#30 tag 24jam
Terungkap, Banyak Mahasiswa Program Dokter Spesialis Ingin Bunuh Diri Menurut Menkes
Menkes menyoroti praktik perundungan di lingkungan PPDS. [415] url asal
#mahasiswi-undip-bunuh-diri #mahasiswi-bunuh-diri #mahasiswi-kedokteran-bunuh-diri #ppds #universitas-dipenogoro #menkes-budi-gunadi-sadikin
(Republika - News) 16/08/24 05:36
v/14470958/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa banyak peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yang ingin melakukan bunuh diri. Budi menyoroti praktik perundungan di lingkungan PPDS.
"Kita juga pernah kan melakukan skrining mental terhadap para PPDS ini dan banyak kan memang yang ingin bunuh diri. Jadi, ini sudah fenomena yang besar yang terjadi," ungkap Menkes di Istana Wakil Presiden (Wapres), Jakarta, Kamis (15/8/2024).
Adapun, kedatangan Menkes di Istana Wapres dalam rangka mendampingi Wapres Ma'ruf Amin menerima Tenaga Medis, Tenaga Kesehatan Teladan, dan Kader Berprestasi Tahun 2024. Menkes merespons kasus kematian seorang peserta PPDS Fakultas Kedokteran Undip Semarang yang diduga bunuh diri akibat mengalami perundungan.
Oleh karena itu, Menkes meminta semua pihak agar menghentikan praktik perundungan, termasuk pada profesi dokter. Menurutnya, perundungan dapat mengakibatkan hidup seseorang jadi tertekan.
"Di sini saya mengajak sebenarnya semua sektor agar yuk kita hentikan, kita putuskan kebiasaan ini. Karena ini adalah kebiasaan buruk berdampak buruk di profesi yang sangat mulia kedokteran. Bayangkan kalau dokter-dokter ini sejak muda sudah dididik seperti itu, hidupnya ditekan," tuturnya.
Menkes pun membandingkan kasus perundungan yang terjadi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) beberapa waktu lalu dengan kasus perundungan yang terjadi terhadap peserta PPDS saat ini. Menurutnya, kasus di IPDN lebih kepada tekanan fisik, sedangkan yang dialami peserta PPDS itu lebih kepada tekanan mental.
"Teman-teman dengar IPDN kan? Dulu ada yang sampai meninggal kan? Terjadi di sana kan? Ya ini mirip. Kalau disana mungkin lebih ke tekanan fisik, ini ke tekanan mental," kata Menkes.
Ia mengatakan masih banyak cara yang jauh lebih mendidik untuk menciptakan tenaga kerja yang Tangguh tanpa harus melakukan perundungan.
"Jadi, kita kan banyak profesornya nih, banyak guru besarnya. Harusnya banyak kok cara-cara mendidik untuk menciptakan manusia-manusia tangguh, bukan hanya kedokteran di TNI, di Polri, Pilot ada banyak profesi yang diminta memiliki ketangguhan mental yang berbeda tanpa buli, tanpa menyebabkan orang depresi, tanpa menyebabkan orang ke-trigger untuk bunuh diri," ucap Menkes.
Untuk diketahui, Kementerian Kesehatan menggandeng Kepolisian Negara Republik Indonesia guna mengusut kasus tersebut. "Kita kali ini sedang mengirim audit karena ini sudah ada kematian, juga kita juga bekerja sama dengan kepolisian setempat untuk melakukan pemeriksaan terhadap dokter yang bunuh diri ini," kata Menkes.
Sebelumnya, seorang mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran Undip Semarang meninggal dunia diduga bunuh diri di tempat indekosnya di Jalan Lempongsari, Kota Semarang, Jawa Tengah. Kematian korban berinisial AR yang ditemukan pada Senin (12/8/2024) lalu tersebut diduga berkaitan dengan perundungan di tempatnya menempuh pendidikan.
Detik-Detik Mahasiswi Undip Ditemukan Tewas di Kamar Kos
ARL diketahui tengah menjalani PPDS Anestesia di RSUP Dr Kariadi, Semarang. [797] url asal
#mahasiswi-undip-bunuh-diri #mahasiswi-ppds-undip #mahasiswa-kedokteran-undip-bunuh-diri #mahasiswi-bunuh-diri #mahasiswi-undip
(Republika - News) 15/08/24 18:24
v/14453464/
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Kasus bunuh diri mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip) yang tengah melaksanakan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesia di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr.Kariadi telah menyita perhatian nasional. Akibat kasus tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah memerintahkan agar Program Studi Anestesia Undip di RSUP Dr.Kariadi, Semarang, Jawa Tengah (Jateng), dihentikan sementara.
Mahasiswi Undip yang melakukan bunuh diri bernama Aulia Risma Lestari (ARL). Dia ditemukan meninggal di kamar kosnya pada Senin (12/8/2024) malam. Rumah kosnya terletak persis di sebelah Kantor Kelurahan Lempongsari, Semarang. ARL diduga mengakhiri hidupnya karena mengalami perundungan dari para dokter seniornya.
Republika menyambangi rumah kos ARL pada Kamis (15/8/2024) siang. Bangunan kos berwarna putih gading itu memiliki dua lantai dan tampak modern. Kamar kos di lantai satu bersebelahan langsung dengan area parkir motor dan mobil. Terdapat pula toilet umum di sudut kiri.
Ada sekitar 16 kamar kos di bangunan tersebut. ARL tinggal di kamar nomor 9 yang berada di lantai dua. Ketika Republikadatang ke sana, tak tampak aktivitas dari para penghuni kos. Republika juga tak berhasil menemui pemilik kos.
