Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,52% atau 39,05 poin ke 7.559,65 pada Senin (14/10). IHSG menguat 0,74% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG naik 3,94%.
Di saat IHSG bertahan di level 7.559, ada delapan saham yang naik double digit. Berikut saham top gainers dan top losers bursa efek di perdagangan kemarin:
Top Gainers
Top Losers
Saham
%
Saham
%
AYLS
34.67%
LMPI
-7.44%
CRSN
34.31%
MARK
-7.36%
WOOD
19.69%
AKSI
-6.15%
ENAK
18.81%
PICO
-6.06%
MLPT
17.65%
KMTR
-5.84%
WIRG
14.29%
INPS
-5.41%
CITY
12.50%
KRYA
-5.36%
WIFI
11.59%
WINE
-5.00%
IOTF
8.84%
ISEA
-4.26%
TRON
8.82%
MPIX
-4.23%
Investor asing mencatat net sell atau jual bersih Rp 295,93 miliar di seluruh pasar. Net sell asing di pasar reguler mencapai Rp 247,49 miliar. Sedangkan di pasar negosiasi, ada net sell asing Rp 48,44 miliar.
Saham-saham dengan net sell terbesar asing adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 165,57 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) Rp 144,36 miliar, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 65,16 miliar.
Sedangkan saham-saham dengan net buy terbesar asing adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 84,55 miliar, PT Timah Tbk (TINS) Rp 75,69 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 54,42 miliar.
Berdasarkan sumbangan poin terhadap IHSG, berikut top leaders dan top laggards bursa pada Senin (14/10):
Top Leaders
Top Laggards
Saham
%
Saham
%
AMMN
3.28%
ASII
-2.86%
GOTO
8.33%
TLKM
-1.36%
BBCA
1.20%
BMRI
-0.36%
BREN
3.08%
DCII
-3.16%
BUMI
4.48%
SMGR
-3.94%
TPIA
0.58%
TOWR
-2.98%
BBNI
0.93%
ISAT
-2.98%
CUAN
6.18%
MTEL
-3.88%
AMRT
0.95%
BUKA
-3.68%
ANTM
4.15%
HEAL
-1.57%
Enam indeks sektoral mengangkat IHSG ke zona hijau. Sektor teknologi melonjak 1,74%. Sektor energi melesat 1,04%. Sektor barang konsumsi primer terangkat 0,89%. Sektor keuangan menanjak 0,44%. Sektor barang baku naik 0,44%. Sektor barang konsumsi nonprimer menguat 0,40%.
Lima sektor turun saat IHSG menguat. Sektor infrastruktur tumbang 0,80%. Sektor kesehatan terpangkas 0,72%. Sektor perindustrian melorot 0,50%. Sektor transportasi dan logistik turun 0,25%. Sektor properti dan real estat melemah 0,19%.
Total volume transaksi bursa mencapai 21,83 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 8,91 triliun. Sebanyak 295 saham menguat. Ada 265 saham yang melemah dan 238 saham flat.
Reporter: Wahyu Tri Rahmawati, Yuliana Hema | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 2,72% sepanjang bulan Juli ke 7.255,76 hingga Rabu (31/7) dari posisi akhir Juni yang masih ada di 7.063,58.
Penguatan IHSG disokong oleh perburuan saham-saham blue chip yang sudah tertekan di semester pertama 2024, sekaligus saham-saham kecil dan menengah pilihan.
Tidak banyak perubahan pada 20 saham dengan kapitalisasi pasar (market capitalization) terbesar atawa big cap di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang Juli 2024. Hanya dua saham yang terdepak dari 20 besar, yakni PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) dan PT Indosat Tbk (SMMA).
Sementara dua saham yang menggusur SMMA dan ISAT adalah PT United Tractors Tbk (UNTR) yang menguat 17,41% dalam sebulan dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang menguat 13,24% (lihat tabel).
Meski mayoritas menguat, ada empat saham big cap yang turun selama bulan Juli. Terbesar adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang market capnya anjlok 19,20%, disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan penurunan market cap 14,14% dalam sebulan.
Satu emiten Grup Barito lain yang turun harga adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dengan penurunan 3,16%. Sementara emiten Grup Barito satu lagi di 20 biggest cap adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang menguat 4,61% sebulan.
