#30 tag 24jam
Simak Prospek Saham Big Cap yang Tertekan 10 Tahun Terakhir
para analis memberikan rekomendasi saham dan prospek saham big cap [789] url asal
#emiten-big-cap #rekomendasi-saham #saham-big-cap #saham-big-caps #big-cap #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 16/10/24 19:07
v/16563510/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Selama 10 tahun pemerintahan Presiden Jokowi, sejumlah saham big cap penghuni indeks LQ45 seperti PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS), dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) mengalami penurunan signifikan.
Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (16/10), SMGR menghasilkan return negatif pada satu dekade terakhir sebesar turun 65,65%, lalu ada GGRM sebesar melemah 62,08%, PGAS koreksi 58,34% dan EXCL turun 54,59%.
Kemudian, saham-saham big cap lainnya seperti PT Astra International Tbk (ASII), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) juga mengalami perlambatan pertumbuhan sepanjang 10 tahun terakhir.
Meskipun saham-saham ini dulunya dikenal sebagai pilihan kuat bagi investor, tantangan struktural dalam sektor-sektor terkait serta perubahan dinamika bisnis membuat saham-saham ini kurang menarik dalam hal return yang memuaskan.
Penurunan harga saham ini mengindikasikan bahwa investor menghadapi tantangan untuk mendapatkan cuan dari saham-saham besar tersebut.
Founder Stocknow.id Hendra Wardana menyoroti SMGR mengalami tekanan karena over kapasitas di industri semen dan ketatnya persaingan. Ditambah lagi dengan penurunan permintaan akibat perlambatan proyek infrastruktur domestik.
Sementara itu, GGRM terkena dampak dari kenaikan cukai rokok yang konsisten setiap tahun yang secara langsung mempengaruhi margin perusahaan dan kemampuan untuk meningkatkan profitabilitas.
PGAS juga mengalami hambatan karena kebijakan harga gas yang diatur oleh pemerintah, sehingga memotong profit margin perusahaan.
Di sisi lain, EXCL menghadapi tantangan dari persaingan ketat di industri telekomunikasi yang menyebabkan perang harga dan penurunan Average Revenue Per User (ARPU). Ditambah lagi dengan kebutuhan investasi infrastruktur besar untuk jaringan membebani keuangan perusahaan.
"Terlepas dari penurunan tersebut, bukan berarti perusahaan-perusahaan ini tidak mampu beradaptasi. Banyak dari mereka telah melakukan transformasi digital, ekspansi produk, atau restrukturisasi untuk menghadapi tantangan ini," kata Hendra kepada Kontan, Rabu (16/10).
Namun, mengingat perubahan bisnis dan ketatnya regulasi, investor harus realistis dengan ekspektasi return. Saham-saham seperti GGRM, misalnya, dinilai sulit untuk memberikan return tinggi dalam jangka panjang karena faktor regulasi yang membatasi.
Sementara itu, TLKM dan Astra International masih memiliki potensi pertumbuhan, terutama TLKM yang telah mengembangkan bisnis digital dan data.
Prospek Saham Big Cap
Prospek jangka panjang beberapa saham big cap masih ada, meskipun tidak semua akan langsung berbalik positif. Beberapa emiten, seperti SMGR dan PGAS bisa mendapatkan angin segar dari pemulihan sektor infrastruktur atau reformasi harga energi. EXCL juga berpotensi membaik seiring dengan pemulihan ekonomi dan meningkatnya permintaan data.
Hendra merekomendasikan untuk buy saham SMGR, PGAS, EXCL dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 4.450 per saham, Rp 1.655 per saham, Rp 2.650 per saham, dan Rp 3.190 per saham.
Hendra menjelaskan, rekomendasi buy ini didasarkan pada valuasi yang kini sudah lebih rendah dan potensi kenaikan harga saham dengan asumsi stabilitas ekonomi makro dan kebijakan pemerintah yang mendukung.
"Namun, investor perlu mengadopsi pendekatan jangka panjang, mengingat volatilitas sektor-sektor ini yang masih dipengaruhi oleh kebijakan regulasi dan dinamika kompetitif masing-masing industri," tutupnya.
Investor Cermati Fundamental
Hendra menegaskan bahwa investor harus fokus pada sektor tempat saham-saham big cap tersebut beroperasi, kemudian kembali menilai kekuatan fundamental emiten di dalamnya.
Menurutnya, setiap sektor memiliki tantangan dan peluang yang berbeda. Misalnya, sektor energi seperti PGAS sangat dipengaruhi oleh kebijakan harga gas, sementara sektor infrastruktur seperti SMGR menghadapi tantangan over kapasitas. Di sisi lain, sektor telekomunikasi seperti TLKM dan EXCL tengah menghadapi persaingan ketat dan kebutuhan investasi besar, tetapi punya potensi tumbuh dari layanan data.
Kuncinya ialah menilai apakah emiten di sektor tersebut mampu beradaptasi dengan dinamika industri dan kebijakan pemerintah yang berlaku.
Emiten dengan strategi yang solid dan inovatif cenderung lebih berpeluang untuk membalikkan kinerja negatifnya.
Dalam hal ini, investor harus selektif dan mempertimbangkan valuasi saham yang sudah lebih rendah, serta mempertimbangkan risiko dari masing-masing sektor dan emiten.
