JAKARTA, investor.id – Sebanyak enam saham menghasilkan cuan jumbo di atas 100% hanya dalam tempo sebulan. Harga saham-saham tersebut terbang 102% hingga 237% selama Agustus 2024.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang baru dirilis, saham PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO) tercatat sebagai saham yang mencetak cuan paling jumbo mencapai 237,8%.
Diikuti, saham PT Trimuda Nuansa Citra Tbk (TNCA) 202,1%, PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk (JMAS) 167,2%, dan PT Green Power Group Tbk (LABA) 134,7%.
Kemudian, saham PT MNC Kapital Tbk (BCAP) 125,4% dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) 102%.
Sebaliknya, ada juga enam saham yang bikin rugi besar karena anjlok parah dalam sebulan. Harga saham-saham tersebut ambles dari 18% hingga 66% selama Agustus 2024.
Enam saham tersebut antara lain PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) yang anjlok 66,6%, PT Dosni Roha Indoesia Tbk (ZBRA) terjungkal 44,1%, dan PT Eratex Djaja Tbk (ERTX) jatuh 34,2%.
Lalu, saham PT Indo American Seafoods Tbk (ISEA) terpangkas 28,4%, PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) tergerus 21,3%, dan PT Mustika Ratu Tbk (MRAT) turun 18,6%.
Target IHSG 2024 Dinaikkan
Sementara itu, Mandiri Sekuritas menaikkan proyeksi indeks harga saham gabungan (IHSG) 2024 menjadi 7.800 dengan bull case mencapai 8.000. Sebelumnya, proyeksi Mandiri Sekuritas adalah 7.460 dengan bull case 7.640. Hal ini terjadi setelah memperhitungkan pemangkasan suku bunga The Fed dan BI yang lebih agresif.
Head of Equity Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas Adrian Joezer mengatakan, kuatnya imbal hasil lebih lanjut akan menjadikan IHSG sebagai kelas aset yang menarik saat ini dengan pendapatan 8% dan imbal hasil dividen 5%.
“Dengan membaiknya cakupan pasar dan revisi laba yang positif baik pada saham-saham berkapitalisasi besar maupun menengah, IHSG masih tetap menarik, terutama mengingat menguatnya nilai tukar Rupiah pada kuartal ini,” ungkap dia.
Menurut Adrian, di antara proksi yang sensitif terhadap tingkat suku bunga (rate sensitive proxies), posisi tetap ringan di sektor consumer cyclicals (ritel, otomotif, teknologi), serta menara telekomunikasi.
“Kami memproyeksikan IHSG bisa mencapai 7.800-8.000 pada akhir tahun 2024, naik dari 7.460, karena kami menaikkan asumsi pemangkasan suku bunga The Fed dari 25 bps menjadi 50-75 bps, dengan pemangkasan suku bunga BI yang lebih agresif yaitu sebesar 50 bps, bukan 25 bps,” ujarnya.
Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun dalam pada perdagangan awal pekan ini dan dibumbui Gonjang-ganjing kekhawatitan akan resesi di Amerika Serikat (AS). Bagaimana kemudian target IHSG terbaru di tengah dinamika pasar yang terjadi?
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan saat ini pasar memang diwarnai oleh kekhawatitan resesi AS. Investor gundah gulana melirik prospek perekonomian AS, termasuk tingkat pengangguran yang masih tinggi dan inflasi yang belum kunjung mereda.
Seperti diketahui, angka pengangguran AS di luar dari ekspektasi para ekonomi dunia. Statistik AS mencatat bahwa angka pengangguran per Juli naik menjadi 4,3%. Padahal proyeksi hanya di level 4,1%.
Hal tersebut membuat lantai bursa dunia merespons negatif rapor merah pengangguran AS.
IHSG sendiri pada penutupan awal pekan ini, Senin (5/8/2024) mencatatkan pelemahan sebesar 3,4% atau 248,46 poin ke level 7.059,65. Meskipun, pada akhir pekan, Jumat (9/8/2024), IHSG membukukan penguatan sebesar 0,86% atau 61,87 poin ke level 7.256,996.
IHSG masih mencatatkan pelemahan 0,22% sepanjang tahun berjalan atau secara year-to-date (YtD).
