#30 tag 24jam
Anjani dan Tangan-Tangan Mungil yang Menjelajah hingga ke Moscow
Pesta demokrasi jadi masa sulit bagi Anjani. Ikon kepala banteng dihindari pembeli, identitas parpol tertentu. Beruntung ada Moscow Cs jadi alternatif pasar. [933] url asal
#anjani #anjani-sekar-arum #batik-bantengan #omah-batik-cilik #satu-indonesia #astra-group #moscow #batu #jawa-timur
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 07/10/24 23:27
v/16149439/
Bisnis.com, JAKARTA – Usianya baru beranjak 17 tahun, saat menggagas ide untuk membuat produk unggulan di kotanya. Tidak seperti gadis belia seusianya, yang banyak menghabiskan waktu untuk belajar dan bermain dengan teman sebaya, dia memilih berjibaku dengan karya.
Adalah Anjani Sekar Arum. Pada 2008, saat masih SMA, dia memiliki pemikiran untuk membuat identitas produk unggulan di Kota Batu, Jawa Timur. Kebetulan pemerintah kota membuat sayembara untuk membuat produk unggulan di daerah tersebut.
Waktu itu, banyak orang menduga Batu adalah bagian dari Malang. Padahal, pada 2001 telah terjadi pemekaran. Kota dingin ini hanya dikenal sebagai penghasil buah dan bunga. Anjani pun berfikir keras untuk membuat identitas bagi kota Batu.
Dia kepikiran untuk membuat batik. Namun, untuk batik corak bunga dan buah sudah banyak di Indonesia. Kemudian dia membuat riset budaya. Riset tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga akhirnya pada 2013 ide batik bermotif Bantengan tercetus.
Bantengan merupakan kesenian masyarakat di lereng Gunung Arjuno, sebelah utara Kota Batu berbatasan dengan Pasuruan dan Mojokerto. Kepala banteng digunakan untuk seni tari masyarakat daerah tersebut.
Kesenian itu menjadi inspirasi Anjani dan koleganya untuk membuat batik bermotif Bantengan. Ide Anjani tersebut lolos, menyisihkan lebih dari 1.000 karya yang diajukan oleh masyarakat Batu pada saat itu.
Bahkan, pada saat peluncuran batik Bantengan pada 2014 sempat mencatatkan Museum Rekor Indonesia (MURI). Pasalnya, melibatkan kesenian Bantengan lebih dari 1.600 desa dan kelurahan di Kota Batu.
Berbekal dari keluarga seniman, Anjani menularkan ide-ide batik Bantengan ke masyarakat melalui komunitasnya. Namun, ternyata tidak mudah mendorong masyarakat membuat batik. Apalagi kultur utamanya sebagai petani.
Semula antusiasme masyarakat tinggi, saat peluncuran batik Bantengan. Kemudian dilakukan pelatihan. Akan tetapi, tidak banyak yang menekuni pengrajin batik usai pelatihan.
“Kami buat semacam pelatihan gratis, susahnya minta ampun, dari 25 orang yang dilatih yang nyantol hanya 2 orang, dan itu pun tidak bertahan lama. Ini rata-rata mantan petani, kerjanya tau sendiri seperti apa,” kata Anjani saat diwawancara Bisnis, beberapa waktu lalu.

Ilustrasi pembatik dari galery Andana dengan karya batik Bantengan khas kesenian masyarakat Batu, Jawa Timur./Andana
Dia sempat mendatangkan pembatik dari luar daerah. Namun, masih kekurangan tenaga kerja. Akhirnya, dia memberdayakan anak-anak SMP dan SD untuk membatik. Ide tersebut muncul pada 2015 saat dia bertemu dengan Aliya, gadis berusia 9 tahun yang tertarik membatik.
Program tersebut masuk kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Pada 2018 didukung oleh Dinas Pendidikan Kota Batu dengan membagikan alat batik ke sekolah-sekolah. Kontribusi tiap siswa terhadap produksi batik Bantengan tidak banyak.
Paling tidak satu siswa yang ikut kegiatan itu dapat memproduksi satu kain batik tulis dalam setahun. Batik karya siswa ada yang dijual ke komunitas maupun di luar komunitas. Ada juga yang diikutkan pameran dalam menjualnya.
