#30 tag 24jam
Operator AurumXchange Dituntut Karena Memfasilitasi Transaksi Ilegal Kripto
Operator AurumXchange menghadapi dakwaan oleh otoritas AS atas transaksi ilegal kripto, termasuk aliran dana dari Silk Road. [550] url asal
#cryptocurrency #darknet #kripto #silk-road #transaksi-ilegal-kripto
(BlockChain-Media) 29/10/24 15:30
v/17159165/
AurumXchange, salah satu platform crypto exchange yang pernah populer di dunia darknet, kini menghadapi dakwaan berat dari otoritas hukum AS. Maximiliano Pilipis, pria berusia 53 tahun yang merupakan operator platform tersebut, dituduh memfasilitasi transaksi ilegal kripto dengan nilai jutaan dolar, termasuk aliran dana dari Silk Road, pasar gelap daring yang telah lama ditutup oleh penegak hukum.
Kasus penggunaan kripto untuk transaksi ilegal ini kembali menarik perhatian publik mengingat AurumXchange diduga mengantongi biaya layanan yang besar dari setiap transaksinya, dengan perkiraan nilai transaksi mencapai jutaan dolar.
Terindikasi Memfasilitasi Transaksi Ilegal KriptoMaximiliano Pilipis, yang sebelumnya tinggal di Noblesville, Indiana, didakwa oleh dewan juri federal atas lima tuduhan pencucian uang dan dua tuduhan terkait pelanggaran pajak.
Menurut dokumen dakwaan tersebut, Pilipis diduga telah menjalankan AurumXchange tanpa izin resmi dalam waktu yang cukup lama.

“Dari sekitar tahun 2009 hingga 2013, Pilipis mendirikan dan mengoperasikan AurumXchange untuk memungkinkan individu menukarkan Bitcoin dan mata uang virtual lainnya dengan dolar AS, serta mata uang resmi dan virtual lainnya,” ungkap dokumen tersebut.
Berdasarkan dakwaan, Pilipis dan AurumXchange diduga mengumpulkan biaya transaksi senilai jutaan dolar, termasuk lebih dari 10.000 Bitcoin yang setara dengan US$1,2 juta pada saat itu.
Sementara aktivitas transaksi ilegal kripto secara keseluruhan tercatat menurun pada tahun 2023 dengan nilai sekitar US$24,2 miliar, transaksi yang terkait dengan perdagangan narkoba dan obat-obatan terlarang justru menunjukkan tren peningkatan signifikan.
Peningkatan Transaksi Ilegal Kripto – Chainalysis Penggunaan coin crypto untuk transaksi ilegal yang semakin meluas menjadi tantangan bagi penegak hukum, yang kini harus memperkuat kolaborasi internasional untuk mengatasi aktivitas ilegal yang melibatkan mata uang digital ini.
Peran AurumXchange dalam Transaksi Ilegal Silk RoadDi bawah undang-undang federal AS, semua bisnis pengiriman uang diwajibkan mematuhi regulasi yang mencakup verifikasi identitas pelanggan (KYC), pendaftaran dengan Departemen Keuangan, serta pelaporan rutin kepada pemerintah.
Hal ini bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan sistem keuangan, melawan tindak pencucian uang, meminimalisir kripto untuk transaksi ilegal dan memperkuat keamanan nasional.
Namun, Pilipis diduga mengabaikan aturan-aturan ini, sehingga membuat AurumXchange menjadi jalur potensial bagi aliran dana dari aktivitas transaksi ilegal kripto.
Menurut pengungkapan di pengadilan, AurumXchange diduga telah memfasilitasi sejumlah besar transaksi ilegal kripto dengan nominal yang cukup besar.
“AurumXchange digunakan untuk melakukan lebih dari 100.000 transaksi, yang menghasilkan transfer dana lebih dari US$30 juta,” sebagaimana tercantum pada dokumen tersebut.
