#30 tag 24jam
Ini Penyebab Laba Barito Pacific (BRPT) Milik Prajogo Pangestu Turun 25,2%
Kinerja Barito Pacific (BRPT) mengalami penurunan hingga kuartal III-2024 &nb [645] url asal
#barito-pacific #prajogo-pangestu #pt-barito-pacific-tbk-brpt #pt-barito-pacific-tbk #kinerja-emiten #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan-Investasi) 01/11/24 14:49
v/17314280/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengalami penurunan kinerja per kuartal III-2024. Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu ini meraih laba bersih senilai US$ 26,80 juta hingga September 2024, turun 25,22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Year on Year/YoY).
Sebagai perbandingan, BRPT membukukan laba bersih periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 35,84 juta pada periode September 2023. Penurunan bottom line BRPT terseret oleh pelemahan dari sisi pendapatan.
Pendapatan BRPT merosot sedalam 20,85% (YoY) dari sebelumnya US$ 2,11 miliar menjadi US$ 1,67 miliar hingga September 2024. Pendapatan BRPT disumbang dari segmen bisnis petrokimia sebesar US$ 1,23 miliar, energi US$ 441 juta dan lainnya senilai US$ 4 juta.
Pendapatan dari segmen petrokimia turun 25,9%. Segmen energi merosot tipis 0,9%. Sedangkan segmen lainnya relatif stagnan. Sejalan dengan itu, beban pokok pendapatan dan beban langsung BRPT turun 23,66% (YoY) menjadi US$ 1,29 miliar.
Hasil itu membuat BRPT meraup laba kotor sebesar US$ 381,57 juta hingga kuartal III-2024, menurun 9,49% secara tahunan. Meski beban penjualan menyusut, tapi beban umum dan administrasi serta beban keuangan BRPT meningkat dalam periode sembilan bulan 2024.
Pada periode yang sama, BRPT menanggung kerugian kurs mata uang asing sebesar US$ 10,79 juta. Melonjak dari posisi rugi US$ 643.000 per September 2023. Sementara itu, keuntungan lain-lain BRPT naik 14,18% (YoY) menjadi US$ 118,25 juta.
Hasil ini membuat BRPT membukukan laba periode berjalan senilai US$ 60,87 juta sampai dengan kuartal III-2024. Anjlok 37,09% ketimbang capaian US$ 96,77 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama Barito Pacific Agus Pangestu mengungkapkan penurunan laba bersih BRPT terutama disebabkan oleh volatilitas yang berkelanjutan di sektor petrokimia, pemeliharaan pada salah satu unit operasi panas bumi, dan pemeliharaan terjadwal di kompleks petrokimia.
Seperti diketahui, lini bisnis petrokimia BRPT dijalankan oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), sedangkan panas bumi digarap oleh PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Faktor-faktor tersebut turut mempengaruhi kinerja operasional, di mana BRPT mengalami penurunan EBITDA sebanyak 0,9% (YoY) menjadi US$ 426 juta. Meski begitu, Agus menegaskan bahwa Grup Barito telah berhasil menyelesaikan pemeliharaan pada aset petrokimia dan panas bumi.
"Penyelesaian ini tidak hanya menegaskan komitmen kami terhadap keunggulan operasional, tetapi juga memposisikan kami untuk mendukung aktivitas bisnis kami secara efektif di tahun-tahun mendatang," kata Agus dalam keterbukaan informasi, Kamis (31/10).
Dus, Agus menilai hasil kinerja BRPT hingga kuartal III-2024 mencerminkan kombinasi optimisme yang penuh kewaspadaan di tengah tantangan yang berlanjut pada sektor petrokimia global. Walau dihadapkan pada tantangan tersebut, BRPT melalui TPIA tetap melanjutkan strategi ekspansi, terutama melalui akuisisi Shell Chemical and Industrial Park (SECP).
"Langkah ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan meningkatkan keamanan energi dan menyediakan pasokan produk esensial untuk sektor kimia dan infrastruktur domestik. Dengan menargetkan akuisisi yang strategis dan membangun kemitraan global, kami bertransformasi menjadi kekuatan regional," ujar Agus.
Di sektor energi terbarukan, BRPT melalui BREN akan menambah kapasitas sebesar 104 Megawatt (MW). Langkah ini sejalan dengan target Grup Barito untuk mengoperasikan 1 Gigawatt (GW) kapasitas pembangkit listrik pada tahun 2025.
