#30 tag 24jam
Transformasi Bisnis Topang Pertumbuhan Kuat Chandra Asri Group
PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group), dengan kode saham TPIA, agresif berekspansi ke berbagai sektor usaha sejak akhir 2022. - Halaman all [2,256] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #chandra-asri-group #chandra-pelabuhan-nusantara #transpormasi-bisnis #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 16/09/24 20:03
v/15123841/
JAKARTA, investor.id – PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group), dengan kode saham TPIA, agresif berekspansi ke berbagai sektor usaha sejak akhir 2022. Perseroan kini telah bertransformasi menjadi holding di sektor kimia dan infrastruktur, dimana bisnis infrastruktur mencakup lini pengolahan energi, air serta Jetty & Tank Farm. Perkembangan bisnis infrastruktur ini melengkapi bisnis petrokimia yang sudah lebih dahulu digeluti.
Memasuki usia ke-32 tahun, Chandra Asri Group bukan sekadar perusahaan petrokimia terbesar nasional, melainkan korporasi yang memiliki berbagai portofolio bisnis. Diharapkan, hal ini akan menopang pertumbuhan kuat perseroan dalam melayani Indonesia di masa depan.
Transformasi bisnis Chandra Asri Group ditegaskan dengan perubahan nama dari PT Chandra Asri Petrochemical Tbk menjadi PT Chandra Asri Pacific Tbk. Perubahan ini telah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Hukum dan HAM pada tanggal 3 Januari 2024 dan telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 29 Desember 2023.
Perubahan nama menjadi PT Chandra Asri Pacific Tbk menjadi langkah strategis perseroan untuk mengakomodasi perubahan fokus bisnis yang lebih luas dan semakin terdiversifikasi, serta memperkuat reputasi perseroan sebagai mitra pertumbuhan (Your Growth Partner) yang berperan menjadi tulang punggung bagi sektor-sektor strategis di Tanah Air.
Perjalanan transformasi bisnis Perseroan diawali dengan pembelian 70% saham PT Krakatau Daya Listrik (yang kemudian berganti nama menjadi PT Krakatau Chandra Energi / KCE ) dan 49% saham PT Krakatau Tirta Industri (KTI) senilai total Rp 3,24 triliun dari PT Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI), anak usaha PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Pada Februari 2023, KSI telah resmi melakukan penutupan transaksi atas conditional shares and purchase agreement (CSPA) dengan Chandra Asri Group.
Presiden Direktur Chandra Asri Group, Erwin Ciputra, menyampaikan, Chandra Asri Group sangat antusias untuk mengeksekusi strategi programmatic M&A untuk memposisikan Chandra Asri Group pada pertumbuhan bisnis yang menguntungkan dan berkelanjutan. Akuisisi bolt-on ini didukung dengan arus kas yang stabil dan tangguh.
“Strategi ini semakin meningkatkan fundamental bisnis kami dan membuka banyak sinergi menarik, antara lain untuk diversifikasi pendapatan dalam utilitas pendukung serta selaras dengan rencana ekspansi kompleks petrokimia kedua dan industri hilir berskala dunia,” ujar Erwin kala itu.
Erwin Ciputra mengatakan, sinergi ini diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi bagi pemangku kepentingan serta meningkatkan layanan publik seperti, penyediaan listrik dan air bersih untuk industri di wilayah Cilegon serta dapat membuka lapangan kerja seiring dengan pengembangan bisnis.
Proyek Kimia Dasar
Tak berhenti di situ, pada April 2023, Chandra Asri Group kembali membuat terobosan baru. Pada saat itu, Chandra Asri Group dan Indonesia Investment Authority (INA), sovereign wealth fund Indonesia, menandatangani nota kesepahaman untuk bekerja sama mengembangkan pabrik Chlor-Alkali dan Ethylene Dichloride (Pabrik CA-EDC) berskala dunia di Indonesia.
INA, bersama dengan calon investor internasional lainnya, akan menjajaki rencana pembelian saham PT Chandra Asri Alkali (CAA), anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Chandra Asri Group yang telah didirikan sebagai special purpose vehicle untuk berinvestasi dalam pembangunan pabrik itu.
Pabrik itu akan memproduksi lebih dari 400 ribu metrik ton per tahun caustic soda (sodium hydroxide) dan 500 ribu metrik ton per tahun Ethylene Dichloride (EDC). Sebagai bagian dari akselerasi pembangunan pabrik ini, Chandra Asri Group telah menandatangani perjanjian basic engineering and licensing dengan Asahi Kasei Corporation (AKC) dari Jepang, pemegang lisensi terkemuka kelas dunia dengan kekayaan intelektual canggih untuk pembangunan pabrik chlor-alkali berskala dunia.
