#30 tag 24jam
Sejarah Pagebluk di Tatar Sunda (2) - kumparan.com
Penulis sebagai orang Sunda yang bergelut di bidang kesehatan, memahaminya sebagai wabah atau epidemi. Artinya, sasalad masih dikenal dalam bahasa Sunda saat ini dalam arti yang relatif sama. [1,608] url asal
#sasana #pagebluk #sunda #penyakit #sejarah #virus
(Kumparan.com) 14/07/24 11:30
v/10737610/
“Sanghyang Sasana Maha Guru”
“Yata duka kunang tribwana lwaka ngaranya. Kahuruan dayeuh, burung tahun, eleh ku sasalad, larukangkang salah masa, sarba pala tan pawwah, sarba satwa añarak. Yata duka kunang tribwana lwaka ngaranya ma.”
Terjemahannya: “Yaitu kesengsaraan di tiga dunia tempat manusia tribwana loka. Negara mengalami kebakaran, gagal panen, hancur karena wabah, musim kemarau berkepanjangan yang tidak pada waktunya, semua buah-buahan tidak berbuah, semua binatang musnah. Itulah kesengsaraan di tiga dunia tempat manusia”.
Kutipan di atas ini diambil dari naskah Sunda kuna di awal abad ke-16 “Sanghyang Sasana Maha Guru” yang disunting dan diterjemahkan oleh Aditia Gunawan (Sanghyang Sasana Maha Guru dan Kala Purbaka: Suntingan dan Terjemahan, 2009). Sanghyang Sasana Maha Guru adalah sebuah teks Sunda Kuna pada masa sebelum Islam datang di tanah Sunda.
Alasan penulis mengutip naskah Sunda kuna di atas karena sangat berkaitan dengan topik tulisan, antara lain terkait bahasan wabah atau sasalad yang bahkan, penulis sebagai orang Sunda yang bergelut di bidang kesehatan, memahaminya sebagai wabah atau epidemi. Artinya, sasalad masih dikenal dalam bahasa Sunda saat ini dalam arti yang relatif sama dengan naskah Sunda kuno di atas.
Sasalad dalam naskah kuno tersebut merujuk pada gagal panen yang diakibatkan wabah penyakit yang masif. Hal ini menurut para ahli sejarah Sunda, dapat diartikan bahwa sasalad adalah kata lain dari wabah atau pageblug. Kutipan naskah ini menjadi bukti tertua penggunaan kata sasalad dalam arti wabah dalam bahasa Sunda.
Hal ini juga diperkuat peneliti Sunda, Sierk Coolsma (Soendaneesch-Hollandsch woordenboek, 1884, 1913: 556) yang menuliskan “Sasalad, ong. = pagëboeg, plaag, een heerschende ziekte, epidemie” atau diartikan sebagai wabah, sampar, penyakit menular, epidemi. Selain itu, peneliti lain, F.S. Eringa (Soendaas-Nederlands woordenboek, 1984: 657): menyebutkan bahwa “salad, sasalad: epidemie, besmettelijke ziekte” adalah epidemi atau penyakit menular. R. Sacadibrata (Kamus Basa Sunda, 2005: 134, 272, 347) dan R.A. Danadibrata (Kamus Basa Sunda, 2006: 481, 614) kemudian juga memberikan arti bahwa sasalad adalah wabah penyakit.
Bukti penggunaan kata sasalad dapat disimak dari buku Sunda Pandji Woeloeng (1876: 6) karya R.H. Moesa, yang memiliki kalimat “Dumadakan manggih mayit, sakitan keuna sasalad, ceulina dikeureut bae” (Tiba-tiba menemukan mayat, meskipun bekas terkena wabah, telinganya terus dipotong).
Juga dalam Tjarita Djalma Paminggatan (1912: 35) karya R. Ardiwinata, tertulis “... kaula bet katarajang nyeri suku, nya eta sasalad di eta tempat malah loba pisan anu maraot ku lantaran eta panyakit teh” (... saya jadi mengalami sakit kaki, yakni wabah yang berjangkit di tempat itu, bahkan banyak sekali orang yang meninggal akibat penyakit itu). C.M. Pleyte dalam Pariboga: Roepa-roepa Dongeng Soenda (1914: 6) menyampaikan hal yang serupa, dengan kalimat: “Boga bujang keur sahiji teh, paeh katarajang sasalad ...” (Hanya punya satu-satunya pembantu lelaki, malah meninggal karena terjangkit wabah).