Agus bilang, profil likuiditas BRPT tetap dalam pada kondisi yang kuat untuk mendukung ekspansi yang sedang berlangsung dan tetap gesit dalam mengejar peluang anorganik. Rasio utang bersih terhadap ekuitas stabil di 0.74x.
"Mencerminkan komitmen manajemen untuk mempertahankan profil keuangan yang sehat seiring menjalankan rencana ekspansi kami," tandas Agus.
Dari sisi pergerakan saham, harga BRPT masih stagnan di level penutupan perdagangan kemarin. Harga BRPT berada di posisi Rp 995 per saham hingga pukul 14:25 WIB perdagangan Jumat (1/11).
Intip Proyek Ekspansi Prajogo Pangestu Lewat Grup Barito (BRPT) dan Petrindo (CUAN)
Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. [1,102] url asal
#prajogo-pangestu #pt-barito-pacific-tbk-brpt #pt-barito-pacific-tbk #brpt #grup-barito #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #saham-cuan #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #pt-chandra-asri
(Kontan - Terbaru) 26/10/24 16:06
v/17020877/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. Lewat konglomerasi ini, Prajogo membentangkan sayap bisnisnya di sektor petrokimia, infrastruktur, energi, properti hingga tambang.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi induk Grup Barito, yang memiliki tiga pilar bisnis utama. Pertama, petrokimia dan infrastruktur melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Kedua, pilar energi. BRPT mengembangkan segmen Energi Baru & Terbarukan (EBT) melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Selain itu, BRPT menggarap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ultra super critical lewat Indo Raya Tenaga yang memiliki 34% saham di PLTU Jawa 9 & 10. Ketiga, bisnis properti melalui Griya Idola.
Head of Investor Relations Barito Pacific, Pandu Anugrah membeberkan proyek dan pipeline ekspansi dari masing-masing pilar bisnis Grup Barito. Dari bisnis petrokimia, ekspansi yang sedang berlangsung adalah pembangunan Pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) yang diperkirakan akan rampung pada tahun 2026.
Selain itu, TPIA sedang mengejar penyelesaian proses akuisisi Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura, yang ditargetkan tuntas akhir tahun ini. Di bisnis infrastruktur, BRPT melebarkan sayap melalui anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi (CDI).
Pipeline proyek di bisnis infrastruktur adalah gas power plant berkapasitas 200 megawatt (MW) yang sedang dalam Final Investment Decision (FID) serta pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 30 MWpeak yang masih feasibility study. "Kami terus melakukan diversifikasi usaha pada segmen yang lebih stabil dan memberikan return yang berkelanjutan," kata Pandu dalam paparan publik, Jumat (25/10).
Pada pilar energi segmen EBT, BREN mengembangkan pembangkit tenaga panas bumi dan angin. Fokus BREN tiga tahun ke depan adalah menambah kapasitas panas bumi hingga 104,6 MW dari aset Wayang Windu, Salak dan Darajat. Selain itu, BREN menggarap proyek di area baru Hamiding dan Souh Sekincau.
BREN juga ekspansi di listrik tenaga angin pada proyek Sidrap II, Sukabumi dan Lombok dengan target tambahan kapasitas 318 MW. Di luar segmen EBT, BRPT siap mengoperasikan PLTU 2 x 1.000 MW secara bertahap pada tahun 2024 dan 2025.
Bergeser ke pilar properti, Griya Idola memiliki portofolio di segmen residensial, industrial, perkantoran dan hospitality. Strategi pertumbuhan Griya Idola akan fokus pada segmen residensial dan industrial.
Di segmen residensial, Griya Idola menggarap lahan sekitar 50 hektare (ha). Sedangkan di segmen industrial, Griya Idola menggarap Patimban Industrial Estate serta Griya Idola Industrial Park di Cikupa seluas 110 ha.
"Kami memiliki beberapa rencana pengembangan dalam beberapa tahun ke depan. Secara geografis proyek kami berada di beberapa kawasan yang cukup strategis, dimana permintaan ke depan akan terus tumbuh," tandas Pandu.
Direktur & Corporate Secretary Barito Pacific, David Kosasih menegaskan bahwa Grup Barito akan terus menggelar ekspansi, termasuk melalui akuisisi dengan fokus pada sektor inti petrokimia dan energi. "Tapi tidak menutup kemungkinan kami melihat peluang di sektor usaha lain," kata David.
