#30 tag 24jam
Tak Hanya Jago Melawak, 6 Komika Indonesia Ini Sukses Jadi Sutradara
Banyak komika yang bantng stir ke dunia perfilman untuk menjadi sutradara. Ini 6 komika Indonesia yang sukses jadi sutradara. [692] url asal
#komika #komika-indonesia #stand-up-comedy #raditya-dika #ernest-prakasa #pandji-pragiwaksono #bene-dion #muhadkly-acho #arie-kriting
(MedCom) 22/09/24 14:44
v/15397296/
Jakarta: Industri hiburan tanah air sedang diramaikan oleh para pelaku stand-up comedy atau dikenal sebagai komika. Selain menghibur dengan celotehan jenaka di atas panggung, kini banyak komika merambah ke dunia perfilman.Komika di dunia perfilman tidak hanya berperan sebagai aktor, tetapi juga sutradara. Salah satu komika yang sukses banting setir menjadi sutradara adalah Raditya Dika dengan film populernya seperti Malam Minggu Miko, Marmut Merah Jambu, dan Hangout.
Komika Indonesia yang Sukses Jadi Sutradara
Tak hanya Raditya Dika, banyak komika yang tak kalah eksis di dunia perfilman. Yuk, kenalan dengan para komika Indonesia yang sukses jadi sutradara:| Baca juga: Jadi Suami Istri, Ariel Tatum Keluhkan Sikap Cuek Raditya Dika |
1. Raditya Dika

Foto: Instagram
Siapa yang tidak kenal dengan Raditya Dika? Nama salah satu komika ini bahkan sudah dikenal oleh masyarakat awam, yang bukan penikmat stand-up comedy. Selain pelawak tunggal, pria akrab disapa Radit ini juga seorang penulis buku dan sutradara.
Komika berusia 39 tahun ini memulai debutnya sebagai sutradara pada tahun 2014 dengan film "Marmut Merah Jambu", yang diangkat dari novel karyanya sendiri. Film ini juga meraih kesuksesan besar.
Kemampuannya dalam menyutradarai film semakin terasah. Ia kemudian mengarahkan beberapa film lainnya, seperti "Koala Kumal" (2016), "Hangout" (2016), dan lainnya. Film-film tersebut menuai pujian dari kritikus dan penonton.
2. Ernest Prakasa

Foto: Instagram
Ernest Prakasa berhasil menduduki posisi ketiga dalam ajang Stand Up Comedy Indonesia tahun 2011. Ia pun sangat dikenal luas di kalangan masyarakat berkat penampilan yang khas dan materi komedi yang cerdas.
Sukses sebagai komika tak membuat Ernest Prakasa merasa puas. Ia memiliki keinginan untuk berkarya lebih luas di dunia hiburan, khususnya di bidang perfilman. Pada tahun 2013, ia lantas terjun ke dunia perfilman sebagai sutradara dan penulis skenario.
Film perdana berjudul "Ngenest" menjadi awal kesuksesannya sebagai sutradara. Film tersebut mendapat sambutan hangat dari penonton dan kritikus film. Kesuksesan ini terus berlanjut pada film-film berikutnya, seperti "Cek Toko Sebelah" dan "Imperfect: Karir, Cinta, dan Timbangan".
| Baca juga: Profil Singkat 6 Komika Perempuan Indonesia, Ada Aci Resti hingga Arafah Rianti |
3. Pandji Pragiwaksono
Nama komika lain yang tak kalah mentereng di dunia perfilman adalah Pandji Pragiwaksono. Komika senior ini memulai debutnya sebagai sutradara pada tahun 2018 lewat film berjudul Partikiler Movie.Tidak berhenti di situ, Pandji juga menjajal dunia produksi dengan menggarap web series berjudul "Name For A Band." Web series ini diangkat dari seri YouTube milik istrinya, Gamila Arief.
4. Bene Dion

Foto: Instagram
Komika lain yang sukses menjadi sutradara adalah Bene Dion. Berasal dari Tebing Tinggi, ia menyutradarai film Ghost Writer (2019) yang bergenre horor komedi. Film tersebut berhasil menjadi salah satu film terlaris pada masanya.
