#30 tag 24jam
Pejuang Perang Tabuk Olok-Olok Penghafal Alquran, Lihat Bagaimana Nabi Menegurnya
Rasulullah sama sekali tak menengok ke lelaki itu. [674] url asal
#alquran #pejuang-perang-tabuk #nabi-tegur-pejuang-perang-tabuk #ayat-turun-untuk-pejuang-perang-tabuk #ayat-alquran #pejuang-perang-ditegur-nabi #mempermainkan-agama #olok-olok-penghafal-quran
(Republika - Khazanah) 12/08/24 06:14
v/14260974/
REPUBLIKA.CO.ID, Inilah kisah seorang lelaki Madinah tak bernama. Ia hanya disebut sebagai lelaki yang mengikuti Perang Tabuk. Betapa mulianya seseorang yang mengikuti perang bersama Rasulullah.
Tapi sungguh sayang, kemuliaan itu tak diikuti dengan kemuliaan akhlaknya. Dengan ringan ia berkata, “Kami tak pernah melihat orang yang sama dengan para penghafal Alquran ini. Mereka paling kuat dalam urusan makan, paling sering dusta, dan pengecut di hadapan musuh.”
Perkataan orang itu hendak diadukan Auf ke Rasulullah. Namun, ayat lebih dulu sampai dibanding kabar tersebut. Maka turunlah ayat, “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja’. Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul -Nya kamu selalu berolok-olok?” (QS at-Taubah [9]: 65).
Kemudian, lelaki itu mendatangi Rasulullah sembari mengajukan pembelaannya. “Wahai Rasulullah kami hanya bercanda dan bermain, kami berbicara dengan pembicaraan dalam perjalanan guna menghilangkan rasa letih dalam perjalanan.”
Umar menggambarkan saat itu posisi Rasulullah sedang di atas unta hendak bepergian. Rasulullah sama sekali tidak menoleh ke lelaki itu. Kaki lelaki tersebut digambarkan tersandung-sandung batu karena merasa bersalah dan memohon seperti tergantung-gantung di pelana unta Nabi SAW.
Jangan coba mempermainkan Tuhan..
Kisah ini mengisyaratkan umat manusia, jangan pernah coba-coba mempermainkan Tuhan. Dalam Alquran ditegaskan, “(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai olok-olokan dan senda gurau. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini.” (QS al-A’raf [8]: 51).
Perangai orang-orang kafir Quraisy selalu memperolok-olokkan orang beriman. Ayat-ayat Alquran mereka jadikan bahan ejekan. Pada kenyataannya tak ada di antara mereka yang selamat atas kelakuan mereka. Akhirnya, pasti akan menemukan nasib yang sangat tragis.
Islam benar-benar memperhatikan tata krama dalam bertutur kata. Jangan sampai perkataan yang terlontar mengandung unsur memperolok-olokkan. Dalam Alquran juga diterangkan bagaimana cara bertutur kata, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (Muhammad), ’Raa’ina’, tetapi katakanlah, ’Unzhurna’, dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (QS al- Baqarah [2]: 104].
Ayat ini menerangkan secara spesifik cara bertutur kata. Raa’ina, artinya sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Kala para sahabat menggunakan kata-kata tersebut kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang Yahudi pun memakainya pula, akan tetapi mereka pelesetkan.
Mereka katakan ru’unah, artinya ketololan yang amat sangat. Ini sebagai ejekan terhadap Rasulullah. Oleh karena itulah, Allah menyuruh para sahabat agar menukar perkataan raa’ina dengan unzhurna yang berarti sama. Di akhir ayat ini Allah juga mengancam orang-orang bertutur kata kasar telah dipersiapkan bagi mereka azab yang pedih.
Dalam Islam, orang yang memperolok-olokkan agama disebut dengan istilah istihzaa. Sifat ini termasuk salah satu dari pembatal keislaman. Dalam syarah terhadap kitab Aqidah Ath Thahawiyah, Syekh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Pembatal-pembatal keislaman sangat banyak. Di antaranya, juhud (pengingkaran), syirik, dan memperolok-olok agama atau sebagian dari syiar agama meskipun ia tidak mengingkarinya.”
Dalam surat at-Taubah [9] ayat 64, Allah SWT berfirman, “Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka, ‘Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)’. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti.” Ibnu Taimiyah ketika mensyarah ayat itu mengatakan, “Ayat ini merupakan nash bahwasanya memperolok-olok Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya hukumnya kafir.” (Ash Sharimul Maslul hlm. 31 dan juga Majmu’ Fatawa (XV/48).
Betapa banyak saat ini orang-orang menjadikan agama sebagai bahan olok-olokan. Orang yang memakai aksesori keagamaan dan jilbab diejek sebagai orang kampungan. Mereka yang rajin beribadah diolok-olokkan. Bahkan, mereka yang menghidupkan sunah Rasulullah SAW pun menjadi bahan ejekan. Entahkah itu jenggot, siwak, kopiah, dan lainnya. Bisa saja perangai mereka mengundang murka dari Allah SWT dan memperlihatkan kuasanya.
Allah SWT tak segan memperlihatkan azab bagi orang yang memperolok-olokkan agama. Seperti firman Allah SWT, “Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokkan mereka.” (QS al-An’am [6]: 10).
Kejujuran Ka'ab bin Malik, Sahabat Nabi
Ka'ab bin Malik absen dalam Perang Tabuk, padahal tak punya uzur syar'i. [659] url asal
#kaab-bin-malik #sahabat-nabi #perang-tabuk #absen-dalam-jihad #kisah-nabi
(Republika - Khazanah) 04/08/24 07:16
v/13208094/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada sekitar 80 orang Madinah yang tidak berangkat dalam Perang Tabuk pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijriyah. Kebanyakan mereka adalah kaum munafik yang enggan memperjuangkan Islam. Namun, ternyata ada seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang juga ikut absen. Dialah Ka'ab bin Malik.