"Diversifikasi portofolio dan memahami tren makroekonomi juga penting untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan potensi return," tutupnya.
Sementara itu, Direktur PT Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengungkapkan gugurnya deretan saham big cap tersebut lebih ke arah fundamental, di mana kinerja dari emiten tersebut memang tidak tumbuh positif dan cenderung stagnan.
Daniel mengungkapkan sederet emiten tersebut mayoritas sudah mature sehingga diperlukan inovasi dari perusahaan untuk bisa bersaing dengan kondisi ekonomi saat ini.
Kendati demikian, ia menjelaskan secara prospek saham-saham itu masih bisa tumbuh berbalik positif tergantung dari strategi yang dijalankan oleh emiten dan kondisi fundamental di Tanah Air.
Daniel merekomendasikan untuk mencermati saham ASII dengan target harga Rp 5.500 per saham, TLKM di target harga Rp 3.200 per saham dan UNVR pada target harga Rp 2.450.
Intip Deretan Saham Paling Cuan Kemarin Sebelum Buka Pasar Hari Ini (15/10)
Di saat IHSG bertahan di level 7.559, ada delapan saham yang naik double digit. [473] url asal
#ihsg #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #lq45 #saham-big-cap #emiten-big-cap #liga-saham-big-cap #ihsg-hari-ini #top-gainers #top-losers #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan - Terbaru) 15/10/24 06:16
v/16482063/
Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,52% atau 39,05 poin ke 7.559,65 pada Senin (14/10). IHSG menguat 0,74% dalam sepekan terakhir. Sedangkan sejak awal tahun, IHSG naik 3,94%.
Di saat IHSG bertahan di level 7.559, ada delapan saham yang naik double digit. Berikut saham top gainers dan top losers bursa efek di perdagangan kemarin:
| Top Gainers | Top Losers | |||
| Saham | % | Saham | % | |
| AYLS | 34.67% | LMPI | -7.44% | |
| CRSN | 34.31% | MARK | -7.36% | |
| WOOD | 19.69% | AKSI | -6.15% | |
| ENAK | 18.81% | PICO | -6.06% | |
| MLPT | 17.65% | KMTR | -5.84% | |
| WIRG | 14.29% | INPS | -5.41% | |
| CITY | 12.50% | KRYA | -5.36% | |
| WIFI | 11.59% | WINE | -5.00% | |
| IOTF | 8.84% | ISEA | -4.26% | |
| TRON | 8.82% | MPIX | -4.23% | |
Investor asing mencatat net sell atau jual bersih Rp 295,93 miliar di seluruh pasar. Net sell asing di pasar reguler mencapai Rp 247,49 miliar. Sedangkan di pasar negosiasi, ada net sell asing Rp 48,44 miliar.
Saham-saham dengan net sell terbesar asing adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 165,57 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) Rp 144,36 miliar, dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 65,16 miliar.
Sedangkan saham-saham dengan net buy terbesar asing adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 84,55 miliar, PT Timah Tbk (TINS) Rp 75,69 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 54,42 miliar.
Top gainers LQ45 di perdagangan kemarin adalah:
- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) 8,33%
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) 4,15%
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 3,28%
Top losers LQ45 terdiri dari:
- PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) -3,94%
- PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) -3,88%
- PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) -3,68%
Berdasarkan sumbangan poin terhadap IHSG, berikut top leaders dan top laggards bursa pada Senin (14/10):
| Top Leaders | Top Laggards | |||
| Saham | % | Saham | % | |
| AMMN | 3.28% | ASII | -2.86% | |
| GOTO | 8.33% | TLKM | -1.36% | |
| BBCA | 1.20% | BMRI | -0.36% | |
| BREN | 3.08% | DCII | -3.16% | |
| BUMI | 4.48% | SMGR | -3.94% | |
| TPIA | 0.58% | TOWR | -2.98% | |
| BBNI | 0.93% | ISAT | -2.98% | |
| CUAN | 6.18% | MTEL | -3.88% | |
| AMRT | 0.95% | BUKA | -3.68% | |
| ANTM | 4.15% | HEAL | -1.57% | |
Enam indeks sektoral mengangkat IHSG ke zona hijau. Sektor teknologi melonjak 1,74%. Sektor energi melesat 1,04%. Sektor barang konsumsi primer terangkat 0,89%. Sektor keuangan menanjak 0,44%. Sektor barang baku naik 0,44%. Sektor barang konsumsi nonprimer menguat 0,40%.
Lima sektor turun saat IHSG menguat. Sektor infrastruktur tumbang 0,80%. Sektor kesehatan terpangkas 0,72%. Sektor perindustrian melorot 0,50%. Sektor transportasi dan logistik turun 0,25%. Sektor properti dan real estat melemah 0,19%.
Total volume transaksi bursa mencapai 21,83 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 8,91 triliun. Sebanyak 295 saham menguat. Ada 265 saham yang melemah dan 238 saham flat.
Saham-Saham Big Cap Ini Berpeluang Menguat Usai Tertekan, Cek Rekomendasi Sahamnya
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ke level 7.500, tepatnya di 7.520,60 usai berbalik turun 3,56% dalam sebulan terakhir. [833] url asal
#ihsg #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #saham-ihsg #saham-big-cap #emiten-big-cap #proyeksi-ihsg #rekomendasi-saham #saham-big-cap #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan - Terbaru) 14/10/24 06:59
v/16434384/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,54% dan bertengger di level 7.520,60 pada Jumat (11/10). Namun, dalam sebulan IHSG masih terkoreksi 3,56%.