Kesuksesan Bene berlanjut dengan film "Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1" dan "Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2" yang ia tulis skenarionya. Pada tahun 2022, Bene Dion kembali menunjukkan kemampuannya sebagai sutradara melalui film "Ngeri-Ngeri Sedap".
Bene Dion berhasil membuktikan bahwa kesuksesan sebagai sutradara dan penulis skenario dapat dipelajari secara otodidak. Film-film yang ia garap mendapat apresiasi dan pengakuan dari masyarakat luas.
| Baca juga: Mengenal Comika.id: Siapa Saja Komika yang Tergabung di Sini? |
5. Arie Kriting
Lahir di Kendari, Sulawesi Tenggara, Arie Kriting mengawali kariernya sebagai komika pada tahun 2012 melalui ajang Stand-Up Comedy Indonesia (SUCI) Kompas TV. Ia dikenal dengan gaya komedinya yang kritis dan sering mengangkat isu-isu sosial dalam materinya.Arie juga aktif sebagai aktor, penulis, dan sutradara. Ia pernah membintangi beberapa film, di antaranya "Comic 8", "Posesif", dan "Galih dan Ratna". Sedangkan debut penyutradaraannya melalui film "Kaka Boss" yang tayang pada 29 Agustus 2024 lalu.
6. Muhadkly Acho

Foto: Instagram
Muhadkly Acho mengawali kariernya sebagai pelawak tunggal yang piawai memainkan diksi unik dalam materi komedinya. Selain stand-up comedy, ia juga merambah dunia akting. Ia debut sebagai aktor dalam film "Luntang Lantung" pada tahun 2014.
Tak puas hanya di depan kamera, Muhadkly Acho melebarkan sayapnya sebagai penulis skenario dan sutradara melalui film "Gara-Gara Warisan”. Film tersebut sukses besar dan membawa namanya sebagai sutradara muda yang berbakat.
Prestasi Muhadkly Acho tak berhenti sampai di sana. Ia kembali mengukir sejarah dengan menyutradarai film "Agak Laen", yang menjadi film komedi Indonesia terlaris sepanjang masa dengan jumlah penonton lebih dari 7 juta orang.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(SUR)
5 Contoh Naskah Stand Up Comedy untuk Pelajar, Dijamin Bikin Ngakak
Naskah stand up comedy untuk pelajar berikut ini bisa dijadikan sebagai referensi oleh komika pemula. - Bagian all [1,907] url asal
#stand-up-comedy #komika #komedi
(iNews - Terkini) 20/09/24 20:57
v/15304080/
JAKARTA, iNews.id - Naskah stand up comedy untuk pelajar berikut ini bisa dijadikan sebagai referensi oleh komika pemula. Tema yang disampaikan biasanya terinspirasi dari kehidupan sehari-hari.
Menuliskan sebuah naskah stand up comedy untuk pelajar nyatanya memang sedikit sulit. Meski begitu, hal tersebut bukan suatu hal yang mustahil. Jika sejak umur belia sudah mendalami dunia stand up, bukan tidak mungkin bisa jadi komika baru di masa depan.
Biasanya, tema stand up comedy tentang dunia sekolah biasanya terinspirasi dari berbagai masalah yang kerap dialami oleh para pelajar dan guru. Meski begitu, pendengar maupun audiens tetap diajak untuk melihat sisi lucu dari permasalahan yang ada.
Lantas, seperti apa bentuk naskah stand up comedy untuk pelajar yang baik dan benar? Untuk mengetahui, berikut iNews.id berikan informasinya dilansir dari berbagai sumber, Jumat (20/9/2024).
Gue itu sering banget terlambat nyampe sekolah. Yang paling ngeselin dari terlambat adalah, gue harus rela dipermalukan di depan kelas. Iya, ada seorang guru (nama disamarkan) yang suka banget mempermalukan gue.
