#30 tag 24jam
Dear Kelas Menengah, Ini Tips Pekerja UMR Jakarta Bisa Beli Rumah
Perencana keuangan Andy Nugroho memberikan tips agar kelas menengah, khususnya pekerja dengan gaji UMR Jakarta dapat membeli rumah. [406] url asal
#tips-keuangan #tips-kelola-keuangan #tips-beli-rumah #umr-jakarta #kelas-menengah #rumah-subsidi
(Bisnis.Com - Finansial) 25/08/24 00:00
v/14660083/
Bisnis.com, JAKARTA - Memiliki rumah merupakan impian hampir setiap orang. Sayangnya, harga lahan terus meningkat membuat orang kesulitan untuk membeli rumah, khususnya di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Jakarta menjadi provinsi dengan presentase terendah kepemilikan rumah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat presentase kepemilikan rumah sendiri di Jakarta hanya 56,6%.
Menurut BPS Provinsi DKI Jakarta 2022, dari sekitar 2,78 juta rumah tangga, sebanyak 63% atau sekitar 1,77 juta rumah tangga belum memiliki rumah sehat dan layak huni.
Di sisi lain, harga rumah di Jakarta terus merangsak naik. Dalam laporan hasil riset LPEM FEB UI mencatat kenaikan rata-rata tahunan harga rumah tertinggi terjadi pada rumah tipe kecil, yakni 4,41% ketika periode pra-pandemi dan 1,86% setelah pandemi.
Sementara, kenaikan rata-rata tahunan harga rumah tipe menengah dan besar relatif moderat, yakni 2,45% pra-pandemi dan 2,07%pasca-pandemi untuk rumah tipe menengah.
Kemudian, untuk rumah tipe besar kenaikan rata-rata per tahun adalah 1,42% pada pra-pandemi dan 1,13% ketika pascapandemi Covid-19. Meskipun tumbuh melambat, tingkat harga rumah masih relatif tinggi terutama di kota-kota besar.
Melihat fenomena tersebut, perencana keuangan Andy Nugroho memberikan tips agar kelas menengah, khususnya pekerja dengan gaji upah minimum regional (UMR) Jakarta dapat membeli rumah sendiri dengan budget terbatas.
Andy memberi simulasi untuk pembelian harga rumah seharga Rp300 juta, maka DP yang perlu disiapkan sebesar 20% dari harga rumah, yakni Rp60 juta.
Perlu diingat, harga rumah tersebut mungkin tidak akan tersedia di wilayah kota Jakarta. Namun, pekerja bisa mencari lokasi rumah di pinggiran Jakarta, misalnya kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi, atau Kabupaten Tangerang.
Meski lokasinya agak jauh, pengembang masih membangun rumah sederhana dengan harga terjangkau yang bisa dibeli dengan pekerja dengan UMR Jakarta saat ini, yakni sekitar Rp5 juta per bulan.
"Dana Rp60 juta ini bisa dicicil nabungnya dengan menyisihkan sekitar 20% dari penghasilan bulanan. Dengan UMR Jakarta yang berjumlah Rp5 juta, maka dana yang ditabung sejumlah Rp1 juta per bulan, atau butuh 60 bulan agar kebutuhan dana yang dimaksd bisa tercapai," ujar Andy kepada Bisnis, Sabtu (24/8/2024).
Karena kebutuhan ini termasuk kebutuhan jangka panjang, dia menyarankan maka dana yang dipersiapkan bisa ditabung dalam bentuk logam mulia, serta reksadana berbasis pasar saham ataupun reksadana campuran.
"Seandainya angka Rp60 juta tersebut sudah terkumpul, maka harga rumah yang dibeli juga harus dicermati dengan bijak dan dimintakan dulu skema pembayaran serta jumlahnya, mengingat kemampuan membayarnya hanya sebesar Rp1 juta per bulan tadi," tandasnya.
Beli Rumah Rp300 Juta dengan Tenor 15 Tahun, Kira-kira Berapa Cicilannya?