Penurunan IHSG itu terseret tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar (big cap).
Meski ada penyesuaian, tapi bobot saham-saham big cap tetap dominan terhadap laju IHSG. Adapun, sejumlah saham big cap yang sempat naik belakangan ini sedang melandai. Secara bersamaan, ada beberapa saham big cap yang kinerjanya masih tertinggal (laggards).
Penurunan signifikan dalam sebulan terakhir dialami saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) usai terpental dari indeks Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell. BREN ambles dari level tertinggi di area Rp 11.900, kini berada di Rp 6.500 per saham.
Market cap BREN pun terseret turun ke bawah level Rp 1.000 triliun, tepatnya di Rp 870 triliun. Meski begitu, saham emiten milik taipan Prajogo Pangestu ini masih kokoh di posisi kedua emiten dengan market cap terbesar di BEI.
Saham big cap lain yang melandai dalam sebulan terakhir adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Di sisi lain, sejumlah saham di jajaran Top 10 market cap masih berada di posisi laggard secara year to date.
Mereka adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan PT Astra International Tbk (ASII). Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mengamati posisi market cap emiten tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fundamental, melainkan juga terpengaruh oleh persepsi investor atau psikologis pelaku pasar.
Dus, pergerakan saham-saham big cap secara umum sensitif terhadap dinamika pasar. "Jadi, ketika kondisi atau sentimen yang ada mengarah ke positif, maka saham-saham big cap akan diburu karena sifatnya sebagai leading stocks. Begitu juga sebaliknya," kata Reza kepada Kontan.co.id, Minggu (13/10).
Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus menambahkan, arus dana dari investor asing juga memengaruhi saham-saham big cap. Aliran dana keluar (capital outflow) cukup deras. Terutama sejak muncul sentimen dari stimulus ekonomi di China, yang menarik inflow ke pasar Negeri Panda tersebut.
Faktor lain yang menekan saham big cap adalah aksi profit taking. Pasca sejumlah saham big cap mendaki dan IHSG mencapai rekor tertinggi (all time high). Kemudian, ada sikap wait and see dari pelaku pasar menjelang transisi pemerintahan, dimana presiden baru akan dilantik 20 Oktober mendatang.
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengamini, pelantikan presiden baru dan penyusunan kabinetnya bakal menjadi faktor penting yang menentukan sikap para investor. Dari faktor eksternal, ada sentimen ketidakpastian global terkait tensi geopolitik di Timur Tengah serta arah pemangkasan suku bunga acuan, terutama kebijakan The Fed berikutnya.
Audi melihat peluang saham big cap akan kembali menarik pasca pelonggaran kebijakan moneter. Terlebih, jika The Fed melakukan pemangkasan suku bunga sesuai target hingga akhir tahun yang akan kembali mendorong capital inflow.
Sentimen lain yang berpeluang mendorong laju saham big cap adalah antisipasi pelaku pasar terhadap musim rilis laporan keuangan kuartal III-2024. "Kami memperkirakan kinerja big caps yang masih tumbuh positif akan menjadi pendorong laju dan inflow asing kembali," imbuh Audi.
Peluang Buy on Weakness
Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas Fath Aliansyah sepakat, musim rilis laporan keuangan akan menjadi sentimen pendongkrak bagi saham big cap. Khususnya bagi emiten yang kinerjanya berpeluang tumbuh, atau masih punya prospek menarik hingga tutup tahun 2024.
Dus, koreksi pada sejumlah saham big cap bisa menjadi peluang untuk mengoleksi secara selektif dan bertahap. Di antara big cap yang masih laggards, Fath melirik saham BBRI dan ASII.
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menyoroti posisi jual bersih (net sell) investor asing efek dari stimulus ekonomi China masih akan menjadi sentimen penekan. William menaksir potensi pelemahan saham big cap masih ada, tapi diperkirakan sudah cenderung terbatas.
Dus, posisi saham big cap saat ini justru menarik untuk menerapkan strategi buy on weakness. William menyematkan rekomendasi buy untuk saham BBRI, TLKM dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Kemudian, wait and see terhadap saham BREN dan AMMN.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih turut memprediksi sejumlah saham big cap berpotensi mengalami rebound. Ratih melihat sektor perbankan sebagai pilihan menarik, dengan katalis menjelang rilis kinerja keuangan dan rencana insentif di sektor properti.
Sektor lain yang layak dicermati adalah big cap di sektor barang baku, khususnya tambang mineral-logam serta sektor properti. Di antara barisan saham big cap, Ratih menjagokan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan target harga pada resistance Rp 7.300.
Reza turut menjagokan big cap perbankan dengan pilihan pada saham BBRI, BBNI dan BMRI. Sementara Audi menyarankan buy saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), BMRI, BBRI dan TLKM, dengan target harga masing-masing di Rp 11.150, Rp 7.200, Rp 5.900 dan Rp 3.750.
Daniel juga melihat peluang buy on weakness pada saham big cap berbankan yakni BBRI dan BMRI. Rekomendasi lainnya adalah buy on weakness BREN, terutama jika ada aksi lanjutan dari Prajogo Pangestu yang akan kembali membawa daya tarik bagi pasar.