Namun terdapat seorang perempuan warga sekitar dan kebetulan sempat menyaksikan momen ketika ARL ditemukan meninggal di kamar kosnya pada Senin malam lalu.
Dia bersedia membagikan hal yang diketahuinya, tapi enggan dikutip namanya. "Iya waktu itu memang sempat ramai, ada polisi dan inafis. Ternyata ada yang bunuh diri," ucapnya.
Dia pun sempat bertanya kepada penghuni kos tentang peristiwa itu. Ia mendapat informasi bahwa sebelum ditemukan meninggal, ARL sempat dicari karena menghilang dari perkuliahan.
"Jadi infonya itu dia itu enggak muncul dari Senin pagi, enggak bisa dihubungi sampai malam. Terus teman-temannya inisiatif untuk membuka kamarnya dan korban sudah ditemukan meninggal," kata dia.
Sementara itu Kasat Reskrim Polrestabes Semarang Kompol Andika Dharma Sena mengungkapkan bahwa pemilik kos dan teman korban adalah yang pertama kali merasakan kejanggalan terkait ARL. Sebab kala itu ARL tidak bisa dihubungi dan kamar kosnya terkunci dari dalam.
Tim dari Polrestabes Semarang kemudian datang ke lokasi. "Waktu kami buka, pintunya dibongkar dulu kuncinya," kata Andika menjelaskan proses membuka kamar kos milik ARL.
Ketika berhasil dibuka, ARL ditemukan meninggal dalam posisi miring di kamarnya. Di sekeliling korban ditemukan sisa obat yang disuntikkan lewat lengannya. "Iya, benar bunuh diri. Yang bersangkutan menyuntikkan obat ke badannya sendiri," ungkap Andika.
Obat yang disuntikan ARL ke tubuhnya diduga merupakan obat anestesi. Saat ini Polrestabes Semarang masih menyelidiki kasus kematian ARL. Termasuk dugaan tentang adanya perundungan yang dilakukan para dokter senior terhadap ARL. "Informasinya yang bersangkutan sudah tidak kuat lagi atau bagaimana, mau cek lagi benar apa tidak," ujar Andika.
Sementara itu RSUP Dr. Kariadi telah menyampaikan bahwa pihaknya juga tengah melakukan penyelidikan terkait kasus ARL. "Betul adanya kasus tersebut saat ini sedang kami selidiki," kata staf Humas RSUP Dr.Kariadi, Aditya Kandu Warendra, saat dimintai konfirmasi soal kasus bunuh diri ARL, Kamis (15/8/2024).
Namun dia enggan memberikan penjelasan lebih mendetail soal penyelidikan tersebut. Ia hanya menyampaikan bahwa nanti Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bakal memberi keterangan kepada pers soal hal itu.
Aditya kemudian membenarkan bahwa ARL tengah menjalani PPDS Anestesia di RSUP Dr.Kariadi. "Kalau sebelumnya yang bersangkutan tugas di (RSUD) Kardinah (Kota Tegal). Lalu menjalani pendidikan PPDS di Undip. Kalau praktiknya anestesimemang di Rumah Sakit Kariadi," ucapnya.
Dia mengungkapkan, sesuai instruksi Kemenkes, saat ini program studi anestesia di RSUP Dr.Kariadi dihentikan sementara. "Sesuai edaran dari Kemenkes yang kami terima praktik anestesi dihentikan. Tapi untuk sampai kapannya kami belum tahu. Yang jelas biasanya Kemenkes memberikan keterangan pers rilis," ujar Aditya.
Sementara itu Undip telah membantah kabar bahwa ARL, yang tengah menjalani PPDS Anestesia RSUP Dr.Kariadi, Semarang, Jawa Tengah, bunuh diri akibat perundungan. Menurut Undip, ARL mengakhiri hidupnya karena menghadapi masalah kesehatan.
"Mengenai pemberitaan meninggalnya almarhumah berkaitan dengan dugaan perundungan yang terjadi, dari investigasi internal kami, hal tersebut tidak benar," ungkap Manajer Layanan Terpadu dan Humas Undip Utami Setyowati saat memberikan keterangan pers di Kantor Humas Undip, Kamis (15/8/2024).
Dia menambahkan bahwa selama ini ARL berdedikasi dalam pekerjaannya. "Namun demikian, almarhumah mempunyai problem kesehatan yang dapat mempengaruhi proses belajar yang sedang ditempuh," ujarnya.
Kendati demikian, Utami mengaku tidak bisa mengungkap secara mendetail problem kesehatan apa yang dialami ARL bersangkutan. Alasannya karena konfidensialitas medis dan privasi almarhumah.
"Berdasarkan kondisi kesehatannya, almarhumah sempat mempertimbangkan untuk mengundurkan diri (dari PPDS). Namun karena beliau adalah penerima beasiswa sehingga secara administratif terikat dengan ketentuan penerima beasiswa, sehingga almarhumah mengurungkan niat tersebut," ucap Utami.
Dia mengatakan, Undip terbuka dengan fakta-fakta valid lain di luar investigasi internal mereka. "Kami siap berkoordinasi dengan pihak mana pun untuk menindaklanjuti tujuan pendidikan dengan menerapkan zero bullying di Fakultas Kedokteran (FK) Undip," ujar Utami.
Merespons kasus bunuh diri ARL, Kementerian Kesehatan sudah menghentikan Program Studi Anestesi Undip di RSUP Dr.Kariadi. Penghentian dilakukan hingga adanya investigasi dan langkah-langkah yang dapat dipertanggungjawabkan Direksi RSUP Dr.Kariadi dan FK Undip.