Sebutlah Namanya Pak Bunga. Itu nama samaran, ya. Nama aslinya Pak Raflesia Arnoldi. Jadi, pak bangkai ini kayaknya puas banget kalau udah bisa nge-bully murid. Kayak waktu itu. Gue akhirnya berdiri di depan kelas gegara terlambat. “Ken ini sebenarnya ganteng,” kata pak bangkai sambil ngeliatin gue dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Tapi sayangnya badannya kecil, kerempeng. Kalau ada temannya bersin pasti dia mental” Lanjutnya.
Itu, anak-anak sekelas puas ngetawain gue men! Sialan.
“Tapi dia cocok loh jadi bintang iklan,” lanjutnya lagi.
“Hah serius pak?” tanya gue.
“Iya, saya serius.” Akhirnya ini orang memuji juga. Gue menepuk dada. Hahha! Ken gitu loh!
“Tapi, iklan obat cacing,” lanjutnya.
Gue Kiky, selamat malam.
Halo, Kenalin, nama saya Gondes. Singkatan dari gondrong ndeso.
Sudah tahu ya? Ya udah, kalo gitu saya pamit.
Biarpun ndeso, saya adalah mantan murid yang dulu juga pernah duduk di bangku sekolah. Sayang sekali, bangkunya digerogoti rayap. Terpaksa saya duduknya lesehan.
Tapi maaf, saya tak mau dibilang pernah makan sekolahan. Karena saya bukan rayap. Hanya mirip aja.
Ini serius. Waktu saya sekolah dulu sistem pendidikannya lain. Dulu nggak ada yang namanya uang gedung, uang bangku, uang pangkal, dan uang lainnya kayak sekarang. Ada juga uang tikar dan uang gopek gambar monyet. (Diam sejenak, kasih kesempatan beberapa penonton ketawa. Poin yang kadang terlupa oleh comic saat pentas stand up comedy)
Tuh, mbahnya (monyet) pada ketawa.
Itu sebabnya banyak kursi di kelas yang rusak. Terpaksa diganti tikar. Dan kalo udah duduk di atas tikar tuh, bulu kuduk jadi merinding semua. Beneran. Soalnya, tikarnya itu bekas dipakai buat alas orang meninggal alias mayat! Hii… serem!!
Tapi murid-murid jaman dulu tuh punya sopan santun dan rasa hormat pada guru serta kreatif banget. Misalnya nih, pas gurunya datang. Para murid berebut membawakan tasnya. Tentu saja sambil ngintip bocoran soal ujian di dalamnya.
Kalo murid jaman alay mah beda. Liat gurunya datang bawa tas besar, bukannya bantuin malah diketawain sambil bisik-bisik, “tuh, si botak lagi bawa kompor gas. Cepetan panggil pemadam kebakaran.”
Itu kan kurang ajar bingits namanya? Pake nyindir Indro Warkop lagi.
Contoh lainnya nih. Jaman dulu, bu guru cerewet dan galak itu ditakuti murid. Sekarang, bu guru cerewet dan galak itu… ditakuti suaminya.
Iya. Ortu jaman dulu tak bakalan nuntut kalo misalnya anaknya dipukul pake penggaris karena nakal atau tak ngerjain Pe-eR. Mereka sadar, guru tak mungkin mukul muridnya sendiri jika tak berbuat kesalahan alias terpaksa. Si murid juga tak bakalan berani mengulangi kesalahannya kembali. Kecuali… terpaksa!!
Jaman masa kini? Jangankan dipukul pake penggaris, dipelototin dikit aja langsung lapor ke komnas perlindungan anak. Katanya yang diancamlah… Yang melakukan perbuatan tidak menyenangkanlah… Udah gitu, pake ngundang wartawan lagi. Kan kasihan para guru yang matanya belok.
Tapi emang tak bisa dibandingin masa dulu ama masa sekarang. Pola pendidikan kan juga harus ngikutin perkembangan jaman. Tak mungkinlah di era internetisasi ini kita stagnant kayak jaman dulu. Misalnya nih, pas pelajaran biologi. Guru bio ngasih tugas, besok harus bawa contoh tanaman obat. Saya dulu nyari temulawak, kunyit, lengkuas di kebon atau sawah.Beda ama sekarang. Disuruh bawa tanaman obat, nyarinya di apotek.
