#30 tag 24jam
Benarkah Haram Menambahkan Sayyidina pada Kata Muhammad Saat Tasyahud dalam Shalat?
Suara ulama terpecah mengenai masalah ini. Ada pro dan kontra. [693] url asal
#tasyahud #menambahkan-lafaz-sayyidina-pada-muhammad #tasyahud-awal #tasyahud-akhir #bacaan-sholat #bacaan-sholat-fardhu #bacaan-sholat-sunah #bacaan-tasyahud #tasyahud-pertama #tasyahud-kedua #shalawa
(Republika - Khazanah) 29/07/24 13:52
v/12528985/
REPUBLIKA.CO.ID,Para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah SWT adalah manusia pilihan. Kedudukan mereka sangat terhormat dan mulia. Baik di sisi Sang Khalik ataupun di hadapan segenap manusia. Maka, seyogianya penghormatan diberikan kepada para manusia utama tersebut. Para malaikat memuliakan Nabi Yahya AS dengan berbagai gelar dan julukan terpandang.
“Kemudian, Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya ketika ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): ‘Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi, termasuk keturunan orang-orang saleh.’” (QS Ali Imran [3]: 39).
Demikian pula dengan Nabi Muhammad SAW. Penghormatan kepada pamungkas para nabi dan rasul tersebut sangat ditekankan. Penegasan akan pentingnya penyebutan Muhammad dengan panggilan terhormat dan tidak lancang atau meremehkan Rasul ditegaskan dalam surah al-Hujurat ayat 1-3.
Bahkan, dalam surah an-Nur ayat 63, Allah melarang panggilan yang sama dan lazim seperti kebiasaan kebanyakan orang terhadap Muhammad. “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain).”
Salah satu bentuk pemulian itu ialah dengan tidak memanggil nama Muhammad tanpa disertai gelar atau julukan kemuliaan. Kata sayyid yang berarti pemimpin merupakan satu dari sekian contoh gelar kehormatan tersebut.
Para ulama sepakat, hendaknya menggunakan gelar sayyid ketika hendak menyebut nama Muhammad. Ini merujuk ke sejumlah hadis, antara lain, riwayat Muslim dari Abu Hurairah. Rasulullah sendiri secara langsung menyematkan gelar sayyid. “Aku adalah pemimpin (sayyid) dari anak Adam pada hari kiamat,”sabda Rasul.
Lalu, berangkat dari kesepakatan itu muncul pertanyaan apa hukum menambahkan kata sayyid itu dalam redaksi shalawat di tasyahud pertama dan kedua (shalawat Ibrahimiyyah), azan, iqamat, atau ibadah-ibadah lain, seperti doa dan shalawat lainnya? Topik ini pun menjadi bahan diskusi menarik di kalangan para ulama. Suara mereka terpecah. Ada pro dan kontra.
Lembaga Fatwa Mesir, Dar al-Ifta, berpendapat, penyematan redaksi sayyid dalam zikir atau ibadah lain, seperti azan, iqamat, atau tasyahud awal dan akhir, hukumnya boleh, bahkan sangat dianjurkan. Lembaga yang pernah dipimpin oleh mufti agung Syekh Ali Jumah itu menyatakan, etika dan adab menghormati Rasul lebih dikedepankan daripada alasan mengikuti (al-itba').
Lembaga yang resmi berpisah dari stuktural pemerintahan pada 2007 itu menyebutkan, Ali bin Abi Thalib pernah menolak permintaan Rasul untuk menghapus kata ‘Rasulullah’ dalam redaksi Perjanjian Hudaibiyah. Ini semata wujud penghormatan kepada Muhammad SAW.
Opsi ini, menurut Dar al-Ifta, merupakan pandangan mayoritas ulama mazhab. Dari mazhab Syafi'i, sejumlah nama setuju dengan opsi ini, yaitu Jalaluddin al-Muhilli, as-Suyuthi, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Syamsuddin ar-Ramli. Dalam kitab ad-Dur al-Mukhtar, al-Hashkafi, seorang imam bermazhab Hanafi, menyatakan hukumnya sunat dan lebih baik menyebutkannya. Selain al-Hashkafi, dari mazhab Hanafi ada al-Halabi, ath-Thahawi, dan Ibnu Abidi.
Pendapat Imam Malik dan fatwa yang melarang..