Sementara saham big cap yang turun satu lagi adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan penurunan 7,99% sebulan.
Berikut 20 big caps terbesar BEI akhir Juni dan Juli 2024, berdasarkan data BEI dan RTI:
Juni 2024
Juli 2024
No
Saham
M.Cap (Rp triliun)
No
Saham
M.Cap (Rp triliun)
%
1.
BREN
1347,9
1.
BBCA
1266,65
4,57%
2.
BBCA
1211,27
2.
BREN
1157,25
-14,14%
3.
TPIA
798,07
3.
AMMN
857,53
7,50%
4.
AMMN
797,7
4.
TPIA
834,84
4,61%
5.
BBRI
690,2
5.
BBRI
707,78
2,55%
6.
BMRI
568,26
6.
BMRI
597,33
5,12%
7.
BYAN
525,83
7.
BYAN
568,33
8,08%
8.
TLKM
310,06
8.
TLKM
285,3
-7,99%
9.
DSSA
192,64
9.
DSSA
228,08
18,40%
10.
ASII
180,56
10.
ASII
191,08
5,83%
11.
BBNI
172,07
11.
BBNI
185,37
7,73%
12.
ICBP
120,12
12.
ICBP
127,41
6,07%
13.
BRIS
119,65
13.
BRIS
119,93
0,23%
14.
UNVR
115,21
14.
AMRT
117,93
3,28%
15.
AMRT
114,19
15.
ADRO
102,99
15,41%
16.
CUAN
98,38
16.
BRPT
102,18
10,10%
17.
SMMA
92,97
17.
UNTR
96,24
17,41%
18.
BRPT
92,81
18.
DCII
95,83
13,24%
19.
ADRO
89,24
19.
CUAN
95,27
-3,16%
20.
ISAT
86,27
20.
UNVR
93,09
-19,20%
Muhammad Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mengatakan, secara historis pergerakan IHSG di Agustus biasanya cenderung sideways, tetapi masih relatif positif.
"Pergerakan IHSG di Agustus masih relatif positif ada harapan IHSG bisa bergerak mix to higher. Baru masuk September, IHSG akan berpotensi melemah," katanya.
Secara teknikal, Nafan mencermati IHSG memiliki rentang terdekat berdasarkan minor parallel channel pada 7.199–7.354. Selama masih bertahan di atas 7.199, maka IHSG berpotensi untuk uji resistance pada 7.354.
"Namun apabila IHSG mengalami breakdown dari 7,199, maka dari dari itu terdapat 61,8% retracement support pada 7.104 yang kemungkinan akan diuji," kata Nafan.
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melompat ke level 7.253,37 pada pekan pertama semester II-2024. Level ini didapat usai IHSG menutup perdagangan pekan ini dengan kenaikan 0,45% pada Jum'at (5/7).
Secara mingguan dari 1 Juli - 5 Juli, IHSG mengakumulasi penguatan 189,79 poin atau melejit 2,69%. Hampir semua indeks menguat di pekan ini. Secara sektoral, hanya dua indeks yang melemah, yakni infrastruktur yang turun tipis -0,01% dan kesehatan merosot -0,57%.
Sedangkan sektor dengan kenaikan paling tinggi dipimpin oleh sektor industri (+6,17%), energi (+5,86%) serta transportasi & logistik (+4,96%). Dana dari investor asing sudah kembali mengalir, dengan mengakumulasi beli bersih (net buy) senilai Rp 2,63 triliun sepanjang pekan ini.
Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengamati kembalinya capital inflow dari investor asing mengembuskan angin segar bagi IHSG. Seiring dengan sejumlah saham big caps yang sudah berbalik naik seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Selain BBRI, barisan big caps lain turut menguat dan menjadi top leader di pekan ini. Di antaranya ada PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), serta duo Barito, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Wahyu Saputra menambahkan, penguatan IHSG pekan ini sejalan dengan laju mayoritas bursa Asia. Katalis eksternal menjadi pendorongnya, terutama terkait data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang membuka peluang The Fed untuk memangkas suku bunga.