Rekomendasi Saham Big Cap Pilihan yang Berpeluang Menguat Usai Tertekan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ke level 7.500, tepatnya di 7.520,60 usai berbalik turun 3,56% dalam sebulan terakhir. [830] url asal
#ihsg #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #saham-ihsg #saham-big-cap #emiten-big-cap #proyeksi-ihsg #rekomendasi-saham #saham-big-cap #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 13/10/24 18:56
v/16408896/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ke level 7.500, tepatnya di 7.520,60 usai berbalik turun 3,56% dalam sebulan terakhir. Penurunan IHSG ikut terseret oleh tekanan pada sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar (big cap).
Meski ada penyesuaian, tapi bobot saham-saham big cap tetap dominan terhadap laju IHSG. Adapun, sejumlah saham big cap yang sempat naik belakangan ini sedang melandai. Secara bersamaan, ada beberapa saham big cap yang kinerjanya masih tertinggal (laggards).
Penurunan signifikan dalam sebulan terakhir dialami saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) usai terpental dari indeks Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell. BREN ambles dari level tertinggi di area Rp 11.900, kini berada di Rp 6.500 per saham.
Market cap BREN pun terseret turun ke bawah level Rp 1.000 triliun, tepatnya di Rp 870 triliun. Meski begitu, saham emiten milik taipan Prajogo Pangestu ini masih kokoh di posisi kedua emiten dengan market cap terbesar di BEI.
Saham big cap lain yang melandai dalam sebulan terakhir adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Di sisi lain, sejumlah saham di jajaran Top 10 market cap masih berada di posisi laggard secara year to date.
Mereka adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan PT Astra International Tbk (ASII). Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mengamati posisi market cap emiten tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fundamental, melainkan juga terpengaruh oleh persepsi investor atau psikologis pelaku pasar.
Dus, pergerakan saham-saham big cap secara umum sensitif terhadap dinamika pasar. "Jadi, ketika kondisi atau sentimen yang ada mengarah ke positif, maka saham-saham big cap akan diburu karena sifatnya sebagai leading stocks. Begitu juga sebaliknya," kata Reza kepada Kontan.co.id, Minggu (13/10).
Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus menambahkan, arus dana dari investor asing juga memengaruhi saham-saham big cap. Aliran dana keluar (capital outflow) cukup deras. Terutama sejak muncul sentimen dari stimulus ekonomi di China, yang menarik inflow ke pasar Negeri Panda tersebut.
Faktor lain yang menekan saham big cap adalah aksi profit taking. Pasca sejumlah saham big cap mendaki dan IHSG mencapai rekor tertinggi (all time high). Kemudian, ada sikap wait and see dari pelaku pasar menjelang transisi pemerintahan, dimana presiden baru akan dilantik 20 Oktober mendatang.
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengamini, pelantikan presiden baru dan penyusunan kabinetnya bakal menjadi faktor penting yang menentukan sikap para investor. Dari faktor eksternal, ada sentimen ketidakpastian global terkait tensi geopolitik di Timur Tengah serta arah pemangkasan suku bunga acuan, terutama kebijakan The Fed berikutnya.
Audi melihat peluang saham big cap akan kembali menarik pasca pelonggaran kebijakan moneter. Terlebih, jika The Fed melakukan pemangkasan suku bunga sesuai target hingga akhir tahun yang akan kembali mendorong capital inflow.
Sentimen lain yang berpeluang mendorong laju saham big cap adalah antisipasi pelaku pasar terhadap musim rilis laporan keuangan kuartal III-2024. "Kami memperkirakan kinerja big caps yang masih tumbuh positif akan menjadi pendorong laju dan inflow asing kembali," imbuh Audi.
Peluang Buy on Weakness
Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas Fath Aliansyah sepakat, musim rilis laporan keuangan akan menjadi sentimen pendongkrak bagi saham big cap. Khususnya bagi emiten yang kinerjanya berpeluang tumbuh, atau masih punya prospek menarik hingga tutup tahun 2024.
Dus, koreksi pada sejumlah saham big cap bisa menjadi peluang untuk mengoleksi secara selektif dan bertahap. Di antara big cap yang masih laggards, Fath melirik saham BBRI dan ASII.
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menyoroti posisi jual bersih (net sell) investor asing efek dari stimulus ekonomi China masih akan menjadi sentimen penekan. William menaksir potensi pelemahan saham big cap masih ada, tapi diperkirakan sudah cenderung terbatas.
Dus, posisi saham big cap saat ini justru menarik untuk menerapkan strategi buy on weakness. William menyematkan rekomendasi buy untuk saham BBRI, TLKM dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Kemudian, wait and see terhadap saham BREN dan AMMN.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih turut memprediksi sejumlah saham big cap berpotensi mengalami rebound. Ratih melihat sektor perbankan sebagai pilihan menarik, dengan katalis menjelang rilis kinerja keuangan dan rencana insentif di sektor properti.
Sektor lain yang layak dicermati adalah big cap di sektor barang baku, khususnya tambang mineral-logam serta sektor properti. Di antara barisan saham big cap, Ratih menjagokan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan target harga pada resistance Rp 7.300.
