REPUBLIKA.CO.ID, Tafsir dari Surat Saba' Ayat 39 menjelaskan bahwa mendapatkan banyak rezeki bukan tanda disayang oleh Allah SWT. Sebaliknya, jika ada orang yang mendapatkan rezeki yang terbatas, bukan berarti ia dibenci oleh Allah SWT.
Qul inna rabbī yabsuṭur-rizqa limay yasyā'u min ‘ibādihī wa yaqdiru lah(ū), wa mā anfaqtum min syai'in fahuwa yukhlifuh(ū), wa huwa khairur-rāziqīn(a).
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.” Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki. (QS Saba' Ayat 39)
Dalam ayat ini, menurut Tafsir Kementerian Agama ditegaskan bahwa Allah yang melapangkan rezeki dan membatasinya. Berbeda dengan ayat 36, dalam ayat 39 ini ditegaskan bahwa yang dilapangkan rezekinya atau dibatasi-Nya adalah rezeki hamba-hamba-Nya. Berarti seorang hamba Allah akan menerima ketentuan rezekinya, apakah dilapangkan atau dibatasi oleh Allah.
Dengan demikian, ayat ini membantah bahwa kelapangan rezeki itu adalah tanda Allah sayang, dan keterbatasan atas rezeki bukan menandakan Allah benci.
Seorang hamba Allah akan sabar bila rezekinya terbatas. Apabila rezekinya berlebih akan memperhatikan orang lain yang kekurangan. Ia tidak akan termasuk pendusta agama atau hari kemudian, sebagaimana dinyatakan ayat berikut.
"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin." (QS al-Ma‘un: 1-3)
Membantu orang lain, berdasarkan ayat ini, justru akan mengekalkan kekayaan itu, bukan menghabiskannya. Membantu orang lain tidak akan membuat kita miskin, bahkan sebaliknya karena bantuan itu berarti memberdayakan orang banyak. Keberdayaan orang banyak akan membuahkan kemakmuran, sebaliknya eksploitasi masyarakat akan membuat masyarakat itu melarat.
Rasulullah SAW menginformasikan bahwa orang yang membantu orang lain didoakan oleh malaikat agar bertambah rezekinya, dan orang yang kikir didoakan oleh malaikat kehilangan harta bendanya.
Pada setiap pagi ada dua malaikat yang turun kepada hamba Allah, yang satu berdoa, “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak.” Dan yang satu lagi berdoa juga, “Ya Allah, musnahkanlah harta orang yang tidak mau berinfak.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
REPUBLIKA.CO.ID, Allah SWT sudah menjamin rezeki bagi setiap makhluk ciptaan-Nya. Pepohonan, semut, burung hingga manusia sudah mendapatkan takaran rezekinya masing-masing. Bagi manusia, Allah melapangkan rezeki kepada tiga golongan.
1. Orang yang tekun bekerja dan berusaha
Orang yang tekun bekerja dan berusaha, Allah karuniakan padanya rezeki yang lapang. Mereka mencari sumber-sumber rezeki yang Allah tebarkan di muka bumi.
Dalam Surat Al Jumuah ayat 10, Allah SWT berfirman:
Yang artinya, "Apabila sholat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."
Yang artinya, "Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi(-nya). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang beriman."
3. Orang yang rajin bersedekah, Allah berkahi dan lapangkan rezeki
Sedekah menjadi salah satu alasan diturunkannya rezeki berkah yang berlimpah bagi umat Islam dari Allah SWT.
Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Saba ayat 39:
"Qul inna robbi yabsuthu arrizqa liman yasyaa-u min ibadihi wa yaqdiru lahu wa maa anfaqtum min syai'in fahuwa yukhlifuju wa huwa khairurraziqin."
Yang artinya, "Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik." (QS Saba' ayat 39).
REPUBLIKA.CO.ID, Allah SWT menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Kemurahan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya hendak dipahami oleh setiap Muslim. Allah Ta'ala mengatur segala aspek kehidupan, termasuk rezeki, sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang sempurna.