Bagaimana bisa Ka'ab tertinggal rombongan pasukan Muslim? Semua itu berawal dari keteledoran penyair Muslim tersebut dalam menata waktunya.
Ka'ab menceritakan, Rasulullah SAW dan rombongan pasukan Muslim berangkat dari Madinah ketika suasana masih rindang. Saat itu, kaum Muslimin semua sudah dalam kondisi siap-sedia. Sementara, Ka'ab dan segelintir lelaki Madinah lainnya masih belum mempersiapkan diri.
Ka'ab bercerita, "Waktu itu (masa menjelang keberangkatan Perang Tabuk --Red), aku berpikir bisa melakukannya (bersiap ke medan perang) kapan pun aku mau. Sementara, orang-orang terus berbenah dengan serius.
Pada pagi harinya, Rasulullah SAW dan kaum Muslimin yang bersama beliau berangkat perang. Adapun diriku belum melakukan persiapan apa-apa."
Keengganan itu berlangsung sekitar tiga hari berturut-turut. Maka, laki-laki yang tersisa di Madinah hanyalah dari kalangan lansia, kaum munafik yang memang benci berjuang di jalan Allah, dan orang-orang yang hatinya terombang-ambing, seperti Ka'ab bin Malik. Padahal, saat itu Ka'ab baru saja membeli hewan tunggangan baru sehingga tidak bisa dikatakan memiliki uzur.
Singkat cerita, Perang Tabuk usai dan pasukan Muslimin yang dipimpin Rasulullah kembali ke Madinah. Seperti biasa, sepulang dari pertempuran, Rasul mengumpulkan kaum Muslimin di masjid. Ketika itulah mereka yang urung ikut Perang Tabuk mendatangi Rasulullah untuk menuturkan alasan-alasannya.
Ka'ab mengenang jelas peristiwa itu. Dia merasa bisa saja berdalih macam-macam di hadapan Rasulullah SAW dan jamaah. Namun, kesedihan merundung dirinya.
"Hilanglah dari diriku segala pikiran yang batil hingga aku benar-benar mengetahui bahwa aku tidak akan selamat dari beliau dengan cara dusta selamanya. Maka aku bertekad bersikap jujur kepada beliau," kenang Ka'ab.
Ka'ab menuturkan, saat melihat wajah Rasulullah tersenyum dengan senyuman orang yang marah. Rasul berkata, "Kemarilah. Apa yang membuatmu tidak ikut? Bukankah kamu telah membeli kendaraanmu?"
"Benar, sesungguhnya saya, demi Allah, seandainya saya duduk menghadap orang selain Anda, saya yakin akan lolos, karena saya telah diberi kemampuan mendebat. Tapi, jika hari ini saya menceritakan kepada Anda cerita dusta, yang dengannya Anda bisa merelakan saya, tentu Allah akan menjadikan Anda murka terhadap saya," jawab Ka'ab, apa adanya.
"Dan apabila saya menceritakan kepada Anda cerita benar, pasti karenanya Anda akan murka terhadap saya. Sesungguhnya, dengan kejujuran itu saya mengharapkan pemberian maaf dari Allah," sambung Ka'ab dengan nada menyesal.
Mendapatkan sanksi dari Rasulullah SAW ....
Rasulullah SAW pun mengapresiasi kejujuran Ka'ab. Namun, sejak saat itu hingga 50 hari penuh berikutnya, beliau melarang kaum Muslimin berkomunikasi dengan sahabatnya itu.
Dua Muslim lainnya, yang pernah ikut dalam Perang Badar, juga mengalami nasib serupa Ka'ab.
Selama 50 hari itu, Ka'ab merasa hidupnya tersiksa sangat berat. Rasulullah enggan melihat wajahnya. Seluruh kaum Muslim menghindari menjawab salamnya. Dalam kondisi demikian, Ka'ab menerima surat dari Raja Ghassan, salah satu pentolan kaum musyrik.
Dalam surat itu, Raja Ghassan mengajak Ka'ab bergabung dengannya lantaran Rasulullah sendiri sudah mengeksklusi Ka'ab. Bahkan, Rasulullah juga sempat memerintahkan ketiga pria itu, termasuk Ka'ab, menjauhi istri mereka masing-masing.
Namun, jawaban Ka'ab untuk surat dari Raja Ghassan itu jelas. Begitu selesai dibacanya, surat itu ia langsung lempar ke dalam tungku api.
Demikianlah kesabaran dan keteguhan iman Ka'ab diuji. Maka begitu gembira hatinya ketika masa 50 hari itu usai.
Ketiga orang yang dieksklusi itu, termasuk Ka'ab, diterima Rasulullah SAW di masjid. Ketika mengucapkan salam, beliau bersabda dengan wajah yang berseri-seri karena gembira. "Bergembiralah dengan hari terbaik yang terbaik yang pernah melewati hidupmu semenjak kamu dilahirkan oleh ibumu."
Kemudian, turunlah surah at-Taubah ayat 117-119. Dalam ayat ke-118, Allah menyebutkan ihwal tiga pria Madinah ini, termasuk Ka'ab bin Malik.
Mereka suka cita karena mengetahui, Allah tidak memasukkannya ke dalam golongan orang-orang fasik, yang sengaja meninggalkan jihad. Inilah buah kejujuran dan tanda diterimanya taubat oleh Allah.