#30 tag 24jam
Fakta Terbaru, Orang Tinggi Lebih Berisiko Terkena Kanker
Orang memiliki badan lebih tinggi, ternyata lebih berisiko mengalami penyakit kanker pada tubuh, karena lebih memiliki banyak sel. [812] url asal
#tinggi-badan #sel-tubuh #badan-tinggi #fakta-tinggi-badan #pria #perempuan
(Bisnis.Com) 09/07/24 16:49
v/10205525/
Bisnis.com, JAKARTA - Temuan fakta terbaru bahwa tinggi badan, berkaitan dengan faktor kanker pada tubuh manusia.
Dikutip dari everydayhealth.com, Selasa (9/7/2024) penelitian American Academy of Pediatrics (AAP) menunjukkan bahwa tinggi badan dapat mempengaruhi risiko penyakit jantung, kanker, dan kepercayaan diri.
Fenomena yang terjadi bahwa orang pendek, cenderung menjadi bahan ejekan oleh banyak orang. Namun, faktanya orang pendek ternyata lebih sedikit terserang penyakit kanker.
Simak fakta-fakta tentang tinggi badan yang wajib diketahui:
1. Pertumbuhan badan paling cepat ada di tahun pertama
Riset American Academy of Pediatrics (AAP) menyebutkan manusia tumbuh paling cepat saat masih bayi khususnya di tahun pertama kehidupan, bertambah sekitar 25 cm dari tinggi badan mereka sejak lahir hingga usia 1 tahun.
Biasanya, pertumbuhan tinggi perempuan terhenti setelah 2 tahun mengalami menstruasi. Namun, laki-laki mencapai tinggi badan dewasa mereka saat duduk di bangku sekolah menengah dan ada juga yang masih mengalami kenaikan tinggi badan hingga usia 20 tahunan.
Penting diingat, istirahat cukup menjadi penting untuk pendukung pertumbuhan tinggi badan anak. Sebab, hormon pertumbuhan bekerja maksimal saat seseorang sedang tidur.
2. Orang Amerika bukan lagi orang tertinggi di dunia
Pada abad ke-18 dan ke-19, Amerika merupakan rumah bagi orang-orang tertinggi di dunia, tetapi Belanda berhasil mengambil alih penghargaan tersebut.
Pria dan wanita asal Belanda yang memiliki tinggi rata-rata 185 cm dan 167 cm berhasil melewati tinggi pria dan wanita asal AS yang memiliki tinggi rata-rata 174 cm dan 162 cm.
Akademisi di Ohio State University di Columbus, Richard Steckel mengatakan bahwa penduduk AS mengalami ketertinggalan dalam hal akses layanan kesehatan, kekurangan gizi, mengkonsumsi terlalu banyak gula, dan kurang buah dan sayur.
3. Tinggi badan berubah sepanjang hari
Serupa dengan berat badan yang berfluktuasi sepanjang hari, tinggi badan pun dapat berubah sepanjang hari. Seseorang berada dalam kondisi tertinggi saat bangun tidur dan mungkin lebih pendek 1 sentimeter menjelang akhir hari.
Todd Sinett, DC, seorang chiropractor yang tinggal di Kota New York sekaligus penulis buku dengan judul The Truth About Back Pain, mengatakan bahwa hal tersebut terjadi akibat perubahan posisi pada tulang ketika menjalani hari. "Cakra-cakram di tulang belakang tertekan karena posisi tubuh tegak sepanjang hari," ujarnya.
Saat tidur, tulang belakang mengalami dekompresi, sehingga seseorang dapat mendapatkan kembali panjang tulang belakangnya yang sempat hilang.
3. Gen bukan segalanya
Sekitar 60 hingga 80 persen tinggi badan ditentukan oleh genetik, selebihnya tergantung dengan konsumsi nutrisi pada masa anak-anak. "Nutrisi adalah faktor terpenting tinggi badan," kata Chao-Qiang Lai, ahli biologi molekuler di United States Department of Agriculture (USDA), AS.
Untuk memastikan anak tidak kekurangan gizi, orang tua harus memastikan anak-anaknya mengkonsumsi makanan lengkap yang terdiri dari buah-buahan dan sayur-sayuran, biji-bijian utuh, susu, dan protein rendah lemak, yang dapat memberikan vitamin dan mineral guna meningkatkan kualitas pertumbuhannya.
4. Kafein menghambat pertumbuhan
Menurut Tanya Remer Altmann, dokter anak di California, muncul mitos yang mengatakan bahwa kafein dapat menghambat pertumbuhan anak.
Namun, kafein bisa menyebabkan gangguan tidur pada anak dan menyebabkan sakit kepala. Itulah sebabnya dokter menyarankan agar anak-anak menghindari kafein.
5. Tinggi badan dapat menentukan risiko kanker
Para peneliti menemukan bahwa wanita yang lebih tinggi memiliki risiko terkena kanker hingga 37 persen dibandingkan perempuan lain. Hal ini sejalan dengan penelitian dalam jurnal Lancet Oncology, yang mengatakan bahwa semakin tinggi badan seseorang, semakin besar pula risikonya terkena kanker.
"Orang yang tinggi mungkin memiliki lebih banyak sel dalam tubuh mereka sehingga ada kemungkinan lebih besar bahwa salah satunya bisa saja menjadi kanker, atau mungkin terkait dengan kadar hormon pertumbuhannya," kata Jane Green, seorang penulis sekaligus ahli epidemiologi klinis dan dosen penelitian di Oxford University. Hasil serupa mungkin terjadi juga pada pria.
6. Gen dapat menyebabkan tinggi ekstrem
Gen yang berbeda dapat menyebabkan seseorang mengalami kondisi yang disebut dwarfisme dan gigantisme. Sekitar satu dari 15.000 orang memiliki dwarfisme, yang didefinisikan sebagai orang dewasa dengan tinggi badan 146 atau kurang.
Menurut Michael J. Goldberg, MD, kepala Klinik Displasia Skeletal di Rumah Sakit Anak Seattle, mutasi genetik adalah penyebab utama yang menyebabkan tulang tumbuh pendek.
Di sisi lain, terdapat kondisi yang lebih langka dan disebut sebagai gigantisme, dimana seseorang dapat tumbuh jauh lebih tinggi dibanding orang lain. Hal ini biasanya terjadi karena seseorang mengalami kelebihan hormon pertumbuhan selama masa kanak-kanak yang sering disebabkan oleh tumor jinak pada kelenjar pituitari.
7. Tinggi mulai menyusut pada usia 40 tahun
John Whyte, MD, MPH, kepala ahli medis dan wakil presiden untuk pendidikan kesehatan dan medis di The Discovery Channel sekaligus penulis buku dengan judul Is This Normal?, mengatakan bahwa baik pria maupun wanita mungkin akan mulai mengalami penurunan tinggi badan saat usia 40 tahun dan berkurang setengah inci pada setiap dekadenya.
Hal ini terjadi ketika cakram-cakram di tulang belakang mulai kehilangan air dan tertekan seiring waktu. Osteoporosis, penyakit yang melemahkan tulang dan mempengaruhi hingga 10 juta orang AS, dapat memperburuk masalah tersebut.
Namun kabar baiknya, penyusutan tinggi badan dapat diatasi dengan memperbaiki postur tubuh, seperti dengan melakukan peregangan ringan ataupun yoga. (Yoga Al Kemal)