Ada sekira 100 orang yang menghuni tenda-tenda yang dibangun di depan kantor UNHCR. Dari jumlah tersebut, 20 di antaranya anak-anak. Halaman all [417] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - KH (39), pria pencari suaka asal Afghanistan menyebut, ada sekitar seratus pengungsi yang tinggal di tenda-tenda depan kantor Komisariat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) di Jalan Setia Budi Selatan, Jakarta Selatan.
Selain Afghanistan, para warga negara asing (WNA) itu ada yang berasal dari Ethiopia dan Somalia. Mereka mengaku tidak bisa pulang ke negara masing-masing karena situasi sedang tidak aman.
"Di sini sekitar 100 (orang), (anak-anak) sekitar 20 saya pikir," ujar KH (39), pengungsi asal Afghanistan, saat ditemui di depan kantor UNHCR, Jumat (1/8/2024).
KH sendiri mengaku sudah tiga bulan tinggal di bawah terpal yang ia sebut sebagai tenda di depan kantor UNHCR itu. Beberapa lainnya disebut sudah tinggal selama sembilan bulan di tenda tersebut.
Menurut KH, dirinya dan para pengungsi pencari suaka lainnya membangun tenda di depan kantor UNHCR karena tidak lagi mendapatkan bantuan biaya hidup. Sebelumnya, KH dan pengungsi lain mendapat uang Rp 1,8 juta setiap bulan dari UNHCR.
Untuk itu, para pengungsi pencari suaka ini meminta perhatian UNHCR atas kejelasan nasib mereka.
"Jika negara kami aman untuk hidup kami, mengapa kami harus datang ke sini? Jadi kami butuh UNHCR untuk bertanggung jawab," katanya.
KH bilang, dirinya dan beberapa pencari suaka lainnya bahkan kebingungan untuk mencari makan. Katanya, ia dan pengungsi lain hanya makan satu kali sehari, itu pun dari pemberian warga.
Para pengungsi juga tidak mendapatkan akses air bersih dan toilet untuk buang air atau mandi.
"Kebanyakan orang tidur di sini. Masalah besar ketika hujan datang, terutama untuk anak-anak dan perempuan," tambah dia.
Oleh karenanya, KH berharap UNHCR memberi kejelasan tentang nasib para pengungsi pencari suaka. Namun, KH merasa kesulitan untuk menyampaikan keluhan mereka ke pihak UNHCR.
"Bagaimana caranya? Keamanan tidak mengizinkan kami. Itulah yang kami inginkan, setidaknya kami ingin berbicara langsung sengan UNHCR sampai mereka mendengarkan kami, apa masalah kami," tutup dia.
JAKARTA, KOMPAS.com- KH (39), pria pencari suaka asal Afghanistan mengaku telah tiga bulan tinggal di tenda yang dibangun di depan kantor Komisariat Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Pengungsi (United Nations High Commissioner for Refugees/UNHCR) di Jalan Setia Budi Selatan, Jakarta Selatan.
Namun, selama ini, KH belum pernah mendapat kesempatan untuk menyampaikan keluh kesahnya terkait keadaan para pengungsi pencari suaka ke pihak UNHCR.
Oleh karenanya, KH ingin segera bertemu dengan pihak UNHCR guna membicarakan nasibnya dan para pengungsi lain.
"Bagaimana caranya? Keamanan tidak mengizinkan kami. Itulah yang kami inginkan, setidaknya kami ingin berbicara langsung dengan UNHCR sampai mereka mendengarkan kami, apa masalah kami," kata KH saat ditemui Kompas.com, Jumat (2/8/2024).
KH mengatakan, satu-satunya cara untuk dia dan pengungsi lain dapat berkomunikasi dengan pihak UNHCR adalah melalui sambungan telepon yang diberikan oleh staf keamanan.
Namun, pembicaraan melalui telepon itu ia nilai tidak efektif karena biasanya hanya berlangsung beberapa menit.
"Seperti beberapa menit yang lalu, hanya beberapa menit, mereka tidak memberi kami waktu. Itu sebabnya orang-orang kesal," tambah dia.
KH bercerita, dirinya dan para pengungsi pencari suaka lainnya membangun tenda di depan kantor UNHCR setelah tidak lagi mendapatkan bantuan biaya hidup.
Menurut KH, sebelumnya ia mendapatkan uang Rp 1,8 juta setiap bulan dari UNHCR.
"Sebelumnya, UNHCR dan CWS (Chruch World Service) membantu kami dengan biaya hidup bulanan. Tapi, sekarang semua pengungsi telah berhenti menerima bantuan," ujar KH.
KH menyebut, UNHCR juga tidak memberi makan, air bersih, atau fasilitas toilet ke para pencari suaka.
Untuk makan saja, kata KH, dia dan para pengungsi lain harus menunggu kemurahan hati warga yang melintas di sekitar kantor UNHCR.
Sementara, untuk mandi atau buang air, para pencari suaka biasanya mencari masjid terdekat.
"Masalah besar adalah ketika hujan datang, terutama untuk anak-anak dan perempuan. Masalah besar lainnya di sini juga tentang toilet untuk mandi, beberapa masjid sudah tidak mengizinkan kami lagi (untuk mandi)," tambah dia.
KH melanjutkan, di depan kantor UNHCR, terdapat sekira 20 anak-anak yang mesti hidup di tenda bersama para orang dewasa.
Jika hujan datang, beberapa pengungsi pencari suaka harus pergi ke gedung terdekat untuk meneduh.