Reza turut menjagokan big cap perbankan dengan pilihan pada saham BBRI, BBNI dan BMRI. Sementara Audi menyarankan buy saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), BMRI, BBRI dan TLKM, dengan target harga masing-masing di Rp 11.150, Rp 7.200, Rp 5.900 dan Rp 3.750.
Daniel juga melihat peluang buy on weakness pada saham big cap berbankan yakni BBRI dan BMRI. Rekomendasi lainnya adalah buy on weakness BREN, terutama jika ada aksi lanjutan dari Prajogo Pangestu yang akan kembali membawa daya tarik bagi pasar.
Cermati Rekomendasi Saham Top 20 Market Cap Usai Rilis Kinerja Semester I-2024
Mayoritas emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di BEI telah merilis laporan keuangan periode semester I-2024. [757] url asal
#ihsg #saham-big-cap #emiten-big-cap #rekomendasi-saham #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan-Investasi) 04/08/24 15:52
v/13250485/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merilis laporan keuangan periode semester I-2024. Di barisan 20 market cap terbesar, ada 16 emiten yang sejauh ini sudah mengumumkan kinerja tengah tahunan.
Adapun, posisi top market cap di BEI sedang bergerak dinamis. Merujuk data per akhir Juli 2024, top 20 market cap di BEI dipimpin oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Diikuti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Di peringkat berikutnya membuntuti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bayan Resources Tbk (BYAN) PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Astra International Tbk (ASII), yang mengisi jajaran 10 besar market cap terbesar di BEI.
Sedangkan peringkat 11 hingga 20 dihuni oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Kemudian ada PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).
Kinerja emiten big cap bervariasi pada periode setengah tahun ini. Jika dilihat dari sisi bottom line-nya, ada sembilan emiten yang mampu menumbuhkan laba bersih, enam yang mengalami penurunan, dan satu emiten yang mencatatkan lonjakan kerugian.
Sebagai contoh, laba bersih emiten big bank yakni BBCA, BBRI dan BMRI kompak menanjak meski dengan level kenaikan yang berbeda.
Sedangkan AMMN tumbuh signifikan, dimana pendapatan melejit 166,76% secara tahunan (Year on Year/YoY) menjadi US$ 1,54 miliar, dan laba bersih AMMN terbang 300% ke level US$ 475,25 juta.
Berbeda nasib, kinerja ASII melandai dengan penurunan pendapatan 1,49% (YoY) ke posisi Rp 159,96 triliun dan laba bersih turun 9,11% menjadi Rp 15,85 triliun. Emiten petrokimia Grup Barito, TPIA, turun lebih dalam. Pendapatan menyusut 19,34% jadi US$ 866,49 juta, sementara rugi bersih TPIA meroket 7.999,65% menjadi US$ 47,46 juta.
Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada menilai kinerja emiten big cap yang bervariasi cenderung in line atau sesuai dengan ekspektasi. Realisasi kinerja tersebut menunjukkan kondisi setiap sektor industri dan strategi masing-masing emiten menyesuaikan diri dengan dinamika bisnis yang ada.
Reza melirik tiga emiten big bank. BBRI, BMRI dan BBCA punya market cap dan aset yang besar serta memiliki jangkauan nasabah yang luas, tapi menghasilkan level pertumbuhan kinerja yang berbeda. Begitu juga pada emiten satu grup konglomerasi seperti Grup Barito: BRPT, BREN, TPIA dan CUAN, punya kinerja yang beragam.
"Perlu melihat situasi yang ada. Di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang, patut diapresiasi untuk sejumlah emiten yang masih mampu mencatatkan peningkatan pendapatan maupun laba bersih," kata Reza kepada Kontan.co.id, Minggu (4/8).
Pengamat & Praktisi Pasar Modal Riska Afriani sepakat, kinerja emiten big cap pada paruh pertama tahun ini relatif sesuai ekspektasi. Riska menyoroti pertumbuhan kinerja emiten bank, yang menandakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat di tengah tahun politik dan sejumlah tantangan ekonomi.
Riska memperkirakan emiten big cap berpeluang menumbuhkan kinerja pada semester II-2024, terutama untuk big bank. Namun, Riska memberikan catatan bagi emiten di sektor consumer goods, yang akan menghadapi tantangan dari sisi tekanan konsumsi atau penurunan daya beli masyarakat.
Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi Agung Ramadoni mengamini, peluang emiten big cap untuk memperbaiki kinerja di semester II-2024 semakin terbuka. Terutama dengan adanya harapan pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada bulan September dan setelah transisi pemerintahan di bulan Oktober.
Hanya saja, Agung menyarankan pelaku pasar untuk selektif mengoleksi saham di tengah kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berfluktuasi cukup kencang. Di antara saham top 20 market cap, Agung menyarankan untuk mencermati peluang buy on weakness pada saham AMMN, BBRI, BMRI, BBNI, ICBP dan ADRO.
Sementara Riska menyarankan para investor untuk mulai akumulasi secara bertahap saham-saham big cap yang layak untuk investasi jangka panjang. Riska menjagokan saham BBCA, BBNI, BMRI dan TLKM.
Sedangka Reza merekomendasikan saham BBRI untuk target harga Rp 4.820, AMMN denga target di Rp 12.150, AMRT untuk target harga Rp 2.800, BBCA dengan target 10.375 dan BRPT untuk target harga Rp 1.150 per saham.