Tulisan R. Sacadibrata dalam buku Dongeng-dongeng Sasakala Jilid 2 (1952: 164), terdapat kutipan, “Jakasona jeung aki pangebon kaget reh nagara combrek tiiseun, sabab katarajang sasalad banget, nu gering sore, paeh isuk, gering isuk, paeh sore” (Jakasona dan kakek jurukebun merasa kaget karena mendapati kerajaan sepi, sebab terjangkit wabah yang hebat, yang sakit pada sore hari, meninggal esok paginya, orang yang sakit pagi hari meninggal sore harinya). Ini menggambarkan suasana sasalad atau pagebluk yang mematikan dan menyebar dengan cepat.
Bahasa Sunda mengenal kata lain selain sasalad, untuk wabah, yaitu istilah pagebug yang kemungkinan besar ditimba dari bahasa Jawa, pagebluk atau pageblug. Pagebluk sendiri berasal dari kata geblug atau bluk yang baik dalam budaya Sunda ataupun Jawa, diartikan sebagai jatuh, tumbang atau tersungkur. Maksudnya, pagebluk adalah sebuah fenomena yang menyebabkan jatuhnya korban dalam jumlah besar dengan skala yang luas. Karena itu, istilah geblug sendiri memiliki arti yang serupa dengan ledakan.
Setelah penulis membaca dan meneliti naskah Sunda kuna “Sanghyang Sasana Maha Guru” (SSMG) terjemahan Aditia Gunawan, terdapat beberapa hal terkait upaya pengendalian penyakit yang telah dianjurkan pada masyarakat di tanah Sunda di masa sebelum kedatangan agama Islam. Naskah menyebutkan bahwa setiap manusia memiliki potensi dalam dirinya.
Potensi secara kasat mata ada dalam sepuluh alat persepsi (dasaindriya) yang terdiri dari telinga, mata, hidung, lidah, mulut, kulit, tangan, anus, kelamin, dan kaki. Sedangkan potensi tidak kasat mata, mencakup tiga unsur dalam diri manusia, yaitu bayu (tenaga), sabda (ucapan), dan hedap (pikiran). Pada bagian lain diterangkan bahwa bayu, syabda, dan hedap tidak ada tetapi ada. Ketiga potensi ini meski tidak terlihat, tapi ada dan terasa dalam diri setiap manusia.
Pada bahasan tentang dasanaraka, dalam kitab Sunda kuna SSMG secara tegas disebutkan, bahwa penyalahgunaan atau tidak terjaganya perilaku terhadap dasaindriya maka akan berakibat kesengsaraan, yang bisa dalam bentuk berbagai penyakit yang menimpa setiap bagian dari dasaindriya (tangan, kaki, kelamin dll) tersebut.
Hal ini dipertegas pula dalam dasamarga SSMG atau sepuluh cara untuk mengatasi dimensi buruk dari sepuluh indra itu agar mendapatkan dasautama atau sepuluh keutamaan. Di samping itu, naskah Sunda Kuna SSMG juga mengatur tentang etika kesehatan masyarakat Sunda saat itu, seperti larangan buang air besar di pinggir jalan. Ke semuanya ini menggambarkan betapa masyarakat Sunda saat itu, sudah memiliki tatanan yang menjaga dan mencegah terjadinya potensi penyakit atau pun sasalad (wabah).
Pagebluk selain pernah terjadi di era sebelum kolonialisme, juga semakin tercatat jelas di masa kolonialisme khususnya era Hindia Belanda. Ada banyak warisan sejarah, baik itu berbentuk tulisan maupun lisan, yang menceritakan kalau penduduk Jawa termasuk Sunda pernah terkena pagebluk di masa lalu. Menurut manuskrip terdapat beberapa jenis pagebluk yang pernah melanda tanah Jawa seperti gudik (kudis), kolera, influenza sampai tuberkulosis.
Cacar variola atau smallpox adalah salah satu pagebluk yang membuat masyarat Pasundan dicekam ketakutan. Bahkan sebagian warga mengaitkan kehadiran penyakit cacar ini dengan munculnya sosok makhluk gaib atau jurig kuris. Het Nieuws Van De Dag pada 20 Maret 1929 memuat pernyatan Dr. Winckel, Inspektur Departemen Kesehatan untuk Jawa Barat, tentang persoalan cacar. Koran itu menulis terdapat 27 kasus cacar di Jabar.
