amerika Serikat (AS) menyimpulkan bahwa Iran beserta proksi-proksinya di kawasan mungkin akan menyerang Israel pekan ini. Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby pada Senin (12/8/2024) mengatakan kepada wartawan bahwa AS memiliki "kekhawatiran dan perkiraan yang sama dengan mitra-mitra kami di Israel sehubungan dengan kemungkinan waktunya, mungkin terjadi pekan ini."
Namun, ia menegaskan bahwa "pada saat ini sulit untuk memastikan" aksi balasannya akan seperti apa. Tapi, menurutnya, aksi balasan itu mungkin mencakup "serangkaian serangan yang cukup signifikan."
"Presiden yakin bahwa kami memiliki kemampuan yang tersedia untuk membantu membela Israel jika hal itu terjadi," katanya.
"Tidak seorang pun ingin melihat itu terjadi. Itu sebabnya kami terus melakukan pembicaraan diplomatik ini dengan sungguh-sungguh selama beberapa hari terakhir untuk melihat apa yang dapat dilakukan untuk meredakan situasi ini," ujarnya.
Kirby merujuk pernyataannya itu pada Presiden AS Joe Biden, yang pada Senin pagi berbicara melalui sambungan telepon dengan pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia terkait situasi di Timur Tengah.
"Pembicaraan telepon itu dilakukan pada pagi hari, terutama untuk membahas ketegangan di Timur Tengah, terutama agar semua pemimpin menegaskan kembali apa yang telah mereka katakan dalam hal pembelaan Israel," ungkap jubir.
"... dan perlunya gencatan senjata, pemulangan para sandera, dan penegasan bahwa kami tidak ingin melihat peningkatan kekerasan, serangan apa pun oleh Iran atau proksinya, dan untuk memperjelas hal itu," katanya, menambahkan.
Departemen Pertahanan AS pada Ahad (11/8/2024) mengatakan bahwa Menhan AS Lloyd Austin telah memerintahkan pengerahan kapal selam berpeluru kendali ke Timur Tengah, dan agar kedatangan kelompok serang kapal induk ke kawasan tersebut dipercepat.
Hamas dan Iran menuding Israel melakukan pembunuhan terhadap Haniyeh di ibu kota Iran, Teheran. Israel tidak mengonfirmasi atau menolak bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.
Kelompok Hizbullah Lebanon juga diperkirakan akan melakukan aksi balasan setelah Israel membunuh komandan senior Fuad Shukr dalam sebuah serangan udara di pinggiran selatan Beirut pada 30 Juli. Shukr dibunuh sehari sebelum Haniyeh. Rentetatan pembunuhan tersebut membuat kawasan itu berada dalam situasi genting dan terancam mengalami perang lebih luas, sementara serangan Israel terus berlangsung di Jalur Gaza.
Hampir 40 ribu warga Palestina tewas dalam serangan yang telah berlangsung selama 10 bulan di Gaza. Sementara itu, kurang dari 1.200 orang tewas dalam serangan lintas batas yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.
Kirim Kapal ke Laut Mideterania, Apakah AS akan Membalas Jika Iran Serang Israel?
AS menginstruksikan pengiriman kapal selam bertenaga nuklir ke Timur Tengah. [624] url asal
#kapal-induk-as #perang-iran-israel #israel-serang-iran #iran-serang-israel #iran-siap-serang-israel #kapan-iran-akan-serang-israel #serangan-iran #as-kirim-kapal-induk #kapal-induk-as-ancam-iran #as-h
(Republika - News) 13/08/24 09:48
v/14350329/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Angkatan LautAmerika Serikat telah mengerahkan sekelompok kapal penyerang ke Mediterania Timur di tengah meningkatnya ketegangan menyusul meningkatnya eskalasi di tengah persiapan Iran yang hendak menyerang Israel.Ancaman serangan tersebut menyusul pembunuhan komandan Hizbullah Fuad Shukr oleh Israel di Beirut dan pembunuhan pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh di Teheran.
