REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beasiswa Thohir Marshall MBA (TAMBA) dan Soeryadjaya Marshall MBA (SAMBA) berkolaborasi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) menyosialisasikan program kuliah di University of Southern California (USC), Amerika Serikat (AS). Ketua Yayasan Mochamad Thohir, Garibaldi Thohir alias Boy Thohir mengatakan, program tersebut memberikan kesempatan kepada profesional dan entrepreneur Indonesia untuk melanjutkan studi ke salah satu sekolah bisnis terbaik di dunia.
"Yayasan Mochamad Thohir dan William & Lily Foundation bertujuan untuk mendukung entrepreneur dan profesional Indonesia untuk memajukan dan mengembangkan Indonesia lewat program studi magister (S2) International Business Education and Research (IBEAR) MBA 1 tahun," ujar Boy saat sosialisasi program beasiswa Tamba dan Samba 2024 di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Selasa (23/7/2024).
Boy menyampaikan citra USC sebagai sekolah bisnis terkemuka dan lokasinya yang berada di Los Angeles (LA) tentu berimplikasi terhadap tingginya biaya hidup. Menurut Boy, Samba dan Tamba akan menanggung seluruh biaya pendidikan, tempat tinggal, dan biaya untuk kehidupan sehari-hari agar penerima beasiswa bisa fokus menimba ilmu di sana.
"Seleksinya cukup ketat karena memang jarang sekali ada yang memberikan beasiswa penuh di LA. Terpenuhi USC merupakan salah satu yang terbaik di dunia sehingga biaya hidup cukup mahal, namun ini jadi komitmen saya dan Pak Edwin untuk memberikan kesempatan kepada anak bangsa," ucap Boy.
Bos Adaro tersebut berharap, program Samba dan Tamba dapat membantu meningkatkan kemampuan penerima beasiswa dalam menghadapi tantangan dunia bisnis saat ini. Pun melengkapi mereka dengan pola pikir yang strategis dan global. Melalui program itu, Boy ingin mengembangkan generasi pemimpin bisnis Indonesia berikutnya yang akan membentuk masa depan Indonesia.
Pendiri William & Lily Foundation Edwin Soeryadjaya juga mengaku senang melihat meningkatnya semangat dan antusiasme profesional dan entrepreneur untuk melanjutkan studinya di luar negeri. Hal itu menandakan ada dorongan lebih tinggi untuk belajar dan meningkatkan pengalaman internasional.
"Di dunia bisnis saat ini, penting untuk mendapat perspektif baru, keterampilan lintas budaya, dan jaringan global yang luas. Hal ini dapat mendukung mereka sebagai pemimpin masa depan dalam dunia bisnis yang semakin global dan kompetitif," ujar Edwin.
Menurut Edwin, program beasiswa merupakan komitmen nyata dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Dia menilai, aspek pendidikan merupakan hal yang krusial dalam meningkatkan daya saing Indonesia di kancah dunia.
"Saya rasa negara kita perlu bantuan dari siapa lagi kalau bukan dari rakyatnya sendiri, terutama soal pendidikan," ucap Edwin.
Dia mencontohkan, keberhasilan Cina saat ini pun tak lepas dari masifnya pelajar dan mahasiswa yang belajar di luar negeri. Menurut Edwin, hal itu menjadi fondasi besar bagi negeri Tirai Bambu tersebut dalam meningkatkan penetrasi perdagangan di kancah global dalam beberapa tahun terakhir.
"Cina bisa maju sekali karena pelajar dan mahasiswanya ada di mana-mana, kita juga perlu lakukan itu meski biayanya tidak murah. Harapannya penerima beasiswa bisa menyerap ide-ide yang bisa dikembangkan di Indonesia," kata Edwin.
Dua kandidat terpilih akan diberangkatkan untuk mengikuti program studi magister (S2) International Business Education and Research (IBEAR) MBA selama satu tahun di University of Southern California (USC), Amerika Serikat (AS).
Boy Thohir melanjutkan, Samba dan Tamba tak sekadar menanggung biaya kuliah, melainkan juga biaya hidup untuk tempat tinggal hingga kebutuhan sehari-hari. Boy menyebut hal ini menjadi komitmen Samba dan Tamba dalam memberikan yang terbaik bagi penerima beasiswa.
"Biaya kuliah dan biaya hidup di Los Angeles mahal sekali, paling tidak per orang itu 20.000 dolar per tahun, makanya belum bisa (kirim) banyak-banyak, jadi satu-dua (beasiswa) dulu," ujar Boy saat sesi informasi beasiswa Tamba dan Samba bersama BEI di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Selasa.
Boy berharap, hal itu dapat menjadi inspirasi bagi banyak pihak untuk memberikan beasiswa ke luar negeri. Dia mengatakan, Samba dan Tamba pun terbuka untuk berkolaborasi dengan pihak lain demi meningkat jumlah penerima beasiswa ke depan.
"Saya akan coba ajukan propossal ke LPDP, mungkin LPDP bisa kolaborasi menambah jumlah penerima beasiswa, entah tambah dua atau empat beasiswa lagi," ucap Boy.
Menurut Boy, program Samba dan Tamba menuai antusiasme yang cukup tinggi dari masyarakat. Hal itu terlihat dari banyaknya jumlah pendaftar yang ingin menjajal program beasiswa tersebut.
"Pendaftar dari (karyawan) Bursa Efek Indonesia (BEI) saja sudah 60 orang, totalnya sekitar 100 pendaftar dengan seleksi yang ketat sekali. Dari 100 pendaftar hanya dua yang diterima, ini terbaik dari yang terbaik," kata Boy.