Upaya merespons wabah antara lain dilakukan dengan penyediaan lembaga penelitian vaksin. Pada tahun 1896 Hindia Belanda pada akhirnya memiliki lembaga pembuatan vaksin sendiri di tanah jajahannya, dengan didirikannya Parc Vaccinogen Instituut Pasteur, Bandung.
Tahun 1918, lembaga pembuatan vaksin cacar dipindahkan ke Bandung, bersatu dengan Instituut Pasteur, dan berubah nama menjadi Landskoepok Inrichting en Instituut Pasteur (kini Bernama Biofarma). Kemandirian vaksin ini berhasil mengantarkan Hindia Belanda menyempurnakan vaksin pada tahun 1930-an dengan menemukan vaksin kering oleh dr. Louis Otten. Setelah penemuan tersebut, Hindia Belanda sempat dinyatakan berhasil menangani wabah cacar yang sudah ada selama empat abad.
Selain itu, di tanah sunda, tidak hanya cacar, pagebluk lain yang merenggut banyak nyawa adalah pes atau sampar. Wabah tersebut tercatat dalam sejarah telah menimbulkan kematian dari warga biasa, tenaga medis seperti menteri kesehatan, hingga pejabat pemerintah seperti asisten wedana.
Wabah pes atau sampar ini membuat warga ketakutan. Wabah pes di Jabar mulai menyeruak sekitar tahun 1921. Bataviaasch Nieuwsblad dalam beritanya, 19 Desember 1932, menyebut pes di Jabar bermula saat sebuah kapal laut bermuatan beras dari Indocina merapat di Pelabuhan Cirebon pada 1921.
Tikus-tikus dari kapal itu menularkan bibit-bibit pes yang tak hanya menjalar di Cirebon di mana kapal berlabuh, tetapi juga ke Kuningan dan bahkan wabah muncul di Tasikmalaya dan Ciamis pada 1927, Garut pada 1928, Bandung pada 1929, dan juga mencapai Cianjur.
Wilayah Priangan pernah mengalami pagebluk hebat penyakit sampar selama setahun (1933-1934). Akibat penyakit yang disebut juga sebagai pes itu, menurut Terence H.Hull dalam Death and Disease in Southeast Asia (disunting oleh Norman Owen) kurang lebih 15.000 orang meregang nyawa.
Berita De Locomotief pada 23 Februari 1935 mencatat, wabah pes atau sampar di Hindia Belanda mencapai 23.267 kasus. Tercatat 20.597 kasus pes terjadi di Jawa Barat saja, dan sebanyak 20.569 di antaranya berakibat kematian. Kasus-kasus pes berujung kematian juga terjadi di Tasikmalaya dan Garut. Dalam pemberitaan De Tijd pada 23 Februari 1936, sebanyak 12.968 orang meninggal akibat wabah pada 1935 di seluruh Hindia Belanda.
Sementara di Jabar mencapai 10.304 orang, termasuk di Garut dengan 4108 orang, Bandung 4034 orang, Tasimalaya 1213, dan Sumedang 604. Kasus-kasus kematian dari golongan hamba sahaya, tenaga medis, hingga kaum bangsawan juga terjadi di Tasikmalaya dan Garut.
Berita De Standaard, 25 April 1933, memberitakan kematian Asisten Wedana Kota Garut, Raden Kanduruan Kartanegara, akibat pes. Het Nieuws Van De Dag pada 8 September 1932 dan De Indische Courant pada 11 Juni 1934 masing-masing turut mencatat keganasan pes di Tasikmalaya. Sasalad pes merebak juga di distrik Ciawi dalam catatan Het Nieuws Van De Dag, 22 Agustus 1929. Koran tersebut menulis sebanyak 18 mayat dikubur di Ciawi secara sembunyi karena dugaan mengidap pes.
Pagebluk dahsyat pes dihadapi Pemerintah Kolonial Belanda dengan membongkar rumah-rumah warga yang dianggap tak sehat. Namun kebijakan tersebut tidak disertai dengan penyediaan rumah yang lebih sehat, yang artinya menimbulkan masalah baru.
