#30 tag 24jam
Dame Ulos Angkat Wastra Batak ke Pasar Global
Dame Ulos sudah hampir satu dekade di bawah pengasuhan Renny. Bisnis ulos ini merupakan turunan ibundanya yang seorang penenun. [689] url asal
#kain-ulos #batak #umkm #perajin-ulos
(Bisnis.Com - Ekonomi) 23/08/24 12:46
v/14552369/
Bisnis.com, SUMUT – Konsep revitalisasi budaya menjadi pegangan Renny Katrina Manurung, perajin sekaligus pengusaha ulos dan wastra tradisional khas Batak dari Saitnihuta, Hutatoruan V, Kec. Tarutung Tapanuli Utara dalam menjalankan bisnisnya.
Konsep itulah yang mengantarkan ulos dan mandar produksi ‘Dame Ulos’ sukses meraih berbagai penghargaan nasional hingga internasional, salah satunya penghargaan dari New York pada tahun 2022 silam.
“Penghargaannya kategori ecofashion karena kami menggunakan pewarna alam untuk ulos dan mandar kami. Waktu itu kain bemotif khas Batak Toba yang kami kirim ke sana. Terus, para kurator yang memang antropolog New York juga bilang kalau motif kami unik dan rumit, berbeda dari yang lain,” tutur Renny beberapa waktu lalu.
Dame Ulos sudah hampir satu dekade di bawah pengasuhan Renny. Bisnis ulos ini merupakan turunan ibundanya yang seorang penenun.
Renny menuturkan, rata-rata penenun ulos tak menjual langsung ulos mereka ke konsumen. Mereka menggantungkan hidup pada pengepul, termasuk ibundanya. Selain karena akses jejaring yang terbatas, ketidaktahuan penenun akan Harga Pokok Penjualan (HPP) membuat usaha tenun ulos jalan di tempat.
“Waktu itu tahun 2012, saya masih kuliah. Ada masa uang bulanan saya dari ibu di Tarutung, macet. Ibu bilang, uang tenun dari pengepul tenun ulos kami lagi macet,” kata dia.
Kondisi itu membuat Renny memutar otak. Berbekal ilmu dan relasi yang dia bangun, Renny mulai memasarkan sendiri kain tenun ibundanya lewat berbagai cara. Perempuan lulusan salah satu perguruan tinggi di Medan ini bahkan mengaku pernah menawarkan tenun ulos yang dikirim langsung dari Tarutung tersebut secara door-to-door ke toko-toko penjual ulos di Medan.
Berpegang pada Sejarah
Bagi Reni, nilai sebuah ulos tak lengkap bila hanya dilihat dari keindahan warna maupun ragam motifnya. Lebih dari itu, kekayaan ulos terletak pada untaian cerita pada motif yang tertenun di atasnya.
Renny mengatakan, perkembangan zaman justru membuat ulos kehilangan nyawa hidupnya. Banyak ulos yang beredar dengan motif yang nihil makna.
Dia menilai hal itu akibat minimnya pengetahuan penenun maupun pengepul soal motif original peninggalan leluhur, sehingga mereka terseret arus permintaan pasar.
“Zaman dulu, di sini, kepandaian atau kecantikan seorang perempuan Batak itu diukur dari kerumitan tenun yang dia buat, karena nantinya mereka akan menari dengan menggunakan kain tenun bikinannya itu,” cerita Renny.
Khawatir kondisi tersebut berdampak pada kelestarian dan nilai jual ulos, Renny kembali membaca ulang sejarah untuk menggali motif-motif khas Tarutung, terutama yang telah lama tak ditampilkan penenun.
Perselancaran di dunia maya mempertemukan Renny dengan seorang antropolog dari Belanda yang kemudian memberinya buku ‘Legacy in Clothes’ pada 2014 silam. Buku ini mengulas ragam motif khas wastra warisan budaya khas Sumatra Utara, termasuk dari Tarutung.
Berbekal dokumentasi dalam buku tersebut, ditambah dengan penelusuran sejarah lewat ingatan-ingatan para tetua di Tarutung, Renny mantap mengusung konsep ‘alam’ dalam produksi ulosnya, di samping menggiatkan motif-motif tradisi.
