#30 tag 24jam
Dugaan Transaksi Semu Saham Barito Renewables Energy (BREN), Begini Penjelasan OJK
BRPT merupakan pengendali BREN. Sedangkan, Green Era Energy Pte. Ltd juga dimiliki oleh keluarga Pangestu. [246] url asal
#prajogo-pangestu #pt-barito-pacific-tbk-brpt #otoritas-jasa-keuangan-ojk #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan-Investasi) 08/11/24 13:25
v/17770680/
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memeriksa perdagangan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang diduga terjadi manipulasi alias transaksi semu karena dilakukan oleh pihak terafiliasi.
Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif & Bursa Karbon OJK menyampaikan berdasarkan hasil pemeriksaan OJK sampai ini tidak ada indikasi pihak terafiliasi yang melakukan transaksi.
"Kedua pemegang saham, sampai saat ini memang tidak terdapat indikasi terafiliasi ya," jelasnya saat dihubungi Kontan, Jumat (8/11).
Sebelumnya, FTSE Russell mencoret BREN dari daftar Indeks FTSE Global Equity Indonesia kategori large cap karena adanya konsentrasi pemegang saham yang tinggi atau terkait dengan jumlah saham beredar di pasar reguler.
Ada empat pemegang saham yang menguasai sebanyak 97% saham BREN berdasarkan prospektus IPO, yaitu PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebanyak 64,66%, Green Era Energy Pte. Ltd. 23,60%, Jupiter Tiger Holdings 4,36% dan Prime Hill Funds 4,36%.
Seperti diketahui, BRPT merupakan pengendali BREN. Sedangkan, Green Era Energy Pte. Ltd dimiliki oleh keluarga Pangestu, khususnya Nancy Pangestu yang merupakan anak kedua dari Prajogo Pangestu.
Sampai dengan 19 September 2024, porsi kepemilikan BRPT dan Green Era Energy masih sama, masing-masing 64,66% dan 23,60%. Sedangkan Jupiter Tiger Holdings berubah menjadi 3,94% dan Prime Hill Funds sebanyak 3,76%
Adapun 23 Agustus 2024 merupakan tanggal pengumuman FTSE Global Equity Index Series yang memasukkan BREN ke dalam indeks, sedangkan 19 September 2024 merupakan pengumuman BREN tidak lagi menjadi konstituen indeks
Laba Bersih Barito Renewables (BREN) Naik Tipis 1,87% Jadi Rp 1,35 Triliun
Barito Renewables (BREN) cetak kenaikan laba bersih di saat pendapataan turun pada periode Januari-September 2024 [518] url asal
#kinerja-emiten #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan-Investasi) 31/10/24 16:40
v/17263460/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laba bersih PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mampu tumbuh saat pendapatan turun tipis hingga kuartal III-2024. BREN meraih laba bersih senilai US$ 86,05 juta hingga September 2024, naik 1,87% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu (Year on Year/YoY).
Hanya sebagai gambaran, keuntungan BREN tersebut setara dengan Rp 1,35 triliun jika dikonversi memakai kurs Rp 15.700 per dolar Amerika Serikat. Sebagai perbandingan, pada periode September 2023 BREN membukukan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 84,47 juta.
Kenaikan bottom line ini terjadi ketika pendapatan BREN menurun tipis 0,89% (YoY) dari US$ 445,27 juta menjadi US$ 441,29 juta.
Setelah dijumlah dengan berbagai beban, termasuk kerugian kurs mata uang asing US$ 2,43 juta, laba periode berjalan BREN menyusut 2,66% (YoY) dari US$ 113,74 juta menjadi US$ 110,71 juta per September 2024.
Direktur Utama Barito Renewables Energy, Hendra Soetjipto Tan mengungkapkan, segmen panas bumi (geotermal) mengalami gangguan, yang mempengaruhi total output pembangkitan.
Namun gangguan tersebut telah diselesaikan pada September 2024, yang menunjukkan komitmen BREN terhadap keunggulan operasional.
Hendra bilang, pendekatan proaktif ini meminimalkan waktu henti, sekaligus membuka peluang untuk peningkatan kinerja geotermal ke depannya. Sementara itu, segmen angin mempertahankan kinerja yang stabil dengan menghasilkan 180,2 MWh selama sembilan bulan 2024, sehingga berkontribusi pada stabilitas kinerja BREN.
Hendra menambahkan, pada periode sembilan bulan 2024, BREN membukukan EBITDA senilai US$ 377 juta. Hendra bilang, langkah operasional yang efektif dan inisiatif keuangan strategis menempatkan BREN pada posisi untuk kinerja yang lebih kuat pada kuartal mendatang.
"Kami optimistis dengan respons cepat terhadap tantangan operasional serta keberhasilan refinancing yang telah secara signifikan menurunkan biaya keuangan. Kami percaya kinerja akan semakin kuat di kuartal-kuartal mendatang, seiring dengan upaya kami dalam mengoptimalkan dan memperluas aset geotermal," terang Hendra dalam keterbukaan informasi Rabu (30/10).
Hendra menyoroti tonggak penting BREN pada kuartal ini adalah keberhasilan refinancing fasilitas Bangkok Bank Public Company Limited. Langkah ini membuat penurunan suku bunga dari 4,4% menjadi 2,5% di atas Secured Overnight Financing Rate (SOFR).
"Langkah strategis ini tidak hanya menurunkan biaya keuangan kami, tetapi juga memperkuat neraca perusahaan, memungkinkan investasi lebih lanjut dalam inisiatif pertumbuhan," imbuh Hendra.
Hendra melanjutkan, ke depannya, BREN fokus pada ekspansi geotermal melalui retrofitting, peningkatan kapasitas, dan penambahan unit baru pada aset geotermal yang ada. Langkah ini akan meningkatkan kapasitas BREN sebesar 104,6 MW dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam jangka pendek, Salak Binary diperkirakan akan mencapai operasi komersial alias commercial operation date (COD) pada akhir tahun ini, sehingga akan meningkatkan kapasitas dan output BREN. "Perusahaan memprioritaskan keunggulan operasional, efisiensi biaya, dan pertumbuhan strategis guna mendorong penciptaan nilai jangka panjang," tandas Hendra.
Dari sisi pergerakan saham, BREN menutup perdagangan Kamis (31/10) dengan kenaikan 125 poin atau menguat 1,87% ke level Rp 6.800 per saham
Intip Proyek Ekspansi Prajogo Pangestu Lewat Grup Barito (BRPT) dan Petrindo (CUAN)
Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. [1,102] url asal
#prajogo-pangestu #pt-barito-pacific-tbk-brpt #pt-barito-pacific-tbk #brpt #grup-barito #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #saham-cuan #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #pt-chandra-asri
(Kontan - Terbaru) 26/10/24 16:06
v/17020877/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. Lewat konglomerasi ini, Prajogo membentangkan sayap bisnisnya di sektor petrokimia, infrastruktur, energi, properti hingga tambang.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi induk Grup Barito, yang memiliki tiga pilar bisnis utama. Pertama, petrokimia dan infrastruktur melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Kedua, pilar energi. BRPT mengembangkan segmen Energi Baru & Terbarukan (EBT) melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Selain itu, BRPT menggarap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ultra super critical lewat Indo Raya Tenaga yang memiliki 34% saham di PLTU Jawa 9 & 10. Ketiga, bisnis properti melalui Griya Idola.
Head of Investor Relations Barito Pacific, Pandu Anugrah membeberkan proyek dan pipeline ekspansi dari masing-masing pilar bisnis Grup Barito. Dari bisnis petrokimia, ekspansi yang sedang berlangsung adalah pembangunan Pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) yang diperkirakan akan rampung pada tahun 2026.
Selain itu, TPIA sedang mengejar penyelesaian proses akuisisi Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura, yang ditargetkan tuntas akhir tahun ini. Di bisnis infrastruktur, BRPT melebarkan sayap melalui anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi (CDI).
Pipeline proyek di bisnis infrastruktur adalah gas power plant berkapasitas 200 megawatt (MW) yang sedang dalam Final Investment Decision (FID) serta pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 30 MWpeak yang masih feasibility study. "Kami terus melakukan diversifikasi usaha pada segmen yang lebih stabil dan memberikan return yang berkelanjutan," kata Pandu dalam paparan publik, Jumat (25/10).
Pada pilar energi segmen EBT, BREN mengembangkan pembangkit tenaga panas bumi dan angin. Fokus BREN tiga tahun ke depan adalah menambah kapasitas panas bumi hingga 104,6 MW dari aset Wayang Windu, Salak dan Darajat. Selain itu, BREN menggarap proyek di area baru Hamiding dan Souh Sekincau.
BREN juga ekspansi di listrik tenaga angin pada proyek Sidrap II, Sukabumi dan Lombok dengan target tambahan kapasitas 318 MW. Di luar segmen EBT, BRPT siap mengoperasikan PLTU 2 x 1.000 MW secara bertahap pada tahun 2024 dan 2025.
Bergeser ke pilar properti, Griya Idola memiliki portofolio di segmen residensial, industrial, perkantoran dan hospitality. Strategi pertumbuhan Griya Idola akan fokus pada segmen residensial dan industrial.
Di segmen residensial, Griya Idola menggarap lahan sekitar 50 hektare (ha). Sedangkan di segmen industrial, Griya Idola menggarap Patimban Industrial Estate serta Griya Idola Industrial Park di Cikupa seluas 110 ha.
"Kami memiliki beberapa rencana pengembangan dalam beberapa tahun ke depan. Secara geografis proyek kami berada di beberapa kawasan yang cukup strategis, dimana permintaan ke depan akan terus tumbuh," tandas Pandu.
Direktur & Corporate Secretary Barito Pacific, David Kosasih menegaskan bahwa Grup Barito akan terus menggelar ekspansi, termasuk melalui akuisisi dengan fokus pada sektor inti petrokimia dan energi. "Tapi tidak menutup kemungkinan kami melihat peluang di sektor usaha lain," kata David.