Sukarno mengatakan apabila terjadi resesi di AS, akan terdapat dampak ke pasar saham global, termasuk IHSG. "Karena bisa menyebabkan penurunan permintaan global akibat pelambatan ekonomi AS," kata Sukarno kepada Bisnis.com, Jumat (9/8/2024)
Kemudian, terjadi capital outflow karena pelaku pasar biasanya akan menarik dananya dari pasar saham yang dianggap beresiko. Dengan begitu, terjadi penurunan aliran modal asing yang dapat menekan nilai tukar rupiah serta pelemahan IHSG.
"Ketika terjadi capital outflow atau net sell asing biasanya saham-saham big cap dan sektor perbankan jadi sasaran asing," tutur Sukarno.
Menurut Sukarno, sebelumnya IHSG sudah sentuh target skenario bearish di 6.896 dan level terendah IHSG tahun ini di 6.698 per Juni 2024. Apabila skenario resesi dan IHSG bisa terdampak, maka tidak menutup kemungkinan indeks bisa ke level 6.950.
Sementara, untuk skenario bullish, tidak terjadi resesi, dan The Fed berpeluang menurunakan tingkat suku bunga, maka indeks bisa menguat. Setelah itu jika IHSG bisa menguji level resistance 7.354 ada peluang indeks lanjut uptrend ke target 7.576 dan 7.835.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan selama adanya potensi soft lending di AS, maka ancaman resesi di AS terhindar. "Asalkan jangan sampai terjadi hard landing, karena tentunya akan membawa perekonomian ke jurang resesi," ujarnya.
Sebelumnya, Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Adrian Joezer mengatakan Mandiri Sekuritas masih memiliki pandangan positif terhadap IHSG, seiring dengan potensi penurunan suku bunga di AS.
Mandiri Sekuritas mempertahankan target IHSG di akhir tahun yaitu pada rentang 7.460-7.640.
"Secara sektor, selain saham big caps, kami menjagokan selain sektor perbankan juga sektor konsumer dan telekomunikasi," kata Joezer di Menara Mandiri, Jakarta, Rabu (7/8/2024).
Meski demikian, lanjutnya, pelaku pasar juga tetap harus memilih saham-saham secara selektif di sektor tersebut. Joezer menyarankan investor untuk memilih saham-saham yang memiliki kualitas tinggi.
Dia melanjutkan, selain tiga sektor tersebut, investor juga dapat melirik saham-saham yang bersifat sensitive terhadap perubahan suku bunga.
Untuk saat ini, lanjut Joezer, pihaknya belum mengetahui berapa kali penurunan suku bunga akan terjadi di tahun ini. Selain itu, pihaknya juga masih belum bisa memastikan apakah ekspektasi penurunan suku bunga 200 basis poin (bps) masih bisa terjadi di tahun depan.
Apabila hal tersebut terjadi, maka saham-saham yang sensitif suku bunga akan mendapatkan manfaat. Saham-saham rate sensitive tersebut adalah saham-saham yang berada di sektor properti, menara, dan teknologi.
"Akan tetapi saya rasa kita mesti masuk ke saham dengan high quality names dulu begitu," tuturnya.
Bisnis.com, JAKARTA - Mandiri Sekuritas mempertahankan target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di akhir tahun yaitu pada rentang 7.460-7.640. Menurut Mandiri Sekuritas, terdapat beberapa sektor saham yang dapat diperhatikan pelaku pasar di semester II/2024 ini.
Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Adrian Joezer menjelaskan dengan asumsi pemotongan suku bunga The Fed terjadi di kuartal IV/2024, Mandiri Sekuritas memiliki pandangan positif terhadap IHSG.
"Secara sektor, selain saham big caps, kami menjagokan selain sektor perbankan juga sektor konsumer dan telekomunikasi," kata Joezer di Menara Mandiri, Jakarta, Rabu (7/8/2024).
Meski demikian, lanjutnya, pelaku pasar juga tetap harus memilih saham-saham secara selektif di sektor tersebut. Joezer menyarankan investor untuk memilih saham-saham yang memiliki kualitas tinggi.
Dia melanjutkan, selain tiga sektor tersebut, investor juga dapat melirik saham-saham yang bersifat sensitive terhadap perubahan suku bunga.