Erwin menegaskan, Pabrik CA-EDC ini akan membantu memenuhi kebutuhan Indonesia dan Asia Tenggara yang terus meningkat akan Caustic Soda dan EDC.
Caustic Soda merupakan bahan baku penting bagi industri hilir yang terus bertumbuh di Indonesia, seperti ekstraksi alumina, ekstraksi nikel, pengolahan air, produksi tekstil, produksi pulp dan kertas, serta produksi sabun dan deterjen. Adapun ethylene dichloride adalah bahan baku utama dari bahan kimia perantara untuk produksi Polyvinyl Chloride (PVC), yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi produk akhir termasuk konstruksi dan pengemasan.
Pada Mei 2023, Chandra Asri Group melalui PT Chandra Asri Alkali (CAA) menandatangani Perjanjian Lisensi, Rekayasa Dasar dan Layanan Teknis dengan lisensor teknologi vinil terkemuka asal Amerika Serikat untuk mendirikan pabrik EDC.
Chandra Asri Group juga tak mau ketinggalan dalam menggarap peluang bisnis ekosistem kendaraan listrik. Melalui CAA Perseroan telah melakukan penandatanganan letter of intent (LoI) pada Oktober 2023 bersama dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dalam rangka mendukung pengembangan hilirisasi aluminium sekaligus mewujudkan percepatan ekosistem kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dalam negeri yang berkelanjutan.
Kerja sama yang disepakati melalui penandatanganan LoI ini meliputi potensi penyediaan pasokan kaustik soda basah oleh CAA kepada Inalum dengan volume hingga 120 ribu metrik ton per tahun dan potensi penyertaan ekuitas oleh Inalum di CAA hingga 10%.
Kaustik soda basah akan digunakan Inalum sebagai salah satu bahan baku utama dalam proses produksi aluminium di fasilitas smelter, termasuk sebagai komponen battery pack untuk EV.
Maret 2024, Chandra Asri Group dan BCI Minerals Limited (BCI) mengumumkan penandatanganan Perjanjian Offtake. Chandra Asri Group akan menggunakan garam yang diproduksi di Proyek Mardie untuk Pabrik Chlor-Alkali skala global yang sedang dikembangkan di Indonesia.
Volume kontrak garam mencapai 300 ribu ton per tahun pada tahun pertama, kemudian meningkat menjadi 600 ribu ton per tahun pada tahun kedua dan ketiga sesuai dengan progresi proyek. Perjanjian Offtake ini akan berkontribusi terhadap pemenuhan persyaratan offtake yang diperlukan sebagai prasyarat pencairan fasilitas utang BCI.
Saat ini, Pembangunan Pabrik CA-EDC ini masih dalam tahap menunggu proses AMDAL sebagai bagian dari kepatuhan Perusahaan terhadap regulasi dan perundang-undangan di Indonesia.
Infrastruktur Energi
Juni 2023, Chandra Asri Group kembali melakukan aksi korporasi. Kali ini, Perseroan memperluas usaha ke sektor infrastruktur energi dengan investasi hingga US$ 200 juta di PT Krakatau Posco Energy.
Aksi itu dilakukan oleh anak usahanya KCE dan dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama, KCE akan meningkatkan kepemilikannya di KPE, perusahaan patungan (JV) dengan Posco, pembuat baja terkemuka dunia, menjadi 45%. Kedua, KCE akan melakukan investasi bersama sesuai dengan kepemilikan saham untuk mendukung rencana ekspansi KPE dalam membangun pembangkit listrik baru berkapasitas 200 megawatt (MW) setelah final investment decision (FID) diambil.
Dengan jalur pertumbuhan normal, total kapasitas pembangkit listrik KCE akan meningkat menjadi 300 MW, yang terdiri atas 120MW pembangkit listrik gabungan yang sudah dimiliki sebelumnya ditambah dengan 180 MW dari kepemilikian sahamnya di KPE setelah perluasan investasi yang direncanakan, yaitu 45% dari 400MW.
Kala transaksi itu dilakukan, KPE memiliki pembangkit listrik dan utilitas infrastruktur pendukung dengan kapasitas sebesar 200 MW yang beroperasi dengan menggunakan gas buang dari Krakatau Posco dan didukung oleh kontrak perjanjian offtake penuh jangka panjang yang berlaku hingga tahun 2038.
“Langkah ini memperkuat komitmen kami untuk memperdalam kemitraan strategis dan memperkuat posisi kami sebagai investor utama di sektor energi. Kami senang dapat membuka sinergi yang jelas yang terefleksi dengan keberhasilan akuisisi KCE oleh anak PT Chandra Daya Investasi (CDI) pada Februari 2023,” papar Erwin Ciputra.