David memberikan gambaran, strategi ekspansi yang dilakukan Grup Barito bakal mendongkrak prospek kinerja BRPT. Dia mencontohkan saat pabrik CA-EDC dan akuisisi aset SECP tuntas, maka kapasitas TPIA akan melonjak dari 4,2 juta ton menjadi sekitar 9,5 juta ton.
Kemudian tambahan yang cukup signifikan pada kapasitas pembangkit BREN saat proyek ekspansi panas bumi dan angin telah membuahkan hasil. "Jadi itu bisa memberikan gambaran bagaimana nanti kontribusi ke depan," ungkap David.
Tak hanya dari Grup Barito, Prajogo Pangestu melebarkan sayap bisnisnya di sektor pertambangan melalui PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Direktur Utama Petrindo Jaya Kreasi, Michael mengungkapkan ekspansi CUAN telah membuahkan hasil. Tampak dari sumber pendapatan yang telah terdiversifikasi.
Michael membandingkan, sepanjang tahun 2023 pendapatan 100% bersumber dari penjualan batubara. Sedangkan pada semester I-2024, CUAN telah meraup pendapatan dari bisnis lain, yakni rekayasa konstruksi, kontraktor pertambangan dan jasa.
Dus, top line dan bottom line CUAN pun kompak menanjak. Faktor pendorongnya adalah akuisisi PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Multi Tambangjaya Utama yang telah terkonsolidasi. Proyek pengembangan CUAN ke depan adalah batubara metalurgi, tambang emas dan pasir silika.
Capex Jumbo Grup Barito & Petrindo
Ekspansi Grup Barito maupun Petrindo ditopang oleh belanja modal alias capital expenditure (capex) yang jumbo. Pandhu membeberkan, BRPT telah menggelontorkan capex sebesar US$ 5,1 miliar dalam kurun 2015 - 2024.
BRPT pun siap mengucurkan capex sebesar US$ 4,4 miliar hingga tahun 2027 untuk turut membiayai ekspansi BREN, TPIA dan Indo Raya Tenaga. Khusus untuk tahun ini, David menjelaskan BRPT mengalokasikan capex sebesar US$ 650 juta.
Dana tersebut mayoritas ditujukan untuk kebutuhan ekspansi TPIA dan BREN. Realisasi hingga semester pertama masih tergolong mini, yakni sebesar US$ 180 juta. "Jadi sisanya akan dilakukan pada semester kedua," ungkap David.
Sementara dari Grup Petrindo, Direktur CUAN Kartika Hendrawan mengungkapkan saat ini posisi CUAN lebih fokus sebagai pemilik tambang. Sedangkan PTRO sebagai kontraktor tambang.
Dengan pembagian fungsi tersebut, alokasi capex lebih banyak ditempatkan kepada PTRO sebagai kontraktor. PTRO mengalokasikan capex sekitar US$ 400 juta pada tahun 2024-2025.
Rekomendasi Saham
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Dimas Krisna Ramadhani mengamati aksi korporasi yang dilakukan oleh konglomerasi Prajogo Pangestu akan membawa dampak signifikan bagi kinerja para emitennya. Sebab, ekspansi dilakukan untuk pengembangan dan integrasi bisnis di dalam grup. Contohnya akuisisi PTRO oleh CUAN.
Sederet ekspansi dan akuisisi tersebut telah menjadi sentimen yang mendongkrak harga saham milik Prajogo Pangestu. Setelah aksi korporasi, Dimas melihat sentimen lain yang akan menjadi penggerak adalah kiprah saham Prajogo dalam indeks global seperti FTSE dan MSCI.
Catatan Dimas, secara historis emiten Prajogo Pangestu punya valuasi yang terbilang tinggi dibandingkan industri sejenisnya (peers).
"Namun pergerakan emiten grup ini cenderung lebih kepada sentimen yang ada untuk masing-masing saham, bukan hanya kepada faktor valuasi," terang Dimas kepada Kontan.co.id, Jumat (25/10).
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menambahkan, sentimen ekspansi dan akuisisi cenderung telah terealisasi pada penguatan harga saham sebelumnya. Dus, William mengamini saat ini pelaku pasar perlu mencermati sentimen pada masing-masing sahamnya.
William mengingatkan, seringkali ada faktor spekulasi yang menggerakkan harga saham di grup ini. Jika ada kenaikan harga pada beberapa saham, maka bisa menjadi sentimen yang mengangkat harga saham emiten Prajogo Pangestu lainnya.
"Spekulasi, kebetulan belum semuanya patah tren jadi pelaku pasar masih optimis beberapa saham masih bisa menguat. Biarpun ada beberapa yang downtrend, tetap bisa mengambil momentum technical rebound," terang William.
Sebagai pilihan jangka pendek, William melihat saham TPIA, CUAN dan BREN menarik dilirik. Sedangkan Dimas merekomendasikan buy on weakness CUAN pada level Rp 7.200 - Rp 7.300 untuk target harga Rp 10.200, buy BREN dengan target Rp 8.800, dan hold PTRO untuk target harga di level Rp 22.000 per saham.
Deretan Proyek Ekspansi Prajogo Pangestu Lewat Grup Barito (BRPT) & Petrindo (CUAN)
Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. [334] url asal
#prajogo-pangestu #pt-barito-pacific-tbk-brpt #pt-barito-pacific-tbk #brpt #grup-barito #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #saham-cuan #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #pt-chandra-asri
(Kontan-Investasi) 25/10/24 21:18
v/16991622/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
David memberikan gambaran, strategi ekspansi yang dilakukan Grup Barito bakal mendongkrak prospek kinerja BRPT. Dia mencontohkan saat pabrik CA-EDC dan akuisisi aset SECP tuntas, maka kapasitas TPIA akan melonjak dari 4,2 juta ton menjadi sekitar 9,5 juta ton.
Kemudian tambahan yang cukup signifikan pada kapasitas pembangkit BREN saat proyek ekspansi panas bumi dan angin telah membuahkan hasil. "Jadi itu bisa memberikan gambaran bagaimana nanti kontribusi ke depan," ungkap David.
Tak hanya dari Grup Barito, Prajogo Pangestu melebarkan sayap bisnisnya di sektor pertambangan melalui PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Direktur Utama Petrindo Jaya Kreasi, Michael mengungkapkan ekspansi CUAN telah membuahkan hasil. Tampak dari sumber pendapatan yang telah terdiversifikasi.
Michael membandingkan, sepanjang tahun 2023 pendapatan 100% bersumber dari penjualan batubara. Sedangkan pada semester I-2024, CUAN telah meraup pendapatan dari bisnis lain, yakni rekayasa konstruksi, kontraktor pertambangan dan jasa.
Dus, top line dan bottom line CUAN pun kompak menanjak. Faktor pendorongnya adalah akuisisi PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Multi Tambangjaya Utama yang telah terkonsolidasi. Proyek pengembangan CUAN ke depan adalah batubara metalurgi, tambang emas dan pasir silika.
Capex Jumbo Grup Barito & Petrindo
Ekspansi Grup Barito maupun Petrindo ditopang oleh belanja modal alias capital expenditure (capex) yang jumbo. Pandhu membeberkan, BRPT telah menggelontorkan capex sebesar US$ 5,1 miliar dalam kurun 2015 - 2024.
BRPT pun siap mengucurkan capex sebesar US$ 4,4 miliar hingga tahun 2027 untuk turut membiayai ekspansi BREN, TPIA dan Indo Raya Tenaga. Khusus untuk tahun ini, David menjelaskan BRPT mengalokasikan capex sebesar US$ 650 juta.
Dana tersebut mayoritas ditujukan untuk kebutuhan ekspansi TPIA dan BREN. Realisasi hingga semester pertama masih tergolong mini, yakni sebesar US$ 180 juta. "Jadi sisanya akan dilakukan pada semester kedua," ungkap David.
Sementara dari Grup Petrindo, Direktur CUAN Kartika Hendrawan mengungkapkan saat ini posisi CUAN lebih fokus sebagai pemilik tambang. Sedangkan PTRO sebagai kontraktor tambang.
Dengan pembagian fungsi tersebut, alokasi capex lebih banyak ditempatkan kepada PTRO sebagai kontraktor. PTRO mengalokasikan capex sekitar US$ 400 juta pada tahun 2024-2025.
Deretan Proyek Ekspansi Prajogo Pangestu Lewat Grup Barito (BRPT) & Petrindo (CUAN)
Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. [1,102] url asal
#prajogo-pangestu #pt-barito-pacific-tbk-brpt #pt-barito-pacific-tbk #brpt #grup-barito #pt-petrindo-jaya-kreasi-tbk-cuan #saham-cuan #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #pt-chandra-asri
(Kontan-Investasi) 25/10/24 21:18
v/16983264/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konglomerat Prajogo Pangestu terus tancap gas menggelar ekspansi melalui dua mesin utamanya, Grup Barito dan Petrindo. Lewat konglomerasi ini, Prajogo membentangkan sayap bisnisnya di sektor petrokimia, infrastruktur, energi, properti hingga tambang.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menjadi induk Grup Barito, yang memiliki tiga pilar bisnis utama. Pertama, petrokimia dan infrastruktur melalui PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Kedua, pilar energi. BRPT mengembangkan segmen Energi Baru & Terbarukan (EBT) melalui PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Selain itu, BRPT menggarap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ultra super critical lewat Indo Raya Tenaga yang memiliki 34% saham di PLTU Jawa 9 & 10. Ketiga, bisnis properti melalui Griya Idola.
Head of Investor Relations Barito Pacific, Pandu Anugrah membeberkan proyek dan pipeline ekspansi dari masing-masing pilar bisnis Grup Barito. Dari bisnis petrokimia, ekspansi yang sedang berlangsung adalah pembangunan Pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (CA-EDC) yang diperkirakan akan rampung pada tahun 2026.