Untuk saat ini, lanjut Joezer, pihaknya belum mengetahui berapa kali penurunan suku bunga akan terjadi di tahun ini. Selain itu, pihaknya juga masih belum bisa memastikan apakah ekspektasi penurunan suku bunga 200 bps masih bisa terjadi di tahun depan.
Apabila hal tersebut terjadi, maka saham-saham yang sensitif suku bunga akan mendapatkan manfaat. Saham-saham rate sensitive tersebut adalah saham-saham yang berada di sektor properti, menara, dan teknologi.
"Tapi saya rasa kita mesti masuk ke saham dengan high quality names dulu begitu," tuturnya.
Adapun pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG tercatat berada pada level 7.212. Meski demikian, kinerja IHSG masih tercatat underperform 0,83% sejak awal tahun atau year to date (YTD).
Beberapa indeks sektoral tercatat menguat sejak awal tahun ini. Indeks sektoral tersebut seperti Indeks Energy yang naik 15,26%, Basic Materials yang naik 1,19%, dan Healthcare yang naik 4,98%.
Sementara itu, indeks-indeks sektoral lainnya tercatat masih melemah sejak awal tahun. Indeks sektoral dengan pelemahan paling dalam adalah indeks Teknologi yang turun 27,88%, Transportasi & Logistic yang turun 15,28%, dan Properties & Real Estate yang turun 9,55% YTD.
IHSG menghadapi sejumlah tantangan memasuki paruh kedua tahun ini. Para sekuritas pun memiliki pandangan beragam terkait target IHSG hingga akhir 2024. [1,019] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghadapi sejumlah tantangan pada semester II/2024, baik dari sentimen global maupun domestik. Sejumlah sekuritas pun memiliki pandangan beragam terkait target IHSG hingga akhir 2024.
Pada penutupan perdagangan Senin (8/7/2024), IHSG parkir melemah tipis 0,03% di posisi 7.250,97. Secara year-to-date (YtD), IHSG juga masih terkoreksi 0,30%.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan untuk semester II/2024 terdapat beberapa sentimen yang dapat mempengaruhi pergerakan IHSG, di antaranya yaitu adanya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada September 2024 yang secara probabilitas telah naik ke angka 69%.
Selain itu, pemilu Amerika Serikat (AS) dan perkembangan ekonomi di China diperkirakan juga masih menjadi perhatian investor. Menurutnya, investor akan tetap mencermati nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang saat ini sedang mengalami penguatan.
Dari sisi domestik, transisi pemerintahan baru juga akan memengaruhi IHSG, investor masih akan mencermati akan kebijakan fiskal yang akan berlangsung. Adapun, Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Prabowo-Gibran akan dilantik pada Oktober 2024.
"MNC Sekuritas memperkirakan pergerakan IHSG akan berada pada rentang 7.100-7.300 di akhir tahun 2024," ujar Herditya kepada Bisnis, Senin (8/7/2024).
Terkait rekomendasi saham, dia mengatakan emiten yang dapat dicermati secara teknikal antara lain BRIS dengan target harga Rp2.700-Rp2.870, ASII dengan target Rp4.800-Rp5.000, ULTJ Rp1.910-Rp2.000, dan ICBP dengan target harga Rp10.775-Rp11.300 per saham.
Senada, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan beberapa sentimen positif untuk IHSG pada semester II/2024 yaitu potensi pemangkasan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia (BI), serta penurunan harga minyak dunia.
Sejauh ini, Bank Sentral AS The Fed masih menahan suku bunga di kisaran 5,25%-5,5%. Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga di level 6,25%.
Sementara itu, dari dalam negeri, sentimen positifnya yakni pelantikan presiden terpilih dan penentuan kabinet baru, serta revisi kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI), terutama soal papan pemantauan khusus full call auction (PPK FCA).
Kendati demikian, menurut Nico IHSG masih menghadapi sejumlah tantangan seperti pemilu di AS dan di beberapa negara seperti Prancis dan Inggris, serta potensi batalnya pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini.
Lebih lanjut dia mengatakan, kebijakan short selling oleh BEI juga menjadi katalis negatif bagi IHSG, sebab belum diketahui apakah kebijakan itu dapat diterima oleh para pelaku pasar dan investor.