Begitu traumanya orang-orang Priangan hingga mereka selalu merasa jijik dengan binatang tikus yang dikatakan sebagai pembawa patogen yersinia pestis (penyebab sampar). Dalam bencana itu, Garut termasuk kawasan yang menyumbangkan korban agak besar. Dalam catatan Adrianus Bonnebaker dalam Over Pest, selama setahun wabah sampar merajalela, ratusan warga Garut telah meregang nyawa akibatnya. Tragedi itu menimbulkan trauma yang mendalam hingga puluhan tahun kemudian.
Pada masa Perang Kemerdekaan (1945-1949), tentara Indonesia yang berada di Garut, tercatat menggunakan bakteri yersinia pestis sebagai senjata biologis untuk meneror mental prajurit-prajurit Belanda. Ketakutan tentara Belanda terbukti, sehingga mereka sangat menghindari apa pun yang terkait dengan 'hantu sampar', termasuk tikus-tikus.
Namun bagi para pejuang Indonesia di Garut, situasi itu menjadi peluang untuk perang urat syaraf. Komandan Kesatuan Pasoekan Pangeran Papak (PPP) yang kali pertama memiliki ide untuk menjadikan tikus sebagai senjata biologis, dengan cara karung-karung berisi tikus dibawa ke wilayah pos-pos militer Belanda saat malam hari.
Kemudian, binatang pengerat itu dilepaskan dan dibiarkan masuk ke markas pasukan Belanda. Hal ini dilakukan berulang setiap minggu. Termasuk untuk mencegah pengejaran yang dilakukan militer Belanda terhadap pejuang tanah air.
Sejarah Pagebluk di Tatar Sunda (1) - kumparan.com
tulisan ini selain dimaksudkan untuk mengangkat kekayaan sejarah kesehatan tanah Sunda dan peran sejarah “urang Sunda” dalam kaitan isu kesehatan seperti pagebluk COVID-19 dan lainnya, sekaligus juga [1,303] url asal
#pagebluk #sejarah #sunda #virus #pandemi
(Kumparan.com - News) 10/07/24 07:01
v/10276971/
Pagebluk atawa sasalad COVID-19 geus ngarobah kahirupan masarakat — ogé tiap jalma. Katelahna virus cukang lantaran panyakit COVID-19 nu mimiti kapanggih di tiongkok taun 2019, terus sumebar ka mancanagara, kaasup ka Indonésia, ogé di tatar Sunda.
Tilu taun leuwih, sasalad COVID-19 ramé jadi catur matak ibur salelembur éar sajajagat. Loba nu nyebutkeun yén dunya geus robah salawasna. Sasalad Covid-19 maksakeun larangan dina kagiatan sosial antar jalma, nimbulkeun kabiasaan anu béda ti kahirupan samemehna.
Tapi taun 2023 ieu, mun vaksin bisa ngurangan inféksi bari varian virusna ogé teu nambah parah, kahirupan bakalan normal deui. Tah, dina waktos éta, palajaran naon anu bakal urang kumpulkeun ti taun ka tukang? Kusabab ingetan manusa mah pondok, jeung naon anu pernah dialaman gancang luntur.
Padahal dina sajarahna, urang Sunda baheula mah percaya, yén kasakit téh asal-muasalna tina hawa kotor jeung kadaharan. Matak papagon ogé patali jeung kaséhatan. Contona, hirup kudu berséka, ulah odoh, jeung ulah tambarakan.
Ku kituna, sasalad COVID-19, ogé sasalad nu geus liwat, mundel pisan diémut bari ditulis. Tulisan ieu jadi palajaran utama dina kaséhatan masarakat pikeun ngingetkeun urang jeung generasi ka hareup, sangkan sajarah henteu malikan deui.
Tulisan di atas kira-kira begini artinya: Pandemi COVID-19 telah mengubah kehidupan banyak orang — juga setiap orang. Diketahui, virus penyebab penyakit COVID-19 pertama kali ditemukan di China pada tahun 2019, kemudian menyebar ke luar negeri, termasuk Indonesia juga di wilayah Sunda.
Tiga tahun kemudian, penyebaran COVID-19 telah menjadi pembicaraan banyak pihak dan menyebar ke seluruh dunia. Banyak yang mengatakan bahwa dunia telah berubah selamanya. Karena, di masa pandemi Covid-19 terjadi pemberlakuan pembatasan aktivitas sosial antar manusia sehingga menimbulkan kebiasaan yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya.