Sejak tahun 2015, dia menyebut Dame Ulos telah menggunakan bahan-bahan alami untuk pewarnaan benang, seperti warna hitam yang berasal dari lumpur, atau warna kuning yang berasal dari kemiri.
“Kami ingin ketika orang melihat atau mendengar Dame Ulos, persepsi yang muncul ialah sesuatu yang sudah tidak terlihat dan kini diperlihatkan kembali,” katanya.
Keteguhan Renny mengenalkan kembali motif tradisi Tarutung dalam selembar ulos mendapat perhatian banyak pihak, termasuk dari Bank Indonesia.
Galeri Dame Ulos yang berdiri apik di Saitnihuta, Hutatoruan V Tarutung ini merupakan apresiasi Bank Indonesia pada tahun 2021 lalu atas kegigihan Renny melestarikan budaya Batak lewat ulos dan mandar.
“Kami bertemu Bank Indonesia itu awal 2019. Ada tim dari BI Sumut yang turun ke Tarutung untuk mencari tahu tentang Dame Ulos. Singkat cerita, di situlah mulai berkolaborasi. Kami lebih banyak difasilitasi pelatihan pemasaran, juga pameran,” kata Renny.
Ulos dan mandar Tarutung Dame Ulos kini sukses menjelajah berbagai benua. Renny mengaku lebih mengencangkan pemasaran produk lewat media sosial.
Dengan ratusan mitra yang tersebar di Tarutung dan sekitarnya, Dame Ulos mampu menghasilkan wastra tradisional yang istimewa. Dalam sebulan, lebih dari Rp1 miliar omzet yang bisa diraih Dame Ulos.
Lebih jauh, Dame Ulos juga berupaya membuat para penenun terlihat dalam setiap karya ulos mereka.
“Di setiap ulos yang akan dijual ini, ada kertas berisi informasi soal motif dan maknanya. Kami cantumkan juga nama maker atau penenunnya di sana. Kami juga beberapa kali bikin live di medsos bersama penenun,” kata Renny. (K68)
Membaca Ulang Warisan Budaya Tarutung di Selembar Ulos
Kain ulos di Tarutung menyimpan warisan budaya yang cukup kental, simak di sini [710] url asal
#ulos #tenun #pengrajin-ulos #pengrajin-tenun
(Bisnis.Com) 18/07/24 17:05
v/11198612/
Bisnis.com, JAKARTA - Nilai sebuah ulos tak hanya dilihat dari keindahan warna maupun ragam motifnya. Lebih dari itu, kekayaan ulos terletak pada cerita dibalik motif yang tertenun di permukaannya.
Pemikiran itu menjadi pegangan Renny Katrina Manurung dalam mengembangkan usaha tenun ulos, wastra khas Batak turunan ibundanya selama lebih dari satu dekade.
Renny mengatakan, banyak ulos yang beredar di pasaran dengan perpaduan motif yang serampangan. Menurutnya, hal tersebut lantaran minimnya pengetahuan penenun soal motif original peninggalan nenek moyang.
“Ibu saya juga begitu. Setelah banyak berinteraksi di pasar, jadi lebih sering menciptakan motif dari apa yang dilihatnya. Dulu, waktu gadis, masih motif-motif original yang ditenun. Pencampuran yang tidak pada tempatnya itu yang berpotensi bikin pasar tenun anjlok,” kata Renny saat ditemui Bisnis di Galeri Dame Ulos miliknya di Tarutung, Kab. Tapanuli Utara, Sumatra Utara beberapa waktu lalu.
Upaya Renny menghidupkan kembali motif-motif asli Tarutung yang telah lama hilang dari pandangan tak main-main. Perempuan asli Tarutung ini mengatakan, penelusuran sejarah adalah kunci dalam menghasilkan tenun ulos yang sarat makna.
Awalnya, Renny mengaku hanya menjual ulos dan mandar yang ditenun sendiri ibundanya lantaran saat itu pasar tenun di Tarutung sedang tak bergairah.