Sedangkan, di kalangan mazhab Maliki, ada Ibn 'Atha' as-Sakandari, an-Nafrawi, al-Hithab, Ahmad Razuq, dan Imam as-Syaukani. Syekh Ahmad bin as-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani guna menguatkan bolehnya memakai kata sayyid, menulis risalah khusus yang berjudul Tasynif al-Adzan bi Adillati Istihbab as-Siyadah 'Inda Dzikri Ismihi SAW fi as-Shalah wa al-Adzan wa al-Iqamati wa al-Adzan.
Di pengujung fatwanya, lembaga yang kini digawangi Syekh Syauqi Ibrahim Abd el-Karim Allam itu mengimbau segenap umat agar menjaga adab saat menyebut nama Muhammad SAW. Penting pula mengajarkan kepada keluarga, anak, dan handai tolan untuk mencintai dan menghormati Rasul melalui panggilan yang pantas dan terhormat. Edukasi itu perlu menyusul maraknya fitnah dan keserampangan pendapat di tengah-tengah masyarakat.
Berseberangan
Sementara itu, pendapat lain mengemukakan fakta berseberangan, yakni hukum penyertaan kata sayyid, baik dalam tasyahud atau ibadah lain, seperti azan, iqamat, dan shalawat tidak boleh dilakukan. Pendapat ini disampaikan oleh Komite Tetap Kajian dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi. Lembaga ini menegaskan redaksi tasyahud, shalawat, azan, dan iqamat yang dicontohkan Rasulullah tidap pernah menyebutkan kata yang berarti pemimpin itu.
Hadis-hadis shahih dengan tegas menyebutkan pelafalan redaksi tanpa kata sayyid. Cukup dengan sebutan Muhammad Rasulullah dalam azan dan kata Muhammad saja dalam tasyahud. Maka, hendaknya tidak mengada-ada dan menambahkan kata yang tidak dicontohkan oleh Rasul. Pendapat serupa disampaikan oleh Syekh Ibn Utsaimin dan Nasiruddin al-Albani.
Sholat Isyraq: Apa dan Bagaimana?
Berikut ini adalah tata cara Sholat isyraq. [1,471] url asal
#sholat-isyraq #sholat-sunah #nabi-muhammad #abu-hasan-mubarok
(Republika - News) 15/07/24 11:01
v/10836440/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Merupakan salah satu kebiasaan Rasulullah saw bersama para sahabatnya adalah duduk-duduk di masjid setelah sholat subuh selesai ditunaikan. Ibnu Syahin menyebtukan dalam targhib fi fadhail a’maal dari Imam Nafi’ dari Abdullah bin Umar bahwa beliau menyukai duduk-duduk setelah sholat subuh sampai matahari terbit. dan ketika ditanyakan kepadanya, mengapa melakukan hal demikian, maka beliau menjawab, “saya menginginkan sunnah”.
Dan rupanya, ini pula yang dilakukan oleh masyarakat Islam di banyak masjid dan mushola sesudah sholat subuh berjamaah. Mereka duduk-duduk dan saling bertukar pikiran tentang berbagai permasalahan. Setelah itu, ada yang melaksanakan sholat sunah duha, adapula yang sholat sunah isyraq, dan adapula yang meninggalkan masjid atau pulang ke rumah langsung.
Hal demikian, dalam beberapa diskusi para ulama juga ada beberapa pendapat dan pandangan. Di antara pandangannya adalah:
ada kesunahan sholat sunah sesudah itu, baik itu yang berpendapat isyraq maupun sholat sunah duha ada yang berpendapat tidak ada sholat sunnah setelah duduk-duduk tersebut.
ada yang berpendapat, sholat sunnah dhuha di rumah masing-masing.
Bagaimana sesungguhnya perihal aktifitas Rasulullah saw dan para sahabat sesudah sholat subuh tersebut. Marilah kita ulas dalam penjelasan berikut ini.
Di dalam al qur’an surat Shod ayat 18, Allah swt berfirman:
إِنَّا سَخَّرۡنَا ٱلۡجِبَالَ مَعَهُۥ یُسَبِّحۡنَ بِٱلۡعَشِیِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ
artinya: sesungguhnya Kami telah menundukan gunung-gunung bersamanya dan dijadikan bertasbih bersama dia (Daud) pada waktu petang dan pagi.
Imam al Kalbi dalam keterangannya menjelaskan bahwa makna al isyraq adalah waktu terbitnya matahari, dan ketika berakhirnya cahaya fajar. sedangkan Ibnu Abbas mengatakan bahwa isyraq adalah waktu sholat duha. Demikian penjelasan Imam al Baghawi (w. 516 H) dalam tafsinya.