Pada Desember 2023, KCE berhasil mengembangkan usaha pembangunan pembangkit panel surya dengan empat mekanisme yang berbeda sebagai salah satu upaya menyediakan solusi energi baru terbarukan (EBT). Perusahaan telah berhasil memasang panel surya di berbagai proyek, termasuk industri dan ritel, dengan total kapasitas listrik energi baru terbarukan mencapai 958 kWp dan ditargetkan proyek PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) yang akan dikerjakan mencapai 3 MWp di tahun 2023.
Keberhasilan pembangunan panel surya ini, baik untuk pelanggan maupun di wilayah usaha sendiri, dapat menghemat pemakaian listrik hingga 40%/tahun, serta mengurangi emisi karbon mencapai 561 ton CO2/tahun. Inovasi ini merupakan salah satu upaya KCE untuk memberikan kontribusi terhadap upaya pemerintah dalam mencapai target energi baru terbarukan sesuai dengan Peraturan Presiden (PERPRES) Nomor 112 Tahun 2022.
Inovasi dan Kemitraan Strategis untuk Pertambahan Nilai Bisnis Petrokimia
Pada Agustus 2023, Chandra Asri Group perusahaan dan Bank Rakyat Indonesia (BRI), menandatangani nota kesepahaman untuk fasilitas pembiayaan bagi pelanggan polimer domestik Chandra Asri Group. Kolaborasi pemberian fasilitas pembiayaan ini menjadi skema pembiayaan pertama yang dirancang khusus oleh BRI untuk industri petrokimia.
Pemberian fasilitas pembiayaan dilakukan untuk meningkatkan volume transaksi wholesale sekaligus mendukung fokus Indonesia dalam memperkuat hilirisasi industri dengan mengoptimalkan pengolahan bahan baku di dalam negeri. Kerja sama ini juga diharapkan dapat menunjang daya saing rantai nilai industri, mendorong stabilitas rantai pasok, dan memberikan nilai tambah pada produk petrokimia nasional.
“Kolaborasi antara Chandra Asri Group dengan BRI merupakan apresiasi bagi pelanggan kami yang telah memilih kandungan produk dalam negeri untuk mendukung bisnis mereka,” kata Polymer Sales Director Chandra Asri Group Raymond Budhin.
Oktober 2023, Chandra Asri Group berhasil mengantongi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC), yaitu sebuah sistem sertifikasi keberlanjutan yang berlaku secara global untuk memproduksi produk yang ramah lingkungan. Dengan diraihnya ISCC, fasilitas pabrik petrokimia Chandra Asri Group kini telah tersertifikasi memenuhi standar untuk mengolah bio-feedstock menjadi produk berbasis bio, seperti bio-propylene, bio-ethylene, bio-crude C4, dan bio-oygas.
Pada akhir 2023, Chandra Asri Group menyediakan material baku pelampung (floaters) sistem panel surya untuk proyek strategis nasional PLTS Terapung Cirata dalam upaya pemenuhan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Pelampung pada proyek PLTS Terapung Cirata dirancang khusus untuk menahan beban panel surya, komponen listrik, dan peralatan terkait lainnya guna memastikan operasional yang aman dan andal. Pelampung tersebut memanfaatkan resin HD Blow UB5206H milik Chandra Asri Group.
Floaters menyediakan daya apung yang diperlukan agar panel surya dapat mengapung di atas permukaan air. Pelampung juga membantu menjaga panel surya agar tidak tenggelam, beradaptasi pada perubahan tingkat air, serta memberikan stabilitas sehingga panel surya tidak terguling atau terbalik.
PLTS Terapung yang menempati area waduk lebih dari 200 ha ini merupakan skala utilitas pertama di Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara yang memiliki kapasitas 192 MWp. Proyek PLTS Terapung Cirata juga masuk sebagai upaya Indonesia untuk meningkatkan porsi energi baru terbarukan.
Pada periode yang sama, Chandra Asri Group meraih investasi sebesar US$194 juta dari Electric Generating Public Company Limited atau EGCO Group, produsen energi independen di Thailand. Setelah menyelesaikan proses transaksi, EGCO akan memiliki 30% saham di anak perusahaan Chandra Asri Group, PT Chandra Daya Investasi (CDI), yang didedikasikan untuk solusi infrastruktur.
Chandra Asri Group akan terus mempertahankan mayoritas saham sebesar 70% di CDI. Dana bersih yang diperoleh akan digunakan untuk pengembangan bisnis infrastruktur Chandra Asri Group dan EGCO, yang meliputi energi, air, dan fasilitas pelabuhan. EGCO Group terseleksi sebagai mitra pilihan Chandra Asri Group untuk mendukung pertumbuhan eksponensial bisnis infrastruktur Chandra Asri Group, setelah melalui proses seleksi investor strategis yang kuat dan komprehensif.