Data ekonomi domestik Juni ikut membawa katalis penting, dengan tingkat inflasi yang terkendali dan cadangan devisa yang mengalami kenaikan. "Selain itu dari sisi pergerakan nilai tukar rupiah juga mengalami penguatan," ungkap Wahyu kepada Kontan.co.id, Jum'at (5/7).
Research Analyst FAC Sekuritas Patrick Jorghy Manek sepakat, data ekonomi AS yang meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, data ekonomi domestik, penguatan rupiah serta kembalinya capital inflow, menjadi pendongkrak utama IHSG. Namun, pelaku pasar sebaiknya jangan terlalu euforia lantaran ada indikasi aksi profit taking pada pekan depan.
Patrick memprediksi IHSG akan mengarah ke area resistance 7.300 dengan support di 7.150. Daniel setuju, usai penguatan di pekan ini, ada potensi koreksi sehat akibat terjadi profit taking. Hitungan Daniel, IHSG berpeluang terkoreksi minor ke level 7.150.
Dalam skenario bullish, Wahyu menaksir IHSG berpeluang menembus resistance 7.374 - 7.396. Sedangkan dalam skenario bearish, IHSG bisa bergerak ke area support 7.099 - 7.125. Wahyu menjagokan saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Panin Financial Tbk (PNLF), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dengan target harga masing-masing di Rp 2.200, Rp 362 dan Rp 555.
Daniel melihat saham penggerak IHSG seperti BBRI dan BMRI masih menarik dikoleksi. Senada, Patrick melirik big bank dengan valuasi yang relatif masih murah yakni BBRI, BBNI dan BMRI. Di luar saham perbankan, saham energi yakni migas dan batubara bisa menjadi pilihan.
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bagai balapan yang saling salip, rotasi di antara saham berkapitalisasi pasar terbesar (top market cap) masih sengit. Saat ini saham big bank tak lagi dominan menguasai jajaran top 10 market cap di Bursa Efek Indonesia (BEI).
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) berhasil kembali ke puncak dengan market cap senilai Rp 1.391 triliun hingga Kamis (4/7). Sempat terjun, BREN kembali mendaki setelah terbebas dari Papan Pemantauan Khusus yang memakai skema perdagangan Full Call Auction (FCA).
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membuntuti di posisi runner up dengan market cap Rp 1.199 triliun. Di peringkat ketiga dan keempat, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) saling salip.
Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) anjlok ke rangking lima. Peringkat berikutnya diisi PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
Di posisi sembilan merangsek saham dengan harga termahal di BEI, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Peringkat 10 diisi PT Astra International Tbk (ASII). Sementara salah satu big bank, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terlempar dari top 10 market caps.
Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengamati rotasi top market caps hingga awal semester kedua ini disebabkan oleh dua faktor.
Pertama, pelemahan saham big bank yakni BBRI dan BBNI serta saham bluechip konvensional lain seperti TLKM dan ASII.
Secara year to date, keempat saham tersebut mengakumulasi penurunan dengan level dobel digit.
Kedua, secara bersamaan sejumlah saham melonjak signifikan seperti TPIA dan DSSA, serta BREN dan AMMN yang tergolong saham anyar.
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menambahkan, rotasi di jajaran top 10 market cap semakin terasa sejak BREN dan AMMN listing pada tahun lalu.
Terlepas dari kedua saham itu, rotasi big cap kali ini ikut didorong oleh sentimen ketidakpastian ekonomi dan kebijakan moneter yang masih ketat.
Hal tersebut membuat sejumlah saham terkoreksi, termasuk big cap seperti BBRI, BBNI dan ASII. Apalagi, tekanan juga datang dari pelemahan kurs rupiah dan capital outflow investor asing yang dominan melakukan net sell pada separuh pertama tahun ini.
Valdy mengamini, faktor makro-ekonomi dan kebijakan moneter punya peranan penting terhadap rotasi big cap. Dia mencontohkan BBRI dan BBNI yang memiliki karakteristik lebih riskan terhadap perubahan suku bunga dan nilai tukar.
"Tetapi, dari pengalaman tapering off The Fed dulu, keduanya punya kemampuan memperbaiki atau membalikkan keadaan dalam waktu relatif singkat. Karena memang secara rasio-rasio perbankan, big bank itu relatif solid," kata Valdy kepada Kontan.co.id, Kamis (4/7).