Sementara itu, Imam al Baqa’i dalam nudzum al durari menjelaskan bahwa makna isyraq adalah waktu naiknya matahari, sekaligus waktu permulaan orang-orang pada bekerja. Ummu Hani’ RA pernah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah sholat duha di rumahnya, dan beliau saw berkata, “ini adalah waktu sholat isyraq”.
Imam asy Syaukani (w. 1250 H) dalam fathul qadir mengatakan bahwa penjelasan Imam az Zujjaj tentang makna isyraq. Menurutnya syaraqatisyamsu, adalah apabila matahari terbit, sementara asyraqatisyamsu adalah apabila telah keluar sinarnya.
Abdul Qowi al Hazmi membukukan hasil penelitiannya tentang sholat isyraq dalam karyanya yang diberi judul al asywaq ila bayan haal rak’atai al isyraq, dia menyebutkan bahwa setidaknya ada enam hadits yang menjelaskan tentang hal sholat isyraq, namun dalam penelitiannya dia memberikan tiga catatan, yaitu: 1) penjelasan tentang dua rokaat sholat isyraq, 2) hadist-hadits secara umum berkaitan dengan keutamaan duduk berzikir sesudah sholat subuh, 3) tentang keumumam sholat isyraq atau sholat duha.
Abdul Qowi menyebut bahwa hadits yang berkaitan dengan tema ini setidaknya ada 6 hadits dengan tambahan beberapa syawahidnya. Namun, dalam penilaian sahih dan dha’if suatu hadits, penulis menyerahkan sepenuhnya kepada para ahli dan ulama untuk memberikan penilaian. Karena, setiap ulama dan pakar sering berbeda pada penilaian akhir suatu hadits.
Sebelum menjelaskan lebih lanjut, Abdul Qawi juga menyampaikan sebuah atsar yang disebutkan di dalam Musnad Ibnu Abi Syaibah bahwa Mudrik bin ‘Auf berkata, “saya melewati Bilal bin Rabah RA di Syam sedang duduk di pagi hari (maskudnya setelah sholat subuh), lalu saya bertanya, “mengapa engkau duduk-duduk wahai Abu Abdillah?” lalu Bilal berkata, “saya menunggu waktu terbit matahari”.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Ibnu Mas’ud RA yang duduk-duduk di rumahnya, hal ini sebagaimana disebutkan di dalam al Mu’am al Kabir imam Thabrani.
Sejauh pengamatan penulis, bahwa dasar sholat sunah isyraq ini bersumber dari sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh sahabat Anas RA:
" مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ". قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ ".
artinya: barangsiapa sholat fajar secara jamaah, kemudiannn duduk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, lalu sholat dua rokaat, maka baginya adalah pahala haji dan umrah. Lalu Anas berkata, “Rasulullah saw bersabda, “secara sempurna, sempurna, sempurna”. HR. Tirmidzi
Hadits ini disbutkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya, bab perkara yang mustahab daripada duduk-duduk di masjid sesudah sholat subuh sampai matahari terbit. Nomor hadits 586.
Syaikh Abdurrahman al Mubarakfuri dalam syarah sunan tirmidzi dalam Tuhfatul ahwadzi menyebutkan bahwa lafaz “tsumma sholla rok’ataini” adalah sesudah matahari terbit.
Sementara itu, Imam at Thibbi mengatakan kemudian sholat sesudah matahari menaik sekedar satu tombak sampai keluar dari waktu yang karahah (waktu yagn tidak disukai sholat di dalamnya), dan ini adalah sholat isyraq atau sholat duha di awal waktu.
Menurut pensyarah hadits ini bahwa hadits ini dihukumi hasan oleh Imam Turmudzi, sekalipun dalam sanadnya terdapat nama Abu Dzilal, dan oleh para ulama dinilai banyak dibicarakan, sekalipun hadits ini juga memiliki banyak syawahid. Di antara syawahidnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah RA yang ditakhrij oleh Imam Thabrani, berkata Imam al Mundziri bahwa nilai haditsnya adalah jayyid.
Juga, syawahid haditsnya dari jalur Abi Umamah, dan Utbah bin ‘Abd yang dinilai haditsnya secara marfu’.