David memberikan gambaran, strategi ekspansi yang dilakukan Grup Barito bakal mendongkrak prospek kinerja BRPT. Dia mencontohkan saat pabrik CA-EDC dan akuisisi aset SECP tuntas, maka kapasitas TPIA akan melonjak dari 4,2 juta ton menjadi sekitar 9,5 juta ton.
Kemudian tambahan yang cukup signifikan pada kapasitas pembangkit BREN saat proyek ekspansi panas bumi dan angin telah membuahkan hasil. "Jadi itu bisa memberikan gambaran bagaimana nanti kontribusi ke depan," ungkap David.
Tak hanya dari Grup Barito, Prajogo Pangestu melebarkan sayap bisnisnya di sektor pertambangan melalui PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Direktur Utama Petrindo Jaya Kreasi, Michael mengungkapkan ekspansi CUAN telah membuahkan hasil. Tampak dari sumber pendapatan yang telah terdiversifikasi.
Michael membandingkan, sepanjang tahun 2023 pendapatan 100% bersumber dari penjualan batubara. Sedangkan pada semester I-2024, CUAN telah meraup pendapatan dari bisnis lain, yakni rekayasa konstruksi, kontraktor pertambangan dan jasa.
Dus, top line dan bottom line CUAN pun kompak menanjak. Faktor pendorongnya adalah akuisisi PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Multi Tambangjaya Utama yang telah terkonsolidasi. Proyek pengembangan CUAN ke depan adalah batubara metalurgi, tambang emas dan pasir silika.
Capex Jumbo Grup Barito & Petrindo
Ekspansi Grup Barito maupun Petrindo ditopang oleh belanja modal alias capital expenditure (capex) yang jumbo. Pandhu membeberkan, BRPT telah menggelontorkan capex sebesar US$ 5,1 miliar dalam kurun 2015 - 2024.
BRPT pun siap mengucurkan capex sebesar US$ 4,4 miliar hingga tahun 2027 untuk turut membiayai ekspansi BREN, TPIA dan Indo Raya Tenaga. Khusus untuk tahun ini, David menjelaskan BRPT mengalokasikan capex sebesar US$ 650 juta.
Dana tersebut mayoritas ditujukan untuk kebutuhan ekspansi TPIA dan BREN. Realisasi hingga semester pertama masih tergolong mini, yakni sebesar US$ 180 juta. "Jadi sisanya akan dilakukan pada semester kedua," ungkap David.
Sementara dari Grup Petrindo, Direktur CUAN Kartika Hendrawan mengungkapkan saat ini posisi CUAN lebih fokus sebagai pemilik tambang. Sedangkan PTRO sebagai kontraktor tambang.
Dengan pembagian fungsi tersebut, alokasi capex lebih banyak ditempatkan kepada PTRO sebagai kontraktor. PTRO mengalokasikan capex sekitar US$ 400 juta pada tahun 2024-2025.
Rekomendasi Saham
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Dimas Krisna Ramadhani mengamati aksi korporasi yang dilakukan oleh konglomerasi Prajogo Pangestu akan membawa dampak signifikan bagi kinerja para emitennya. Sebab, ekspansi dilakukan untuk pengembangan dan integrasi bisnis di dalam grup. Contohnya akuisisi PTRO oleh CUAN.
Sederet ekspansi dan akuisisi tersebut telah menjadi sentimen yang mendongkrak harga saham milik Prajogo Pangestu. Setelah aksi korporasi, Dimas melihat sentimen lain yang akan menjadi penggerak adalah kiprah saham Prajogo dalam indeks global seperti FTSE dan MSCI.
Catatan Dimas, secara historis emiten Prajogo Pangestu punya valuasi yang terbilang tinggi dibandingkan industri sejenisnya (peers).
"Namun pergerakan emiten grup ini cenderung lebih kepada sentimen yang ada untuk masing-masing saham, bukan hanya kepada faktor valuasi," terang Dimas kepada Kontan.co.id, Jumat (25/10).
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menambahkan, sentimen ekspansi dan akuisisi cenderung telah terealisasi pada penguatan harga saham sebelumnya. Dus, William mengamini saat ini pelaku pasar perlu mencermati sentimen pada masing-masing sahamnya.