AS menginstruksikan pengiriman kapal selam bertenaga nuklir ke Timur Tengah. Sekelompok penyerang kapal induk pun berlayar lebih cepat. Pengerahan tersebut menyusul seruan dari Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada Ahad untuk mengantisipasi serangan balik Iran, dilansir dari Aljazeera.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Pentagon, Austin menegaskan kembali komitmen AS untuk mengambil setiap langkah yang mungkin dilakukan untuk membela Israel. Pentagon mencatat penguatan postur dan kemampuan kekuatan militer AS di seluruh Timur Tengah sehubungan dengan meningkatnya ketegangan regional.
Para pengamat khawatir bahwa pembalasan apa pun terhadap dua pembunuhan tersebut, baik dari Iran atau sekutunya Hizbullah, dapat memicu perang regional yang lebih luas dan berpotensi menarik dukungan AS terhadap sekutunya, Israel.
Pengerahan pasukan penyerang ini dilakukan pada saat para pengkritik pemerintah AS menyerukan pemerintah AS untuk menggunakan pengaruhnya untuk memaksakan gencatan senjata, demikian yang dilaporkan saluran berita AS, CNBC.
Presiden AS Joe Biden juga mengkritik tindakan perang di Gaza, menyebut operasi Israel di wilayah tersebut sebagai tindakan yang “berlebihan” pada bulan Februari, dan berulang kali mengatakan bahwa “terlalu banyak” warga sipil yang terbunuh. Namun, hal ini tidak menghasilkan upaya paksa untuk membuat Israel menghentikan serangannya terhadap Gaza, seperti larangan penjualan senjata, atau sanksi lainnya.
Banyak negara, termasuk Arab Saudi, Turki, Yordania dan sejumlah negara Barat, telah mendesak warganya untuk mengungsi dari Lebanon, karena khawatir negara tersebut akan diserang habis-habisan oleh Israel jika negara tersebut terkena serangan langsung. Pada saat yang sama, sejumlah maskapai penerbangan telah menangguhkan penerbangan ke Israel, Yordania, dan Lebanon.
Apa yang ingin dicapai AS?
Apa yang ingin dicapai Amerika dengan mengerahkan satuan tugas angkatan laut ke wilayah tersebut?
Menurut Gordon Gray, seorang profesor dan mantan duta besar AS, pengumuman pengerahan kelompok penyerang kapal induk dimaksudkan untuk menghalangi Iran daripada memperburuk situasi.
Biden memerintahkan pengerahan serupa ke Mediterania timur pada Oktober tahun lalu, ketika salah satu kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, berlayar ke wilayah tersebut, yang diikuti oleh kapal dan pesawat mata-mata dari Inggris.
Pada saat itu, para pejabat AS menggambarkan pengerahan pasukan tersebut sebagai upaya untuk mencegah Hizbullah dan Iran mengambil keuntungan dari perang Israel di Gaza, yang saat itu masih dalam tahap awal. Israel kini telah membunuh hampir 40.000 warga Palestina dalam perang tersebut.
Omar Rahman, seorang peneliti di Dewan Urusan Global Timur Tengah, mengatakan bahwa dia yakin “AS dengan jelas memberi isyarat kepada Iran bahwa mereka akan menjadi bagian dari perjuangan apa pun di masa depan, yang kemungkinan akan menghalangi Iran melakukan pembalasan yang signifikan terhadap Israel”.
Kapal apa saja yang dikerahkan AS?
Kelompok penyerang, yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln dan skuadron jet tempur F-35C-nya, sudah menuju wilayah tersebut. Kapal-kapal ini dijadwalkan untuk menggantikan kapal induk USS Theodore Roosevelt. Austin kini memerintahkannya untuk meningkatkan kecepatan. Selain itu, USS Georgia, kapal selam bertenaga nuklir yang membawa peluru kendali yang sudah ada di Mediterania, telah dikerahkan ke wilayah tersebut.
HA Hellyer dari Royal United Service Institute (RUSI) percaya bahwa unjuk kekuatan AS dimaksudkan membatasi kemungkinan eskalasi, tanpa harus menghadapi perilaku sekutunya Israel dan perangnya di Gaza.
Namun, membatasi kemungkinan terjadinya eskalasi sambil mengambil pendekatan lepas tangan terhadap tindakan pemerintah Israel mungkin akan menjadi sebuah tantangan, terutama ketika berhadapan dengan negara yang telah terbukti “sangat ceroboh”, kata Hellyer.