Selain di sekolah, Anjani pun melakukan pelatihan di sanggarnya, Andana. Saat ini ada sekitar 200 anak yang terlibat dalam komunitas batik tulis di Batu.
Mendapatkan Penghargaan Satu Indonesia
Omah Batik Cilik, begitu biasa disebut, mendapatkan penghargaan SATU Indonesia Awards pada 2017. Program besutan Astra Group ini sebuah penghargaan terhadap anak muda yang ikut berkontribusi mensejahterakan dan memajukan masyarakat sekitarnya.
Ruang lingkup penghargaan mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, teknologi serta satu kategori lain, yaitu kelompok yang mewakili lima bidang tersebut. Program ini sudah berjalan tahun ke-15.
Anjani mendapatkan penghargaan ini karena program kewirausahaan yang berkontribusi mensejahterakan dan memajukan masyarakat sekitar. Bahkan, mahasiswa jebolan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, itu telah menularkan metode pemberdayaannya ke Yogyakarta.
Komunitas Pembatik Cilik Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta, dibina sejak Oktober 2021. Anjani sempat tinggal di kota tersebut selama 2 tahun. Komunitas ini mengalami perkembangan pesat. Kini melibatkan lebih dari 150 siswa dari berbagai jenjang pendidikan.
Pada tahun ini, Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Astra-Michael D. Ruslim (YPA-MDR), Gunawan Salim meresmikan komunitas itu. Komunitas itu selain dengan YPA-MDR didukung langsung oleh Asuransi Astra Syariah.
Menurut Abdullah Kholifah, Unit Manager Environment & Social Responsibility Asuransi Astra, pengetahuan dan keterampilan yang baik merupakan modal utama bagi generasi muda untuk meraih kesuksesan di masa depan.
“Kehadiran Omah Pembatik Cilik diharapkan dapat memberikan bekal yang memadai bagi anak-anak dan pelajar untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan mereka, serta melestarikan kekayaan budaya Indonesia,” ujarnya kepada Bisnis.

Anjani Sekar Arum saat memberikan pelatihan pada siswa mengenai bagaimana membuat batik tulis Bantengan./Astra
Batik Bantengan Menembus Moscow
Batik karya Omah Pembatik Cilik ini harganya beragam. Mulai dari Rp600.000 hingga Rp4,8 juta per kain. Tidak semua batik hasil karya anak ini masuk ke galeri milik Anjani. Bahkan, banyak yang dijual sendiri.
“Mereka konsul, dari harga kualitas dan cacat, misal ‘dikasih harga sekian mahal enggak?’ Ada yang masuk [galeri], ada yang mereka menentukan harga masing-masing. Sekarang full kegiatan dalam rangka peringati batik mereka [jual] keluar semua,” kata Anjani.
Anjani menegaskan penghasilan dari karya mereka tidak masuk ke kantong pribadi atau komunitas. Namun, dimasukan dalam bentuk tabungan pendidikan kepada anak yang bersangkutan. “Biar tidak ada eksploitasi anak.”
Dari pembinaan tersebut, turut berdampak kepada galeri milik Anjani. Setelah ada pelatihan dan pembinaan ada yang bekerja di Andana. Saat ini jumlah karyawannya mencapai 49 orang. Mulai dari pecanting, pewarna, hingga pembuat produk turunan batik.
Berbeda dengan batik hasil karya siswa pelajar. Anjani bisa membanderol batik tulis Bantengan besutan Andana hingga Rp15 juta per helai. “Kalau batik cap sekitar Rp200.000, batik tulis dari mulai dari Rp500.000-Rp15 juta.”
Pesta demokrasi justru menjadi masa sulit bagi Anjani. Ikon kepala banteng pada batiknya cenderung dihindari pembeli, karena dinilai identitas partai politik tertentu. Dari biasanya mampu menjual 60 batik per bulan, kini hanya tinggal 40%-50% saja.
Namun, masih ada harapan. Pasalnya, batik tulis karya Anjani mampu menembus pasar mancanegara. Mulai dari Malaysia, Singapura, Jepang, Australia, Hong Kong hingga Moscow.