Sebagian dana yang diproses oleh AurumXchange diduga berasal dari akun-akun di Silk Road, sebuah marketplace anonim di darkweb yang menjadi tempat transaksi ilegal, termasuk perdagangan narkoba.
Silk Road sendiri telah dihentikan oleh penegak hukum pada tahun 2013, bersamaan dengan penutupan operasi AurumXchange.
Dampak Hukum yang Mengintai Pengguna KriptoKasus AurumXchange ini semakin menyoroti perlunya regulasi yang lebih ketat terhadap cryptocurrency dan kebutuhan untuk memastikan bahwa transaksi diawasi dengan baik guna mencegah penyalahgunaan kripto untuk transaksi ilegal.
Pilipis juga dilaporkan mulai mengkonversi aset hasil transaksi ilegalnya menjadi dolar AS, yang kemudian digunakan untuk membeli properti serta untuk berbagai pengeluaran pribadi.
“Sekitar tahun 2018, ia mulai mengkonversi hasilnya menjadi dolar AS, yang kemudian ia investasikan dan gunakan, termasuk pembelian properti di Arcadia dan Noblesville, Indiana,” jelas dokumen tersebut.
Jika terbukti bersalah atas dakwaan tersebut, Pilipis terancam menghadapi hukuman penjara hingga 10 tahun dan denda mencapai US$250.000. Tuntutan hukum ini seakan menjadi sinyal peringatan bagi pelaku lainnya di sektor ini bahwa transaksi ilegal kripto tidak akan luput dari perhatian penegak hukum. [dp]
Perusahaan Kimia Tiongkok Didakwa, Penggunaan Kripto dalam Transaksi Ilegal Kembali Disorot
Departemen Kehakiman AS mendakwa delapan perusahaan kimia Tiongkok terkait opioid dan penggunaan kripto dalam transaksi ilegal. [518] url asal
#crytocurrency #kripto #narkotika #transaksi-ilegal-kripto
(BlockChain-Media) 26/10/24 12:30
v/17014261/
Departemen Kehakiman Amerika Serikat baru-baru ini mendakwa delapan perusahaan kimia berbasis di Tiongkok beserta delapan karyawan mereka atas tuduhan distribusi opioid sintetis dan bahan prekursor yang digunakan untuk memproduksi fentanyl, serta penggunaan kripto dalam transaksi ilegal.
Jaksa Agung Merrick B. Garland menyatakan bahwa kasus ini menunjukkan skala ancaman global yang disebabkan oleh jaringan narkotika lintas negara.
“Hari ini, Departemen Kehakiman mengumumkan dakwaan terhadap delapan perusahaan yang berbasis di Tiongkok dan delapan individu yang kami duga bertanggung jawab atas perdagangan bahan kimia prekursor yang digunakan kartel untuk memproduksi fentanyl mematikan,” ujarnya dalam dakwaan tersebut, Kamis (24/10/2024).
Kasus ini menyoroti peran penting penggunaan kripto dalam transaksi ilegal untuk perdagangan pasar gelap, terutama dalam transaksi yang bersifat internasional, yang semakin kompleks dan sulit diatasi oleh otoritas penegak hukum.

Mata uang digital, yang sering kali sulit dilacak, digunakan oleh pelaku untuk menghindari pengawasan ketat dari otoritas. Dalam dakwaan yang kini terbuka untuk umum, dinyatakan bahwa terdakwa memasarkan layanan mereka secara terang-terangan dan mengiklankan kemampuan untuk menghindari deteksi perbatasan.
Mereka juga diduga menyamarkan kiriman mereka untuk mengelabui pemeriksaan petugas perbatasan di Amerika Serikat dan selain itu juga menggunakan cryptocurrency untuk membuatnya lebih aman dari jangkauan petugas.
Menurut Anne Milgram, Administrator Badan Penegakan Obat-Obatan AS (DEA), tindakan hukum ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan lembaganya untuk menghentikan rantai pasokan narkotika seperti fentanyl.