Untuk menghitung berapa cicilan bulanan KPR, kamu perlu mengetahui berapa harga rumah, DP yang kamu siapkan, hingga suku bunga yang ditetapkan bank. [719] url asal
#kpr #tips-beli-rumah #hitung-cicilan-kpr #tips-properti #pengajuan-kpr
(MedCom - Properti) 09/08/24 20:16
v/13954865/
Jakarta: Kredit Pemilikan Rumah (KPR) merupakan solusi yang memudahkan bagi masyarakat untuk memiliki rumah. Pasalnya, kamu tidak perlu menyiapkan uang sebanyak harga rumah melainkan bisa mencicilnya dengan jangka waktu tertentu.Rumah yang bisa dibeli dengan skema KPR pun beragam, mulai dari rumah ukuran 36, 42, 70, hingga rumah mewah sekalipun. Hal ini lantaran, beberapa bank menawarkan plafon pinjaman KPR dengan jumlah besar hingga di atas Rp1 miliar.
| Baca juga: Beli Rumah Rp250 Juta, Berapa Kira-Kira Angsurannya? |
Sementara pembiayaan rumah yang bisa diberikan bank mulai dari Rp100 Juta. Sehingga, kamu yang berencana membeli rumah seharga Rp300 Juta juga bisa memanfaatkan produk KPR. Di bawah ini dijelaskan syarat pengajuan KPR hingga cara hitung cicilan dikutip dari laman OCBC.
Syarat pengajuan KPR
Untuk mendapatkan pembiayaan rumah atau KPR dari bank, tentu saja kamu harus memenuhi beberapa persyaratan yang ditetapkan. Adapun syarat KPR yang harus dipenuhi oleh nasabah saat hendak mengajukan kredit pemilikan rumah, yaitu.- Nasabah merupakan seorang Warga Negara Indonesia (WNI) dan berdomisili di Indonesia.
- Nasabah harus berusia minimal 21 tahun.
- Nasabah telah memiliki pekerjaan atau penghasilan tetap sebagai pegawai tetap, wiraswasta, ataupun profesional dengan masa kerja minimal 1 tahun untuk pegawai dan 2 tahun bagi profesional atau wiraswasta
- Fotokopi kartu identitas, antara lain KTP, KITAS, Paspor atau KITAP
- Surat keterangan gaji atau slip gaji bulan terakhir
- Fotokopi rekening koran
- Fotokopi surat izin praktek (khusus bagi profesional)
- Fotokopi akte perusahaan tempat bekerja atau Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
- Fotokopi tagihan bulanan kartu kredit di satu bulan terakhir
Cicilan KPR Rp300 juta tenor 15 tahun
Untuk menghitung berapa cicilan bulanan KPR, kamu perlu mengetahui berapa harga rumah, DP yang kamu siapkan, hingga suku bunga yang ditetapkan bank. Kemudian, perhitungan cicilan akan bergantung pada kebijakan suku bunga dari bank, apakah fixed atau floating.1. Cara hitung cicilan dengan bunga fixed
Misalnya, Deni ingin membeli rumah KPR seharga Rp300 Juta di kawasan Tangerang, dan sudah menyiapkan DP 20 persen dari harga yang artinya Rp60 Juta, serta berencana memilih tenor 15 tahun.Deni mengajukan KPR ke bank yang menawarkan bunga fixed sebesar 10 persen. Lalu bagaimana menghitung cicilannya?
Dalam hal ini, Deni harus mengetahui berapa hutang pokoknya terlebih dulu. Caranya, harga rumah dikurangi dengan DP yang dibayarkan. Perhitungannya sebagai berikut:
Hutang pokok = Harga rumah - DP yang dibayarkan
= Rp300 Juta - 20 persen
= Rp300 Juta - Rp60 Juta
= Rp240 Juta
Maka hutang pokok yang dimiliki Deni setelah membayar DP adalah sebesar Rp240 Juta. Dengan tenor 15 tahun atau 180 bulan, maka cicilan pokok Deni adalah Rp240 Juta / 180 = Rp1.333.333.
Setelah mengetahui hutang dan cicilan pokok, berikutnya Deni harus menghitung cicilan bunga per bulan. Rumusnya Pinjaman x Bunga Tetap ( persen) x Tenor dalam tahun / Tenor dalam bulan.
Cicilan bunga per bulan = Rp240 Juta x 10 persen x 15 /180
= Rp2 Juta
Setelah itu, untuk mengetahui besar cicilan per bulan, Deni harus menjumlahkan cicilan pokok dan cicilan bunga, yaitu Rp1.333.333 + Rp2 Juta = Rp3.333.333.
Maka, ini adalah cicilan per bulan untuk rumah KPR Rp300 Juta tenor 15 tahun dengan bunga fixed 10 persen.
Baca juga: Cara Menjual Rumah Melalui Bank beserta Tips dan Keuntungan
2. Cara hitung cicilan dengan bunga floating
Bunga floating atau floating rate adalah produk KPR yang tidak memiliki suku bunga tetap. Artinya, cicilan bisa berbeda dari tahun pertama dan berikutnya, tergantung pada fluktuasi suku bunga.Meski demikian, cara menghitung cicilan hampir sama seperti pada cara pertama di atas. Bedanya, kamu tinggal menjumlahkan berapa bunga floating yang ditetapkan pada tahun tersebut.