Pembatik mewarnai batik tulis dengan diberikan arahan oleh Anjani./Astra
Anjani dan Tangan-Tangan Munggil yang Menjelajah hingga ke Moscow
Pesta demokrasi jadi masa sulit bagi Anjani. Ikon kepala banteng dihindari pembeli, identitas parpol tertentu. Beruntung ada Moscow Cs jadi alternatif pasar. [898] url asal
#anjani #anjani-sekar-arum #batik-bantengan #omah-batik-cilik #satu-indonesia #astra-group #moscow #batu #jawa-timur
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 07/10/24 23:27
v/16126034/
Bisnis.com, JAKARTA – Usianya baru beranjak 17 tahun, saat menggagas ide untuk membuat produk unggulan di kotanya. Tidak seperti gadis belia seusianya, yang banyak menghabiskan waktu untuk bermain dengan teman sebaya, selain tugas utama menempuh pendidikan.
Adalah Anjani Sekar Arum. Pada 2008, saat masih SMA, dia memiliki pemikiran untuk membuat identitas produk unggulan di Kota Batu, Jawa Timur. Kebetulan pemerintah kota membuat sayembara untuk membuat produk unggulan di daerah tersebut.
Waktu itu, banyak orang menduga Batu adalah bagian dari Malang. Padahal, pada 2001 telah terjadi pemekaran. Kota dingin ini hanya dikenal sebagai penghasil buah dan bunga. Anjani pun berfikir keras untuk membuat identitas bagi kota Batu.
Dia kepikiran untuk membuat batik. Namun, untuk batik corak bunga dan buah sudah banyak di Indonesia. Kemudian dia membuat riset budaya. Riset tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga akhirnya pada 2013 ide batik bermotif Bantengan tercetus.
Bantengan merupakan kesenian masyarakat di lereng Gunung Arjuno, sebelah utara Kota Batu berbatasan dengan Pasuruan dan Mojokerto. Kepala banteng digunakan untuk seni tari masyarakat daerah tersebut.
Kesenian itu menjadi inspirasi Anjani dan koleganya untuk membuat batik bermotif Bantengan. Ide Anjani tersebut lolos, menyisihkan lebih dari 1.000 karya yang diajukan oleh masyarakat Batu pada saat itu.
Bahkan, pada saat peluncuran batik Bantengan pada 2014 sempat mencatatkan Museum Rekor Indonesia (MURI). Pasalnya, melibatkan kesenian Bantengan lebih dari 1.600 desa dan kelurahan di Kota Batu.
Berbekal dari keluarga seniman, Anjani menularkan ide-ide batik Bantengan ke masyarakat melalui komunitasnya. Namun, ternyata tidak mudah mendorong masyarakat membuat batik. Apalagi kultur utamanya sebagai petani.
Semula antusiasme masyarakat tinggi saat dilakukan peluncuran batik Bantengan. Kemudian dilakukan pelatihan. Akan tetapi, tidak banyak yang menekuti sebagai pengrajin batik setelah pelatihan.
“Kami buat semacam pelatihan gratis, susahnya minta ampun, dari 25 orang yang dilatih yang nyantol hanya 2 orang, dan itu pun tidak bertahan lama. Ini rata-rata mantan petani, kerjanya tau sendiri seperti apa,” kata Anjani saat diwawancara Bisnis, beberapa waktu lalu.

Ilustrasi pembatik dari galery Andana dengan karya batik Bantengan./Andana
Dia sempat mendatangkan pembatik dari luar daerah. Namun, masih kekurangan tenaga kerja. Akhirnya, dia memberdayakan anak-anak SMP dan SD untuk membatik. Ide tersebut muncul pada 2015 saat dia bertemu dengan Aliya, gadis berusia 9 tahun yang tertarik membatik.
Program tersebut berupa kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Pada 2018 didukung oleh Dinas Pendidikan Kota Batu dengan membagikan alat batik ke sekolah-sekolah. Kontribusi tiap siswa terhadap produksi batik Bantengan tidak banyak.