William mengingatkan, seringkali ada faktor spekulasi yang menggerakkan harga saham di grup ini. Jika ada kenaikan harga pada beberapa saham, maka bisa menjadi sentimen yang mengangkat harga saham emiten Prajogo Pangestu lainnya.
"Spekulasi, kebetulan belum semuanya patah tren jadi pelaku pasar masih optimis beberapa saham masih bisa menguat. Biarpun ada beberapa yang downtrend, tetap bisa mengambil momentum technical rebound," terang William.
Sebagai pilihan jangka pendek, William melihat saham TPIA, CUAN dan BREN menarik dilirik. Sedangkan Dimas merekomendasikan buy on weakness CUAN pada level Rp 7.200 - Rp 7.300 untuk target harga Rp 10.200, buy BREN dengan target Rp 8.800, dan hold PTRO untuk target harga di level Rp 22.000 per saham.
Deretan Proyek Ekspansi Prajogo Pangestu Lewat Grup Barito (BRPT) & Petrindo (CUAN)
Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. [334] url asal
#prajogo-pangestu #pt-barito-pacific-tbk-brpt #pt-barito-pacific-tbk #brpt #grup-barito #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #saham-cuan #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #pt-chandra-asri
(Kontan-Investasi) 25/10/24 21:18
v/16991622/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
David memberikan gambaran, strategi ekspansi yang dilakukan Grup Barito bakal mendongkrak prospek kinerja BRPT. Dia mencontohkan saat pabrik CA-EDC dan akuisisi aset SECP tuntas, maka kapasitas TPIA akan melonjak dari 4,2 juta ton menjadi sekitar 9,5 juta ton.
Kemudian tambahan yang cukup signifikan pada kapasitas pembangkit BREN saat proyek ekspansi panas bumi dan angin telah membuahkan hasil. "Jadi itu bisa memberikan gambaran bagaimana nanti kontribusi ke depan," ungkap David.
Tak hanya dari Grup Barito, Prajogo Pangestu melebarkan sayap bisnisnya di sektor pertambangan melalui PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Direktur Utama Petrindo Jaya Kreasi, Michael mengungkapkan ekspansi CUAN telah membuahkan hasil. Tampak dari sumber pendapatan yang telah terdiversifikasi.
Michael membandingkan, sepanjang tahun 2023 pendapatan 100% bersumber dari penjualan batubara. Sedangkan pada semester I-2024, CUAN telah meraup pendapatan dari bisnis lain, yakni rekayasa konstruksi, kontraktor pertambangan dan jasa.
Dus, top line dan bottom line CUAN pun kompak menanjak. Faktor pendorongnya adalah akuisisi PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Multi Tambangjaya Utama yang telah terkonsolidasi. Proyek pengembangan CUAN ke depan adalah batubara metalurgi, tambang emas dan pasir silika.
Capex Jumbo Grup Barito & Petrindo
Ekspansi Grup Barito maupun Petrindo ditopang oleh belanja modal alias capital expenditure (capex) yang jumbo. Pandhu membeberkan, BRPT telah menggelontorkan capex sebesar US$ 5,1 miliar dalam kurun 2015 - 2024.
BRPT pun siap mengucurkan capex sebesar US$ 4,4 miliar hingga tahun 2027 untuk turut membiayai ekspansi BREN, TPIA dan Indo Raya Tenaga. Khusus untuk tahun ini, David menjelaskan BRPT mengalokasikan capex sebesar US$ 650 juta.
Dana tersebut mayoritas ditujukan untuk kebutuhan ekspansi TPIA dan BREN. Realisasi hingga semester pertama masih tergolong mini, yakni sebesar US$ 180 juta. "Jadi sisanya akan dilakukan pada semester kedua," ungkap David.
Sementara dari Grup Petrindo, Direktur CUAN Kartika Hendrawan mengungkapkan saat ini posisi CUAN lebih fokus sebagai pemilik tambang. Sedangkan PTRO sebagai kontraktor tambang.
Dengan pembagian fungsi tersebut, alokasi capex lebih banyak ditempatkan kepada PTRO sebagai kontraktor. PTRO mengalokasikan capex sekitar US$ 400 juta pada tahun 2024-2025.