Ya, emang bener sih. Di apotek emang banyak tanaman obat, tapi dalam bentuk ekstrak kapsul.
Yang paling lucu tuh, ponakan saya. Waktu teman-temannya sibuk nyari kunyit buat tugas praktek di sekolah, dia malah asik internetan. Waktu saya tanya, kenapa tak nyari bareng teman-teman? Dia jawab, “Ini juga lagi nyari, Om. Di Google…”
Ngomong soal Google, saya ingat materi stand up comedy tentang pendidikan paling ngaco yang pernah saya baca. Kalau tak salah judulnya… (pura-pura mikir gaya Cak Lontong). Sudahlah saya lupa. Nanti aja saya tanyain lagi ke Mbah Google.
Oya saya ingat. Judulnya Semar vs Google. Kata si penulis naskah stand up comedy yang ditulis dalam bahasa Jawa, pendidikan di Indonesia itu udah didikte oleh Google. Katanya, guru jaman sekarang malas untuk baca buku modul materi pembelajaran yang dikasih oleh diknas. Mereka lebih suka nyari bahan materi di Google. Alasannya lebih simpel dan cepat. Kita tinggal ketik keyword, materi yang diinginkan langsung keluar semua. Termasuk juga foto narsis beserta status teman-temannya…
Makanya kalau ada bu guru yang ngajar di kelas bawa laptop, muridnya harus curiga. Jangan-jangan lagi buka facebook. Untuk mengetahui gurunya lagi baca status apa, mudah kok. Perhatikan aja cara dia nerangin mata pelajaran. Jika penuh semangat, berarti baru aja baca statusnya Mario Teguh. Jika mukanya sedih, artinya dia baca status galau. Kalau sambil marah-marah, berarti lagi dapet.
Para murid juga gitu. Mereka kurang jelas jika diterangin oleh gurunya. Mereka lebih jelas jika diterangin oleh lampu.
Oke guys, saya Gondes.
Terima kasih dan sampai jumpa.
Sekolah itu nggak afdol kalo belum dikasih PR. Tapi, kadang gue itu males banget ngerjain PR. Akhirnya PR gue kerjain di sekolah, gue berusaha berangkat pagi-pagi. Rajin banget pagi-pagi udah berangkat, padahal biar sempet ngerjain PR di sekolah.
Yang gue sebel tuh kalo ada temen yang nyontek tapi nggak dikasih, gue dibilang pelit. Gue bukannya pelit, tapi dilema tau nggak sih. Nggak dikasih contekan dibilang pelit, mau ngasih contekan juga nggak baik. Yang lebih nyebelin tuh gini, gue ngasih contekan ke temen, eh nilai dia lebih tinggi dari gue.
Waktu gue sekolah pernah guru ngasih tugas buat ngerjain LKS. Trus temen-temen pada belum selesai, aku udah selesai. Gue merasa bangga dong. Trus guru itu deketin gue, kirain gue mau dipuji eh malah dimarahi gara-gara di LKS gue tulis “harga eceran Rp50.000”.
Kalo habis ulangan biasanya ada remidi buat para siswa yang nilainya nggak tuntas. Dengan ikut remidi, siswa berkesempatan memperbaiki nilai. Tapi, kadang soal remidi malah lebih susah dari soal ulangannya.
Gimana ceritanya? Ini ibarat driver Gojek disuruh balapan sama Valentino Rossi. Ngomongin Rossi gue jadi inget MotoGP. Ada yang bilang kalo Marquez itu hebat karena motornya yang emang cepat. Ya iyalah, coba kalo Marquez balapannya pake Mio, yang lain pake motor 1.000 cc, balapannya di Jakarta, Jakartanya lagi banjir. Yang menang Marquez lah, soalnya balapannya jadi lomba dorong motor.
Kalo hari Senin sekolah biasanya ngadain upacara. Dulu lapangan sekolah gue masih tanah, jadi kalo lapangannya becek nggak upacara. Makanya dulu gue seneng banget kalo hari Minggu hujan, berharap lapangan sekolah becek. Tapi, kalo gak hujan, hujan tapi lapangan tidak becek, masih ada harapan. Kali aja pagi-pagi hari senin gerimis.