Selain itu, TPIA sedang mengejar penyelesaian proses akuisisi Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura, yang ditargetkan tuntas akhir tahun ini. Di bisnis infrastruktur, BRPT melebarkan sayap melalui anak usaha TPIA, PT Chandra Daya Investasi (CDI).
Pipeline proyek di bisnis infrastruktur adalah gas power plant berkapasitas 200 megawatt (MW) yang sedang dalam Final Investment Decision (FID) serta pembangkit listrik tenaga surya terapung berkapasitas 30 MWpeak yang masih feasibility study. "Kami terus melakukan diversifikasi usaha pada segmen yang lebih stabil dan memberikan return yang berkelanjutan," kata Pandu dalam paparan publik, Jumat (25/10).
Pada pilar energi segmen EBT, BREN mengembangkan pembangkit tenaga panas bumi dan angin. Fokus BREN tiga tahun ke depan adalah menambah kapasitas panas bumi hingga 104,6 MW dari aset Wayang Windu, Salak dan Darajat. Selain itu, BREN menggarap proyek di area baru Hamiding dan Souh Sekincau.
BREN juga ekspansi di listrik tenaga angin pada proyek Sidrap II, Sukabumi dan Lombok dengan target tambahan kapasitas 318 MW. Di luar segmen EBT, BRPT siap mengoperasikan PLTU 2 x 1.000 MW secara bertahap pada tahun 2024 dan 2025.
Bergeser ke pilar properti, Griya Idola memiliki portofolio di segmen residensial, industrial, perkantoran dan hospitality. Strategi pertumbuhan Griya Idola akan fokus pada segmen residensial dan industrial.
Di segmen residensial, Griya Idola menggarap lahan sekitar 50 hektare (ha). Sedangkan di segmen industrial, Griya Idola menggarap Patimban Industrial Estate serta Griya Idola Industrial Park di Cikupa seluas 110 ha.
"Kami memiliki beberapa rencana pengembangan dalam beberapa tahun ke depan. Secara geografis proyek kami berada di beberapa kawasan yang cukup strategis, dimana permintaan ke depan akan terus tumbuh," tandas Pandu.
Direktur & Corporate Secretary Barito Pacific, David Kosasih menegaskan bahwa Grup Barito akan terus menggelar ekspansi, termasuk melalui akuisisi dengan fokus pada sektor inti petrokimia dan energi. "Tapi tidak menutup kemungkinan kami melihat peluang di sektor usaha lain," kata David.
David memberikan gambaran, strategi ekspansi yang dilakukan Grup Barito bakal mendongkrak prospek kinerja BRPT. Dia mencontohkan saat pabrik CA-EDC dan akuisisi aset SECP tuntas, maka kapasitas TPIA akan melonjak dari 4,2 juta ton menjadi sekitar 9,5 juta ton.
Kemudian tambahan yang cukup signifikan pada kapasitas pembangkit BREN saat proyek ekspansi panas bumi dan angin telah membuahkan hasil. "Jadi itu bisa memberikan gambaran bagaimana nanti kontribusi ke depan," ungkap David.
Tak hanya dari Grup Barito, Prajogo Pangestu melebarkan sayap bisnisnya di sektor pertambangan melalui PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN). Direktur Utama Petrindo Jaya Kreasi, Michael mengungkapkan ekspansi CUAN telah membuahkan hasil. Tampak dari sumber pendapatan yang telah terdiversifikasi.
Michael membandingkan, sepanjang tahun 2023 pendapatan 100% bersumber dari penjualan batubara. Sedangkan pada semester I-2024, CUAN telah meraup pendapatan dari bisnis lain, yakni rekayasa konstruksi, kontraktor pertambangan dan jasa.
Dus, top line dan bottom line CUAN pun kompak menanjak. Faktor pendorongnya adalah akuisisi PT Petrosea Tbk (PTRO) dan PT Multi Tambangjaya Utama yang telah terkonsolidasi. Proyek pengembangan CUAN ke depan adalah batubara metalurgi, tambang emas dan pasir silika.
Capex Jumbo Grup Barito & Petrindo
Ekspansi Grup Barito maupun Petrindo ditopang oleh belanja modal alias capital expenditure (capex) yang jumbo. Pandhu membeberkan, BRPT telah menggelontorkan capex sebesar US$ 5,1 miliar dalam kurun 2015 - 2024.
BRPT pun siap mengucurkan capex sebesar US$ 4,4 miliar hingga tahun 2027 untuk turut membiayai ekspansi BREN, TPIA dan Indo Raya Tenaga. Khusus untuk tahun ini, David menjelaskan BRPT mengalokasikan capex sebesar US$ 650 juta.
Dana tersebut mayoritas ditujukan untuk kebutuhan ekspansi TPIA dan BREN. Realisasi hingga semester pertama masih tergolong mini, yakni sebesar US$ 180 juta. "Jadi sisanya akan dilakukan pada semester kedua," ungkap David.
Sementara dari Grup Petrindo, Direktur CUAN Kartika Hendrawan mengungkapkan saat ini posisi CUAN lebih fokus sebagai pemilik tambang. Sedangkan PTRO sebagai kontraktor tambang.
Dengan pembagian fungsi tersebut, alokasi capex lebih banyak ditempatkan kepada PTRO sebagai kontraktor. PTRO mengalokasikan capex sekitar US$ 400 juta pada tahun 2024-2025.
Rekomendasi Saham
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, Dimas Krisna Ramadhani mengamati aksi korporasi yang dilakukan oleh konglomerasi Prajogo Pangestu akan membawa dampak signifikan bagi kinerja para emitennya. Sebab, ekspansi dilakukan untuk pengembangan dan integrasi bisnis di dalam grup. Contohnya akuisisi PTRO oleh CUAN.
Sederet ekspansi dan akuisisi tersebut telah menjadi sentimen yang mendongkrak harga saham milik Prajogo Pangestu. Setelah aksi korporasi, Dimas melihat sentimen lain yang akan menjadi penggerak adalah kiprah saham Prajogo dalam indeks global seperti FTSE dan MSCI.
Catatan Dimas, secara historis emiten Prajogo Pangestu punya valuasi yang terbilang tinggi dibandingkan industri sejenisnya (peers). "Namun pergerakan emiten grup ini cenderung lebih kepada sentimen yang ada untuk masing-masing saham, bukan hanya kepada faktor valuasi," terang Dimas kepada Kontan.co.id, Jumat (25/10).
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menambahkan, sentimen ekspansi dan akuisisi cenderung telah terealisasi pada penguatan harga saham sebelumnya. Dus, William mengamini saat ini pelaku pasar perlu mencermati sentimen pada masing-masing sahamnya.
William mengingatkan, seringkali ada faktor spekulasi yang menggerakkan harga saham di grup ini. Jika ada kenaikan harga pada beberapa saham, maka bisa menjadi sentimen yang mengangkat harga saham emiten Prajogo Pangestu lainnya.
"Spekulasi, kebetulan belum semuanya patah tren jadi pelaku pasar masih optimis beberapa saham masih bisa menguat. Biarpun ada beberapa yang downtrend, tetap bisa mengambil momentum technical rebound," terang William.
Sebagai pilihan jangka pendek, William melihat saham TPIA, CUAN dan BREN menarik dilirik. Sedangkan Dimas merekomendasikan buy on weakness CUAN pada level Rp 7.200 - Rp 7.300 untuk target harga Rp 10.200, buy BREN dengan target Rp 8.800, dan hold PTRO untuk target harga di level Rp 22.000 per saham.
Menakar Prospek Saham Barito Renewables (BREN) Masuk MSCI, Simak Rekomendasinya
BREN tengah fokus menambah kapasitas pembangkit listrik EBT pada geothermal dan tenaga angin. [784] url asal
#rekomendasi-saham #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #morgan-stanley-investment-management #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan-Investasi) 24/10/24 21:22
v/16941233/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) akan fokus menambah kapasitas pembangkit listrik energi terbarukan pada sumber panas bumi (geothermal) dan tenaga angin. Emitem milik taipan Prajogo Pangestu ini dikabarkan akan masuk dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam rebalancing bulan depan.
Direktur Utama Barito Renewables Energy, Tan Hendra Soetjipto mengatakan BREN ingin mencapai kapasitas 1 Gigawatt (GW) pada tahun 2025 melalui penambahan kapasitas di aset eksisting, dan 1,95 GW pada tahun 2030 dengan proyek pengembangan baru (green field). Ia pun membeberkan lima strategi pertumbuhan BREN.
Pertama, mengoperasikan pembangkit eksisting secara efisien pada kapasitas optimal dengan kapasitas 961 Megawatt (MW). Kedua, memaksimalkan kapasitas sumber daya dari lapangan yang sudah matang, dengan estimasi kontribusi tambahan sebesar 118 MW.
Ketiga, mengembangkan prospek green field, yang ditargetkan berkontribusi menambah 770 MW - 1.425 MW dari panas bumi dan 318 MW dari tenaga angin. Keempat, mengkapitalisasi pendapatan dari kredit karbon dan Renewables Energy Certificate (REC) dari aset yang dimiliki.
Kelima, melakukan akuisisi aset-aset energi baru dan terbarukan (EBT) baik di dalam maupun luar negeri. Tapi, Hendra belum merinci rencana akuisisi lanjutan yang akan dilakukan oleh BREN.
Hendra hanya menegaskan fokus BREN untuk saat ini masih pada aset energi terbarukan berbasis panas bumi dan angin.
"Apakah akan ke air atau surya? masih belum ada rencana ke arah sana, Tapi ke depan tidak menutup kemungkinan. Sangat tergantung pada feasibility dari proyek tersebut," kata Hendra dalam paparan publik, Kamis (24/10).
Hendra menerangkan dalam jangka pendek hingga tiga tahun ke depan, proyek strategis BREN adalah penambahan kapasitas panas bumi hingga 104,6 MW. BREN mengestimasikan belanja modal (capex) sebesar US$ 346 juta untuk mencapai target tersebut.
