#30 tag 24jam
Cerdasnya Nabi Yusuf, Lahan Pertanian Tetap Produktif pada Masa Kekeringan
Yusuf membangun manajemen air dan gudang besar untuk menyimpan makanan. [651] url asal
#nabi-yusuf #mimpi-nabi-yusuf #kekeringan-di-mesir #lahan-tetap-produktif-saat-kekeringan #cerdasnya-nabi-yusuf #nabi-yusuf-menata-pertanian #bagaimana-nabi-yusuf-menata-pertanian #manajemen-air-nabi-y
(Republika - Khazanah) 07/08/24 05:05
v/13602944/
REPUBLIKA.CO.ID, Indonesia masih belum kembali menjadi negeri yang mampu berswasembada beras. Bangsa ini sedang berjuang keras keluar dari jebakan impor beras dalam tiga tahun terakhir.
Pemerintah berupaya melakukan optimalisasi lahan agar sawah yang semula panen sekali setahun menjadi dua kali lewat inovasi sistem pengairan seperti pompanisasi. Tujuannya, agar sawah agar tetap berproduksi di musim kemarau.
Upaya menghidupkan produktivitas lahan untuk pertanian mengingatkan pada Kisah Nabi Yusuf pada masa silam. Hal ini terjadi berkat manajemen atau pengaturan air pada zaman Mesir kuno.
Peneliti Kementerian Pertanian Lady Hafidaty R.K., S.Si, M.Si dan Peneliti di BRIN Dr. Destika Cahyana lewat artikelnya bertajukKeluar dari Jebakan Impor Pangan dengan Meneladani Nabi Yusuf yang diterbitkan Antara, mengungkapkan, air diatur sedemikian rupa untuk menghidupkan lahan gurun menjadi sangat subur, seperti yang kemudian dikenal sebagai Kota Al-Fayyūm, yang menjadi sentra pertanian.
Al-Fayyūm merupakan daerah di hulu Mesir, yang terletak di depresi besar Gurun Barat di barat daya Kairo. Air dari Sungai Nil disalurkan ke dalam Danau Qarun (jarak Sungai Nil dengan Danau Qorun sekitar 100 km) melalui Kanal Yusuf (Joseph Canal’s) mengikuti saluran kuno ke Fayyūm yang bercabang-cabang untuk menyediakan air irigasi.
Nabi Yusuf juga membangun kincir air untuk menaikkan air dari danau ke lahan Al-Fayyūm yang posisinya lebih tinggi di hulu Mesir. Manajemen air melalui teknologi kincir air pada masa tersebut menjadi kunci guna menghidupkan lahan agar berproduksi sepanjang tahun.
Berkat air, selama tujuh tahun Yusuf memanen gandum dan menyimpannya untuk persediaan tujuh tahun paceklik berikutnya. Dengan cara itu, Yusuf membawa Bangsa Mesir selamat dari bencana kekeringan, kelaparan, dan kekacauan akibat krisis pangan.
Atasi kekeringan..
Apabila diamati dari literatur sejarah, maka secara garis besar terdapat strategi kunci Nabi Yusuf dalam mengatasi kekeringan yang diprediksi bakal melanda.
Pertama, perencanaan selama tahun-tahun kelimpahan. Ketika Nabi Yusuf memahami mimpi tentang tujuh tahun kelimpahan diikuti oleh tujuh tahun kelaparan, dia segera menyadari pentingnya merencanakan masa depan.
Ia menyarankan kepada Raja Mesir, kala itu, untuk menyimpan sebagian besar hasil pertanian selama tahun-tahun kelimpahan. Yusuf mengoptimalkan tujuh tahun kelimpahan dengan memastikan ketersediaan air sepanjang tahun. Ia membangun kincir angin dan kanal-kanal untuk mengambil air dari sumbernya, lalu mengalirkannya ke lahan-lahan subur.
Kedua, penyimpanan makanan. Nabi Yusuf mengatur penyimpanan makanan secara besar-besaran selama tahun-tahun kelimpahan. Ia membangun gudang-gudang besar alias lumbung pangan di seluruh Mesir untuk menyimpan gandum dan sumber daya pangan lainnya. Ini memungkinkan Mesir untuk memiliki persediaan makanan yang cukup selama masa kelaparan.