Dari keutamaan yang besar ini. Maka ummat banyak yang mengamalkan. Oleh karena itu, para ulama dalam memberikan penjelasan dan penilaian implementasi hadits ini terbagi dalam dua kelompok.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Abu al Hasan, Ubaidillah bin Muhammad Abdulsalam bin Khan Muhammad bin Amanillah bin Husamuddin ar Rahmani al Mubarakfuri (w. 1414 H) dalam Mir’at al mafatih syarah Misykat al masabih menjelaskan bahwa sholat duha dan sholat isyraq itu ada yang berpendapat sama, dan ada yang berpendapat masing-masing. Maksudnya sama adalah bahwa sholat duha dan isyraq adalah sama. Sementara yang berpendapat masing-masing adalah bahwa sholat duha sendiri dan sholat isyraq itu sendiri.
Menurut al Qari dalam syarah hadits dari Mua’d bin Anas bahwa sholat ini disebut dengan sholat isyraq, dan ia adalah sholat awal sholat duha. Lalu al Mubarakfuri mengomantari bahwa pendapat ini sesuai dengan anjuran sholat empat rokaat di awal waktu siang.
Disebutkan dalam al mustadrak ‘ala sahihain suatu peristiwa antara Ummu Hani dengan Rasulullah saw. suatu ketika Rasulullah saw memasuki rumah Ummu Hani RA, lalu sholat delapan rokaat, sholat di waktu dhuha. tiba-tiba Ibnu Abbas keluar dan berkata, sungguh saya telah membaca dua papan, namun saya tidak mengerti maksudnya daripada sholat isyraq, kecuali pada waktu bertasbihnya gunung di waktu petang dan pagi. lalu Ibnu Abbas melanjutkan bahwa ini adalah sholat isyraq.
Dalam liqa bab al maftuh disebutkan bahwa Syaikh ibn sholih al ‘Utsaimin ketika menjelaskan tentang masalah ini, beliau mengatakan bahwa sunah isyraq adalah solat duha itu sendiri. Namun apabila dikerjakan di awal waktu, ketika matahari terbit dan meninggi sekedar tombak, maka disebut sholat isyraq. dan apabila dikerjakan di akhir waktu, maka ia disebut sholat duha.
Sementara itu, dalam asyraful al wasail ila fahmi asy syamail wa ma’ahu jawahir ad durari fi manaqib ibni Hajari karya al imam al ‘allamah Syihabuddin Ahmad bin Hajar al Haitsami mengatakan bahwa dan sholat isyraq selain dari itu (maksudnya waktu dhuha), sholat isyraq adalah dua rokaat ketika terbit matahari, sholat dua rokaat pada waktu karahah. karena dua rokaat ini memiliki sebab yang mengikutinya. hal ini sebagaimana pendapat imam al Ghazali dalam ihya bahwa sholat isyraq bukanlah sholat duha, solat isyraq adalah dua rokaat ketika matahari meninggi.
Kesimpulannya adalah bahwa ada ulama yang melihat sholat duha adalah sholat isyraq itu sendiri, hanya perbedaan waktu saja, dan adapula yang melihat bahwa sholat isyraq adalah solat tersendiri dari sholat duha. adapun perbedaannya adalah pada jumlah rokaat dan waktu pelaksanaannya.
Oleh karena itu, para ulama juga memberikan nasehat bahwa agar terhindar dari perselisihan pendapat tersebut, sebaiknya pelaksanaan sholat isyraq dilaksanakan saat matahari terbit dan diberi jeda sejenak agak tinggi.
Terlepas dari pendapat masing-masing di atas. Berikut ini adalah arahan dari Imam Nawawi al Bantani (w. 1316 H) untuk melaksanakan sholat sunah dua rokaat tersebut. Disebutkan dalam nihayatuzain fi irsyad al mubtadiin bahwa pelaksanaan atau tata cara sholat isyraq ini adalah sebagai berikut:
setelah terbit matahari dan meninggi, berdiri dan berniat sholat sunah isyraq
pada rokaat pertama membaca surat ad duha, sesudah al fatihah, dan pada rokaat kedua membaca surat al insyirah.
Sesudah selesai dua rokaat, lalu membaca doa sebagaimana di bawah ini, “Allahumma ya nuronnur, bithuur wa kitab masthur fi raqqin mansyir, wal baitil ma’mur, asaluka an tarzuqoni nuran, astahdii bihi ilaika, wa adullu bihi ‘alaika, wa yashbihani fi hayati wa ba’dal intiqoli min dzollami misykati. wa asaluka bisyamsi wadhuhaaha, wa nafsin wama sawwaha, an taj’ala syamsa ma’rifatika musyriqotan bi laa yuhjibuhu ghaimul awhaam, walaa ya’tariiha kusufal qomaril wahdaniyah ‘indat tamaam, bal addim laha al isyraaq wa dzhuhur ‘ala mamarril ayyam wad duhur, wa shollillahumma ‘ala sayidina muhammad khatamil anbiyai wal mursalin walhamdulillahi rabbil ‘alamiin”.
apabila waktu sudah masuk waktu siang, maka tidak ada sholat isyraq.