Deretan Proyek Ekspansi Prajogo Pangestu Lewat Grup Barito (BRPT) & Petrindo (CUAN)
Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. [1,102] url asal
#prajogo-pangestu #pt-barito-pacific-tbk-brpt #pt-barito-pacific-tbk #brpt #grup-barito #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #saham-cuan #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #pt-chandra-asri
(Kontan-Investasi) 25/10/24 21:18
v/16983264/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. Lewat konglomerasi ini, Prajogo membentangkan sayap bisnisnya di sektor petrokimia, infrastruktur, energi, properti hingga tambang.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi induk Grup Barito, yang memiliki tiga pilar bisnis utama. Pertama, petrokimia dan infrastruktur melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Kedua, pilar energi. BRPT mengembangkan segmen Energi Baru & Terbarukan (EBT) melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Selain itu, BRPT menggarap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ultra super critical lewat Indo Raya Tenaga yang memiliki 34% saham di PLTU Jawa 9 & 10. Ketiga, bisnis properti melalui Griya Idola.
Head of Investor Relations Barito Pacific, Pandu Anugrah membeberkan proyek dan pipeline ekspansi dari masing-masing pilar bisnis Grup Barito. Dari bisnis petrokimia, ekspansi yang sedang berlangsung adalah pembangunan Pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) yang diperkirakan akan rampung pada tahun 2026.
Selain itu, TPIA sedang mengejar penyelesaian proses akuisisi Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura, yang ditargetkan tuntas akhir tahun ini. Di bisnis infrastruktur, BRPT melebarkan sayap melalui anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi (CDI).
Pipeline proyek di bisnis infrastruktur adalah gas power plant berkapasitas 200 megawatt (MW) yang sedang dalam Final Investment Decision (FID) serta pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 30 MWpeak yang masih feasibility study. "Kami terus melakukan diversifikasi usaha pada segmen yang lebih stabil dan memberikan return yang berkelanjutan," kata Pandu dalam paparan publik, Jumat (25/10).
Pada pilar energi segmen EBT, BREN mengembangkan pembangkit tenaga panas bumi dan angin. Fokus BREN tiga tahun ke depan adalah menambah kapasitas panas bumi hingga 104,6 MW dari aset Wayang Windu, Salak dan Darajat. Selain itu, BREN menggarap proyek di area baru Hamiding dan Souh Sekincau.
BREN juga ekspansi di listrik tenaga angin pada proyek Sidrap II, Sukabumi dan Lombok dengan target tambahan kapasitas 318 MW. Di luar segmen EBT, BRPT siap mengoperasikan PLTU 2 x 1.000 MW secara bertahap pada tahun 2024 dan 2025.
Bergeser ke pilar properti, Griya Idola memiliki portofolio di segmen residensial, industrial, perkantoran dan hospitality. Strategi pertumbuhan Griya Idola akan fokus pada segmen residensial dan industrial.
Di segmen residensial, Griya Idola menggarap lahan sekitar 50 hektare (ha). Sedangkan di segmen industrial, Griya Idola menggarap Patimban Industrial Estate serta Griya Idola Industrial Park di Cikupa seluas 110 ha.
"Kami memiliki beberapa rencana pengembangan dalam beberapa tahun ke depan. Secara geografis proyek kami berada di beberapa kawasan yang cukup strategis, dimana permintaan ke depan akan terus tumbuh," tandas Pandu.
Direktur & Corporate Secretary Barito Pacific, David Kosasih menegaskan bahwa Grup Barito akan terus menggelar ekspansi, termasuk melalui akuisisi dengan fokus pada sektor inti petrokimia dan energi. "Tapi tidak menutup kemungkinan kami melihat peluang di sektor usaha lain," kata David.
David memberikan gambaran, strategi ekspansi yang dilakukan Grup Barito bakal mendongkrak prospek kinerja BRPT. Dia mencontohkan saat pabrik CA-EDC dan akuisisi aset SECP tuntas, maka kapasitas TPIA akan melonjak dari 4,2 juta ton menjadi sekitar 9,5 juta ton.
Kemudian tambahan yang cukup signifikan pada kapasitas pembangkit BREN saat proyek ekspansi panas bumi dan angin telah membuahkan hasil. "Jadi itu bisa memberikan gambaran bagaimana nanti kontribusi ke depan," ungkap David.