Sedangkan pada tahun ini, Direktur Barito Renewables Energy, Merly memperkirakan alokasi capex BREN sebesar US$ 165 juta sampai tutup tahun 2024 seiring dengan proyek ekspansi yang sudah dimulai.
Sampai dengan September 2024, BREN sudah mengucurkan capex sekitar US$ 52,4 juta. Dana tersebut dialokasikan untuk aset eksisting sekitar 33 juta dan untuk kebutuhan pengembangan sekitar US$ 19 juta.
Rekomendasi Saham
Founder Stocknow.id Hendra Wardana melihat pelaku pasar akan menilai seberapa efektif BREN dapat mengelola investasi dan merealisasikan rencana ekspansinya. Jika proyek bisa tuntas sesuai jadwal dan berhasil memberikan return yang menarik, maka ekspansi ini akan memoles prospek BREN di mata pelaku pasar.
"Di sisi lain, perlu dicatat proyek energi terbarukan, terutama panas bumi memiliki siklus pengembangan yang panjang. Sehingga pasar mungkin membutuhkan waktu untuk merespons secara positif dari sisi kinerja keuangan," kata Hendra kepada Kontan.co.id, Kamis (24/10).
Praktisi Pasar Modal & Founder Warkop Saham, Raden Bagus Bima menambahkan, outlook kinerja BREN dari sisi ekspansi cukup positif. Namun, ada risiko terkait eksekusi proyek dan pembiayaan yang perlu diperhartikan pelaku pasar.
"Dengan besarnya capex, risiko pembiayaan proyek juag perlu diperhatikan. Jika menggunakan utang tambahan, rasio leverage perlu dimonitor untuk memastikan beban keuangan tidak terlalu tinggi dan memengaruhi profitabilitas," terang Bima.
Dari sisi pergerakan saham, harga BREN sempat terjun akibat terseret sentimen pencoretan dari indeks Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell. Belakangan ini, harga saham BREN mengalami fluktuasi cukup kencang.
Pada perdagangan Kamis (24/10) harga BREN ditutup melemah 2,31% ke level Rp 7.400. Bima melihat kemungkinan sentimen negatif yang menekan harga saham BREN bersifat sementara. Sentimen negatif bisa mereda, terutama jika didukung oleh faktor fundamental yang kuat dan katalis dari ekspansi perusahaan.
Katalis lain yang ramai diperbincangkan adalah potensi BREN masuk ke dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam rebalancing bulan depan.
"Jika BREN masuk, permintaan terhadap sahamnya kemungkinan meningkat, karena investor global biasanya membeli saham yang ada dalam indeks ini," ungkap Bima.
Hendra mengamini, rebalancing MSCI seringkali diikuti oleh peningkatan volume perdagangan karena banyak investor institusi yang terlibat.
"Jika benar masuk, akan ada tambahan permintaan dari fund yang berpatokan pada MSCI, sehingga bisa mendorong harga saham naik," imbuh Hendra.
Senior Research Analyst Lotus Andalan Sekuritas Fath Aliansyah melihat peluang BREN masuk ke indeks saham global seperti MSCI masih terbuka selama memenuhi kriteria penilaian indeks tersebut. Dari sisi fundamental, Fath turut mengingatkan ekspansi yang dilakukan masih perlu waktu untuk teralisasi hingga tercermin pada kinerja keuangan.
Dus, Fath melihat saham BREN masih bisa dipertimbangkan sebagai pilihan trading. Bima juga merekomendasikan BREN untuk jangka pendek, dengan target harga di level Rp 8.000.
Saran dia, pertimbangkan stoploss jika turun ke area Rp 7.200. Jika BREN masuk ke dalam indeks MSCI pada rebalancing November nanti, maka harganya berpeluang kembali menuju level Rp 10.000. Sedangkan Hendra menyarankan buy BREN untuk target harga Rp 8.825 per saham.
Cek Prospek Barito Renewables (BREN) Usai Harga Merosot & Sentimen yang Membayangi
Harga saham Barito Renewables (BREN) sudah turun 43% dalam sebulan terakhir [855] url asal
#pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #saham-bren #bren #pt-barito-renewables-energy-tbk #barito-renewables-energy #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan) 14/10/24 23:56
v/16471447/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) kembali menguat usai merosot dalam lima perdagangan beruntun. BREN mengawali pekan ini dengan kenaikan 3,08% ke level Rp 6.700 per saham pada Senin (14/10).
BREN mengakumulasi penurunan sedalam 43,10% sebulan terakhir. Di posisi puncaknya, BREN sempat bertengger pada level Rp 11.900 per saham, sebelum terjun akibat terseret sentimen pencoretan dari indeks Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell.
Bersamaan dengan anjlok harga saham, kapitalisasi pasar (market cap) BREN terpangkas ke bawah level Rp 1.000 triliun. Meski begitu, BREN masih kokoh di rangking kedua market cap terbesar di Bursa Efek Indonesia, dengan nilai Rp 896,37 triliun.
Henan Putihrai Sekuritas (HPS) Research melihat saham BREN sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, keputusan FTSE Russell mengeluarkan BREN dari indeksnya dan aksi borong saham oleh Prajogo Pangestu yang mengurangi free float menciptakan sentimen negatif di pasar.
Di sisi yang lain, BREN memiliki peluang untuk bangkit melalui proyek panas bumi (geothermal) yang ambisius dan momentum kebijakan energi hijau di Indonesia.
"Investor kini dihadapkan pada dilema, mengikuti sentimen pasar yang negatif atau melihat potensi fundamental BREN dalam jangka panjang," ungkap HPS Research yang dikutip Kontan.co.id, Senin (14/10).
Laporan ini menyoroti pencoretan BREN dari indeks FTSE yang berpotensi menekan harga saham dan likuiditas dalam jangka pendek. Selain itu, aksi borong saham oleh Prajogo Pangestu menambah kompleksitas dalam menganalisis saham BREN. Antara ada nilai intrinsik yang belum tercermin di pasar, atau ada motivasi strategi lain di balik aksi Prajogo.
Direktur & Corporate Secretary Barito Renewables Energy Merly sebelumnya menyampaikan bahwa aksi Prajogo menambah kepemilikan saham BREN didasari oleh keyakinan dan bentuk dukungan untuk melaksanakan ekspansi atau pengembangan usaha di sektor energi baru dan terbarukan.
Bos Grup Barito itu telah menambah kepemilikan sebanyak 26.611.600 saham BREN pada 2 Oktober dan 3 Oktober 2024.
Belum lama ini, anak usaha BREN yakni Star Energy Geothermal mengumumkan rencana peningkatan kapasitas 102,6 Megawatt (MW). Strategi ekspansi ini dilakukan dengan meningkatkan kapasitas Star Energy Geothermal melalui proyek retrofitting dan penambahan kapasitas baru.
"Barito Renewables memiliki komitmen kuat untuk terus menggarap sektor energi baru terbarukan. Oleh karena itu, kami tetap optimistis atas kontribusi perusahaan,” kata Merly dalam keterbukaan informasi 3 Oktober lalu.
HPS Research pun melihat ekspansi panas bumi tersebut bisa memoles prospek BREN. Rencana ekspansi hingga 102,6 MW tersebut diestimasikan menelan investasi sekitar US$ 346 juta.
Proyek ini mencakup pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) baru dan peningkatan kapasitas PLTP yang sudah ada, seperti Salak dan Wayang Windu.
Pengembangan PLTP tersebut berpotensi mendongkrak kinerja BREN, dengan proyeksi hingga Rp 4,7 triliun pada tahun 2025 dan laba bersih mencapai Rp 1,6 triliun. HPS Research menyoroti tiga faktor yang bisa mengangkat performa BREN.
Pertama, peningkatan kapasitas produksi. Penambahan kapasitas PLTP akan meningkatkan volume penjualan listrik. Kedua, harga listrik yang kompetitif. Harga listrik dari sumber energi terbarukan, termasuk panas bumi diprediksi akan semakin kompetitif dibandingkan dengan energi fosil.
Ketiga, kontrak jangka panjang. BREN telah mengamankan kontrak penjualan listrik jangka panjang dengan PT PLN (Persero), sehingga bisa memberikan kepastian pendapatan. Dus, dengan berbagai faktor tersebut HPS Research menilai berinvestasi di saham BREN saat ini memiliki tingkat risiko dan peluang yang sama besar.
Risiko utama adalah sentimen pasar yang negatif dan likuiditas yang terbatas. "Namun, peluang yang ditawarkan oleh proyek geothermal dan momentum energi hijau juga menarik. Investor perlu melakukan analisis yang cermat dan menentukan strategi investasi yang sesuai dengan profil risiko mereka," tandas HPS Research.
Sementara itu, Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus menilai secara teknikal pelaku pasar bisa mempertimbangkan strategi buy on weakness pada posisi BREN saat ini. Apalagi jika nantinya ada aksi lanjutan dari Prajogo Pangestu yang akan kembali membawa daya tarik bagi pasar.
Bagi yang tertarik menerapkan strategi buy on weakness, Daniel menyarankan agar cermati support di level Rp 6.375. Resistance terdekat berada di area Rp 7.000, untuk target harga di level Rp 8.000 per saham.
Pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat sentimen negatif dari pencoretan BREN pada indeks FTSE sudah cenderung memudar. "Jikapun masih ada, tidak signifikan lagi," kata Budi kepada Kontan.co.id, Senin (14/10).
Budi memandang BREN berpeluang terpapar katalis positif dari rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). BREN berpotensi masuk ke indeks MSCI pada periode evaluasi Oktober ini, asalkan tidak ada aral melintang atau kejadian luar biasa lainnya.