Ketiga, distribusi selama masa kelaparan. Ketika masa kelaparan tiba, Nabi Yusuf bertanggung jawab mendistribusikan sumber daya pangan yang disimpan dengan adil kepada masyarakat Mesir.
Ia melakukan ini dengan bijaksana, memastikan bahwa makanan didistribusikan secara merata dan tidak ada yang kelaparan.Keempat, kebijaksanaan dalam pengelolaan. Nabi Yusuf menggunakan kebijaksanaan dan keadilan dalam pengelolaan sumber daya.
Nabi Yusuf telah mengatur sistem pengaturan harga atau alokasi sumber daya berdasarkan kebutuhan dan kemampuan masyarakat. Ini membantu mencegah penimbunan atau penyalahgunaan sumber daya oleh pihak tertentu.
Kelima, pengawasan dan pengelolaan pertanian. Nabi Yusuf juga telah memimpin upaya untuk mengoptimalkan produksi pertanian selama tahun-tahun kelimpahan.
Ini bisa termasuk teknik irigasi yang lebih efisien atau strategi pertanian lainnya untuk meningkatkan hasil tanaman.Selain itu, selama masa kelaparan, beliau mungkin telah memberikan nasihat kepada petani tentang cara mengelola sumber daya air yang terbatas.
Dengan mengelola pertanian dan persediaan pangan dengan bijaksana selama tahun-tahun kelimpahan dan kelaparan, Nabi Yusuf berhasil mengatasi kekeringan dengan mengurangi dampaknya pada masyarakat Mesir dan memastikan ketersediaan makanan yang cukup untuk semua orang. Bangsa Indonesia dapat meneladani strategi kunci Nabi Yusuf untuk diterapkan di negara kita.
Pada konteks Indonesia, terdapat beberapa poin yang dapat menjadi fokus perbaikan di Tanah Air. Pertama, perencanaan jangka panjang. Indonesia dapat memperbaiki perencanaan jangka panjang untuk menghadapi tantangan, seperti perubahan iklim dan kekeringan.
Di tengah perubahan iklim yang semakin terasa, penting untuk memiliki strategi adaptasi yang kokoh, termasuk mengantisipasi kemungkinan masa kelaparan dan mempersiapkan langkah-langkah mitigasi.
Sifat Pemimpin Adalah Pemaaf
Nabi Yusuf merupakan pemimpin yang pemaaf. [1,173] url asal
#pemaaf #pemimpin #nabi-yusuf #surat-yusuf #alquran #nabi-yaqub #kisah-nabi #kisah-orang-shaleh
(Republika - News) 19/07/24 04:29
v/11264187/
REPUBLIKA.CO.ID, PENAJAM PASER UTARA -- Di dalam Alquran, ada satu surat yang isinya penuh dengan satu kisah nabi saja. Biasanya beberapa nabi dan rasul dikisahkan berbarengan. Tentu ini adalah pelajaran penting yang tersirat dan tersurat di dalamnya.
Surat itu adalah Yusuf. Nomor surat ke-12 dari urutan mushaf dan terdiri dari 111 ayat. Menurut Imam Fakhruddin ar Razi (w. 606 H) surat ini turun setelah surat Hud, dan dari 111 ayat yang diturunkan di Mekah, hanya ayat 1, 2, 3, dan 7 saja yang diturunkan di Madinah.
Sebelum membahas tentang salah satu pelajaran kepemimpinan dalam Surat Yusuf ini, ada hal menarik dalam penjelasan pendahuluan surat yusuf ini. Yaitu tentang salah satu keutamaan membacanya. Di mana Iman Ibnu Katsir (w. 774 H) adalah seorang pakar di bidang quran, hadits, sejarah dan keilmuwan lainnya memberikan pengantar hadits tentang keutamaan Surat Yusuf ini dengan hadits yang dikategorikan tidak sahih.