Demikianlah bagaimana Rasulullah saw dan para sahabatnya dalam memanfaatkan waktu-waktu terbaik tersebut. Abdullah bin Mas’ud RA bertanya kepada pembantunya sampai tiga kali, “Apakah matahari sudah terbit?”. menunjukan bahwa pentingya peristiwa terbitnya matahari. Dua kali bertatnya, dua kali pula dijawab bahwa matahari belum terbit. Sehingga yagn ketiga, dijawab, “sudah terbit”. Maka Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “alhamdulillah yang telah memberikan kepada kita hari ini” dan perawi menduka bawah Abdullah bin Ma’sud juga mengatakan, “...yang tidak mengadzab kita dengan neraka”.
Pelataran Masjid Nabawi, 7 Muharram 1446 H/14 Juli 2024.
*Ketua Umum MUI Kab. Penajam Paser Utara
Dua Alasan Mengapa Rasulullah tak Sholat Dhuha Setiap Hari | Republika Online
Nabi Muhammad SAW tak sholat Dhuha kecuali saat baru pulang dari perjalanan. [266] url asal
#sholat-dhuha #rasulullah-tak-sholat-dhuha-setiap-hari #jadwal-sholat-dhuha-rasulullah #sholat-sunah #sholat-dhuha-pagi-hari #kapan-waktu-sholat-dhuha #doa-sholat-dhuha #contoh-sholat-dhuha #sholat-dhu
(Republika - Khazanah) 09/07/24 05:38
v/10156107/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, digambarkan mengenai apakah Nabi Muhammad SAW melaksanakan sholat dhuha setiap hari atau tidak.
Berikut hadits yang menggambarkan hal tersebut:
عن عبد الله بن شَقيق، قال: قُلت لعائشة: هل كان النبي صلى الله عليه وسلم يُصلِّي الضُّحَى؟ قالت: «لا، إلا أن يَجِيء من مَغِيبِه».
Diriwayatkan dari Abdullah bin Syaqiq RA, dia bertanya kepada Aisyah RA, "Apakah Nabi SAW biasa melaksanakan sholat Dhuha?" Aisyah RA menjawab, "Tidak, kecuali ketika beliau baru tiba setelah bepergian." (HR. Muslim)
Dalam hadits tersebut, Aisyah RA ditanya tentang sholat Dhuhanya Rasulullah SAW. Lalu Aisyah RA menjelaskan, Nabi Muhammad SAW tidak melaksanakan sholat kecuali saat beliau baru pulang setelah melakukan perjalanan.
Hal itu menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memang melaksanakan sholat Dhuha tetapi tidak secara teratur. Nabi SAW melaksanakan sholat Dhuha dalam keadaan yang berbeda-beda, dan tidak melaksanakannya secara teratur atau setiap hari, karena khawatir akan dianggap wajib oleh umat beliau.
Namun, tentu dibolehkan bagi setiap Muslim untuk melaksanakan sholat Dhuha secara teratur atau setiap hari, karena keutamaan yang terdapat di dalam sholat Dhuha sebagaimana hadits-hadits lain yang menyebutkan tentang hal tersebut.
Ada beberapa faedah yang dapat dipetik dari hadits tersebut. Pertama, Nabi Muhammad SAW tidak melakukan shalat Dhuha secara teratur. Ada dua kemungkinan, yaitu karena Nabi SAW memiliki kesibukan yang lain sehingga tidak sempat merutinkan sholat Dhuha, atau karena khawatir sholat Dhuha dianggap wajib.
Kedua, hadits tersebut menunjukkan bahwa Aisyah RA dimintai pendapatnya tentang kebiasaan sholat Dhuha Rasulullah SAW. Dan Aisyah RA adalah wanita yang paling mengetahui tentang keadaan rumah tangganya bersama Nabi SAW.
Ketiga, Nabi Muhammad SAW biasa melaksanakan sholat Dhuha ketika beliau baru pulang dari sebuah perjalanan. Keempat, seorang laki-laki boleh meminta pendapat dan menanyakan sebuah pengetahuan kepada perempuan.
Niat sholat dhuha dan keutamaannya...