Budi menyoroti, hal yang bisa menjadi batu sandungan adalah langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memeriksa dugaan indikasi perdagangan semu pada saham BREN. Adapun, pemeriksaan BREN ini sebelumnya disampaikan dalam jawaban tertulis pada Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi menyatakan bahwa OJK melakukan analisis atas pergerakan harga saham sesuai prosedur yang berlaku untuk mendeteksi adanya ketidakwajaran.
"OJK melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan mendalam, termasuk memeriksa indikasi adanya perdagangan semu atau manipulasi pasar lainnya," kata Inarno.
Bobot BREN ke IHSG Turun, Begini Rekomendasi Sahamnya
Penurunan bobot ini karena BEI menganggap nilai perseroan sudah cukup tinggi di dalam IHSG. [507] url asal
#bursa-efek-indonesia-bei #indeks-harga-saham-gabungan-ihsg #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan) 26/09/24 11:25
v/15618924/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tercatat mengalami penurunan bobot terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hal ini merupakan hasil evaluasi yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk bulan September 2024.
Melansir keterbukaan informasi, BEI meluncurkan pengumuman evaluasi lima indeks pada tanggal 24 September 2024, termasuk IHSG.Evaluasi yang dilakukan BEI ini termasuk jenis evaluasi minor. Periode efektif evaluasi ini berlaku mulai 1 Oktober 2024 hingga 31 Desember 2024.
Dalam lampiran pengumuman tersebut, BREN saat ini tercatat memiliki rasio free float sebesar 11,73%.
Sebelum evaluasi, bobot saham BREN terhadap IHSG mencapai 4,30% dengan jumlah saham untuk perhitungan IHSG sebanyak 15.693.123.606 saham. Setelah evaluasi, jumlah saham BREN untuk IHSG masih tetap sebanyak 15.693.123.606 saham. Namun, bobot saham BREN ke IHSG turun menjadi 4,25%.
Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada melihat, evaluasi indeks merupakan hal yang rutin dilakukan BEI. Tujuannya, untuk menilai saham-saham mana yang masuk dalam indeks tertentu.
“Hasil evaluasi itu nantinya bisa menjadi acuan investasi bagi para investor, baik ritel maupun institusi dalam mengelola portofolio mereka,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (26/9).
Pembobotan kerap kali dilakukan dengan tujuan memperoleh gambaran jelas terkait imbas atau pengaruh dari suatu saham terhadap indeks tersebut.
“Penurunan bobot BREN dikarenakan BEI sudah menganggap nilai perseroan sudah cukup tinggi di dalam IHSG tersebut,” ungkapnya.
Menurut Reza, adanya perubahan bobot terhadap suatu saham dalam indeks acuan dipengaruhi oleh pergerakan harga saham, jumlah saham beredar, kapitalisasi pasar, dan lainnya.
“Sehingga, jika terjadi penurunan bobot, maka perlu dilihat apakah hal-hal tersebut sedang mengalami penurunan atau tidak,” ungkapnya.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer mengatakan, pergerakan harga saham BREN memang memiliki berdampak yang cukup besar ke IHSG. Namun, secara umum, sentimen IHSG masih berpotensi mengalami penguatan hingga akhir semester II 2024.
“Hal ini didorong oleh sejumlah sentimen positif, seperti penguatan rupiah, penurunan kebijakan moneter bank sentral, dan aliran masuk dana asing yang masih kuat,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (25/9).
Khaer melihat, pergerakan saham BREN saat ini sudah terbilang cukup priced-in, bahkan dengan sentimen dikeluarkannya perseroan dari indeks FTSE Global Equity Series - Large Cap pada Rabu kemarin.
“Oleh karena itu, jika pun ada pelemahan harga saham BREN di periode berikut berikutnya, pelemahan akan cenderung terbatas,” ungkapnya.
Namun, harga saham BREN dinilai masih sangat volatil, sehingga Khaer masih merekomendasikan wait and see untuk BREN.
“Sedangkan, investor yang sudah memegang saham BREN, hold saja terlebih dahulu sampai ada indikasi harga saham sudah priced-in,” ungkapnya.
Melansir RTI, harga saham BREN turun 3,46% ke Rp 6.975 per saham hingga penutupan perdagangan hari Rabu kemarin, saat perseroan resmi keluar dari indeks FTSE Global Equity Series - Large Cap. Hari ini (26/9) pukul 11.21 wib, saham BREN sudah berhasil naik 2,87% dari penutupan perdagangan kemarin ke Rp 7.200 per saham.
Banderol BREN Melorot Lagi, Ini Target Harga untuk Masuk Ke Saham Orang Terkaya RI
Analis merekomendasikan beli saham BREN dengan target harga di atas Rp 11.000 per saham di akhir tahun 2024 [1,179] url asal
#ftse-russell #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #indeks-ftse-russell #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan - Terbaru) 26/09/24 07:33
v/15571230/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) kembali melemah. Untuk masuk ke saham milik orang terkaya Indonesia, investor perlu mencermati batasan harga yang disarankan para analis.
Harga saham BREN pada perdagangan Rabu 25 September 2024 ditutup di level 6.975, turun 250 poin atau 3,46% dibandingkan sehari sebelumnya. Penurunan harga saham BREN terjadi setelah saham milik orang terkaya Indonesia, Prajogo Pangestu ini resmi keluarg dari Indeks FTSE Global Equity Indonesia kategori large cap pada Rabu 25 September 2024.
FTSE mencoret saham BREN dari konstituen indeks tersebut dengan alasan adanya konsentrasi pemegang saham yang tinggi alias high shareholder concentration atau terkait dengan jumlah saham yang beredar di pasar reguler (free float). Padahal, BREN baru masuk ke dalam indeks FTSE Global Equity Series-Large Cap pada Senin (23/9) lalu.
Dalam keterangan tertulis FTSE Russel pada Kamis (19/9) lalu, BREN dinilai tidak memenuhi aturan free float restriction alias restriksi batas minimal saham yang dimiliki oleh pemegang saham publik. FTSE pun melihat, ada empat pemegang saham yang mengendalikan 97% dari total saham yang diterbitkan.
Sejak pengumuman itu, harga saham BREN melemah drastis dengan akumulasi penurunan sebesar 3.750 poin atau 34,97%.
Manajemen BREN telah buka suara atas kebijakan FTSE tersebut. Direktur & Sekretaris Perusahaan BREN Merly mengungkapkan sejak 23 Agustus hingga 19 September 2024 tidak terjadi perubahan signifikan terhadap kepemilikan floating shares BREN.
Adapun, 23 Agustus 2024 merupakan tanggal pengumuman FTSE Global Equity Index Series yang memasukkan BREN ke dalam indeks, sedangkan 19 September 2024 merupakan pengumuman BREN tidak lagi menjadi konstituen indeks.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 19 September 2024, jumlah saham yang memenuhi persyaratan free float berdasarkan ketentuan Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sebesar 15,60 miliar saham atau 11,66% dari total saham BREN.
Jumlah tersebut tidak berubah signifikan dibandingkan dengan persentase free float berdasarkan prospektus penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) yang menyebutkan bahwa jumlah saham free float adalah sebanyak 15,69 miliar saham atau 11,73%.
Ada empat pemegang saham yang menguasai sebanyak 97% saham BREN berdasarkan prospektus IPO. Mereka adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebanyak 64,66%, Green Era Energy Pte. Ltd. (23,60%), Jupiter Tiger Holdings (4,36%) dan Prime Hill Funds (4,36%).
Sampai dengan 19 September 2024, porsi kepemilikan BRPT dan Green Era Energy masih sama, masing-masing 64,66% dan 23,60%. Sedangkan Jupiter Tiger Holdings berubah menjadi 3,94% dan Prime Hill Funds sebanyak 3,76%. Adapun, kepemilikan saham dari Jupiter Tiger dan Prime Hill masuk ke dalam floating shares.
Rekomendasi saham BREN
Founder Indonesia Investment Education Rita Efendy mengatakan, setelah BREN resmi keluar dari Indeks FTSE, pandangan investor cenderung terbagi.
Beberapa investor institusional yang harus mematuhi indeks FTSE mungkin terpaksa melepas saham BREN sebagai bagian dari penyesuaian portofolio. Hal ini bisa menyebabkan tekanan jual jangka pendek. Namun, dalam dua hari perdagangan terakhir, ada investor juga terlihat mengambil sikap wait and see.
“Mereka mungkin memperhatikan perkembangan bisnis yang akan menunjang fundamental perusahaan yang lebih baik sebelum mengambil keputusan lebih lanjut,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Sebagian investor dengan strategi jangka panjang yang yakin pada prospek bisnis BREN, terutama di sektor energi terbarukan, mungkin mereka lebih memilih untuk menambah kepemilikan. Para investor ini memanfaatkan potensi harga yang lebih rendah setelah adanya penjualan oleh institusi.
Ke depannya, jika BREN mampu menunjukkan performa bisnis yang baik, investor bisa kembali tertarik. Namun, untuk saat ini, banyak investor yang cenderung memilih untuk menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum membuat keputusan besar terutama investor institusi.
“Investor jangka pendek banyak yang masih berkeyakinan akan potensi BREN untuk di masukan ke indeks global lain, seperti MSCI yang akan di-review pada November 2024, mereka memilih cicil buy on weakness,” ungkap dia.
Sebagai investor ritel, Rita pun memanfaatkan strategi buy on weaknes di situasi saat ini. Sebab, investor ritel memang tidak terikat banyak aturan layaknya investor institusional.
“Harga yang terkoreksi jauh saya manfaatkan untuk buy on weakness, seperti yang dilakukan hari ini. Saham milik Prajogo Pangestu masih memiliki daya tarik dan peluang cuan yang menarik untuk investor ritel,” tuturnya.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai, FTSE memiliki hak untuk memasukkan dan mengeluarkan saham perusahaan yang dinilai layak untuk menjadi konstituen di dalam indeks mereka. Namun, keputusan FTSE itu dianggap kurang hati-hati, dan hanya mendisrupsi pasar saham Indonesia.