“Dakwaan hari ini terhadap delapan perusahaan kimia yang berbasis di Tiongkok dan delapan warga negara Tiongkok merupakan bukti lebih lanjut dari komitmen tak tergoyahkan DEA untuk mengganggu setiap aspek dari rantai pasokan fentanyl global,” tegasnya,.
Ia juga menambahkan bahwa ini adalah kali ketiga dalam setahun lembaga tersebut mengajukan dakwaan terhadap perusahaan kimia di Tiongkok terkait penyediaan prekursor fentanyl.
Jenis Narkotika Fentanyl – DEAPenggunaan kripto dalam transaksi ilegal juga menambah tantangan tersendiri bagi penegak hukum. Transaksi melalui cryptocurrency memberikan lapisan anonimitas tambahan bagi pelaku, apalagi jiga menggunakan alat seperti crypto mixer yang semakin membuatnya semakin sulit untuk dilacak.
Hal tersebut memungkinkan perusahaan-perusahaan di Tiongkok yang awalnya berfokus pada produksi narkotika, seperti fentanyl untuk tetap melanjutkan bisnis melalui prekursor setelah adanya larangan produksi terkait bahan kimia tersebut di Tiongkok pada 2019.
Sejak saat itu, prekursor fentanyl telah banyak dijual ke kartel besar di Meksiko, seperti Sinaloa dan Jalisco, yang memproduksi lalu mengedarkan fentanyl di Amerika Serikat, mereka juga menggunakan kripto dalam transaksi ilegal tersebut untuk membuatnya lebih aman dari pihak berwajib.
Selain itu, pemerintah Tiongkok telah memperketat regulasi terhadap bahan-bahan kimia tertentu untuk mengendalikan produksi prekursor. Milgram mengapresiasi langkah pemerintah Tiongkok yang memantau secara ketat produksi bahan kimia tersebut.
“Saya juga ingin mengakui kerja yang dilakukan oleh Kementerian Keamanan Publik Republik Rakyat Tiongkok dalam mengambil tindakan untuk mengatur protonitazene, piperidone, dan 1-BOC-4-AP, yang sebelumnya tidak diatur pada saat penyelidikan ini, tetapi sekarang telah diatur,” imbuhnya.
Dakwaan ini merupakan bagian dari strategi lebih besar Departemen Kehakiman AS untuk memberantas organisasi kriminal melalui program Organized Crime Drug Enforcement Task Forces (OCDETF).
Program ini bertujuan mengidentifikasi dan menghentikan operasi organisasi kriminal besar yang mengancam keamanan publik di Amerika Serikat. Melalui langkah-langkah ini, diharapkan akan ada penurunan dalam penyebaran narkotika dan meminimalisir penggunaan kripto dalam transaksi ilegal. [dp]
Kripto untuk Transaksi Ilegal Terungkap, Pengedar Narkoba Jadi Tersangka
Seorang pengedar narkoba dijatuhi 20 tahun penjara karena terlibat dalam transaksi ilegal kripto dan penjualan obat terlarang. [550] url asal
#kripto #narkoba #pengedar-narkoba #transaksi-ilegal-kripto
(BlockChain-Media) 23/10/24 12:24
v/16878636/
Seorang pengedar narkoba di AS telah dijatuhi hukuman penjara atas keterlibatannya dalam transaksi ilegal kripto untuk memfasilitasi penjualan obat-obatan terlarang melalui pasar gelap di darknet yang mengakibatkan salah satu penggunanya overdosis.
“Seorang pria asal San Fernando Valley yang mengaku dalam dokumen pengadilan menyebabkan satu overdosis fatal fentanyl dijatuhi hukuman hari ini selama 248 bulan penjara federal karena menggunakan pasar darknet untuk menjual pil yang dicampur fentanyl dan kokain senilai ratusan ribu dolar kepada pembeli di seluruh negeri,” sebagaimana tercantum pada dakwaan tersebut, Senin (21/10/2024).
Brian McDonald, 23, dari Van Nuys, yang juga dikenal dengan berbagai nama samaran seperti “Malachai Johnson” dan “SouthSideOxy,” telah mengaku bersalah atas konspirasi distribusi fentanyl dan kokain, serta kepemilikan senjata api terkait perdagangan narkoba.