UNVR dan BREN Turun Paling Dalam, Begini Kinerja 20 Saham Big Caps Sepanjang Juli
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 2,72% sepanjang bulan Juli ke 7.255,76 hingga Rabu (31/7). [498] url asal
#ihsg #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #saham-big-cap #emiten-big-cap #liga-saham-big-cap #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan-Investasi) 31/07/24 21:17
v/12782037/
Reporter: Wahyu Tri Rahmawati, Yuliana Hema | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 2,72% sepanjang bulan Juli ke 7.255,76 hingga Rabu (31/7) dari posisi akhir Juni yang masih ada di 7.063,58.
Penguatan IHSG disokong oleh perburuan saham-saham blue chip yang sudah tertekan di semester pertama 2024, sekaligus saham-saham kecil dan menengah pilihan.
Tidak banyak perubahan pada 20 saham dengan kapitalisasi pasar (market capitalization) terbesar atawa big cap di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang Juli 2024. Hanya dua saham yang terdepak dari 20 besar, yakni PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) dan PT Indosat Tbk (SMMA).
Sementara dua saham yang menggusur SMMA dan ISAT adalah PT United Tractors Tbk (UNTR) yang menguat 17,41% dalam sebulan dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang menguat 13,24% (lihat tabel).
Meski mayoritas menguat, ada empat saham big cap yang turun selama bulan Juli. Terbesar adalah PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang market capnya anjlok 19,20%, disusul PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan penurunan market cap 14,14% dalam sebulan.
Satu emiten Grup Barito lain yang turun harga adalah PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dengan penurunan 3,16%. Sementara emiten Grup Barito satu lagi di 20 biggest cap adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang menguat 4,61% sebulan.
Sementara saham big cap yang turun satu lagi adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan penurunan 7,99% sebulan.
Berikut 20 big caps terbesar BEI akhir Juni dan Juli 2024, berdasarkan data BEI dan RTI:
| Juni 2024 | Juli 2024 | ||||||
| No | Saham | M.Cap (Rp triliun) | No | Saham | M.Cap (Rp triliun) | % | |
| 1. | BREN | 1347,9 | 1. | BBCA | 1266,65 | 4,57% | |
| 2. | BBCA | 1211,27 | 2. | BREN | 1157,25 | -14,14% | |
| 3. | TPIA | 798,07 | 3. | AMMN | 857,53 | 7,50% | |
| 4. | AMMN | 797,7 | 4. | TPIA | 834,84 | 4,61% | |
| 5. | BBRI | 690,2 | 5. | BBRI | 707,78 | 2,55% | |
| 6. | BMRI | 568,26 | 6. | BMRI | 597,33 | 5,12% | |
| 7. | BYAN | 525,83 | 7. | BYAN | 568,33 | 8,08% | |
| 8. | TLKM | 310,06 | 8. | TLKM | 285,3 | -7,99% | |
| 9. | DSSA | 192,64 | 9. | DSSA | 228,08 | 18,40% | |
| 10. | ASII | 180,56 | 10. | ASII | 191,08 | 5,83% | |
| 11. | BBNI | 172,07 | 11. | BBNI | 185,37 | 7,73% | |
| 12. | ICBP | 120,12 | 12. | ICBP | 127,41 | 6,07% | |
| 13. | BRIS | 119,65 | 13. | BRIS | 119,93 | 0,23% | |
| 14. | UNVR | 115,21 | 14. | AMRT | 117,93 | 3,28% | |
| 15. | AMRT | 114,19 | 15. | ADRO | 102,99 | 15,41% | |
| 16. | CUAN | 98,38 | 16. | BRPT | 102,18 | 10,10% | |
| 17. | SMMA | 92,97 | 17. | UNTR | 96,24 | 17,41% | |
| 18. | BRPT | 92,81 | 18. | DCII | 95,83 | 13,24% | |
| 19. | ADRO | 89,24 | 19. | CUAN | 95,27 | -3,16% | |
| 20. | ISAT | 86,27 | 20. | UNVR | 93,09 | -19,20% | |
Muhammad Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mengatakan, secara historis pergerakan IHSG di Agustus biasanya cenderung sideways, tetapi masih relatif positif.
"Pergerakan IHSG di Agustus masih relatif positif ada harapan IHSG bisa bergerak mix to higher. Baru masuk September, IHSG akan berpotensi melemah," katanya.
Secara teknikal, Nafan mencermati IHSG memiliki rentang terdekat berdasarkan minor parallel channel pada 7.199–7.354. Selama masih bertahan di atas 7.199, maka IHSG berpotensi untuk uji resistance pada 7.354.
"Namun apabila IHSG mengalami breakdown dari 7,199, maka dari dari itu terdapat 61,8% retracement support pada 7.104 yang kemungkinan akan diuji," kata Nafan.
Menguat 2,69% ke Level 7.253,37 di Pekan Pertama Juli, Kemana Arah IHSG Berikutnya?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melompat ke level 7.253,37 pada pekan pertama semester II-2024. [520] url asal
#ihsg #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #saham-ihsg #saham-big-cap #emiten-big-cap #proyeksi-ihsg #liga-saham-big-cap #rekomendasi-saham #prediksi-ihsg-hari-ini #berita-nasional #indonesia #pemerinta
(Kontan) 05/07/24 19:56
v/9776903/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melompat ke level 7.253,37 pada pekan pertama semester II-2024. Level ini didapat usai IHSG menutup perdagangan pekan ini dengan kenaikan 0,45% pada Jum'at (5/7).