Dengan contoh yang sama, pada bulan pertama bank yang dipilih Deni memberikan bunga fixed sebesar 10 persen. Maka cicilan tahun pertama yang harus dibayar Pak Ari adalah Rp3.333.333.
Kemudian pada tahun kedua, terjadi fluktuasi bunga sehingga Deni harus membayar bunga sebesar 11 persen. Maka perhitungannya adalah:
Cicilan bunga per bulan = Rp240 Juta x 11 persen x 15 /180
= Rp2,2 Juta
Dengan cicilan pokok sebesar Rp1.333.333 dan ditambah cicilan bunga sebesar Rp2,2 Juta, maka cicilan per bulan di tahun kedua Deni adalah sebesar Rp3.533.333.
Itulah uraian tentang cicilan per bulan untuk rumah KPR seharga Rp300 Juta dengan tenor 15 tahun.
(KIE)
6 Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Serah Terima Rumah
Berikut ini, ada lima hal yang penting untuk diperhatikan calon pembeli rumah, khususnya sebelum melakukan serah terima. [743] url asal
#tips-beli-rumah #hal-yang-harus-diperhatikan-sebelum-serah-terima-rumah #serah-terima-rumah #tips-properti
(MedCom - Properti) 08/08/24 19:17
v/13820039/
Jakarta: Memiliki rumah pribadi menjadi impian setiap orang yang ingin dicapai, baik sebagai investasi jangka panjang ataupun tempat tinggal. Opsi membeli rumah pun beragam, mulai dari perumahan siap huni hingga hunian lama yang bisa direnovasi sesuai keinginan.Namun, tak jarang calon pembeli rumah merasa kebingungan tentang apa saja yang harus mereka perhatikan sebelum memilih rumah impiannya.
Terutama bagi kamu yang membeli rumah dari pengembang, berikut tips yang harus diperhatikan sebelum melakukan serah terima dari Brian Nathanael, seorang kreator TikTok dengan konten "Tanjun House".
| Baca juga: Sebelum Ajukan KPR, Pahami Dulu Ini |
Berangkat dari pengalaman merenovasi rumah sendiri tanpa bantuan arsitek ataupun desainer, Brian sadar bahwa ada banyak hal yang perlu diperhatikan sebelum menjatuhkan pilihan pada suatu hunian.
Berikut ini, ada lima hal yang penting untuk diperhatikan calon pembeli rumah, khususnya sebelum melakukan serah terima. Mari kita simak tips-tips praktis berikut ini!
Hal yang perlu diperhatikan sebelum serah terima rumah

Lakukan pengecekan sebelum serah terima rumah. Foto: Shutterstock
1. Cek lapisan tembok pembatas rumah
Idealnya, tembok pembatas antara rumah kita dengan tetangga memiliki dua lapis. Apabila hanya satu lapis, tembok rumah cenderung mudah lembab dan suara satu sama lain bisa saling terdengar. Tak jarang, developer memberikan dua lapis pada tembok pembatas area depan rumah saja, sehingga memberikan ilusi bahwa pembatas rumah berlapis dua."Kadang, oknum developer itu, di depannya doang dibikin kelihatan dua lapis. Padahal sebenarnya, yang ada di dalam rumah cuma satu lapis," jelas dia.
Brian pun menyarankan untuk mengetuk tembok rumah. Jika hanya satu lapis, tembok akan terasa lebih kopong. Selain itu, calon pemilik rumah juga bisa menanyakan berapa lapisan tembok rumah tersebut ke developer atau pihak penjual.
2. Uji kualitas lantai dengan kelereng
Bawa kelereng sebelum serah terima rumah. Terdengar unik, namun pantulan kelereng dapat menunjukkan kualitas lantai keramik rumah. Cukup jatuhkan kelereng ke lantai, lalu dengarkan suara dan lihat tinggi pantulannya.Jika keramik terpasang dengan baik, suara pantulan kelereng akan terdengar nyaring dan pantulannya tinggi. Sebaliknya, jika suara pantulan terdengar kopong dan tidak tinggi, besar kemungkinan bahwa lantai keramik kopong. Hal ini dapat menimbulkan gelembung dan keramik meledak di kemudian hari.
Selain itu, kelereng juga dapat digunakan untuk mendeteksi area potensi genangan air di kamar mandi. Cukup tebarkan beberapa kelereng ke lantai kamar mandi dan pastikan semua kelereng bergulir menuju floor drain. Jika ada kelereng yang tertahan di area tertentu, maka air dapat tergenang di area tersebut, sehingga kemiringan lantai perlu diperbaiki.