Paling tidak satu siswa yang ikut kegiatan itu dapat memproduksi satu kain batik tulis dalam setahun. Batik karya siswa itu ada yang dijual ke komunitas maupun di luar komunitas. Ada juga yang diikutkan pameran.
Selain di sekolah, Anjani pun melakukan pelatihan di sanggarnya, Andana. Saat ini ada sekitar 200 anak yang terlibat dalam komunitas batik tulis itu.
Mendapatkan Penghargaan Satu Indonesia
Omah Batik Cilik, begitu biasa disebut, mendapatkan penghargaan SATU Indonesia Awards pada 2017. Program besutan Astra Group ini sebuah penghargaan terhadap anak muda yang ikut berkontribusi mensejahterakan dan memajukan masyarakat sekitarnya.
Ruang lingkup penghargaan mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, teknologi serta satu kategori lain, yaitu kelompok yang mewakili lima bidang tersebut. Program ini sudah berjalan tahun ke-15.
Anjani mendapatkan penghargaan ini karena program kewirausahaan yang berkontribusi mensejahterakan dan memajukan masyarakat sekitar. Bahkan, mahasiswa jebolan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, itu telah menularkan ilmunya metode pemberdayaannya ke Yogyakarta.
Komunitas Pembatik Cilik Gedangsari, Gunungkidul, Yogyakarta, dibina sejak Oktober 2021. Anjani sempat tinggal di kota tersebut selama 2 tahun. Kini mengalami perkembangan pesat, dan melibatkan lebih dari 150 siswa dari berbagai jenjang pendidikan.
Pada tahun ini, Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan Astra-Michael D. Ruslim (YPA-MDR), Gunawan Salim meresmikan komunitas itu. Komunitas itu selain dengan YPA-MDR disupport langsung oleh Asuransi Astra Syariah.
Menurut Abdullah Kholifah, Unit Manager Environment & Social Responsibility Asuransi Astra, pengetahuan dan keterampilan yang baik merupakan modal utama bagi generasi muda untuk meraih kesuksesan di masa depan.
“Kehadiran Omah Pembatik Cilik diharapkan dapat memberikan bekal yang memadai bagi anak-anak dan pelajar untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan mereka, serta melestarikan kekayaan budaya Indonesia,” ujarnya kepada Bisnis.

Batik Bantengan Menembus Moscow
Batik karya Omah Pembatik Cilik ini harganya beragam. Mulai dari Rp600.000 hingga Rp4,8 juta per kain. Tidak semua batik hasil karya anak ini masuk ke galeri milik Anjani. Bahkan, banyak yang dijual sendiri.
“Mereka konsul, dari harga kualitas dan cacat, misal ‘dikasih harga sekian mahal enggak?’ Ada yang masuk [galeri], ada yang mereka menentukan harga masing-masing. Sekarang full kegiatan dalam rangka peringati batik mereka [jual] keluar semua,” kata Anjani.
Anjani menegaskan penghasilan dari karya mereka tidak masuk ke kantong pribadi atau komunitas. Namun, dimasukan dalam bentuk tabungan pendidikan. “Biar tidak ada eksploitasi anak.”
Dari pembinaan tersebut, turut berdampak kepada galeri milik Anjani. Setelah ada pelatihan dan pembinaan ada yang bekerja di Andana. Saat ini jumlah karyawannya mencapai 49 orang. Mulai dari pecanting, pewarna, hingga pembuat produk turunan batik.
Berbeda dengan batik hasil karya siswa pelajar. Anjani bisa membanderol batik tulis Bantengan besutan Andana hingga Rp15 juta per kain. “Kalau batik cap sekitar Rp200.000, batik tulis dari mulai dari Rp500.000-Rp15 juta.”
Pesta demokrasi justru menjadi masa sulit bagi Anjani. Ikon kepala banteng pada batiknya cenderung dihindari pembeli, karena dinilai identitas partai politik tertentu. Dari biasanya mampu menjual 60 batik per bulan, kini hanya tinggal 40%-50% saja.
Namun, masih ada harapan. Pasalnya, batik tulis karya Anjani mampu menembus pasar mancanegara. Mulai dari Malaysia, Singapura, Jepang, Australia, Hong Kong hingga Moscow.