Di sekolah tuh ada yang namanya ujian nasional, atau disingkat UN. UN di Indonesia tuh nggak jauh-jauh dari yang namanya bocoran. Temen-temen pada patungan buat beli kunci jawaban UN. Sebelum UN pada anak-anak pada sibuk nyatet bocoran.
Kalo gue sih enggak, nggak ikut patungan. Parahnya nih, ada yang nulis bocoran di mushola, biar nggak ketahuan. Mungkin malaikatnya bilang gini, “Alhamdulillah anak-anak sebelum mengikuti UN mau doa berjamaah dulu, mau solat dhuha”. Begitu pada masuk sekolah, eh malah pada nulis bocoran. Malaikat di-PHP-in.
Pas UN dimulai, awalnya anteng, lama-lama nyontek. Lu tau dong kode-kode nyontek gimana, misalnya kalo jawabannya A pegang alis. Yang nggak sempet nyontek, pake metode ngitung kancing. Ada yang malah ngawasin pengawas.
Sekolah itu belum lengkap rasanya kalau belum diberi Tugas Rumah (TR). Namun, terkadang saya sungguh malas mengerjakan TR. Akhirnya, saya mengerjakan TR di sekolah, dan berusaha bangun pagi-pagi.
Saya rajin banget bangun pagi agar ada waktu untuk mengerjakan TR di sekolah. Tetapi, yang membuat saya kesal adalah jika ada teman yang mencontek tapi saya tidak memberi, saya dianggap pelit.
Sebenarnya, saya bukan pelit, tapi saya hanya dalam dilema, tahu nggak? Jika saya tidak memberi contekan, saya dianggap pelit, tapi jika saya memberi contekan, itu juga tidak baik. Yang lebih menjengkelkan adalah saat saya memberi contekan kepada teman, tapi nilai mereka justru lebih tinggi daripada saya.
Saat sekolah dulu, ada tugas membuat Lembar Kerja Siswa (LKS). Teman-teman masih sibuk mengerjakan, tetapi saya sudah selesai. Saya merasa bangga, tapi tiba-tiba guru mendekati saya. Saya kira akan dipuji, ternyata saya malah dimarahi karena di LKS saya masih ada tulisan harga eceran Rp50.000.
Setelah ujian, biasanya ada remidi bagi siswa yang nilai ujiannya tidak mencukupi. Melalui remidi, siswa berkesempatan memperbaiki nilai. Namun, terkadang soal remidi justru lebih sulit daripada soal ujian awal.
Ini seperti meminta seorang pengemudi Gojek untuk balapan melawan Valentino Rossi. Speaking of Rossi, saya jadi teringat MotoGP. Ada yang mengatakan bahwa Marquez hebat karena motornya memang cepat.
Tentu saja, coba bayangkan jika Marquez balapan dengan menggunakan motor Mio, sedangkan yang lain menggunakan motor 1.000 cc, dan balapannya digelar di Jakarta saat banjir. Tentu yang menang akan tetap Marquez, karena balapan menjadi perlombaan mendorong motor.
Pada hari Senin, biasanya diadakan upacara di sekolah. Dulu, lapangan sekolah saya masih berupa tanah, sehingga jika lapangan becek, upacara dibatalkan. Oleh karena itu, saya senang jika hari Minggu hujan, berharap lapangan sekolah menjadi becek. Namun, jika tidak hujan atau meski hujan tapi lapangan tidak becek, saya masih mempertahankan harapan. Siapa tahu pagi hari Senin ada gerimis.
Teman-teman, kalian tahu nggak sih, dulu waktu masih sekolah, guru-guru suka banget ngasih tugas yang katanya "mudah kok, cuma 1 halaman aja." Terus tau nggak, pas kita buka bukunya, malah ada 10 pertanyaan yang panjangnya setengah halaman! Itu gimana nggak bikin bingung? Sekarang jadi flashback trauma tiap kali lihat buku setebal ini, "Waspada, ini bukan 1 halaman!"
