JAKARTA, investor.id – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI berada dalam posisi yang baik untuk memanfaatkan penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan terus terjadi, serta penurunan biaya kredit – saat ini mendekati target tahunan maksimum 3% - yang dapat mendorong pertumbuhan laba.
Pada Agustus 2024, BRI mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 51% mom, yang didorong oleh penurunan cost ofcredit (CoC). Adapun pertumbuhan kredit melambat ke 7,1% yoy, sedangkan pendapatan non-bunga (non-II) melonjak 64,6% yoy.
“BRI membukukan angka yang kuat pada Agustus, dengan laba bersih bank only naik 51% mom atau meningkat 20,9% yoy menjadi Rp 4,79 triliun. Pertumbuhan itu didorong oleh penurunan CoC,” tulis analis RHB Sekuritas, Andrey Wijaya dalam risetnya.
Alhasil, laba bersih emiten berkode saham BBRI tersebut sepanjang Januari-Agustus 2024 mencapai Rp 36,21 triliun, naik 4% yoy. Pencapaian itu sekitar 59% dari estimasi RHB untuk setahun penuh dan 60% dari perkiraan konsensus tahun ini. Sebagai perbandingan, laba BBRI pada Januari-Agustus 2023 mencapai 58% dari angka setahun penuh.
Sementara itu, menurut Andrey, pertumbuhan kredit BBRI melambat menjadi 7,1% yoy pada Agustus 2024 dibandingkan Juli 2024 sebesar 8,6% yoy. Pencapaian itu di bawah target BBRI tahun ini yang sebesar 10-12%. “Kami perkirakan hal itu disebabkan oleh penyaluran kredit yang lebih hati-hati untuk meningkatkan kualitas aset,” jelas dia.
BBRI mencatatkan netinterestmargin (NIM) tetap stabil sebesar 6,45% pada Januari-Agustus 2024. Sebagai informasi, NIM perseroan selama Januari-Juli 2024 mencapai 6,44%. Sedangkan pendapatan non-bunga melonjak 17,8% mom atau melejit 64,6% yoy, didorong oleh peningkatan pendapatan berbasis biaya dan pendapatan lainnya.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Di sisi lain, CoC mendekati target tahunan maksimum 3%, yang mencerminkan peningkatan kualitas aset karena beban provisi turun 31,5% mom atau 20,6% yoy pada Agustus 2024. “Kami perkirakan CoC akan terus turun, didukung oleh perbaikan kualitas aset bulanan karena BBRI menjadi lebih selektif dalam memberikan kredit, dengan fokus pada nasabah yang memiliki rekam jejak kuat,” ungkap Andrey.
Selanjutnya, loan to deposit ratio (LDR) perseroan naik menjadi 89,2% pada Agustus dibandingkan Juli yang sebesar 87,04%. Rasio dana murah (CASA) meningkat menjadi 64,8% dari 63,37%, ditopang oleh penurunan deposito berjangka sebesar 6,3% mom.
“Kami perkirakan persaingan untuk meningkatkan deposito akan mereda, karena membaiknya likuiditas seiring dengan tren penurunan suku bunga BI,” sebut dia.
Dengan berbagai faktor tersebut, RHB mempertahankan rekomendasi buy saham BBRI. Target harga saham BBRI sebesar Rp 5.900. Potensi yield dividen 2024 mencapai 6%.
“Penurunan harga saham BBRI belakangan ini memberikan kesempatan yang baik untuk mulai mengakumulasi,” pungkas Andrey.
Target harga saham BBRI sudah termasuk 6% premi sesuai nilai ESG-nya sebesar 3,3 atau melebihi nilai median negara yang mencapai 3,0. Risiko utamanya jika terjadi pertumbuhan kredit yang lebih lambat dari perkiraan.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News