Menurut para ulama, setidaknya ada tiga alasan mengapa para ulama (semisal Ibnu Katsir) menampilkan hadits yang lemah, tidak sahih dalam tafsirnya, yaitu:
ingin menyampaikan peringatan meskipun sanadnya bermasalah, namun dari segi matan memiliki nilai kesahihan hadits yagn disebutkan adalah hadits yang sudah terkenal (mashur) dalam hal kelemahannya serta perselisihan antara ulama dalam penilainnya.
Ibnu Asakir juga memberikan testimoni tentang sikap Ibnu Katsir dalam hal penyampaian hadits lemah dalam tafsirnya. bahwa menurutnya upaya Ibnu Katsir dalam tafsirnya merupakan upaya terbaik setelah tafsir at Tabari (w. 310 H), dengan penuh kesungguhan menampilkan banyak hadits dan lebih mengutamakan hadits sahih, meskipun juga menampilkan hadits yang lemah, namun beliau menampilkan alasan dan penilaian jujur terhadapnya.
Menurut sebuah riwayat dari Rasulullah saw bahwa beliau saw menganjurkan untuk mengajarkan surat Yusuf ini, karena tidak ada seorang Muslim pun membacanya atau mengajarkannya pada keluarganya, atau kepada budak sahayanya, melainkan akan Allah mudahkan dalam sakaratul maut, dan akan diberikan kekuatan terhindar dari kedengkian Muslim lainnya.
Awal cerita
Adalah Yusuf diperlihatkan akan salah satu keagungan Allah. namun di saat yang sama justru ayahnya, Ya’qub menginginkan agar tanda keagungan tersebut tidak disampaikan kepada orang lain, terlebih kepada saudara-saudaranya. karena hal itu bisa membuka pintu keburukan baginya.
Mungkin sudah sunatullahnya, bahwa ketika ada kebaikan atau kebenaran, maka di situ pula ada antitesanya. Ya, saudara-saudara Yusuf menunjukan rasa ketidaksukaan terhadap dirinya. Beberapa kali mereka mengadakan rapat dengan agenda utama adalah menghabisi Yusuf, dan memalingkan kasih sayang ayahnya kepada mereka.
Sebetulnya, mereka tidak membutuhkan kasih sayang dari ayahnya. Namun lebih kepada rasa iri dan dengki kepada Yusuf.
Sekenario kejahatan
Ya’qub sudah mencium aroma kebusukan dari sikap saudara-saudara Yusuf sebelumnya. Hal ini sudah tampak “gelagat” dari proses dan prosedur pernikanah antara Ya’qub dengan para wanita sebelum akhirnya menikah dengan Rahel atau yagn disebut dengan istri kecil. Situasi “pengkastaan” ini lah sebagai pintu masuk keburukan dalam bahtera Ya’qub dan keluarganya.
Akhirnya, sepuluh saudara Yusuf mengadakan rapat terbatas dengan agenda utama “penghilangan” Yusuf di hadapan Ya’qub. Berbagai pendapat dan rumus-rumus berikut tata cara pengelakan saat “pengadilan” keluarga dilakukan juga sudah dibicarakan dengan matang. Alhasil keputusannya adalah membuang Yusuf atau menjauhkan sejauh-jauhnya antara Yusuf dengan ayahnya.
Eksekusi makar
Kesepakatan hasil rapatnya adalah membuang Yusuf, namun disekenariokan sedemikian rupa agar “penghilangan Yusuf” ini terkesan terjadi secara normal. Adapun rencananya adalah “meningggalkan” Yusuf di tengah-tengah hutan dan agar nanti ada orang yang menemukannya dan merawatnya, pada prinsipnya Yusuf tidak kembali ke rumah.
Saat akan melaksanakan rencananya, salah satu di antara mereka meminta izin kepada Ya’qub agar diizinkan membawa Yusuf bermain-main bersama mereka.
Sebetulnya Ya’qub sudah memiliki perasaan yang tidak baik, bahwa ini adalah siasat saudara-saudar Yusuf untuk menghilangkan Yusuf. Ya’qub katakan kepada anak-anaknya bahwa mereka adalah oragn-orang yang sangat mungkin bisa lengah, lalu Yusuf dimakan serigala.