Tapi tahun 2023 ini, jika vaksin bisa mengurangi infeksi sementara varian virusnya juga tidak bertambah parah, aktivitas dan kehidupan masyarakat akan normal kembali. Tapi, pada saat itu, pelajaran apa yang akan kita kumpulkan dari tahun-tahun sebelumnya? Karena ingatan manusia pendek, dan apa yang telah dialami memudar dengan cepat.
Padahal dalam sejarahnya masyarakat Sunda percaya bahwa penyakit berasal dari udara dan makanan yang kotor. Sehingga pepatah sunda kuna, banyak terkait Kesehatan dan mengajarkan cara mencegah penyakit. Misalnya, hidup harus bersih sehat, tidak makan sembarangan.
Oleh karena itu, pandemi COVID-19, serta wabah yang telah berlalu, sangat penting ditulis. Artikel ini menjadi pelajaran penting kesehatan masyarakat untuk mengingatkan kita dan generasi mendatang, agar sejarah wabah tidak terulang kembali.
Di dunia yang semakin saling terhubung saat ini, ancaman kesehatan di mana pun akan menjadi ancaman bagi seluruh negara. Patogen baik berupa virus, bakteri atau jamur yang dibawa manusia dapat menyebar dari desa terpencil ke kota-kota besar atau sebaliknya di seluruh benua hanya dalam waktu satu setengah hari.
Penyakit wabah seperti COVID-19, MERS, Ebola dan lainnya menimbulkan ancaman terhadap keamanan kesehatan global, nasional dan lokal dengan cara yang prinsipnya hampir sama dengan serangan tentara asing mengancam keamanan nasional.
Itu sebabnya dunia membutuhkan global health security, yang bukan hanya fokus pada pelayanan kesehatan, akan tetapi semua tingkatan pemerintahan perlu mempersiapkan diri terhadap ancaman kesehatan dan cara mengendalikannya, tidak hanya merespons ketika banyak penduduk di wilayahnya sudah jatuh sakit.
Oleh karenanya, belajar dari sejarah wabah penyakit (pagebluk atau sasalad) merupakan salah satu cara untuk memahami dan merespons ancaman pagebluk masa kini dan di masa depan.
Sebelum pagebluk COVID-19 merebak tahun 2020 hingga saat ini (2023), warga Jawa Barat sudah karib dengan berbagai pagebluk di zaman sebelum dan selama kolonialisme Belanda. Faktor-faktor seperti pergerakan manusia, urbanisasi, karakteristik lanskap tanah parahyangan, iklim tropis dan adanya perubahan iklim dan ekosistem saat ini semakin meningkatkan kemungkinan kontak antara manusia dan vektor penyakit sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya pagebluk di tatar sunda.
Pada tahun 1815, seluruh Jawa dan Madura hanya berpenduduk lima juta jiwa. Sedangkan tahun 1851, terdapat 786.000 orang Sunda dan 217 orang Eropa di Jawa Barat. Dalam 30 tahun jumlah penduduk menjadi dua kali lipat dan Priangan menjadi pusat perdagangan dengan masuknya pengusaha barat dan imigran Asia (kebanyakan Cina) yang menyertainya. Pada awal abad ke-19, diperkirakan Sebagian besar lahan pulau Jawa tertutup hutan atau lahan kosong, hanya sekitar seperdelapannya yang dihuni manusia.
Pada tahun 2022, suku Sunda yang merupakan peringkat kedua sebagai Suku dengan populasi terbanyak di Indonesia, memiliki populasi 36.701.670 jiwa atau setara dengan 15 persen dari total penduduk Indonesia (BPS, 2022).
Kebanyakan dari mereka hidup di Jawa Barat, namun ada pula yang bermukim di Banten, Jakarta dan sebagian wilayah barat Jawa Tengah yang mencakup (sebagian wilayah Kabupaten Cilacap, sebagian Kabupaten Brebes, hingga sebagian kecil Kabupaten Banyumas).
Populasi suku Sunda secara signifikan juga dapat ditemukan di wilayah provinsi lain di Indonesia, dan di luar negeri seperti di Taiwan, Arab Saudi, Malaysia, Singapura, Eropa, Jepang, Korea Selatan, Hongkong (Tiongkok) dan negara-negara lainnya sebagai tempat bagi para diaspora Sunda. Penulis sendiri merupakan diaspora Sunda yang berada di Australia.