Secara mingguan dari 1 Juli - 5 Juli, IHSG mengakumulasi penguatan 189,79 poin atau melejit 2,69%. Hampir semua indeks menguat di pekan ini. Secara sektoral, hanya dua indeks yang melemah, yakni infrastruktur yang turun tipis -0,01% dan kesehatan merosot -0,57%.
Sedangkan sektor dengan kenaikan paling tinggi dipimpin oleh sektor industri (+6,17%), energi (+5,86%) serta transportasi & logistik (+4,96%). Dana dari investor asing sudah kembali mengalir, dengan mengakumulasi beli bersih (net buy) senilai Rp 2,63 triliun sepanjang pekan ini.
Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengamati kembalinya capital inflow dari investor asing mengembuskan angin segar bagi IHSG. Seiring dengan sejumlah saham big caps yang sudah berbalik naik seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).
Selain BBRI, barisan big caps lain turut menguat dan menjadi top leader di pekan ini. Di antaranya ada PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), serta duo Barito, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Wahyu Saputra menambahkan, penguatan IHSG pekan ini sejalan dengan laju mayoritas bursa Asia. Katalis eksternal menjadi pendorongnya, terutama terkait data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang membuka peluang The Fed untuk memangkas suku bunga.
Data ekonomi domestik Juni ikut membawa katalis penting, dengan tingkat inflasi yang terkendali dan cadangan devisa yang mengalami kenaikan. "Selain itu dari sisi pergerakan nilai tukar rupiah juga mengalami penguatan," ungkap Wahyu kepada Kontan.co.id, Jum'at (5/7).
Research Analyst FAC Sekuritas Patrick Jorghy Manek sepakat, data ekonomi AS yang meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, data ekonomi domestik, penguatan rupiah serta kembalinya capital inflow, menjadi pendongkrak utama IHSG. Namun, pelaku pasar sebaiknya jangan terlalu euforia lantaran ada indikasi aksi profit taking pada pekan depan.
Patrick memprediksi IHSG akan mengarah ke area resistance 7.300 dengan support di 7.150. Daniel setuju, usai penguatan di pekan ini, ada potensi koreksi sehat akibat terjadi profit taking. Hitungan Daniel, IHSG berpeluang terkoreksi minor ke level 7.150.
Dalam skenario bullish, Wahyu menaksir IHSG berpeluang menembus resistance 7.374 - 7.396. Sedangkan dalam skenario bearish, IHSG bisa bergerak ke area support 7.099 - 7.125. Wahyu menjagokan saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Panin Financial Tbk (PNLF), dan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dengan target harga masing-masing di Rp 2.200, Rp 362 dan Rp 555.
Daniel melihat saham penggerak IHSG seperti BBRI dan BMRI masih menarik dikoleksi. Senada, Patrick melirik big bank dengan valuasi yang relatif masih murah yakni BBRI, BBNI dan BMRI. Di luar saham perbankan, saham energi yakni migas dan batubara bisa menjadi pilihan.
Rotasi Top 10 Market Cap Bikin IHSG Mendaki, Cermati Saham Pilihan Analis
Bagai balapan yang saling salip, rotasi di antara saham berkapitalisasi pasar terbesar (top market cap) masih sengit. [1,081] url asal
#ihsg #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #saham-ihsg #saham-big-cap #emiten-big-cap #proyeksi-ihsg #liga-saham-big-cap #ihsg-hari-ini #rekomendasi-saham #prediksi-ihsg-hari-ini #saham-big-cap #top-lea
(Kontan-Investasi) 04/07/24 21:34
v/9672138/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bagai balapan yang saling salip, rotasi di antara saham berkapitalisasi pasar terbesar (top market cap) masih sengit. Saat ini saham big bank tak lagi dominan menguasai jajaran top 10 market cap di Bursa Efek Indonesia (BEI).
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) berhasil kembali ke puncak dengan market cap senilai Rp 1.391 triliun hingga Kamis (4/7). Sempat terjun, BREN kembali mendaki setelah terbebas dari Papan Pemantauan Khusus yang memakai skema perdagangan Full Call Auction (FCA).
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membuntuti di posisi runner up dengan market cap Rp 1.199 triliun. Di peringkat ketiga dan keempat, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) saling salip.
Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) anjlok ke rangking lima. Peringkat berikutnya diisi PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
Di posisi sembilan merangsek saham dengan harga termahal di BEI, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Peringkat 10 diisi PT Astra International Tbk (ASII). Sementara salah satu big bank, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terlempar dari top 10 market caps.
Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan mengamati rotasi top market caps hingga awal semester kedua ini disebabkan oleh dua faktor.
Pertama, pelemahan saham big bank yakni BBRI dan BBNI serta saham bluechip konvensional lain seperti TLKM dan ASII.
Secara year to date, keempat saham tersebut mengakumulasi penurunan dengan level dobel digit.
Kedua, secara bersamaan sejumlah saham melonjak signifikan seperti TPIA dan DSSA, serta BREN dan AMMN yang tergolong saham anyar.
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi menambahkan, rotasi di jajaran top 10 market cap semakin terasa sejak BREN dan AMMN listing pada tahun lalu.