Betul apa yang dikatakan oleh Ya’qub, bahwa sekembali saudara-saudara Yusuf dari permainan, Yusuf tidak bersama mereka, malahan mereka membawa sobekan baju Yusuf yang telah dilumuri darah hewan lain, agar terkesan bahwa Yusuf telah dimakan serigala.
Setelah peristiwa ini terjadi, Ya’qub menjadi pribadi yang lebih banyak menyendiri dan membatasi diri. Sampai-sampai kesedihannya itu digambarkan Ya’quh tidak bisa lagi melihat dengan jelas, meskipun penciuman masih sangat tajam. Namun, Allah tetap memberikan hati yang sabar serta senantiasa bertawakal kepada-Nya dengan berkata, “wa Allahul musta’an, Allah adalah Dzat yang Maha Penolong”.
Puluhan tahun Yusuf berpisah dengan ayah, adik dan sepuluh saudara-saudara yang jahat tersebut. Allah mentakdirkan Yusuf menjadi penguasa di Mesir. Hingga datanglah musim paceklik, dan di saat-saat inilah kisah Yusuf bersama Ya’qub dan saudara-saudaranya akan tersingkap hikmahnya.
Ya’qub pun memerintahkan kepada anak-anaknya, yang tiada lain adalah saudara-saudara yang telah berbuat jahat kepada Yusuf untuk pergi ke kota agar mencari pertolongan kepada raja yang dikenal adil dan bijaksana.
Sesampainya mereka di kota, Yusuf langsung mengetahui siapa ihwal mereka, namun Allah tutupkan saudara-saudaranya dari pengetahuan tentang Yusuf. Lalu Yusuf pun membuat skenario agar memberikan kepada mereka pelajaran.
Yusuf memerintahkan salah satu pegawainya untuk memasukan barang mewah di kantong-kantong bantuan makanan yang telah mereka dapatkan. Dan sebelum mereka melewati pintu gerbang kota, mereka ditangkap, karena telah “dianggap” mencuri barang-barang kerajaan.
Pengadilan pun dilakukan dan diputuskan bahwa mereka harus membawa salah satu anak Ya’qub yang lain, anak ini adalah adik Yusuf sendiri yang bernama Bunyamin. Akhirnya, beberapa orang di antara mereka disuruh kembali ke daerah mereka, dan harus membawa Bunyamin ke hadapan raja.
Sesampainya di rumah, Ya’qub mempertanyakan sikap mereka yang dulu juga telah lakukan terhadap saudara mereka, Yusuf. Akhirnya Bunyaminpun dibawa ke istana untuk mendapatkan bahan makanan mereka. Namun sebelum rombongan itu meninggalkan istana, kembali dibuat siasat oleh Yusuf.
Hingga singkat kisah, Bunyamin pun akhirnya ditahan pula oleh istana kerajaan.
Betapa menyesal dan sedihnya Ya’qub atas kecerobohan dan tindakan anak-anaknya tersebut. Atas beberapa peristiwa yang ganjil ini, Ya’qub pun berkata “fashabrun jamil”. Terkait “shabrun jamil” ini Imam Mujahid berkomentar “shobrun jamil” adalah tidak mengeluhkan kepada satu orang pun.
Akhirnya, Ya’qub pun berangkat ke Mesir untuk menyaksikan sendiri peristiwa demi peristiwa yang ganjil tersebut, dan memastikan bahwa tindakan anak-anaknya yang dahulunya nakal sudah tidak terulang kembali.
Ternyata mereka masih “menutupi” kesalahan mereka yang dahulu pernah dilakukannya. Namun, Allah sudah menyingkap rahasia antara anak dengan orang tuanya. Ya’qub mencium aroma bau yusuf.
Utusan itu akhirnya meletakan gamis yusuf ke kepala Ya’qub, hingga akhirnya Ya’qub bisa kembali melihat, melihat fakta dan peristiwa dengan lebih sempurna. dan melihat anaknya, Yusuf yang dahulu hilang ternyata telah menjadi manusia yang sempurna.