Ingat nggak dulu pas ujian? Kita kayak lagi di medan perang. Matahari yang mengejek kita dari jendela, dan papan tulis yang kayak peta konflik yang nggak ada jalan keluarnya. Nah, pas ngeliat soal nomor satu, rasanya kayak nemu harta karun.
Tapi begitu baca soal nomor dua, "Halah, udah ketemu batu biasa aja ternyata!" Ini kayak petualangan Indiana Jones, cuma bedanya nggak ada Harrison Ford dan ada banyak kertas-kertas yang bikin galau.
Pernah nggak sih kalian mikir, kenapa sih disebut "bel" saat istirahat? Padahal bunyi bel itu kayak tanda-tanda perang, kan? Kalo dipikir-pikir, ya jangan-jangan guru-guru itu tukang spionase dan bel itu kode rahasia, "Waktunya, teman-teman, mereka tahu kita ada di mana!" Terus, kita semua langsung lari ke kelas.
Tapi, teman-teman, kita patut berbangga, kita sudah melewati semua itu dengan tegar. Kita sukses melalui ujian-ujian yang menghadang dengan hati penuh keberanian atau setidaknya dengan stok persediaan cemilan yang cukup untuk bertahan.
Ingat, pendidikan itu kayak hidup, kadang suka rumit, nggak selalu bisa diatur, tapi pasti ada momen-momen lucu di dalamnya yang bikin kita tetap semangat dan tersenyum. Terus, jangan lupa, kalau lihat guru, beri senyuman karena mereka jugalah yang bikin kita pintar, walau terkadang juga bikin pusing!
Demikian ulasan mengenai naskah stand up comedy untuk pelajar. Semoga bermanfaat!
Editor: Komaruddin Bagja
Gelaran Kompetisi Stand Up Comedy Jadi Cara Kelompok Amanah Dorong Bakat Anak Muda Aceh
Berkolaborasi dengan komunitas stand up comedy, acara ini diikuti ratusan peserta. [427] url asal
#stand-up-comedy #stand-up-comedy-aceh #kompetisi-stand-up-comedy
(Republika - News) 15/07/24 11:58
v/10840710/
REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH -- Aneuk Muda Aceh Unggul Heba (AMANAH) menggelar kompetisi stand up comedy di Ivory Coffee dan Culinary, Aceh.
Acara yang bertajuk ‘Amanah Talent Present CPNS (Calon Penerus Stand Up) Road to Grand Final’ ini bertujuan untuk mencari dan mengembangkan bakat-bakat baru dalam dunia stand up comedy, serta memperkenalkannya ke panggung nasional.
Acara yang berkolaborasi dengan komunitas stand up comedy Banda Aceh ini diikuti ratusan pendaftar. Setelah melalui berbagai tahap seleksi, terpilihlah 11 orang komika yang akan melaju ke tahap selanjutnya dan mendapatkan mentoring.
Kesebelas komika terpilih yakni, Putri Azzahra Lubis, Mela Amnidar, Said Muksalmina, Fakhur Bahri, Aditya Pratama, Zaidil Khalet, Agil Septian Sultan, Arif Mustaqim, Rafli Ananda, Septian Dwi Pamungkas dan Aksal Irfanto.
Para finalis tidak hanya bersaing untuk meraih gelar, tetapi juga mendapatkan kesempatan berharga untuk dimentori langsung oleh komika-komika berpengalaman dari Aceh.
Selain itu, mereka juga dibimbing oleh mentor terkenal seperti Bonar Manalu, yang memberikan tips dan trik berharga dalam menyusun materi stand up comedy yang kuat dan menghibur.
Menurut Bonar, anak muda Aceh berpotensi besar untuk menjadi komika-komika yang hebat dan berkembang dalam industri kreatif di Tanah Air.
"Aceh memiliki bakat-bakat luar biasa dalam stand up comedy yang dapat menjadi motor penggerak untuk menghidupkan industri kreatif lokal. AMANAH dengan kompetisinya tidak hanya mencari bakat, tetapi juga mengembangkannya melalui mentoring dan pelatihan yang intensif," ungkap Bonar, Ahad (14/7/2024).