Meskipun manusia memiliki tanggung jawab untuk bekerja dan berusaha, namun pada akhirnya rezeki datang atas kehendak dan kebaikan Allah SWT. Dalam Alquran, Allah SWT mengingatkan manusia untuk bersyukur atas rezeki yang diberikan-Nya serta menjalankan kewajiban berbagi kepada sesama sebagai tanda terima kasih atas nikmat yang telah diberikan.
Dalam Surat Hud ayat 6, Allah SWT berfirman, "Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)."
Riwayat hadits juga menjelaskan soal kepastian rezeki bagi setiap hamba. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Umamah Al Bahili, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Sungguh ruh qudus (Jibril) telah membisikkan ke dalam batinku bahwa setiap jiwa tidak akan mati sampai telah sempurna rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah cara menjemput rezeki. Jangan sampai tertundanya rezeki mendorong kalian untuk mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Karena rezeki di sisi Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan taat kepada-Nya." (HR. Abu Nu'aim, tercantum dalam Shahih Al Jami')
Meski rezeki manusia sudah pasti terjamin, ada beberapa hal yang dinilai bisa mencegah atau mempersempit turunnya rezeki kepada seorang hamba. Alquran dan hadits telah memberi pesan terkait perbuatan yang bisa mencegah rezeki turun. Berikut penjelasannya.
1. Tidak Berdoa dengan Sungguh-sungguh
Suatu hari Nabi Muhammad SAW memasuki masjid dan menemukan Abu Umamah sendirian dan tampak cemas dan tertekan. Dia mengatakan kepada Rasul, "Kecemasan dan utang membebani aku." Lalu Nabi SAW mengajarkan kepadanya tentang doa agar dijauhkan berbagai hal yang buruk.
Nabi SAW memintanya untuk mengucapkan doa berikut ini di saat mau tidur dan selepas bangun tidur:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kecemasan dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan dari ketakutan dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari penindasan." (HR. Abu Daud)
2. Memutus Ikatan Silaturahim
Putusnya ikatan silaturahim, dalam hal ini ikatan kekerabatan keluarga, juga menjadi salah satu penyebab yang mencegah rezeki turun. Seperti sulit mencari nafkah dan sulit dalam berwirausaha. Karena itu, faktor ini perlu direnungi oleh setiap Muslim yang sedang dirundung kesulitan.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Siapa yang ingin dilapangkan pintu rizeki untuknya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung tali silaturrahim." (HR. Bukhari)
3. Kikir
Ketika seorang Muslim selalu gelisah dalam hidup, maka tidak menutup kemungkinan ini karena dia bersikap kikir atas apa yang dimilikinya. Padahal Alquran telah mengabadikan janji Allah SWT bagi para hamba yang menafkahkan hartanya di jalan kebaikan.
Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Saba' ayat 39)
4. Malas
Tawakal kepada Allah SWT bukan berarti malas berusaha. Seorang Muslim tidak bisa mendapatkan rezeki dengan sikap malas dan enggan berusaha. Siapa yang berusaha maka ia akan mendapatkannya. Siapa yang menabur maka ia akan menuainya.
"Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (QS. Al Mulk ayat 15)
Ulama Yusuf Al Qaradhawi menjelaskan, siapa yang berjalan di bumi dengan penuh kerendahan hati maka ia memperoleh rezeki dari apa yang telah Allah berikan kepadanya. Adapun siapa yang lalai atau malas maka dia sepantasnya tidak mendapatkan rezeki, kecuali ia mengambil hak orang lain. Karena itu, Islam menyerukan untuk berjuang dan bekerja, dan memberi peringatan terhadap sikap malas dan menganggur.
5. Beribadah Tanpa Keikhlasan
Mungkin ada sebagian Muslim yang tampak selalu beribadah tapi menyertakan hatinya. Menghadirkan qolbu dalam setiap ibadah termasuk kunci mendatangkan kemudahan. Rezeki terhalang datang ketika seorang Muslim tidak menghadirkan hati pada setiap amal ibadah yang dilakukan.
Dalam riwayat Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Allah berfirman, 'Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi dadamu dengan kekayaan (batin). Aku akan hilangkan kemiskinanmu. Jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan masuki hatimu dengan kesibukan dan Aku tidak akan menghilangkan kemiskinanmu.'" (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)