“Investor pun sudah rugi dalam dua hari, yaitu Jumat pekan lalu dan Senin kemarin,” ujar Budi kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Setelah BREN keluar dari Indeks FTSE, Budi melihat, akan ada aksi beli yang lebih besar daripada aksi jual. Kecuali, jika semua investor ikut menjual kepemilikan.
Budi menyarankan, investor untuk memantau bid and offer BREN pada perdagangan esok hari. Jika aksi beli besok lebih dominan, investor bisa membeli BREN. Jika sebaliknya, sebaiknya kepemilikannya bisa dilepas.
“Sulit melawan aksi masuk atau keluar investor besar dengan nilai yang nilainya sangat fantastis ini. Setengah hari perdagangan hari ini saja, transaksi BREN sekitar Rp 2,7 triliun,” tutur dia.
Budi melihat, harga saham BREN memang tidak murah, sehingga daya tarik investor untuk memiliki saham emiten ini lebih didorong faktor lain, seperti adanya liquidity provider dan sosok sang pemilik, yaitu Prajogo Pangestu.
Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina melihat, investor yang memegang saham BREN punya kecenderungan untuk berinvestasi dengan cara trading. Hal ini karena valuasi saham BREN yang dianggap masih mahal, meskipun kinerja perseroan terbilang baik.
“Untuk trading aja, karena memanfaatkan volatilitas pasar. Penurunan harga BREN saat ini juga tengah dimanfaatkan investor yang mencari harga yang lebih baik. Tetapi, memang untuk trading saja. Karena kinerjanya ada (baik), tapi harga mahal,” ujarnya saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (24/9).
Martha pun melihat volatilitas harga BREN kemungkinan tidak akan memberatkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun 2024.
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan accumulative buy untuk BREN dengan target harga Rp 10.725 per saham
Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe melihat, kinerja BREN dilihat menarik oleh para investor akibat fokus bisnis perusahaan yang fokus pada energi baru terbarukan (EBT).
“Apalagi, BREN diketahui akan segera menambah kapasitas pembangkit mereka,” kata Kiswoyo kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Pada 18 September 2024, Star Energy Geothermal, anak perusahaan BREN, secara signifikan akan meningkatkan kapasitas terpasangnya, yang diumumkan melalui dengan pengumuman pemenang tender terpilih di dalam International Geothermal Conference and Exhibition 2024 (IIGCE).
Inisiatif strategis ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Star Energy Geothermal melalui proyek retrofitting dan penambahan kapasitas baru. Inisiatif tersebut terdiri dari penambahan pembangkit baru dan ekspansi, serta peningkatan kapasitas di unit yang sudah ada.
“Meskipun ada nama Prajogo Pangestu di belakangnya, tetapi kinerja BREN sangat prospektif, bahkan dalam jangka waktu yang panjang. Sentimen investor terhadap nama Prajogo hanya sebagai apresiasi pasar terhadap aset milik dia yang premium,” tuturnya.
Kiswoyo pun merekomendasikan beli saham BREN dengan target harga di atas Rp 11.000 per saham di akhir tahun 2024.
Resmi, BREN Keluar FTSE Hari Ini (25/9), Investor Perlu Jual / Beli?
Analis merekomendasikan beli saham BREN dengan target harga di atas Rp 11.000 per saham di akhir tahun 2024 [1,252] url asal
#ftse-russell #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #indeks-ftse-russell #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 25/09/24 06:45
v/15519434/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) akan keluar dari Indeks FTSE Global Equity Indonesia kategori large cap pada hari ini Rabu 25 September 2024. Lalu, investor sebaiknya pilih membeli atau menjual saham tersebut?
Harga saham BREN melorot karena pengumuman FTSE yang mencoret BREN dari konstituen indeks tersebut dengan alasan adanya konsentrasi pemegang saham yang tinggi alias high shareholder concentration atau terkait dengan jumlah saham yang beredar di pasar reguler (free float). Padahal, BREN baru masuk ke dalam indeks FTSE Global Equity Series-Large Cap pada Senin (23/9) lalu.
Dalam keterangan tertulis FTSE Russel pada Kamis (19/9) lalu, BREN dinilai tidak memenuhi aturan free float restriction alias restriksi batas minimal saham yang dimiliki oleh pemegang saham publik. FTSE pun melihat, ada empat pemegang saham yang mengendalikan 97% dari total saham yang diterbitkan.
Harga saham BREN pada perdagangan Kamis 19 September 2024 ditutup di level 11.025. Sehari kemudian, harga saham BREN melorot ke level 8.825.
Saham BREN yang merupakan milik orang terkaya Indonesia, Prajogo Pangestu ini melorot ke titik terendah di level 7.075 pada 23 September 2024. Ini adalah harga terendah saham BREN sejak Juni 2024.
Pada perdagangan Rabu 24 September 2024, harga saham BREN mulai bangkit di level 7.225, naik 150 poin atau 2,12% dibandingkan sehari sebelumnya.
Manajemen BREN telah buka suara atas kebijakan FTSE tersebut. Direktur & Sekretaris Perusahaan BREN Merly mengungkapkan sejak 23 Agustus hingga 19 September 2024 tidak terjadi perubahan signifikan terhadap kepemilikan floating shares BREN.
Adapun, 23 Agustus 2024 merupakan tanggal pengumuman FTSE Global Equity Index Series yang memasukkan BREN ke dalam indeks, sedangkan 19 September 2024 merupakan pengumuman BREN tidak lagi menjadi konstituen indeks.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 19 September 2024, jumlah saham yang memenuhi persyaratan free float berdasarkan ketentuan Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sebesar 15,60 miliar saham atau 11,66% dari total saham BREN.
Jumlah tersebut tidak berubah signifikan dibandingkan dengan persentase free float berdasarkan prospektus penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) yang menyebutkan bahwa jumlah saham free float adalah sebanyak 15,69 miliar saham atau 11,73%.
Ada empat pemegang saham yang menguasai sebanyak 97% saham BREN berdasarkan prospektus IPO. Mereka adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebanyak 64,66%, Green Era Energy Pte. Ltd. (23,60%), Jupiter Tiger Holdings (4,36%) dan Prime Hill Funds (4,36%).
Sampai dengan 19 September 2024, porsi kepemilikan BRPT dan Green Era Energy masih sama, masing-masing 64,66% dan 23,60%. Sedangkan Jupiter Tiger Holdings berubah menjadi 3,94% dan Prime Hill Funds sebanyak 3,76%. Adapun, kepemilikan saham dari Jupiter Tiger dan Prime Hill masuk ke dalam floating shares.
Rekomendasi saham BREN
Founder Indonesia Investment Education Rita Efendy mengatakan, setelah BREN resmi keluar dari Indeks FTSE, pandangan investor cenderung terbagi.
Beberapa investor institusional yang harus mematuhi indeks FTSE mungkin terpaksa melepas saham BREN sebagai bagian dari penyesuaian portofolio. Hal ini bisa menyebabkan tekanan jual jangka pendek. Namun, dalam dua hari perdagangan terakhir, ada investor juga terlihat mengambil sikap wait and see.
“Mereka mungkin memperhatikan perkembangan bisnis yang akan menunjang fundamental perusahaan yang lebih baik sebelum mengambil keputusan lebih lanjut,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Sebagian investor dengan strategi jangka panjang yang yakin pada prospek bisnis BREN, terutama di sektor energi terbarukan, mungkin mereka lebih memilih untuk menambah kepemilikan. Para investor ini memanfaatkan potensi harga yang lebih rendah setelah adanya penjualan oleh institusi.
Ke depannya, jika BREN mampu menunjukkan performa bisnis yang baik, investor bisa kembali tertarik. Namun, untuk saat ini, banyak investor yang cenderung memilih untuk menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum membuat keputusan besar terutama investor institusi.
“Investor jangka pendek banyak yang masih berkeyakinan akan potensi BREN untuk di masukan ke indeks global lain, seperti MSCI yang akan di-review pada November 2024, mereka memilih cicil buy on weakness,” ungkap dia.
Sebagai investor ritel, Rita pun memanfaatkan strategi buy on weaknes di situasi saat ini. Sebab, investor ritel memang tidak terikat banyak aturan layaknya investor institusional.
“Harga yang terkoreksi jauh saya manfaatkan untuk buy on weakness, seperti yang dilakukan hari ini. Saham milik Prajogo Pangestu masih memiliki daya tarik dan peluang cuan yang menarik untuk investor ritel,” tuturnya.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai, FTSE memiliki hak untuk memasukkan dan mengeluarkan saham perusahaan yang dinilai layak untuk menjadi konstituen di dalam indeks mereka. Namun, keputusan FTSE itu dianggap kurang hati-hati, dan hanya mendisrupsi pasar saham Indonesia.
“Investor pun sudah rugi dalam dua hari, yaitu Jumat pekan lalu dan Senin kemarin,” ujar Budi kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Setelah BREN keluar dari Indeks FTSE, Budi melihat, akan ada aksi beli yang lebih besar daripada aksi jual. Kecuali, jika semua investor ikut menjual kepemilikan.
Budi menyarankan, investor untuk memantau bid and offer BREN pada perdagangan esok hari. Jika aksi beli besok lebih dominan, investor bisa membeli BREN. Jika sebaliknya, sebaiknya kepemilikannya bisa dilepas.
“Sulit melawan aksi masuk atau keluar investor besar dengan nilai yang nilainya sangat fantastis ini. Setengah hari perdagangan hari ini saja, transaksi BREN sekitar Rp 2,7 triliun,” tutur dia.
Budi melihat, harga saham BREN memang tidak murah, sehingga daya tarik investor untuk memiliki saham emiten ini lebih didorong faktor lain, seperti adanya liquidity provider dan sosok sang pemilik, yaitu Prajogo Pangestu.
Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina melihat, investor yang memegang saham BREN punya kecenderungan untuk berinvestasi dengan cara trading. Hal ini karena valuasi saham BREN yang dianggap masih mahal, meskipun kinerja perseroan terbilang baik.
“Untuk trading aja, karena memanfaatkan volatilitas pasar. Penurunan harga BREN saat ini juga tengah dimanfaatkan investor yang mencari harga yang lebih baik. Tetapi, memang untuk trading saja. Karena kinerjanya ada (baik), tapi harga mahal,” ujarnya saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (24/9).
Martha pun melihat volatilitas harga BREN kemungkinan tidak akan memberatkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun 2024.
Namun, harus menjadi catatan bahwa kapitalisasi pasar BREN sangat besar dan potensi pengaruhnya ke gerak IHSG sangat tinggi. Per hari ini, kapitalisasi pasar BREN sebesar Rp 966,61 triliun.
“Kalau jadi pemberat juga tidak terlalu. Buktinya, hari ini gerak saham para emiten milik Prajogo Pangestu terpantau ada list penopang hari ini,” tuturnya.
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan accumulative buy untuk BREN dengan target harga Rp 10.725 per saham
Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe melihat, kinerja BREN dilihat menarik oleh para investor akibat fokus bisnis perusahaan yang fokus pada energi baru terbarukan (EBT).
“Apalagi, BREN diketahui akan segera menambah kapasitas pembangkit mereka,” kata Kiswoyo kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Pada 18 September 2024, Star Energy Geothermal, anak perusahaan BREN, secara signifikan akan meningkatkan kapasitas terpasangnya, yang diumumkan melalui dengan pengumuman pemenang tender terpilih di dalam International Geothermal Conference and Exhibition 2024 (IIGCE).
Inisiatif strategis ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Star Energy Geothermal melalui proyek retrofitting dan penambahan kapasitas baru. Inisiatif tersebut terdiri dari penambahan pembangkit baru dan ekspansi, serta peningkatan kapasitas di unit yang sudah ada.
“Meskipun ada nama Prajogo Pangestu di belakangnya, tetapi kinerja BREN sangat prospektif, bahkan dalam jangka waktu yang panjang. Sentimen investor terhadap nama Prajogo hanya sebagai apresiasi pasar terhadap aset milik dia yang premium,” tuturnya.
Kiswoyo pun merekomendasikan beli saham BREN dengan target harga di atas Rp 11.000 per saham di akhir tahun 2024.
BREN Besok Resmi Keluar FTSE, Ini Dampaknya ke Investor
Barito Renewables Energy (BREN) akan keluar dari Indeks FTSE Global Equity Indonesia. [1,165] url asal
#ftse-russell #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #indeks-ftse-russell #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 24/09/24 20:49
v/15498341/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) akan keluar dari Indeks FTSE Global Equity Indonesia kategori large cap Rabu (25/9) besok. Hal ini tentu memberikan dampak yang signifikan terhadap para investor BREN.
FTSE mencoret BREN dari konstituen indeks tersebut dengan alasan adanya konsentrasi pemegang saham yang tinggi alias high shareholder concentration atau terkait dengan jumlah saham yang beredar di pasar reguler (free float). Padahal, BREN baru masuk ke dalam indeks FTSE Global Equity Series-Large Cap pada Senin (23/9) lalu.
Dalam keterangan tertulis FTSE Russel pada Kamis (19/9) lalu, BREN dinilai tidak memenuhi aturan free float restriction alias restriksi batas minimal saham yang dimiliki oleh pemegang saham publik. FTSE pun melihat, ada empat pemegang saham yang mengendalikan 97% dari total saham yang diterbitkan.
Manajemen BREN pun telah buka suara. Direktur & Sekretaris Perusahaan BREN Merly mengungkapkan sejak 23 Agustus hingga 19 September 2024 tidak terjadi perubahan signifikan terhadap kepemilikan floating shares BREN. Adapun, 23 Agustus 2024 merupakan tanggal pengumuman FTSE Global Equity Index Series yang memasukkan BREN ke dalam indeks, sedangkan 19 September 2024 merupakan pengumuman BREN tidak lagi menjadi konstituen indeks.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 19 September 2024, jumlah saham yang memenuhi persyaratan free float berdasarkan ketentuan Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah sebesar 15,60 miliar saham atau 11,66% dari total saham BREN.
Jumlah tersebut tidak berubah signifikan dibandingkan dengan persentase free float berdasarkan prospektus penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) yang menyebutkan bahwa jumlah saham free float adalah sebanyak 15,69 miliar saham atau 11,73%.
Ada empat pemegang saham yang menguasai sebanyak 97% saham BREN berdasarkan prospektus IPO. Mereka adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebanyak 64,66%, Green Era Energy Pte. Ltd. (23,60%), Jupiter Tiger Holdings (4,36%) dan Prime Hill Funds (4,36%).
Sampai dengan 19 September 2024, porsi kepemilikan BRPT dan Green Era Energy masih sama, masing-masing 64,66% dan 23,60%. Sedangkan Jupiter Tiger Holdings berubah menjadi 3,94% dan Prime Hill Funds sebanyak 3,76%. Adapun, kepemilikan saham dari Jupiter Tiger dan Prime Hill masuk ke dalam floating shares.
Melansir RTI, harga saham BREN pada hari Jumat (20/9) turun 19,95% dan pada Senin (23/9) turun 19,83%. Saham BREN baru kembali naik 2,12% ke level 7.225 per saham pada perdagangan hari ini (24/9).
Founder Indonesia Investment Education Rita Efendy mengatakan, setelah BREN resmi keluar dari Indeks FTSE, pandangan investor cenderung terbagi.
Beberapa investor institusional yang harus mematuhi indeks FTSE mungkin terpaksa melepas saham BREN sebagai bagian dari penyesuaian portofolio. Hal ini bisa menyebabkan tekanan jual jangka pendek. Namun, dalam dua hari perdagangan terakhir, ada investor juga terlihat mengambil sikap wait and see.
“Mereka mungkin memperhatikan perkembangan bisnis yang akan menunjang fundamental perusahaan yang lebih baik sebelum mengambil keputusan lebih lanjut,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Sebagian investor dengan strategi jangka panjang yang yakin pada prospek bisnis BREN, terutama di sektor energi terbarukan, mungkin mereka lebih memilih untuk menambah kepemilikan. Para investor ini memanfaatkan potensi harga yang lebih rendah setelah adanya penjualan oleh institusi.
Ke depannya, jika BREN mampu menunjukkan performa bisnis yang baik, investor bisa kembali tertarik. Namun, untuk saat ini, banyak investor yang cenderung memilih untuk menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum membuat keputusan besar terutama investor institusi.
“Investor jangka pendek banyak yang masih berkeyakinan akan potensi BREN untuk di masukan ke indeks global lain, seperti MSCI yang akan di-review pada November 2024, mereka memilih cicil buy on weakness,” ungkap dia.
Sebagai investor ritel, Rita pun memanfaatkan strategi buy on weaknes di situasi saat ini. Sebab, investor ritel memang tidak terikat banyak aturan layaknya investor institusional.
“Harga yang terkoreksi jauh saya manfaatkan untuk buy on weakness, seperti yang dilakukan hari ini. Saham milik Prajogo Pangestu masih memiliki daya tarik dan peluang cuan yang menarik untuk investor ritel,” tuturnya.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai, FTSE memiliki hak untuk memasukkan dan mengeluarkan saham perusahaan yang dinilai layak untuk menjadi konstituen di dalam indeks mereka. Namun, keputusan FTSE itu dianggap kurang hati-hati, dan hanya mendisrupsi pasar saham Indonesia.
“Investor pun sudah rugi dalam dua hari, yaitu Jumat pekan lalu dan Senin kemarin,” ujar Budi kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Setelah BREN keluar dari Indeks FTSE, Budi melihat, akan ada aksi beli yang lebih besar daripada aksi jual. Kecuali, jika semua investor ikut menjual kepemilikan.
Budi menyarankan, investor untuk memantau bid and offer BREN pada perdagangan esok hari. Jika aksi beli besok lebih dominan, investor bisa membeli BREN. Jika sebaliknya, sebaiknya kepemilikannya bisa dilepas.
“Sulit melawan aksi masuk atau keluar investor besar dengan nilai yang nilainya sangat fantastis ini. Setengah hari perdagangan hari ini saja, transaksi BREN sekitar Rp 2,7 triliun,” tutur dia.
Budi melihat, harga saham BREN memang tidak murah, sehingga daya tarik investor untuk memiliki saham emiten ini lebih didorong faktor lain, seperti adanya liquidity provider dan sosok sang pemilik, yaitu Prajogo Pangestu.
Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina melihat, investor yang memegang saham BREN punya kecenderungan untuk berinvestasi dengan cara trading. Hal ini karena valuasi saham BREN yang dianggap masih mahal, meskipun kinerja perseroan terbilang baik.
“Untuk trading aja, karena memanfaatkan volatilitas pasar. Penurunan harga BREN saat ini juga tengah dimanfaatkan investor yang mencari harga yang lebih baik. Tetapi, memang untuk trading saja. Karena kinerjanya ada (baik), tapi harga mahal,” ujarnya saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (24/9).
Martha pun melihat volatilitas harga BREN kemungkinan tidak akan memberatkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun 2024.
Namun, harus menjadi catatan bahwa kapitalisasi pasar BREN sangat besar dan potensi pengaruhnya ke gerak IHSG sangat tinggi. Per hari ini, kapitalisasi pasar BREN sebesar Rp 966,61 triliun.
“Kalau jadi pemberat juga tidak terlalu. Buktinya, hari ini gerak saham para emiten milik Prajogo Pangestu terpantau ada list penopang hari ini,” tuturnya.
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan accumulative buy untuk BREN dengan target harga Rp 10.725 per saham
Head of Investment Nawasena Abhipraya Investama Kiswoyo Adi Joe melihat, kinerja BREN dilihat menarik oleh para investor akibat fokus bisnis perusahaan yang fokus pada energi baru terbarukan (EBT).