Terlepas dari kedua saham itu, rotasi big cap kali ini ikut didorong oleh sentimen ketidakpastian ekonomi dan kebijakan moneter yang masih ketat.
Hal tersebut membuat sejumlah saham terkoreksi, termasuk big cap seperti BBRI, BBNI dan ASII. Apalagi, tekanan juga datang dari pelemahan kurs rupiah dan capital outflow investor asing yang dominan melakukan net sell pada separuh pertama tahun ini.
Valdy mengamini, faktor makro-ekonomi dan kebijakan moneter punya peranan penting terhadap rotasi big cap. Dia mencontohkan BBRI dan BBNI yang memiliki karakteristik lebih riskan terhadap perubahan suku bunga dan nilai tukar.
"Tetapi, dari pengalaman tapering off The Fed dulu, keduanya punya kemampuan memperbaiki atau membalikkan keadaan dalam waktu relatif singkat. Karena memang secara rasio-rasio perbankan, big bank itu relatif solid," kata Valdy kepada Kontan.co.id, Kamis (4/7).
Dampak Terhadap IHSG
Pergerakan saham top 10 market cap ini perlu dicermati lantaran akan menentukan arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Audi mengamati, secara kapitalisasi pasar bobot dari top 10 saham ini sangat jumbo hingga menyumbang lebih dari separuh total IHSG.
"Sehingga perubahannya sangat memengaruhi arah IHSG," tegas Audi.
Merujuk data statistik BEI, total market cap dari 10 saham terbesar itu mencapai Rp 6.837 triliun. Jumlah itu setara dengan 55,10% dibandingkan total market cap saham di BEI senilai Rp 12.407 triliun.
Dus, Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto melihat rotasi saat ini sesuai ekspektasi dan memberikan sinyal positif terhadap IHSG. Ketika ada big cap yang melemah, penguatan di saham big cap lain masih bisa menopang.
"Rotasi yang terjadi sekarang adalah penguatan pada saham-saham big caps," ujar William.
Adapun, IHSG terbang kembali setelah sempat terjun ke level 6.700 di bulan Juni. Saat ini IHSG sedang menuju level psikologis 7.300. Pada perdagangan Kamis (4/7), IHSG menguat 0,34% ke level 7.220,88.
Audi turut melihat penguatan IHSG didorong oleh reboud sejumlah saham big cap. Pelaku pasar tampak mulai mengantisipasi rilis kinerja kuartal II-2024. Selain itu, ada sentimen yang lebih kondusif dari sisi potensi pelonggaran kebijakan moneter yang lebih cepat serta stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pandangan optimistis juga dibeberkan oleh DBS Group Research. Dalam Regional Market Focus Semester II-2024 Outlook yang dirilis Kamis (4/7), DBS mengerek naik outlook pasar saham Indonesia dari netral menjadi positif.
Riset tersebut menyoroti sejumlah faktor, seperti antisipasi penurunan suku bunga The Fed dan penguatan rupiah di semester kedua. DBS Group menilai berkurangnya tekanan terhadap rupiah dan imbal hasil yang menarik, akan membawa investor asing kembali, setelah aksi jual besar-besaran pada kuartal II-2024.
Faktor lainnya, IHSG memiliki rasio Price per Earnings to Growth (PEG) paling rendah di regional, yakni sebesar 1,1 kali. Sementara yield dividen ada di posisi tertinggi kedua, sedikit di belakang Singapura.
Selain itu, valuasi IHSG juga masih murah dengan diperdagangkan pada -1SD, di bawah kelipatan price to earnings (PE) rata-rata 10 tahunnya. DBS Grop pun memproyeksikan IHSG akan berada di level 7.750 hingga akhir tahun 2024.
Sedangkan dalam jangka waktu yang lebih pendek, Audi memprediksi IHSG akan mencapai resistance 7.275 - 7.340 di akhir bulan Juli. Dorongan untuk IHSG berpotensi datang dari saham big caps seperti big bank, ASII dan TLKM, yang dapat kembali menguat seiring sentimen yang lebih kondusif.
Hanya saja, Audi mengingatkan posisi BREN dan TPIA lebih rawan bergeser lantaran valuasi yang sudah tergolong mahal. William turut melihat kemungkinan saham yang sudah naik tinggi bisa merosot akibat profit taking seperti pada BREN, TPIA, DSSA dan AMMN.
Sehingga, rotasi di antara saham big cap masih berpotensi terjadi di semester kedua ini. William bahkan melirik saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang punya kemungkinan merangsek ke top 10 market cap jika berhasil mempertahankan tren kenaikannya.
Jika tren naik di jajaran big cap ini berlanjut, maka IHSG bisa kembali ke jalur level 7.400 atau mendekati all time high-nya. Dengan kondisi pasar saat ini, William merekomendasikan trading buy pada saham BBRI, BMRI, TLKM, AMMN dan BRPT.
Sementara Valdy memprediksi empat saham big bank akan kembali mengisi top 10 market cap. Valdy pun menjagokan BBNI, BBRI, BMRI, BBCA dan TLKM.
Sedangkan Audi menyematkan rekomendasi buy untuk saham BMRI, BBRI, BBCA, ASII dan TLKM, dengan target harga masing-masing di Rp 6.900, Rp 5.500, Rp 10.600, Rp 5.400 dan Rp 3.750 per saham.