Dia telah berada dalam tahanan federal sejak Mei 2023 setelah ditangkap oleh pihak berwenang. Kasus ini menarik perhatian karena McDonald menggunakan platform darknet dan kripto untuk transaksi ilegal dalam menjalankan bisnisnya.

McDonald, yang memimpin operasi perdagangan narkoba, bekerja melalui pasar gelap seperti “White House Market” dan “AlphaBay” untuk menjual pil fentanyl yang berbahaya serta kokain.
Barang-barang ini diperdagangkan dengan imbalan cryptocurrency, dan McDonald bersama rekan-rekannya aktif memperbarui profil penjual serta mengatur pengiriman narkoba ke seluruh negeri.
Mereka juga memantau pembayaran yang diterima dalam bentuk kripto Monero, yang kemudian dipindahkan ke dompet kripto yang dikelola oleh McDonald.
“Operasi perdagangan narkoba ini menggunakan bagian terdalam dari internet untuk menyebarkan pil fentanyl yang mematikan,” ungkap Martin Estrada, Jaksa Amerika Serikat.
Antara April 2021 hingga Mei 2023, McDonald dan para rekannya secara terorganisir menjual narkoba melalui darknet. Tidak hanya menjual narkoba, McDonald juga merekrut orang lain untuk membantu mengemas dan mengirim barang-barang berbahaya tersebut.
Proses penjualan ini melibatkan ratusan transaksi ilegal kripto, dengan total barang yang diperdagangkan mencakup lebih dari 12 kilogram fentanyl dalam bentuk pil yang dicampur dengan zat lain. Salah satu korban yang membeli pil tersebut, dikenal sebagai Z.S., meninggal setelah mengkonsumsi pil yang dibeli dari McDonald.
Selain narkoba, McDonald juga diketahui memiliki senjata api, termasuk dua pistol berlapis emas, yang digunakan untuk melindungi jaringan narkoba serta uang hasil penjualan narkoba yang dilakukan melalui platform darknet. Senjata ini menunjukkan betapa seriusnya operasi perdagangan narkoba yang dikelolanya.
Dalam kasus yang sama, Ciara Clutario, 23, dari Burbank, juga telah mengaku bersalah dan dijadwalkan untuk dijatuhi hukuman pada Januari 2025. Kasus ini menjadi bagian dari upaya FBI dan DEA yang bekerja sama untuk mengatasi perdagangan narkoba melalui darknet.
Melalui kerja sama JCODE, pemerintah AS akan terus menyelidiki dan menghentikan operasi perdagangan narkoba besar yang bergantung pada kripto untuk transaksi ilegal, serta melacak rantai pasokan mereka. Pemerintah terus berupaya untuk menghentikan penyalahgunaan teknologi.
Kasus yang melibatkan transaksi ilegal kripto bukan kali pertama terjadi. Dalam sebuah penggerebekan besar-besaran pada beberapa hari sebelumnya, pihak berwenang AS juga menangkap sejumlah pelaku yang terindikasi sebagai pengedar narkoba yang juga memanfaatkan kripto untuk menyembunyikan aktivitas mereka.
Mantan atlet Olimpiade asal Kanada, menjadi tokoh utama dalam kasus sebelumnya, di mana ia bersama 15 terdakwa lainnya dituduh terlibat dalam pengiriman ratusan kilogram kokain dari Kolombia ke AS.
Dakwaan tersebut menunjukkan bahwa organisasi ini tidak hanya menggunakan kripto untuk transaksi ilegal, tetapi juga melakukan kekerasan, termasuk pembunuhan, untuk mempertahankan kontrol atas jalur perdagangan mereka.
Penggunaan mata uang digital sebagai alat pembayaran dalam perdagangan narkoba semakin umum, memberikan pelaku kejahatan cara untuk menyembunyikan aktivitas mereka dari otoritas resmi. [dp]