Ini Kriteria Kegiatan Sosial yang Bisa Dapat Rp 65 Juta dari Astra
SATU Indonesia Awards 2024 kembali digelar Grup PT Astra International tahun ini. Ini menjadi ajang rutin tahunan yang telah digelar sejak 2010. [469] url asal
#astra #astra-international #satu-indonesia-award
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 20/07/24 18:52
v/11451919/
Sumba Timur - SATU Indonesia Awards 2024 kembali digelar Grup PT Astra International tahun ini. Ini menjadi ajang rutin tahunan yang telah digelar sejak 2010.
Lewat ajang ini Astra mengajak anak-anak muda di Indonesia memamerkan inovasi-inovasi atau kegiatan sosial yang berguna untuk masyarakat. Nantinya, akan ada pemenang dari seleksi yang dilakukan Astra dan dewan juri pilihan.
Head of Corporate Communications Astra Boy Kelana Soebroto mengatakan akan ada lima kriteria penjurian yang diterapkan Astra untuk menilai para peserta yang patut menjadi pemenang SATU Indonesia Award 2024 dan mendapatkan Rp 65 juta.
"Pertama motif, apa sih ide awal peserta ini, apa yang mendorong kegiatan itu. Apakah inisiatif mereka? Atau memang pekerjaan merekam," ujar Boy dalam gelaran Astra Talks di Gedung MPL Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (20/7/2024).
Kriteria kedua, adalah tantangan apa yang dihadapi dan bisa dilewati peserta. Semakin besar tantangan yang bisa dihadapi maka penilaiannya mungkin akan lebih tinggi. Misalnya saja tantangan pada kegiatan sosial di daerah yang terpencil.
Kemudian, yang ketiga adalah apa yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan peserta. Keempat seberapa besar jangkauan dan sejauh apa dampak yang bisa ditimbulkan dari kegiatan peserta.
Terakhir, keberlanjutan program yang dibuat dari kegiatan sosial para peserta juga akan dinilai. Termasuk apakah program itu berdampak kepada kelestarian lingkungan sekaligus memenuhi nilai-nilai sustainable development goal (SDG).
Boy mengatakan pihaknya juga bukan hanya akan memberikan hadiah saja. Bagi para pemenang ajang SATU Indonesia Award, pihaknya akan melakukan pendampingan dan pembinaan program kegiatan sosial yang dilakukan.
Bukan tidak mungkin program yang menenangkan SATU Indonesia Award juga bisa diintegrasikan dengan program Kampung dan Desa Sejahtera Astra ataupun kegiatan-kegiatan yang dilakukan di bawah yayasan-yayasan bentukan Astra.
"Kalau sudah jadi penerima SATU Indonesia Award kami pasti akan berikan bimbingan kegiatan. Kami tidak akan berhenti di kasih piala dan dana kegiatan saja, kami juga akan berikan pembinaan kegiatan, pokoknya pekerjaan teman-teman ini harus sustain dan berlanjut," ujar Boy.
Perlu diketahui, untuk pendaftaran 15th SATU Indonesia Awards 2024 telah dibuka sejak 4 Maret hingga 4 Agustus 2024. Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut dapat mengunjungi website www.astra.co.id.
Peserta yang ikut ajang ini juga akan dinilai langsung oleh dewan juri yang kompeten dan jempolan. Berikut ini daftarnya:
1. Prof. Nila Moeloek (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia),
2. Prof. Emil Salim (Dosen Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Indonesia),
3. Prof. Fasli Jalal (Rektor Universitas YARSI dan Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta),
4. Ir. Tri Mumpuni (Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan),
5. Onno W. Purbo Ph.D. (Pakar Teknologi Informasi),
6. Arif Zulkifli (Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk),
7. Dian Sastrowardoyo (Pegiat Seni),
8. Billy Boen (Founder Young On Top),
9. Boy Kelana Soebroto (Head of Corporate Communications Astra),
10. Diah Suran Febrianti (Head of Environment & Social Responsibility Astra),
11. Raline Shah (Pegiat Seni).
Butuh Modal buat Kegiatan Sosial? Astra Bagi-bagi Rp 65 Juta Lewat Ajang Ini
PT Astra International menggelar ajang SATU Indonesia Awards 2024 yang sudah berjalan selama 15 tahun ke belakang. [488] url asal
#astra #astra-international #satu-indonesia-award
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 20/07/24 12:51
v/11424510/
Sumba Timur - PT Astra International menggelar ajang SATU Indonesia Awards 2024 yang sudah berjalan selama 15 tahun ke belakang. Lewat ajang ini Astra mengajak anak-anak muda di Indonesia memamerkan inovasi-inovasi atau kegiatan sosial yang berguna untuk masyarakat.