“Kurangnya akuntabilitas menjamin impunitas, dan [Perdana Menteri Israel Benjamin] Netanyahu telah melanggar hampir semua garis merah retoris yang telah ditetapkan Biden, dan akan terus melakukannya, sampai ia berpikir akan ada konsekuensi nyata,” kata dia.
Kirim Kapal ke Laut Mediterania, Apakah AS akan Membalas Jika Iran Serang Israel?
AS menginstruksikan pengiriman kapal selam bertenaga nuklir ke Timur Tengah. [624] url asal
#kapal-induk-as #perang-iran-israel #israel-serang-iran #iran-serang-israel #iran-siap-serang-israel #kapan-iran-akan-serang-israel #serangan-iran #as-kirim-kapal-induk #kapal-induk-as-ancam-iran #as-h
(Republika - News) 13/08/24 09:48
v/14350328/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Angkatan LautAmerika Serikat telah mengerahkan sekelompok kapal penyerang ke Mediterania Timur di tengah meningkatnya ketegangan menyusul meningkatnya eskalasi di tengah persiapan Iran yang hendak menyerang Israel.Ancaman serangan tersebut menyusul pembunuhan komandan Hizbullah Fuad Shukr oleh Israel di Beirut dan pembunuhan pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh di Teheran.
AS menginstruksikan pengiriman kapal selam bertenaga nuklir ke Timur Tengah. Sekelompok penyerang kapal induk pun berlayar lebih cepat. Pengerahan tersebut menyusul seruan dari Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada Ahad untuk mengantisipasi serangan balik Iran, dilansir dari Aljazeera.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Pentagon, Austin menegaskan kembali komitmen AS untuk mengambil setiap langkah yang mungkin dilakukan untuk membela Israel. Pentagon mencatat penguatan postur dan kemampuan kekuatan militer AS di seluruh Timur Tengah sehubungan dengan meningkatnya ketegangan regional.
Para pengamat khawatir bahwa pembalasan apa pun terhadap dua pembunuhan tersebut, baik dari Iran atau sekutunya Hizbullah, dapat memicu perang regional yang lebih luas dan berpotensi menarik dukungan AS terhadap sekutunya, Israel.
Pengerahan pasukan penyerang ini dilakukan pada saat para pengkritik pemerintah AS menyerukan pemerintah AS untuk menggunakan pengaruhnya untuk memaksakan gencatan senjata, demikian yang dilaporkan saluran berita AS, CNBC.
Presiden AS Joe Biden juga mengkritik tindakan perang di Gaza, menyebut operasi Israel di wilayah tersebut sebagai tindakan yang “berlebihan” pada bulan Februari, dan berulang kali mengatakan bahwa “terlalu banyak” warga sipil yang terbunuh. Namun, hal ini tidak menghasilkan upaya paksa untuk membuat Israel menghentikan serangannya terhadap Gaza, seperti larangan penjualan senjata, atau sanksi lainnya.
Banyak negara, termasuk Arab Saudi, Turki, Yordania dan sejumlah negara Barat, telah mendesak warganya untuk mengungsi dari Lebanon, karena khawatir negara tersebut akan diserang habis-habisan oleh Israel jika negara tersebut terkena serangan langsung. Pada saat yang sama, sejumlah maskapai penerbangan telah menangguhkan penerbangan ke Israel, Yordania, dan Lebanon.
Apa yang ingin dicapai AS?
Apa yang ingin dicapai Amerika dengan mengerahkan satuan tugas angkatan laut ke wilayah tersebut?
Menurut Gordon Gray, seorang profesor dan mantan duta besar AS, pengumuman pengerahan kelompok penyerang kapal induk dimaksudkan untuk menghalangi Iran daripada memperburuk situasi.
Biden memerintahkan pengerahan serupa ke Mediterania timur pada Oktober tahun lalu, ketika salah satu kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R Ford, berlayar ke wilayah tersebut, yang diikuti oleh kapal dan pesawat mata-mata dari Inggris.