Sementara salah satu finalis Aditya Pratama mengungkapkan kegembiraannya atas proses mentoring yang intensif ini.
"Saya baru sebulan ini terjun ke stand up comedy, dan dengan adanya bimbingan dari bang Bonar, saya merasa sangat terbantu untuk mempersiapkan diri menghadapi grand final. Inisiatif AMANAH sangat luar biasa dalam memberikan platform bagi komika-komika muda Aceh seperti saya untuk berkembang," ucap Aditya.
Hal senada disampaikan peserta Mela Amnidar. Dia mengatakan AMANAH telah berperan penting sebagai wadah yang luas bagi anak muda Aceh untuk mengekspresikan diri dan mengaktualisasikan potensi mereka tidak hanya dalam stand up comedy, tetapi juga dalam berbagai aspek kreatif lainnya.
"AMANAH bukan hanya tentang kompetisi stand up comedy, tetapi juga mengadakan berbagai event dan lomba yang memperkaya bakat-bakat di Aceh. Ini adalah kesempatan luar biasa bagi kami untuk belajar dan tumbuh bersama," ujar Mela.
Dengan adanya dukungan seperti ini, AMANAH berharap dapat terus menjadi pionir dalam mendukung perkembangan industri kreatif di Aceh serta memberikan kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda untuk mengeksplorasi dan mengembangkan bakat mereka.
Melalui kompetisi stand up comedy ini, diharapkan akan lahir komika-komika muda yang dapat menghibur dan menginspirasi dengan cerita-cerita mereka, tidak hanya di Aceh tetapi juga di seluruh Indonesia.
Raim Laode Ungkap Kegelisahan Membuatnya Terus Berkarya
Seniman serba bisa Raim Laode mengungkap, kegelisahan membuatnya terus berkarya. Saat ini, Raim pun semakin dikenal lewat karya-karyanya, baik sebagai stand up comedy, aktor, maupun penyanyi dan penci [239] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #raim-laode #kampanye-juarakanhidupmu #stand-up-comedy #pencipta-lagu-komang #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 09/07/24 19:15
v/10215663/
JAKARTA, investor.id – Seniman serba bisa Raim Laode mengungkap, kegelisahan membuatnya terus berkarya. Saat ini, Raim pun semakin dikenal lewat karya-karyanya, baik sebagai stand up comedy, aktor, maupun penyanyi dan pencipta lagu.
“Kegelisahan itu mental-mentalnya orang juara. Ada kegelisahan saya yang hanya bisa dituangkan pada stand up comedy, ada kegelisahan saya yang hanya bisa diinovasikan dalam musik. Jadi kegelisahan, inovasi, adalah mental orang-orang juara,” tegas Raim Laode dalam kampanye #JuarakanHidupmu di Jakarta, baru-baru ini.
Raim memaparkan, salah satu hasil kegelisahannya adalah lagu berjudul Komang yang sangat disuka pecinta music Indonesia. “Komang itu istri saya. Dia orang Bali tapi sudah masuk Islam. Namanya memang masih Hindu, saya ada rencana ganti namanya jadi Istikomang,” kata Raim yang disambut gelak wartawan.
Maksud Raim tentu nama istrinya diganti menjadi nama yang Islami, yaitu Istikomah, tapi dia menyebutnya Istikomang.
Raim Laode mewakili sosok inspiratif yang berhasil mengubah tantangan menjadi peluang dalam kampanye tersebut. Pria kelahiran Desa Liya Togo - Wakatobi ini membagikan pengalamannya dalam mewujudkan impian sebagai seorang pelawak tunggal, aktor, penulis lagu, dan penyanyi.
“Saya mengawali mimpi dari sebuah tempat yang jauh dari ibu kota, dari bawah. Jika saat ini banyak orang mengenal dan bisa mengapresiasi karya-karya saya, itu karena mimpi yang berani diperjuangkan. Jadi jangan segan berjuang, jangan patah karena tantangan, berani bermimpi,” ungkap Raim.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News