"Terkait target IHSG kami masih di 7.350 hingga 7.460 sampai akhir tahun. Sektor saham pilihan yaitu finansial, consumer non-cyclicals, infrastruktur dan transportasi logistik. Apabila tingkat suku bunga turun, properti dan otomotif juga menjadi pilihan," ujar Nico kepada Bisnis.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas menurunkan proyeksi target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi 7.585 pada akhir 2024. Sebelumnya, Mirae Asset memprediksi IHSG mampu menyentuh level 8.100 tahun ini.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, prediksi IHSG tersebut terutama karena didasari pertimbangan makroekonomi terkini terkait ruang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang lebih terbatas dan posisi nilai tukar rupiah.
"Sebelumnya memang kami prediksi IHSG bisa ke level 8.100, tapi memang karena kondisinya yang kita semua ketahui tidak sesuai dengan perkiraan sebelumnya, maka kami turunkan jadi 7.585,” ujar Rully dalam acara Investor Network Summit 2024 belum lama ini.
Lebih lanjut dia mengatakan, sejalan dengan prediksi tersebut, Tim Riset Mirae Asset memiliki 9 saham pilihan (top picks) yaitu ACES, ASII, BBRI, BBCA, BMRI, CPIN, MAPI, MYOR, dan TLKM.
Menurut Rully, penyesuaian top picks tersebut dilakukan dengan memasukkan BMRI dan TLKM untuk menggantikan ANTM dan HRUM.
"Penyesuaian itu perlu dilakukan di tengah volatilitas pasar yang cukup tinggi sehingga perlu lebih selektif dalam pemilihan saham berkapitalisasi pasar besar dan berfundamental kuat," katanya.
Adapun, volatilitas itu tecermin dari arus keluar modal asing dari pasar modal (net foreign sell) sebesar US$2,8 miliar, yang terdiri dari US$2,7 miliar dalam bentuk obligasi pemerintah dan US$600 juta dalam bentuk saham dan efek ekuitas lain sejak awal tahun hingga 24 Juni 2024.
Rully mengatakan masih optimistis kondisi Indonesia akan positif sejalan dengan prediksi ruang penurunan suku bunga acuan BI masih akan dipengaruhi oleh posisi nilai tukar rupiah yang semakin stabil dan potensi penurunan suku bunga acuan AS (Fed Fund Rate/FFR).
Sejauh ini, The Fed masih menahan suku bunga di kisaran 5,25%-5,5%, sedangkan Bank Indonesia (BI) juga menahan BI rate di level 6,25%.
Dia juga memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan akan sesuai target pertumbuhan BI sebesar 10%-12%. Kebijakan BI yang diambil saat ini berfungsi untuk mendukung stabilitas, dan Mirae Asset memperkirakan hal ini akan bertahan lebih lama dengan pengaruh dari volatilitas rupiah yang semakin terjaga.
“Maka dari itu, kami memprediksi pertumbuhan PDB Indonesia menjadi 5,01% pada 2024 dan 5,02% pada 2025, karena kebijakan penurunan suku bunga yang kurang agresif dibanding perkiraan sebelumnya,” pungkasnya.
Terkait perekonomian global pada semester II/2024, diprediksi akan ditopang oleh AS dan India sebagai mesin pertumbuhan hingga tahun depan. Untuk AS, dia juga meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam akan moderat, didorong oleh dampak lambat dari pengetatan kebijakan moneter yang sangat agresif sejak 2022.
Sebagai faktor lain, Rully meyakini ketidakpastian masih sangat tinggi dan sulit memprediksi berlanjutnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel. Ketegangan geopolitik di daerah lain, juga dapat mendorong volatilitas jangka pendek, tetapi angka permintaan global masih lemah terutama karena lemahnya pertumbuhan ekonomi China.
Berikut Rekomendasi Saham Mirae Asset dan Potensi Return (ROE) 2024:
1. ASII (10,7%)
2. TLKM (21,2%)
3. BMRI (20,58%)
4. BBCA (21,19%)
5. BBRI (19,33%)
6. CPIN (10,2%)
7. MYOR (19,4%)
8. MAPI (20%)
9. ACES (13,2%)
____________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.