Pada saat itu, para pejabat AS menggambarkan pengerahan pasukan tersebut sebagai upaya untuk mencegah Hizbullah dan Iran mengambil keuntungan dari perang Israel di Gaza, yang saat itu masih dalam tahap awal. Israel kini telah membunuh hampir 40.000 warga Palestina dalam perang tersebut.
Omar Rahman, seorang peneliti di Dewan Urusan Global Timur Tengah, mengatakan bahwa dia yakin “AS dengan jelas memberi isyarat kepada Iran bahwa mereka akan menjadi bagian dari perjuangan apa pun di masa depan, yang kemungkinan akan menghalangi Iran melakukan pembalasan yang signifikan terhadap Israel”.
Kapal apa saja yang dikerahkan AS?
Kelompok penyerang, yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln dan skuadron jet tempur F-35C-nya, sudah menuju wilayah tersebut. Kapal-kapal ini dijadwalkan untuk menggantikan kapal induk USS Theodore Roosevelt. Austin kini memerintahkannya untuk meningkatkan kecepatan. Selain itu, USS Georgia, kapal selam bertenaga nuklir yang membawa peluru kendali yang sudah ada di Mediterania, telah dikerahkan ke wilayah tersebut.
HA Hellyer dari Royal United Service Institute (RUSI) percaya bahwa unjuk kekuatan AS dimaksudkan membatasi kemungkinan eskalasi, tanpa harus menghadapi perilaku sekutunya Israel dan perangnya di Gaza.
Namun, membatasi kemungkinan terjadinya eskalasi sambil mengambil pendekatan lepas tangan terhadap tindakan pemerintah Israel mungkin akan menjadi sebuah tantangan, terutama ketika berhadapan dengan negara yang telah terbukti “sangat ceroboh”, kata Hellyer.
“Kurangnya akuntabilitas menjamin impunitas, dan [Perdana Menteri Israel Benjamin] Netanyahu telah melanggar hampir semua garis merah retoris yang telah ditetapkan Biden, dan akan terus melakukannya, sampai ia berpikir akan ada konsekuensi nyata,” kata dia.
Gedung Putih: Iran Siapkan Serangan Besar-besaran ke Israel Pekan Ini
Iran telah menyiapkan rudal dan dronenya. [681] url asal
#iran-serang-israel #israel-serang-iran #perang-iran-israel #iran-siap-serang-israel #serangan-iran #iran-segera-serang-israel #kapan-iran-akan-serang-israel #rudal-iran #iran-ancam-israel #iran-latiha
(Republika - Khazanah) 13/08/24 05:41
v/14350094/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Gedung Putih pada Senin (12/8/2024), mengatakan, intelijen Amerika Serikat memprediksi Iran kemungkinan besar akan menyerang Israel pada pekan ini. Perkiraan tersebut berdasarkan penilaian intelijen Israel terbaru, dilansir dari Axios yang dikutip Republika di Jakarta.
Laporan intelijen terbaru menunjukkan, serangan bisa terjadi sebelum upaya perundingan gencatan senjata dalam upaya pembebasan sandera yang direncanakan pada Kamis. Serangan besar Iran dinilai akan membahayakan perundingan tidak langsung antara Israel dan Hamas.
BACA JUGA: Tak Ada yang Bisa Jelaskan soal Ruh Selain Islam, Alexander Jadi Mualaf
"Israel berpendapat ada kemungkinan yang semakin besar bahwa Iran dan proksinya akan melakukan serangan dalam beberapa hari mendatang. Kami mempunyai kekhawatiran yang sama dan oleh karena itu kami berkoordinasi dengan Israel dan mitra lainnya di kawasan ini," juru bicara Gedung Putih John Kirby mengatakan dalam sebuah konferensi pers dengan wartawan, seraya menambahkan bahwa AS memperkirakan serangan bisa terjadi pekan ini.
Kirby mengatakan, Presiden Biden berbicara melalui telepon pada Senin dengan rekan-rekannya dari Inggris, Jerman, Perancis dan Italia untuk membahas situasi di Timur Tengah. Dia mengatakan, mereka membahas cara-cara untuk melindungi Israel, memajukan kesepakatan untuk pembebasan sandera dan gencatan senjata di Gaza serta mencegah serangan Iran.