Dampak Terhadap IHSG
Pergerakan saham top 10 market cap ini perlu dicermati lantaran akan menentukan arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Audi mengamati, secara kapitalisasi pasar bobot dari top 10 saham ini sangat jumbo hingga menyumbang lebih dari separuh total IHSG.
"Sehingga perubahannya sangat memengaruhi arah IHSG," tegas Audi.
Merujuk data statistik BEI, total market cap dari 10 saham terbesar itu mencapai Rp 6.837 triliun. Jumlah itu setara dengan 55,10% dibandingkan total market cap saham di BEI senilai Rp 12.407 triliun.
Dus, Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto melihat rotasi saat ini sesuai ekspektasi dan memberikan sinyal positif terhadap IHSG. Ketika ada big cap yang melemah, penguatan di saham big cap lain masih bisa menopang.
"Rotasi yang terjadi sekarang adalah penguatan pada saham-saham big caps," ujar William.
Adapun, IHSG terbang kembali setelah sempat terjun ke level 6.700 di bulan Juni. Saat ini IHSG sedang menuju level psikologis 7.300. Pada perdagangan Kamis (4/7), IHSG menguat 0,34% ke level 7.220,88.
Audi turut melihat penguatan IHSG didorong oleh reboud sejumlah saham big cap. Pelaku pasar tampak mulai mengantisipasi rilis kinerja kuartal II-2024. Selain itu, ada sentimen yang lebih kondusif dari sisi potensi pelonggaran kebijakan moneter yang lebih cepat serta stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pandangan optimistis juga dibeberkan oleh DBS Group Research. Dalam Regional Market Focus Semester II-2024 Outlook yang dirilis Kamis (4/7), DBS mengerek naik outlook pasar saham Indonesia dari netral menjadi positif.
Riset tersebut menyoroti sejumlah faktor, seperti antisipasi penurunan suku bunga The Fed dan penguatan rupiah di semester kedua. DBS Group menilai berkurangnya tekanan terhadap rupiah dan imbal hasil yang menarik, akan membawa investor asing kembali, setelah aksi jual besar-besaran pada kuartal II-2024.
Faktor lainnya, IHSG memiliki rasio Price per Earnings to Growth (PEG) paling rendah di regional, yakni sebesar 1,1 kali. Sementara yield dividen ada di posisi tertinggi kedua, sedikit di belakang Singapura.
Selain itu, valuasi IHSG juga masih murah dengan diperdagangkan pada -1SD, di bawah kelipatan price to earnings (PE) rata-rata 10 tahunnya. DBS Grop pun memproyeksikan IHSG akan berada di level 7.750 hingga akhir tahun 2024.
Sedangkan dalam jangka waktu yang lebih pendek, Audi memprediksi IHSG akan mencapai resistance 7.275 - 7.340 di akhir bulan Juli. Dorongan untuk IHSG berpotensi datang dari saham big caps seperti big bank, ASII dan TLKM, yang dapat kembali menguat seiring sentimen yang lebih kondusif.
Hanya saja, Audi mengingatkan posisi BREN dan TPIA lebih rawan bergeser lantaran valuasi yang sudah tergolong mahal. William turut melihat kemungkinan saham yang sudah naik tinggi bisa merosot akibat profit taking seperti pada BREN, TPIA, DSSA dan AMMN.
Sehingga, rotasi di antara saham big cap masih berpotensi terjadi di semester kedua ini. William bahkan melirik saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang punya kemungkinan merangsek ke top 10 market cap jika berhasil mempertahankan tren kenaikannya.
Jika tren naik di jajaran big cap ini berlanjut, maka IHSG bisa kembali ke jalur level 7.400 atau mendekati all time high-nya. Dengan kondisi pasar saat ini, William merekomendasikan trading buy pada saham BBRI, BMRI, TLKM, AMMN dan BRPT.
Sementara Valdy memprediksi empat saham big bank akan kembali mengisi top 10 market cap. Valdy pun menjagokan BBNI, BBRI, BMRI, BBCA dan TLKM.
Sedangkan Audi menyematkan rekomendasi buy untuk saham BMRI, BBRI, BBCA, ASII dan TLKM, dengan target harga masing-masing di Rp 6.900, Rp 5.500, Rp 10.600, Rp 5.400 dan Rp 3.750 per saham.