3. Cek kebocoran di dalam dan luar rumah
Kebocoran rumah baru kadang tak terduga sampai cuaca ekstrim melanda, salah satunya hujan badai. Calon pemilik rumah dapat mengecek kebocoran akibat hujan dengan menyiram jendela yang sudah tertutup dari luar.Lalu, perhatikan apabila ada tetesan atau rembesan air di dalam rumah. Biasanya kebocoran ini disebabkan oleh sealant jendela tidak terpasang dengan sempurna.
| Baca juga: 8 Surat Penting yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Beli Rumah |
Selain kebocoran dari luar, konstruksi rumah yang tidak sempurna juga dapat menyebabkan kebocoran dari genangan maupun aliran air di dalam rumah. Tutup semua floor drain dengan plastik, lalu siram lantai dengan air sampai tergenang dan diamkan hingga minimal satu hari.
Perhatikan apakah air merembes ke tembok atau langit-langit, terutama jika ada kamar mandi di lantai atas. Tips ini juga bisa dilakukan untuk mengecek genangan atau kebocoran di dak atap rumah.
4. Temukan tembok retak dan bergelembung dengan senter
Pastikan rumah yang baru dibeli tidak memiliki retakan maupun gelembung pada tembok, apalagi jika rumah tersebut baru dibangun.Cara paling mudah untuk mengecek adalah dengan mematikan semua lampu, lalu tempelkan senter pada dinding tembok. Tembok yang rata ditandai dengan sorotan cahaya senter yang rata.
Namun, jika tembok bergelombang atau tidak rata, sorotan cahaya pun akan terhalang. Tembok bergelembung bisa desebabkan oleh pengaplikasian cat yang kurang sempurna, permukaan dinding yang terlalu panas, atau mengindikasikan kelembaban rumah. Sementara tembok retak umumnya disebabkan oleh pergeseran struktur maupun kelembaban udara.
5. Cek sinyal di dalam rumah
Brian menceritakan salah satu penyesalannya saat membeli rumah yang dihuninya saat ini. "Mungkin ini jadi penyesalan, karena sinyal internet di rumah itu jelek. Rumah yang kebagian internet cuma setengah, dan yang di belakang enggak dapat internet. Jadi, sangat bergantung sama Wi-Fi," ujar dia.Namun, Wi-Fi tak selamanya dapat diandalkan. Ada kalanya modem mengalami kendala, sehingga kita harus mengandalkan mobile data. Maka dari itu, penting untuk mengecek apakah sinyal tetap kuat dan merata di setiap sudut rumah, salah satunya dengan menelpon tanpa putus sembari berkeliling rumah.
Selain itu, khusus untuk area perumahan baru, Brian menyarankan untuk bertanya ke pihak developer terkait ketersediaan internet service provider.
(KIE)
Beli Rumah Rp400 Juta, Gajinya Harus Berapa?
Di bawah ini akan dijelaskan tentang berapa besaran gaji yang harus dimiliki untuk membeli rumah KPR seharga Rp400 juta? [709] url asal
#kpr #tips-beli-rumah #mengajukan-kpr #tips-mengajukan-kpr
(MedCom - Properti) 05/08/24 14:38
v/13382800/
Jakarta: Kredit Pemilikan Rumah (KPR) merupakan solusi yang dipilih masyarakat untuk memiliki rumah impian. Proses pengajuan KPR memang sulit, banyak persyaratan yang perlu dilengkapi saat mengajukan KPR salah satunya terkait dengan besaran gaji.Untuk itu, kamu perlu menghitung atau memperkirakan sendiri besar cicilan yang akan kamu tanggung agar bisa diketahui berapa harga rumah yang cocok untuk danamu. Lalu, bagaimana cara menghitungnya?
Di bawah ini akan dijelaskan tentang berapa besaran gaji yang harus dimiliki untuk membeli rumah KPR seharga Rp400 juta? Berikut ini penjelasannya dikutip dari laman OCBC.
Simulasi KPR Rp400 juta
Untuk menghitung berapa cicilan bulanan KPR, kamu perlu mengetahui berapa harga rumah, DP yang kamu siapkan, hingga suku bunga yang ditetapkan bank. Kemudian, perhitungan cicilan akan bergantung pada kebijakan suku bunga dari bank, apakah fixed atau floating.1. Cara hitung cicilan dengan bunga fixed
Andi ingin membeli rumah KPR seharga Rp400 Juta di kawasan Tangerang, dan sudah menyiapkan DP 20 persen dari harga yang artinya Rp80 juta, serta berencana memilih tenor 15 tahun.| Baca juga: Mau Ajukan KPR Rp200 Juta? Segini Minimal Gajinya |
Andi kemudian mengajukan KPR ke bank yang menawarkan bunga fixed sebesar 10 persen. Lalu bagaimana menghitung cicilannya?