Para pejabat Israel dan Amerika Serikat mengatakan kepada Axios, Iran telah melakukan beberapa langkah signifikan untuk menyiapkan unit rudal dan drone-nya. Persiapan ini dinilai serupa dengan perencanaan sebelum serangan terhadap Israel pada April lalu.
Meski demikian, mereka menekankan Israel dan AS tidak mengetahui waktu pasti serangan tersebut.“Iran secara terbuka memberi sinyal (di lapangan) tekad mereka untuk melakukan serangan signifikan selain pernyataan publik mereka bahwa serangan itu akan melebihi apa yang mereka lakukan pada bulan April. Pernyataan publik Iran tidak mencerminkan kemunduran apa pun,” seorang senior Israel kata pejabat itu kepada Axios.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan pejabat senior politik dan militer Iran lainnya mengatakan Iran akan membalas pembunuhan Ismail Haniyeh oleh Israel di Teheran bulan lalu. Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah juga berjanji untuk menanggapi serangan udara Israel di Beirut yang menewaskan penasihat militer utamanya pada bulan Juli.
AS, Inggris, Perancis, Jerman dan Italia mengeluarkan pernyataan bersama pada hari Senin yang menyerukan Iran “untuk menahan ancaman serangan militer terhadap Israel dan membahas konsekuensi serius bagi keamanan regional jika serangan semacam itu terjadi.”
Israel telah memerintahkan personel militernya yang ditempatkan di Azerbaijan dan Georgia untuk segera kembali mengingat adanya ancaman kemungkinan serangan Iran, kantor berita TASS melaporkan mengutip radio pemerintah Kan.
Dikutip dari laman Armen Press, Senin (12/8/2024), perintah yang dikeluarkan oleh militer Israel mengamanatkan pasukannya yang saat ini berada di salah satu dari kedua negara tersebut untuk segera pulang ke Israel.
Iran telah berjanji untuk membalas pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran pada akhir Juli 2024, yang dilakukan oleh Israel, menurut Iran. Namun Israel belum mengklaim atau membantah bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.
Dikutip dari laman Shafaq, pada Senin, Komite Koordinasi Perlawanan Irak (IRCC) memperingatkan bahwa mereka akan memberi respons jika Iran dibom melalui wilayah udara Irak.
IRCC mencakup faksi-faksi Syiah bersenjata yang didukung oleh Iran, termasuk Kataib Hezbollah, Asaib Ahl Al-Haq, Kataib Sayyid al-Shuhada, dan Harakat Hezbollah al-Nujaba, yang sebelumnya mengklaim serangan terhadap target militer AS di Irak.
"Meskipun serangan brutal terhadap rakyat kami dan perlawanan terus berlanjut, kekuatan arogansi memprioritaskan keamanan entitas Zionis di atas keamanan regional, mengabaikan kedaulatan Irak dan kepentingan negara-negara yang menentang kebijakan kriminal mereka,” kata IRCC.
"IRCC tidak dibatasi, dan jika pasukan AS menargetkan rakyat kami di Irak atau menggunakan wilayah udaranya untuk menyerang Iran, respons kami tidak akan dibatasi,” ujarnya.
Hal ini menyusul pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh oleh Israel di Teheran, yang mendorong Iran bersumpah untuk membalas, sementara AS telah berjanji mendukung Israel jika terjadi serangan.
Sebelumnya, sumber-sumber swasta mengatakan kepada Kantor Berita Shafaq bahwa “Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken memperingatkan Perdana Menteri Irak Mohammed Shia Al-Sudani tentang faksi-faksi Irak yang didukung Iran yang berencana untuk meningkatkan serangan terhadap pasukan AS di Irak dan kawasan tersebut.”
Dalam konteks ini, Blinken menekankan komitmen pemerintah AS untuk melindungi pasukan dan kepentingannya, sementara Al-Sudani bekerja keras untuk mencegah eskalasi oleh faksi-faksi yang menentang kepentingan Amerika.
Ancaman Hizbullah Kian Nyata, Bagaimana Israel Dapat Menyelamatkan Diri?
