BADUNG, KOMPAS.com - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengungkapkan rencana pemerintah mengoperasikan kereta otonom atau autonomous rail rapid transit (ART) di Kuta, Bali.
Rencana itu bertujuan mengatasi problem kemacetan di pusat Kuta.
"Yang memang paling macet di daerah (pusat) kota, kita sedang memikirkan ART beroperasi di Kuta, sehingga tidak ada lagi kendaraan-kendaraan yang banyak itu," ujar Budi Karya di kawasan Bali Marine Tourism Hub (BMTH) Benoa, Bali, pada Selasa (17/9/2024).
"Dan itu akan menyelesaikan sebagian masalah transportasi yang ada di Bali," lanjutnya.
Budi Karya juga merespons soal sarana transportasi umum di Bali yang masih minim. Menurutnya, pemerintah pada dasarnya menerapkan sistem terintegrasi.
Antara lain dengan rencana pembangunan light rail transit (LRT) yang akan mulai dibangun pada 2025.
Selain itu, Kemenhub bersama pemerintah pemerintah daerah akan menerapkan skema buy the service (BTS) untuk moda transportasi bus di Bali.
Diketahui, ART merupakan transportasi massal perkotaan yang dikembangkan oleh perusahaan asal China yakni CRRC Corp., Ltd.
Saat ini ART beroperasi di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.
ART pertama kali dikenalkan ke publik pada Oktober 2017 di Kota Zhuzou, Provinsi Hunan, dan mulai beroperasi pada 2018.
ART merupakan transportasi umum seperti kereta yang terdiri dari tiga gerbong dan mampu menampung sampai 300 orang.
Namun, kereta berkecapatan maksimum 70 km per jam ini tidak menggunakan rel konvensional, kabel, roda besi, dan juga awak (dikemudikan otomatis oleh sistem).
ART yang menggunakan ban karet, beroperasi di jalan raya melalui lintasan virtual yang telah ditentukan sebelumnya.
Di dalam kereta ada sensor yang berfungsi mengidentifikasi lintasan virtual di jalan dan memberi perintah melalui unit kendali pusat, sehingga mewujudkan pengemudian tanpa awak.
Ada pun sumber tenaga ART yakni berbasis listrik yang disalurkan melalui baterai. Setiap stasiun dilengkapi perangkat pengisian daya cepat.