“Waktu itu tahun 2012, saya masih kuliah. Ada masa uang bulanan saya dari ibu di Tarutung, macet. Ibu bilang, uang tenun dari pengepul tenun ulos kami lagi macet,” kata dia.
Dia lantas menjajal penjualan tenun lewat media sosial facebook. Renny juga menyebut dirinya kerap meminta ibunya mengirimkan tenun ulos dari Tarutung ke Medan dengan menggunakan bus untuk dijual kembali. Komunitas demi komunitas disebut Renny jadi target pasarnya.
Renny bahkan mengakui pernah menawarkan tenun ulos tersebut secara door to door ke took-toko penjual kain sejenis di Medan. Melihat animo masyarakat yang cukup baik, sejak saat itu Renny meminta ibunya untuk tak lagi menjual tenun ke pengepul.
Legacy in Clothes
Orisinalitas ulos dan mandar yang diproduksi Dame Ulos dijaga Renny Katrina Manurung mulai dari proses pembuatannya.
Dia mengatakan, para penenun mitra dame Ulos yang tersebar di sekitaran Desa Huta Dame masih menggunakan kedokan atau alat tenun tradisional yang mengharuskan penenun duduk di bawah/ lantai selama menenun.
Sejak tahun 2015, akunya, Dame Ulos juga telah memulai penggunaan bahan-bahan dari alam untuk memberi warna yang alami pada benang yang ditenun penenun menjadi kain, seperti perendaman benang dengan lumpur untuk memberi warna hitam, atau kemiri untuk memberi warna kuning gading.
Renny mengungkapkan, upayanya menghidupkan kembali motif dan warna ulos peninggalan leluhur terbantu oleh buku ‘Legacy in Clothes’ yang dihadiahkan seorang antropolog Belanda kepadanya medio 2014 lalu.
Buku tersebut merupakan arsip sang antropolog yang mengulas ragam motif khas wastra warisan budaya khas Sumatra Utara, termasuk dari Tarutung.
Tak berhenti sampai di situ, kunjungan ke daerah-daerah di sekitaran Tarutung untuk menggali motif-motif lokal dari ingatan para tetua yang masih hidup juga rutin dilakukan Renny.
“Kami ingin membangun persepsi orang-orang ketika mendengar atau melihat nama Dame Ulos sebagai sesuatu yang sudah tidak terlihat dan diperlihatkan kembali’ lewat revitalisasi motif tradisi yang dikuatkan dengan warna alam itu,” jelasnya.
Saat ini ada sekitar 150 penenun di kawasan itu yang menjadi mitra Dame Ulos. Pembeli kain Dame Ulos dapat dengan mudah mengetahui maker atau penenun dari tiap kain karena ada label informasi yang disertakan kepada pembeli.
Dikatakan Renny, hal itu dilakukan Dame Ulos untuk menghargai penenun yang selama ini kerap dikesampingkan dari sebuah karya tenun.
Lebih jauh, Renny menyebut para penenun mitra tersebut juga mengetahui harga akhir kain bikinan mereka yang dijual Dame Ulos ke pembeli.
“Kami ingin membangun usaha tenun yang memanusiakan manusia. Harapannya para penenun memiliki wawasan juga soal perkembangan motif termasuk bea jasa pembuatannya,” jelas dia.
Tenun ulos dan mandar ‘Dame Ulos’ kini telah mendarat di beberapa benua. Renny menyebut dia memanfaatkan media sosial dan jejaring yang didapatnya dari pameran untuk memasarkan wastra kebanggaan suku Batak ini. Diakuinya, dalam sebulan Dame Ulos bisa meraup omzet hingga Rp1 miliar.
Kekayaan cerita, keunikan motif, hingga penggunaan warna alam dalam selembar kain Dame Ulos ini jugalah yang telah mengantarkan Renny meraih penghargaan dari New York pada 2022 lalu untuk kategori ecofashion. (K68)
Pengrajin sekaligus pemilik usaha tenun ‘Dame Ulos’, Renny Katrina Manurung menunjukkan bagian isi buku Legacy in Clothes yang mengarsipkan motif-motif asli tenun Tarutung di Galeri Dame Ulos, Tapanuli Utara. Bisnis/Delfi Rismayeti