Jati diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasa dan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, riang cenderung humoris, mudah bersosialisasi dan bersahaja. Orang Portugis mencatat dalam Suma Oriental bahwa orang Sunda bersifat jujur dan pemberani.
Orang Sunda juga adalah suku bangsa pertama yang melakukan hubungan diplomatik secara sejajar dengan bangsa lain. Sang Hyang Surawisesa atau Raja Samian adalah raja pertama di Nusantara yang melakukan hubungan diplomatik dengan bangsa lain pada abad ke-15 dengan orang Portugis di Malaka.
Kendati demikian, suku Sunda adalah salah satu kelompok masyarakat yang masih kurang dikenal di dunia. Nama suku Sunda kerap dianggap sebagai orang Sudan di Afrika, berbeda misalnya dengan Bali atau Jawa. Beberapa koreksi ejaan dalam komputer juga mengubahnya menjadi Sundanese atau Sunday. Berita baiknya, saat ini, basa Sunda sudah masuk salah satu bahasa yang ada di Google translate.
Sebagai Provinsi terpadat di Indonesia dengan jumlah hampir 50 juta penduduk, Jawa Barat memiliki bentang alam pegunungan dan dataran tinggi yang beragam, bersama dengan tujuh gunung berapi aktif dan patahan seismik.
Hal tersebut merupakan hasil dari tingkat eksposur dan kerentanan yang tinggi, hal ini harus diimbangi dengan tingkat kapasitas bertahan yang juga tinggi. Selain itu, adanya tekanan lingkungan akibat urbanisasi yang cepat dan konektivitas yang tinggi memerlukan penguatan kapasitas kesehatan di wilayah Jawa Barat.
Data menunjukkan bahwa Jawa Barat memiliki Kapasitas Pelayanan Kesehatan secara keseluruhan terendah ke-7 pada tingkat nasional, yang antara lain disebabkan oleh jumlah Perawat dan Bidan terendah ke-2 per 10.000 orang (9,46) dan jumlah Tempat Tidur Rumah Sakit terendah ke-3 per 10.000 orang (8,5).
Selain itu, Rumah Sakit dan Puskesmas yang terakreditasi jumlahnya kurang dari 70%. Dengan kondisi tersebut, belajar dari pagebluk COVID-19, maka Jawa Barat harus berupaya keras meningkatkan kualitas dan kuantitas rumah sakit dan pusat pelayanan kesehatan masyarakat (puskesmas) yang terakreditasi untuk menjamin pemerataan tenaga, peralatan medis dan perbekalan kesehatan.
Tentunya hal ini harus disertai adanya jumlah tenaga profesional bidang kesehatan yang memadai dengan dukungan kesejahteraan, sarana dan prasarana sehingga bisa bekerja maksimal di wilayah pedesaan dan daerah lain di dalam provinsi Jawa barat yang masih kurang terlayani.
Tantangan dan isu strategis di provinsi Jawa barat seperti tercantum dalam RPJMD provinsi jawa barat tahun 2018-2023 adalah masih rendahnya kualitas kesehatan masyarakat, dengan beberapa permasalahan bidang kesehatan antara lain: masih banyaknya jumlah kematian ibu dan bayi, masih tingginya penyakit menular dan tidak menular, masih rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat, masalah gizi masyarakat, rendahnya kualitas pemerataan dan keterjangkauan kesehatan dan terbatasnya tenaga kesehatan dan distribusi tidak merata.
Pembangunan di Jawa Barat selama ini telah memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan masyarakat. Namun demikian masih banyak kinerja kesehatan yang harus ditingkatkan dan tantangan yang harus dihadapi. Berkaitan dengan itu, tulisan ini selain dimaksudkan untuk mengangkat kekayaan sejarah kesehatan tanah Sunda dan peran sejarah “urang Sunda” dalam kaitan isu kesehatan seperti pagebluk COVID-19 dan lainnya, sekaligus juga untuk pembelajaran bagi masyarakat dan pemerintah sehingga bermanfaat untuk meningkatkan ketangguhan dan rujukan rencana pembangunan Jawa Barat di masa mendatang. (Bersambung)