Kolaborasi ini menandai tonggak sejarah penting bagi kedua perusahaan, menggabungkan keahlian Chandra Asri Group di sektor kimia dan infrastruktur dengan kemahiran EGCO di bidang solusi ketenagalistrikan dan energi.
"Kami sangat senang dapat bergabung dengan EGCO sebagai mitra pertumbuhan baru untuk menciptakan sinergi yang tidak hanya akan meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan,” kata Erwin Ciputra.
Kiprah 2024
Perseroan memulai 2024 dengan resmi mengganti nama menjadi PT Chandra Asri Pacific Tbk. Direktur SDM dan Urusan Korporat Chandra Asri Group Suryandi menegaskan, perubahan nama ini menjadi mempertegas seluruh langkah bisnis yang dilakukan guna memberikan dampak positif yang signifikan bagi para pemangku kepentingan.
“Nama baru ini sekaligus mendukung visi perusahaan untuk menjadi perusahaan solusi kimia dan infrastruktur terkemuka di Indonesia,” ujar Suryandi.
Mei 2024, Chandra Asri Group menandatangani perjanjian jual beli dengan Shell Singapore Pte Ltd (SSPL) untuk mengakuisisi seluruh kepemilikannya di Shell Energy and Chemicals Park Singapore (SECP). Setelah melalui proses lelang yang kompetitif, CAPGC Pte. Ltd. (CAPGC), perusahaan patungan yang mayoritas dimiliki dan dioperasikan oleh Chandra Asri Group dan minoritas oleh Glencore melalui anak perusahaannya masing-masing, sepakat untuk mengakuisisi SECP yang terdiri atas kilang minyak mentah dengan kapasitas pemrosesan sebesar 237.000 barel per hari, ethylene cracker berkapasitas 1,1 juta metrik ton per tahun di Pulau Bukom dan aset kimia hilir di Pulau Jurong.
“Akuisisi ini merupakan keberhasilan dari strategi M&A terprogram kami untuk menjadi pemain kimia dan infrastruktur terkemuka di kawasan ini dan akan semakin memperkuat ketahanan bisnis kami,” kata Erwin Ciputra.
Transaksi ini masih menunggu persetujuan regulator dan diharapkan selesai pada akhir tahun 2024.
Pada bulan yang sama, saham TPIA masuk Indeks Standar Global Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk Emerging Markets, berdasarkan publikasi triwulanan yang diterbitkan di London. Masuknya saham TPIA akan diimplementasikan pada penutupan pasar pada 31 Mei 2024.
MSCI mengakui kapitalisasi pasar Chandra Asri Group yang mengesankan dan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float, yang memenuhi ambang batas indeks. Inklusi ini menegaskan posisi Chandra Asri Group sebagai pemain utama dalam industri kimia dan infrastruktur global.
Juni 2024, perseroan memperkuat bisnis petrokimia dengan mengoperasikan Pabrik Bag Film Roll (BFR) yang memproduksi heavy duty Sacks. Pabrik BFR memanfaatkan produk Polyethylene perseroan, yaitu Metallocene dan HDPE yang umum digunakan sebagai bahan baku kantong plastik. Produksi BFR direncanakan akan memanfaatkan material recycle sebesar 30% yang mengutilisasi karung bekas konsumen atau postconsumer recycle (PCR).
Keberadaan Pabrik BFR diharapkan dapat meningkatkan efektivitas supply chain di internal Perseroan serta melayani kebutuhan pelanggan lebih baik lagi. Dalam satu tahun terakhir, Pabrik BFR telah memproduksi kemasan untuk produk-produk resin Chandra Asri Group yaitu Asrene® dan Trilene®. Produk BFR cocok untuk pengemasan produk polimer berupa pellet plastik, serta aman digunakan untuk produk pangan.
Juli 2024, Chandra Asri Group menyelesaikan proses spin-off untuk mengoperasikan solusi terintegrasi berupa pelayanan kepelabuhan laut (jasa bongkar muat dan jasa tambat) dan penyimpanan curah cair (penyewaan tangki) bagi berbagai industri di Cilegon dan sekitarnya melalui anak usahanya, yakni PT Chandra Pelabuhan Nusantara (CPN). CPN kini sedang dalam proses pengajuan konsesi agar dapat melayani pelanggan eksternal dan diharapkan selesai pada tahun 2025.
CPN mengoperasikan tiga dermaga strategis di Selat Sunda dengan total kapasitas 96.000 DWT untuk berbagai produk dan fasilitas tangki sebesar 518.000 kubik meter untuk naphtha, ethylene, propylene, pyrolysis gasoline (PyGas) dan lainnya. Kehadiran CPN diharapkan dapat mengoptimalkan efisiensi operasional berbagai industri dan memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan.
Editor: Gesa Vitara (gesa@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News