Sementara itu, anak-anak Ya’qub yang selalu berikap iri, dengki, hasad, bahkan dendam kepada saudaranya sendiri. Akhirnya mengakui akan kesalahan mereka dan memohon kepada ayahnya agar dimintakan ampunan kepada Allah swt.
Ya’qub pun menyanggupinya, dan melupakan setiap peristiwa yagn telah “dibuat-buat” oleh mereka, Ya’qub menerima penyesalan mereka dan Ya’qub memaafkan mereka, dan bahkan mengakui pula, bahwa kesalahan yang telah dibuat oleh anak-anaknya adalah juga “kesalahan” dirinya.
Ya’qub telah memberikan keteladanan sebagai seorang pemimpin, bahwa pemimpin adalah orang yang berjiwa pemaaf dan satu hati dan jiwa dengan orang yang dipimpinnya.
Madinah Munawarah, Muharam 1446 H
*Ketua Umum MUI Kab. Penajam Paser Utara
Saat Syahwat Turunkan Derajat Seorang Raja Hingga Seperti Budak | Republika Online
Orang yang selalu dalam bimbingan akal sehatnya layak berbahagia. [285] url asal
#kisah-nabi-yusuf #raja-jadi-budak #ratu-zulaikha #kisah-nabi-yusuf-dan-ratu-zulaikha #siti-zulaikha #zulaikha-dan-nabi-yusuf #nabi-yusuf-dijebak-zulaikha #zulaikha-jebak-nabi-yusuf #kisah-nabi-yusuf-d
(Republika - Khazanah) 09/07/24 04:32
v/10156109/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni dalam bukunya Nashaihul Ibad menjelaskan bahwa seorang raja derajatnya bisa menjadi budak karena tidak mampu mengendalikan syahwatnya. Sementara seorang budak atau pelayan bisa memiliki derajat seorang raja karena kesabarannya dan kemampuannya mengendalikan syahwat.
"Sesungguhnya syahwat dapat menurunkan derajat seorang raja menjadi budak. Kesabaran dapat mengangkat derajat seorang pembantu menjadi raja. Lihatlah kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha."
Syekh Nawawi al-Banteni menjelaskan bahwa syahwat adalah keinginan dan kecintaan, padahal orang yang cinta terhadap sesuatu itu akan menjadi budak apa yang dicintainya. Kesabaran adalah ketabahan, dengan kesabaran seseorang akan dapat mencapai yang dicita-citakannya.
Dalam kisah Nabi Yusuf, Zulaikha seorang permaisuri raja tertarik kepada Nabi Yusuf yang saat itu statusnya sebagai seorang pembantu. Dengan kesabaran yang dimiliki Nabi Yusuf, dia dapat mengatasi segala bujuk rayu dan tipu muslihat Zulaikha.
Pada akhirnya, Nabi Yusuf yang semula hanya seorang pembantu, dapat menjadi raja, dilansir dari kitab Nashaihul Ibad yang diterjemahkan Abu Mujaddidul Islam Mafa dan diterbitkan Gitamedia Press, 2008.
Syekh Nawawi al-Banteni juga menjelaskan orang yang selalu dalam bimbingan akal sehatnya layak berbahagia. Sementara, orang yang akalnya terkekang dan hawa nafsunya mengambil alih perilakunya akan celaka."Berbahagialah orang yang selalu dalam bimbingan akalnya dan hawa nafsunya selalu dalam kendalinya. Celakalah orang yang selalu dikendalikan oleh hawa nafsunya, sedangkan akalnya diam dan terkekang."
Orang yang mengutamakan akal ketimbang hawa nafsu maksudnya adalah orang yang selalu mengikuti kehendak akalnya yang lurus. Sementara nafsunya enggan melakukan segala apa yang telah dilarang oleh Allah SWT, yaitu perbuatan yang bertentangan dengan syara' (tuntutan dari Allah).
Orang yang dikendalikan oleh hawa nafsunya, akalnya terkekang. Maksudnya adalah orang yang akalnya tidak lagi berfungsi untuk bertafakur kepada Allah dan lebih mengutamakan kehendak hawa nafsunya.