JAKARTA, investor.id – PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) menjadi salah satu emiten batu bara paling efisien di Indonesia. Margin EBITDA Adaro pada semester I-2024 meningkat menjadi 40% dari 38,2%. Begitu juga dengan margin laba bersih naik menjadi 26,2% dari 25,1%.
Namun, Adaro mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 10,8% yoy menjadi US$ 778,8 juta pada semester I-2024 dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 873,8 juta. Meski demikian, secara kuartalan, Adaro mencetak kenaikan laba bersih sebesar 8% menjadi US$ 404,4 juta dari US$ 374,3 juta.
“Kenaikan itu disebabkan oleh volume penjualan yang lebih tinggi setelah peningkatan permintaan dari India dan China selama musim panas,” tulis analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Axell Ebenhaezer dalam risetnya.
Pada semester I-2024, Adaro berhasil meningkatkan volume produksinya sebesar 7% yoy menjadi 35,74 juta ton dari 33,41 juta ton. Volume penjualan batu bara emiten berkode saham ADRO tersebut juga meningkat 7% yoy menjadi 34,94 juta ton dari 32,62 juta ton.
“Peningkatan volume tersebut mengurangi sebagian dampak dari penurunan harga batu bara global,” jelas Axell.
Pada semester II-2024, volume produksi batu bara ADRO diperkirakan sedikit melambat, seiring curah hujan yang diprediksi lebih tinggi dari biasanya karena fenomena La Nina. Volume penjualan juga diperkirakan turun, sejalan dengan penurunan permintaan dari India dan China.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
ADRO menjual 18% batu bara termal ke China dan 11% ke India. Selain itu, ADRO menjual 11% dan 5% batu bara metalik masing-masing ke China dan India melalui anak usahanya, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).
Dengan berbagai pertimbangan, NH Korindo Sekuritas merekomendasikan hold saham ADRO. Target harga saham ADRO dipatok sebesar Rp 3.680. Target harga tersebut kurang lebih setara dengan rata-rata PE standar deviasi 3 tahun ADRO sebesar 4,66 kali.
Saat ini, saham Adaro (ADRO) diperdagangkan pada rasio PE sebesar 4,57 kali. Risiko utamanya jika La Nina memengaruhi produksi pertambangan, terus terjadi perlambatan ekonomi China, dan suku bunga The Fed.
Sementara itu, baru-baru ini, ADRO mengumumkan rencana pelepasan 99,99% saham PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) atau dahulu bernama PT Alam Tri Abadi, perusahaan yang bergerak di bisnis batu bara termal, dengan nilai US$ 2,45-2,63 miliar.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News