Di ajang ini anak muda diminta untuk unjuk gigi inovasinya yang dapat memberikan nilai tambah bagi kemajuan bangsa Indonesia. Inovasi itu akan diadu dan yang terbaik bakal mendapatkan dana bantuan kegiatan sebesar Rp 65 juta dan pembinaan kegiatan.
Head of Corporate Communications Astra Boy Kelana Soebroto mengatakan ada 5 bidang yang dikompetisikan dalam ajang SATU Indonesia Award, mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, kewirausahaan, dan teknologi.
"SATU Indonesia adalah platform yang kita buat sejak 2010 untuk menjadi tempat berkumpulnya anak-anak muda di Indonesia yang punya program-program sosial luar biasa," kata Boy dalam gelaran Astra Talks di Gedung MPL Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (20/7/2024).
"Bila ada anak muda ada yang punya program dan berjalan selama setahun terakhir, mudah-mudahan bisa dipilih oleh dewan juri yang luar biasa," lanjutnya.
Boy mengatakan ajang SATU Indonesia Award merupakan upaya Astra dalam mendukung dan mengapresiasi peran aktif generasi muda dalam mencapai pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.
"Hal ini sejalan dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa dan mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia," kata Boy.
Raline Shah, yang merupakan salah satu dewan juri ajang ini dari sektor pegiat seni mengatakan ajang ini merupakan salah satu contoh aktifnya kalangan swasta untuk mendukung kegiatan-kegiatan sosial di tengah masyarakat.
"Saya senang sekali menjadi bagian dari SATU Indonesia Award karena ini adalah award atau apresiasi dari private sector yang menunjukkan bahwa masih ada yang peduli kepada masyarakat kita, ada yang mendukung kita," sebut Raline dalam acara yang sama.
Wanita yang juga dikenal sebagai pemain film itu mengatakan ajang SATU Indonesia Award dapat mendukung inisiatif sosial dari pemikiran kreatif anak-anak muda. Dia berharap lewat ajang ini makin banyak anak muda yang terinsipirasi untuk membesut kegiatan sosial yang bermanfaat bagi sesama.
"Ini mendukung sekali inisiatif sosial dari inisiatif anak muda. Mendukung dan terus mendampingi. Bahkan mungkin awards ini juga akan membuat teman-teman jadi terinsipirasi membuat sebuah kegiatan atau inovasi sosial baru," beber Raline Shah.
Perlu diketahui, untuk pendaftaran 15th SATU Indonesia Awards 2024 telah dibuka sejak 4 Maret hingga 4 Agustus 2024. Untuk pendaftaran dan informasi lebih lanjut dapat mengunjungi website www.astra.co.id.
Berikut syarat dan ketentuan penerima apresiasi 15th SATU Indonesia Awards 2024:
•Program diinisiasi oleh Individu atau kelompok.
•Inisiator atau ketua kelompok maksimal berusia 35 tahun pada saat periode pendaftaran.
•Kegiatan harus orisinal.
•Kegiatan telah berlangsung minimal 1 tahun.
•Kegiatan yang didaftarkan tidak pernah menerima manfaat dari Grup Astra.
•Kegiatan yang didaftarkan belum pernah menerima penghargaan nasional/internasional.
•Kegiatan yang diajukan selaras dengan aspek sustainability yang meliputi environmental, social dan governance (ESG).
•Bukan karyawan Grup Astra dan Mitra SATU Indonesia Awards.
•Dapat mendaftarkan diri sendiri atau orang lain yang memenuhi persyaratan SATU Indonesia Awards.