Tak hanya dari Grup Barito, Prajogo Pangestu melebarkan sayap bisnisnya di sektor pertambangan melalui PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Direktur Utama Petrindo Jaya Kreasi, Michael mengungkapkan ekspansi CUAN telah membuahkan hasil. Tampak dari sumber pendapatan yang telah terdiversifikasi.
Michael membandingkan, sepanjang tahun 2023 pendapatan 100% bersumber dari penjualan batubara. Sedangkan pada semester I-2024, CUAN telah meraup pendapatan dari bisnis lain, yakni rekayasa konstruksi, kontraktor pertambangan dan jasa.
Dus, top line dan bottom line CUAN pun kompak menanjak. Faktor pendorongnya adalah akuisisi PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Multi Tambangjaya Utama yang telah terkonsolidasi. Proyek pengembangan CUAN ke depan adalah batubara metalurgi, tambang emas dan pasir silika.
Capex Jumbo Grup Barito & Petrindo
Ekspansi Grup Barito maupun Petrindo ditopang oleh belanja modal alias capital expenditure (capex) yang jumbo. Pandhu membeberkan, BRPT telah menggelontorkan capex sebesar US$ 5,1 miliar dalam kurun 2015 - 2024.
BRPT pun siap mengucurkan capex sebesar US$ 4,4 miliar hingga tahun 2027 untuk turut membiayai ekspansi BREN, TPIA dan Indo Raya Tenaga. Khusus untuk tahun ini, David menjelaskan BRPT mengalokasikan capex sebesar US$ 650 juta.
Dana tersebut mayoritas ditujukan untuk kebutuhan ekspansi TPIA dan BREN. Realisasi hingga semester pertama masih tergolong mini, yakni sebesar US$ 180 juta. "Jadi sisanya akan dilakukan pada semester kedua," ungkap David.
Sementara dari Grup Petrindo, Direktur CUAN Kartika Hendrawan mengungkapkan saat ini posisi CUAN lebih fokus sebagai pemilik tambang. Sedangkan PTRO sebagai kontraktor tambang.
Dengan pembagian fungsi tersebut, alokasi capex lebih banyak ditempatkan kepada PTRO sebagai kontraktor. PTRO mengalokasikan capex sekitar US$ 400 juta pada tahun 2024-2025.
Rekomendasi Saham
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Dimas Krisna Ramadhani mengamati aksi korporasi yang dilakukan oleh konglomerasi Prajogo Pangestu akan membawa dampak signifikan bagi kinerja para emitennya. Sebab, ekspansi dilakukan untuk pengembangan dan integrasi bisnis di dalam grup. Contohnya akuisisi PTRO oleh CUAN.
Sederet ekspansi dan akuisisi tersebut telah menjadi sentimen yang mendongkrak harga saham milik Prajogo Pangestu. Setelah aksi korporasi, Dimas melihat sentimen lain yang akan menjadi penggerak adalah kiprah saham Prajogo dalam indeks global seperti FTSE dan MSCI.
Catatan Dimas, secara historis emiten Prajogo Pangestu punya valuasi yang terbilang tinggi dibandingkan industri sejenisnya (peers). "Namun pergerakan emiten grup ini cenderung lebih kepada sentimen yang ada untuk masing-masing saham, bukan hanya kepada faktor valuasi," terang Dimas kepada Kontan.co.id, Jumat (25/10).
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menambahkan, sentimen ekspansi dan akuisisi cenderung telah terealisasi pada penguatan harga saham sebelumnya. Dus, William mengamini saat ini pelaku pasar perlu mencermati sentimen pada masing-masing sahamnya.
William mengingatkan, seringkali ada faktor spekulasi yang menggerakkan harga saham di grup ini. Jika ada kenaikan harga pada beberapa saham, maka bisa menjadi sentimen yang mengangkat harga saham emiten Prajogo Pangestu lainnya.
"Spekulasi, kebetulan belum semuanya patah tren jadi pelaku pasar masih optimis beberapa saham masih bisa menguat. Biarpun ada beberapa yang downtrend, tetap bisa mengambil momentum technical rebound," terang William.
Sebagai pilihan jangka pendek, William melihat saham TPIA, CUAN dan BREN menarik dilirik. Sedangkan Dimas merekomendasikan buy on weakness CUAN pada level Rp 7.200 - Rp 7.300 untuk target harga Rp 10.200, buy BREN dengan target Rp 8.800, dan hold PTRO untuk target harga di level Rp 22.000 per saham.