Hizbullah diperkirakan akan menargetkan fasilitas-fasilitas IDF. [444] url asal
#serangan-hizbullah #antisipasi-serangan-hizbullah #serangan-hizbullah-kian-nyata #israel-takut-ancaman-hizbullah #hizbullah-serang-israel #kapan-iran-akan-serang-israel #israel-diserang-hizbullah #pep
(Republika - Khazanah) 12/08/24 20:16
v/14318086/
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV — Para perwira Israel di komando utara meningkatkan kewaspadaan atas semakin tingginya potensi ancaman serangan darat oleh Hizbullah di sepanjang perbatasan utara Palestina yang diduduki. Menurut sebuah laporan dari outlet berita Israel, Walla! para perwira Israel menggambarkan ancaman tersebut lebih nyata daripada sebelumnya.
Para perwira menyoroti kemampuan pasukan elit Hizbullah, Pasukan Radwan, masih dapat melancarkan serangan terkoordinasi. Mereka pun dinilai mampu untuk menyusup ke pemukiman atau posisi militer Israel.
Perwira-perwira itu menekankan, mereka yang percaya bahwa Hizbullah tidak terlatih untuk menembus perbatasan utara adalah keliru dan delusif. Mereka bahkan mendesak agar setiap orang beroperasi dengan asumsi bahwa Hizbullah memiliki kemampuan untuk menyusup, menancapkan bendera mereka di pemukiman atau pos militer, dan membakar gedung-gedung.
Analisis para perwira tersebut tampak pada sebuah dokumen yang dibagikan tentara pendudukan Israel (IDF) kepada para walikota di wilayah utara yang memerinci "Skenario Terbaru" untuk perang habis-habisan dengan Hizbullah, demikian menurut The Times of Israel.
Dokumen ini menguraikan dampak potensial, termasuk pemadaman listrik selama tiga hari di beberapa kota, gangguan pasokan air yang berlangsung selama beberapa hari, pemutusan sambungan telepon rumah hingga delapan jam, gangguan komunikasi ponsel hingga 24 jam, dan gangguan lokal singkat pada layanan radio dan internet.
Dokumen tersebut lebih lanjut menyoroti bahwa hingga 40% tenaga kerja Israel mungkin tidak dapat bekerja selama perang. Sementara itu, penyedia layanan dari luar daerah yang terkena dampak mungkin tidak tersedia.
Antisipasi roket..
Pihak keamanan, seperti yang dilaporkan oleh The Times of Israel, mengantisipasi serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap zionis dengan ratusan roket berhulu ledak mulai dari 50 kilogram hingga 500 kilogram.
Hizbullah diperkirakan akan menargetkan fasilitas-fasilitas IDF. Penargetan tersebut diikuti dengan serangan terhadap infrastruktur militer kemudian daerah sipil. Meski demikian, prioritas serangan dinilai dapat bergeser, tulis laporan tersebut.
Kelompok ini mungkin membidik target sejauh selatan Tel Aviv, yang berpotensi mendorong evakuasi massal ke al-Quds dan wilayah selatan, tambahnya. Para pengungsi akan ditempatkan di hotel-hotel, yang banyak di antaranya saat ini menampung para pemukim Israel yang mengungsi dari utara. Jika hotel-hotel di al-Quds penuh, para pengungsi akan ditampung di sekolah-sekolah kota.
Rencana sedang dilakukan untuk mendirikan kota-kota tenda di selatan, termasuk lokasi-lokasi seperti Timna, sebelah utara Eilat, dan Taman Eshkol di al-Naqab. Model ini mirip dengan tenda-tenda yang diatur oleh Arcadi Gaydamak di Pantai Nitzanim pada 2006 untuk para pemukim yang dievakuasi selama Perang Juli 2006 dan pada tahun 2007 di Taman Yarkon untuk para pemukim Sderot, demikian laporan itu menekankan.
Warga Israel telah menimbun persediaan, sementara kotamadya al-Quds yang diduduki menyarankan warga untuk membersihkan dan mempersiapkan tempat perlindungan bom mereka. IDF memperingatkan bahwa mereka harus dapat mencapai tempat perlindungan dalam 90 detik.