Dalam hal ini, Andi harus mengetahui berapa hutang pokoknya terlebih dulu. Caranya, harga rumah dikurangi dengan DP yang dibayarkan. Perhitungannya sebagai berikut:
Hutang pokok = Harga rumah - DP yang dibayarkan
= Rp400 Juta - 20 persen
= Rp400 Juta - Rp80 Juta
= Rp320 Juta
Maka hutang pokok yang dimiliki Andi setelah membayar DP adalah sebesar Rp320 Juta. Dengan tenor 15 tahun atau 180 bulan, maka cicilan pokok Pak Ahmad adalah Rp320 Juta / 180 = Rp1.777.777.
Setelah mengetahui hutang dan cicilan pokok, berikutnya Andi harus menghitung cicilan bunga per bulan. Rumusnya Pinjaman x Bunga Tetap (%) x Tenor dalam tahun / Tenor dalam bulan.
Cicilan bunga per bulan = Rp320 Juta x 10 persen x 15 /180
= Rp2.666.666
Setelah itu, untuk mengetahui besar cicilan per bulan, Pak Ahmad harus menjumlahkan cicilan pokok dan cicilan bunga, yaitu Rp1.777.777 + Rp2.666.666 = Rp4.444.443.
Maka, Rp4.444.443 adalah cicilan per bulan untuk rumah KPR Rp400 Juta tenor 15 tahun dengan bunga fixed 10 persen.
2. Cara hitung cicilan dengan bunga floating
Bunga floating atau floating rate adalah produk KPR yang tidak memiliki suku bunga tetap. Artinya, cicilan bisa berbeda dari tahun pertama dan berikutnya, tergantung pada fluktuasi suku bunga.Meski demikian, cara menghitung cicilan hampir sama seperti pada cara pertama di atas. Bedanya, kamu tinggal menjumlahkan berapa bunga floating yang ditetapkan pada tahun tersebut.
Dengan contoh yang sama, pada bulan pertama bank yang dipilih Andi memberikan bunga fixed sebesar 10 persen. Maka cicilan tahun pertama yang harus dibayar Andi adalah Rp4.444.443.
Kemudian pada tahun kedua, terjadi fluktuasi bunga sehingga Pak Ahmad harus membayar bunga sebesar 11 persen. Maka perhitungannya adalah:
Cicilan bunga per bulan = Rp320 Juta x 11 persen x 15 /180
= Rp2.933.333
Dengan cicilan pokok sebesar Rp1.777.777 dan ditambah cicilan bunga sebesar Rp2.933.333 Juta, maka cicilan per bulan di tahun kedua Pak Ari adalah sebesar Rp4.711.110.
Berapa gaji yang pas beli rumah Rp400 juta
Berapa gaji yang tepat agar Andi bisa membeli rumah KPR seharga Rp400 juta dengan estimasi cicilan per bulan sebagaimana simulasi di atas? Dalam hal ini, Andi perlu menghitung Debt Burden Ratio (DBR), yaitu perbandingan antara pendapatan bersih dengan cicilan utang per bulan.DBR menjadi salah satu tolok ukur yang digunakan bank untuk melihat kemampuan calon debitur dalam membayar cicilan bulanan. Besaran DBR umumnya berkisar antara 30-40% dari gaji take home pay (THP).
Dalam kasus Andi, ternyata bank yang dipilih menetapkan DBR sebesar 30 persen dari penghasilan THP. Dengan asumsi Andi tidak punya cicilan atau pinjaman lain, maka gaji THP minimal yang harus dimiliki Andi adalah Rp15 Juta.
Jumlah penghasilan minimal ini akan berbeda ketika Pak Ahmad juga memiliki pinjaman atau cicilan lain.
Sebagai contoh, Andi memiliki cicilan mobil sebesar Rp2 juta per bulan. Sehingga, setelah mengambil KPR dengan angsuran Rp4.711.110 per bulan, total tanggungan Andi dalam satu bulan menjadi Rp6.711.110.
Dengan jumlah cicilan tersebut, berdasarkan ketentuan DBR 30 persen, maka gaji minimal yang harus dimiliki Pak Ahmad adalah Rp21,5 Juta per bulan. Itulah ulasan mengenai estimasi gaji yang pas untuk mengajukan KPR dengan harga Rp400 Juta dan tenor 15 tahun.
(KIE)