Limbah filler yang digunakan berasal dari Unit Produksi Asphalt Mixing Plant (AMP) Prabumulih HKA di Desa Sejaro Sakti, Indralaya, Ogan Ilir. Halaman all [397] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Hakaaston atau HKA berkolaborasi dengan induk perusahaan, PT Hutama Karya (Persero) memanfaatkan limbahfiller hasil produksi aspal hotmix menjadi paving block.
Limbahfiller yang digunakan berasal dari Unit Produksi Asphalt Mixing Plant (AMP) Prabumulih HKA di Desa Sejaro Sakti, Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini memfokuskan pada kegiatan padat karya yang dilakukan oleh masyarakat dalam memproduksi paving block.
Kemudian, digunakan untuk pavingisasi di SDN 22 Indralaya, Desa Sejaro Sakti, Kecamatan Indralaya.
Sekretaris HKA Aditya Nur Rahadi mengatakan, sebelumnya, HKA telah melakukan pavingisasi menggunakan limbah filler AMP ini sebanyak dua kali.
"Tahun 2021 di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Desa Hatu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku dengan pemanfaatan limbah filler AMP Proyek Overlay Bandara Pattimura," terang Aditya dalam rilis, Rabu (14/8/2024).
Selain itu, pada tahun 2022 di SDN 81 Kota Prabumulih dengan pemanfaatan limbah filler AMP Prabumulih.
Aditya menambahkan, pavingisasi ini tidak hanya memperbaiki infrastruktur sekolah, tetapi juga mendukung lingkungan belajar lebih nyaman bagi ratusan siswa di SDN 22 Indralaya.
Keterlibatan masyarakat dalam proses produksi paving block juga memberikan dampak ekonomi positif dan menciptakan peluang usaha baru bagi warga sekitar.
Program pemanfaatan limbah filler yang dilakukan merupakan upaya HKA untuk berkontribusi dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) Pilar Pembangunan Lingkungan dengan prinsip ESG (Environmental, Social dan Governance).
Menurut Aditya, program ini tidak hanya bermanfaat bagi infrastruktur sekolah, tetapi juga ke depannya dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat Desa Sejaro Sakti, serta paving block yang dihasilkan dapat digunakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana umum di wilayah tersebut.
“HKA tentunya concern (perhatian) terhadap kegiatan pembangunan, investasi dan bisnis yang berkelanjutan dengan melakukan berbagai kegiatan guna menjaga lingkungan serta dampak positif bagi sesama,” tandas Adit.
Harita Nickel menggunakan nikel slag sebagai bahan untuk membuat batako, paving block, hingga gorong-gorong untuk pembangunan konstruksi di Pulau Obi. [331] url asal
Jakarta - PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel berkomitmen melakukan penanganan dampak terhadap lingkungan dari bisnis tambang yang dijalankan. Direktur Utama Harita Nickel Roy Arman Arfandy mengatakan, bukan hanya sekedar berfokus pada penanganan emisi karbon, pihaknya juga meminimalisir sisa hasil produksi.
Menurutnya, saat ini pihaknya sudah berhasil mengolah nickel slag menjadi bahan bangunan. Pihaknya menggunakan nickel slag sebagai bahan untuk membuat batako, paving block, hingga gorong-gorong untuk pembangunan konstruksi yang berlokasi di Pulau Obi.
"Jadi di sini kita lihat ini bisa menjadi batako atau gorong-gorong yang kami pakai. Dan kami melakukan pengecoran jalanan, karena kan daerah kami itu kan sangat aktif truck bolak-balik. Daripada nanti berlumpur kita banyak cor-coran, mumpung nickel slagnya banyak outputnya, limbahnya," ucapnya dikutip dari CNBC Indonesia ditulis Rabu (24/7/2024).
Tercatat ada 40-an hektare atau sekitar 40.000 meter persegi jalanan yang sudah diperbaiki menggunakan sisa hasil produksi. Perseroan juga memanfaatkan nickel slag untuk membuat artificial coral reef.
"Nah ini menjadi satu tempat terumbu karang bertumbuh di dasar laut. Ini untuk menjaga ekosistem di laut juga," imbuhnya.
Bahkan untuk mencegah polusi udara, perseroan merupakan salah satu perusahaan yang membangun coal dome di pulau Obi. Jadi batubara untuk membangkit listrik di kawasan itu disimpan dalam coal dome.
Harita Nickel juga memanfaatkan nickel slag untuk membuat artificial coral reef. Foto: Dok. Harita Nickel
"Jadi kalau ada angin apa nanti debu batubara itu enggak terbang keluar, Pak. Kami masukkan semua ke dalam coal dome dan itu Bapak bisa bayangkan, saya nggak hafal itu berapa besar lapangan bola yang bisa masuk itu, karena panjang coal dome kami itu 600 meter kali lebar 140 meter. Itu kurang lebih bisa nampung 300.000 ton batubara untuk kebutuhan pembangkit listrik kami. Jadi itu banyak hal yang kami lakukan, termasuk revegetasi," ungkapnya.
Harita Nickel juga memiliki pembibitan untuk revegetasi di kawasan tersebut dengan kapasitas produksi bibit sampai 470.000 bibit per tahun. "Kami sudah melakukan reklamasi juga. Lebih dari 200 hektare untuk penanaman kembali," tutupnya. (ily/kil)