“Apalagi, BREN diketahui akan segera menambah kapasitas pembangkit mereka,” kata Kiswoyo kepada Kontan.co.id, Selasa (24/9).
Pada 18 September 2024, Star Energy Geothermal, anak perusahaan BREN, secara signifikan akan meningkatkan kapasitas terpasangnya, yang diumumkan melalui dengan pengumuman pemenang tender terpilih di dalam International Geothermal Conference and Exhibition 2024 (IIGCE).
Inisiatif strategis ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Star Energy Geothermal melalui proyek retrofitting dan penambahan kapasitas baru. Inisiatif tersebut terdiri dari penambahan pembangkit baru dan ekspansi, serta peningkatan kapasitas di unit yang sudah ada.
“Meskipun ada nama Prajogo Pangestu di belakangnya, tetapi kinerja BREN sangat prospektif, bahkan dalam jangka waktu yang panjang. Sentimen investor terhadap nama Prajogo hanya sebagai apresiasi pasar terhadap aset milik dia yang premium,” tuturnya.
Kiswoyo pun merekomendasikan beli untuk BREN dengan target harga di atas Rp 11.000 per saham di akhir tahun 2024.
BREN Ambles Lagi, Ini Batasan Harga untukn Masuk Ke Saham Milik Orang Terkaya RI
Analis menilai level harga Rp 5.500 bisa menjadi support kuat untuk saham BREN [1,137] url asal
#prajogo-pangestu #pt-barito-renewables-energy-tbk-bren #bren #1-ftse-russell-2-barito-renewables-energy-3-prajogo-pangestu-4-auto-rejection-bawah-5-budi-fren #berita-nasional #indonesia #pemeri
(Kontan-Investasi) 24/09/24 07:46
v/15472947/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan pada saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) belum mereda. Analis rekomendasi investor memanfaatkan momentum penurunan harga tersebut untuk masuk ke saham milik orang terkaya Indonesia, Prajogo Pangestu. Namun, untuk masuk ke saham BREN, perhatikan batasan harga yang tepat.
BREN adalah perusahaan milik orang terkaya Indonesia, Prajogo Pangestu. Diperkirakan, jumlah harta kekayaan Prajogo Pangestu mencapai US$ 62 ,3 miliar.
Harga saham BREN kembali terjun dan menyentuh level Auto Rejection Bawah (ARB) dalam dua perdagangan beruntun. BREN mengawali pekan ini dengan penurunan sedalam 19,83% ke level harga Rp 7.075 per saham pada Senin (23/9). Saham BREN melanjutkan pelemahan 19,95% yang terjadi pada akhir pekan lalu, Jumat (20/9).
Saham BREN terseret keputusan Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell yang mencoretnya dari daftar Indeks FTSE Global Equity Indonesia kategori large cap. Dengan alasan adanya konsentrasi pemegang saham yang tinggi alias high shareholder concentration atau terkait dengan jumlah saham yang beredar di pasar reguler (free float).
Manajemen BREN pun telah buka suara. Direktur & Sekretaris Perusahaan BREN Merly mengungkapkan sejak 23 Agustus hingga 19 September 2024 tidak terjadi perubahan signifikan terhadap kepemilikan floating shares BREN. Adapun, 23 Agustus 2024 merupakan tanggal pengumuman FTSE Global Equity Index Series yang memasukkan BREN ke dalam indeks, sedangkan 19 September 2024 merupakan pengumuman BREN tidak lagi menjadi konstituen indeks.
Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 19 September 2024, jumlah saham yang memenuhi persyaratan free float berdasarkan ketentuan Bursa Efek Indonesia adalah sebesar 15,60 miliar saham atau 11,66% dari total saham BREN.
Jumlah tersebut tidak berubah signifikan dibandingkan dengan persentase free float berdasarkan prospektus penawaran umum perdana saham alias Initial Public Offering (IPO) yang menyebutkan bahwa jumlah saham free float adalah sebanyak 15,69 miliar saham atau 11,73%.
Ada empat pemegang saham yang menguasai sebanyak 97% saham BREN berdasarkan prospektus IPO. Mereka adalah PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebanyak 64,66%, Green Era Energy Pte. Ltd. (23,60%), Jupiter Tiger Holdings (4,36%) dan Prime Hill Funds (4,36%).
Sampai dengan 19 September 2024, porsi kepemilikan BRPT dan Green Era Energy masih sama, masing-masing 64,66% dan 23,60%. Sedangkan Jupiter Tiger Holdings berubah menjadi 3,94% dan Prime Hill Funds sebanyak 3,76%. Adapun, kepemilikan saham dari Jupiter Tiger dan Prime Hill masuk ke dalam floating shares.
Di tengah sentimen pencoretan saham BREN dari indeks FTSE, Merly menegaskan emiten energi terbarukan dari Grup Barito ini akan tetap fokus menjalankan pengembangan usaha dan merealisasikan strategi bisnisnya. "Kami tetap optimis mengenai kontribusi yang dapat diberikan oleh BREN di pasar modal maupun di industri," kata Merly kepada Kontan.co.id, Senin (23/9).
Merly melanjutkan, BREN merupakan salah satu dari sedikit perusahaan terbuka yang sepenuhnya berfokus pada energi terbarukan. Aksi terbaru, divisi panas bumi BREN telah bermitra dengan beberapa pemain kunci terpilih untuk meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit listrik panas bumi.
Strategi yang dilakukan adalah membangun pembangkit panas bumi baru dan merevitalisasi yang sudah ada untuk efisiensi yang lebih besar. "Kami percaya komitmen BREN untuk mendukung pencapaian emisi nol-bersih sangat penting untuk mendorong masa depan yang berkelanjutan dan menetapkan tolok ukur global dalam pengembangan energi terbarukan," ungkap Merly.
Catatan & Rekomendasi Analis
Founder Stocknow.id Hendra Wardana menyoroti keluarnya BREN dari indeks Large Cap FTSE telah menimbulkan tekanan jual yang cukup besar, sehingga menggerus harga sahamnya. Secara historis, harga saham BREN sempat terjun sangat dalam hingga ke level Rp 5.500 saat terperosok ke papan pemantauan khusus yang diperdagangkan dengan skema Full Call Auction (FCA).
Kala itu, Prajogo Pengestu selaku taipan pengendali Grup Barito mengambil langkah strategis dengan melakukan akumulasi saham. Langkah ini ikut kembali mendorong pemulihan saham BREN secara signifikan.
Dus, Hendra melihat di tengah sentimen dan ketidakpastian yang masih menekan saham BREN, pelaku pasar bisa mencermati level harga Rp 5.500 sebagai support krusial.
"Level ini bisa menjadi area support yang kuat bagi BREN, didukung oleh prospek jangka panjang perusahaan di sektor energi terbarukan," kata Hendra kepada Kontan.co.id, Senin (23/9).
Jika masih bertahan pada level support tersebut, ada kemungkinan BREN akan kembali rebound. Namun, Hendra menekankan agar pelaku pasar tetap waspada. Sebab, strategi buy on weakness tetap harus didasari oleh analis yang mendalam terhadap sentimen pasar dan pergerakan saham BREN saat itu.
"Jika terjadi akumulasi dari investor besar seperti yang pernah dilakukan oleh Prajogo Pangestu, ini bisa menjadi sinyal positif bahwa potensi rebound dalam jangka menengah hingga panjang. Sebaliknya, jika sentimen negatif berlanjut dan tekanan jual semakin kuat, sebaiknya menunggu sinyal konfirmasi sebelum masuk kembali," terang Hendra.
Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus melihat pelemahan signifikan pada saham BREN berpotensi hanya terjadi sementara. Dia memperkirakan tekanan jual sudah bisa reda pada pekan ini, sehingga pelaku pasar bisa menunggu terlebih dulu hingga BREN tidak lagi ARB.
Daniel punya hitungan serupa, dimana level harga Rp 5.500 bisa menjadi support kuat. Pelaku pasar bisa melakukan strategi buy on weakness dengan memanfaatkan potensi technical rebound untuk trading jangka pendek.
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto sepakat, ada peluang buy on weakness pada saham BREN. Hanya saja, untuk saat ini dia merekomendasikan untuk wait and see terlebih dulu hingga ada kejelasan mengenai perkembangan indeks FTSE dan menunggu respons negatif pasar mereda.
Di sisi yang lain, William menyoroti penurunan signifikan pada saham BREN tidak mengubah tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih melaju. Memang, dengan posisinya sebagai top big caps, saham BREN punya bobot yang besar bagi IHSG.
Dengan begitu, ARB pada saham BREN akan ikut menyeret turun IHSG. Namun, dengan dorongan dari saham big caps lain, IHSG masih bisa melaju. Seperti yang terjadi pada Senin (23/9) saat IHSG mampu menguat 0,42% ke posisi 7.775,73 meski BREN mengalami ARB.
Dus, investor tidak perlu terlalu khawatir karena kondisi pasar saham secara umum masih cukup baik. "BREN memang menjadi masalah dengan bobotnya terhadap IHSG. Namun (penurunan BREN) dilawan oleh saham-saham big caps lain, ini karena kondisi market yang baik-baik saja," terang William.
Lagi pula, penurunan tajam BREN mulai tidak menyeret turun saham-saham milik Prajogo Pangestu lainnya. Harga saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Petrosea Tbk (PTRO) kompak menanjak pada Senin (23/9).
Secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat support terdekat BREN saat ini berada di level harga Rp 6.650 dengan resisitance pada Rp 7.300. Herditya menyarankan untuk wait and see terlebih dulu, menimbang posisi saham yang masih berada di fase downtrend.
Sementara untuk saham konglomerasi Prajogo Pangestu lainnya, Herditya merekomendasikan trading buy untuk saham BRPT, CUAN dan PTRO. Kemudian speculative buy pada saham TPIA.