Kedatangan tim UNESCO adalah untuk melakukan penilaian yang nantinya akan memutuskan apakah Kebumen masuk UNESCO Global Geopark. Halaman all [759] url asal
KEBUMEN, KOMPAS.com - Tim asesor UNESCO melaksanakan misi validasi rencana perjalanan (Itinerary Validation Mission) Kebumen Aspiring UNESCO Global Geopark 2024.
Kali ini, perjalanan dilakukan di Benteng Vander Wijck, Gombong. Tim asesor UNESCO terdiri dari Andreas J Schuller dari Jerman dan Sarina dari China.
Kegiatan ini juga mencakup penelitian situs budaya nyata, kegiatan eduwisata, dan keterkaitan dengan geologi di Benteng Vander Wijck, Gombong.
Kunjungan ini merupakan bagian dari proses penilaian yang komprehensif untuk menentukan kelayakan Kebumen sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark. Hasil dari misi validasi ini akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan akhir oleh UNESCO.
Pengelola Benteng Vander Wijck, Herwin Kunadi menyambut baik adanya kunjungan tim asesor ini.
"Kunjungan ini merupakan kesempatan besar bagi kami untuk menunjukkan betapa penting dan berharganya situs budaya dan geologi di Benteng Van Der Wijck," ujar Herwin Kunadi Rabu (24/7/2024).
Herwin menekankan bahwa Benteng Van Der Wijck memiliki nilai sejarah yang sangat signifikan. Benteng Van Der Wijck tidak hanya menyimpan sejarah kolonial tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya lokal.
Terkait kegiatan eduwisata, Herwin mengungkapkan bahwa program-program yang ada telah dirancang untuk memberikan edukasi yang menyeluruh kepada pengunjung.
Pihaknya berkomitmen untuk mengembangkan program eduwisata yang mengedukasi masyarakat dan pengunjung tentang sejarah dan geologi Kebumen.
"Dukungan dari UNESCO akan sangat membantu dalam memperluas jangkauan dan kualitas program ini," imbuh Herwin.
Budaya dan geologi Benteng Van Der Wijk Gombong
Dalam kunjungan ini, tim asessor mengamati situs budaya nyata yang menjadi bagian integral dari geopark ini.
Benteng Van Der Wijck, dengan sejarahnya yang kaya dan arsitektur yang unik, menjadi fokus utama dalam penelitian ini.
Tim asesor mempelajari bagaimana situs ini berkontribusi terhadap pemahaman budaya lokal serta upaya pelestarian sejarah Kebumen.
Aspek geologi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah UNESCO Global Geopark. Tim asesor meneliti keterkaitan antara situs budaya dan geologi di Benteng Van Der Wijck.
Mereka mempelajari formasi geologi dan bagaimana elemen-elemen ini dipresentasikan kepada publik sebagai bagian dari upaya edukasi dan pelestarian.
Benteng Van Der Wijck merupakan bukti peninggalan Kolonial Belanda yang memiliki keunikan. Keunikan benteng Van Der Wijck terletak pada bangunan yang seluruhnya terbuat dari batu bata.
Bahkan, atap benteng berbentuk segi delapan ini juga terbuat dari batu bata yang kokoh dan dibuat menyerupai bukit-bukit kecil, sehingga sangat ideal sebagai tempat pertahanan sekaligus pengintaian.
Usia benteng diperkirakan mencapai ratusan tahun karena dibangun pada masa perang Pangeran Diponegoro (1825-1830).
Perkiraan ini dikaitkan dengan adanya petilasan Kyai Giyombong dan Kyai Gajahguling di Gombong. Keduanya adalah tokoh pendukung Pangeran Diponegoro di daerah Bagelen (Kedu Selatan).
Pada zaman Jepang, Benteng Van Der Wijck menjadi tempat pelatihan anggota Peta (Pembela Tanah Air), organisasi tentara Indonesia bentukan Jepang untuk menghadapi sekutu. Pada masa ini, Jepang menutupi tulisan-tulisan Belanda dengan cat hitam.
Dok. KEMENDIKBUD Benteng Van Der Wijk di Gombong, Kebumen.
Sementara itu, Dalam buku Benteng (2023) karya Teguh Purwantari, disebutkan bahwa bangunan ini berdiri sejak 1818. Benteng juga digunakan sebagai kantor VOC untuk kepentingan perdagangan.
Baru pada masa Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825-2830), kantor VOC itu difungsikan sebagai benteng pertahanan dan kantor militer Belanda.
Benteng Van der Wijck memiliki bangunan dengan desain arsitektur khas Belanda. Dikutip dari laman Kemenparekraf, benteng ini memiliki luas 7.168 meter persegi dan terdiri dari 2 lantai. Tinggi bangunan ini mencapai 10 meter dengan ketebalan dinding 1,4 meter.
Adapun kedatangan tim UNESCO disambut dengan tarian dan musik tradisional, serta jamuan makan malam di Pendopo Kabumian, Minggu (21/7/2024). Dua orang tersebut akan akan melakukan penilaian lapangan situs Geopark Kebumen selama 3 hari di Kebumen.
Wakil Bupati Kebumen Ristawati Purwaningsih menyampaikan, kedatangan para tim asesor ini menjadi penyemangat bagi Pemkab Kebumen untuk menjadikan Geopark Kebumen masuk UNESCO Global Geopark.
"Dari sini tersirat tekad untuk berbenah dan mengolah Geopark Kebumen menjadi berkelas dunia. Tak hanya soal predikat, namun lebih soal tata kelola dan aspek kebermanfaatannya," ujar Rista.
Benteng Van Der Wijck, saksi bisu sejarah berusia ratusan tahun berdiri kokoh di tengah hamparan sawah hijau dan perbukitan asri Kebumen, Jawa Tengah. - Bagian all [335] url asal
JAKARTA, iNews.id - Benteng Van Der Wijck, merupakan saksi bisu sejarah yang telah berusia ratusan tahun berdiri kokoh di tengah hamparan sawah hijau dan perbukitan asri Kebumen, Jawa Tengah. Bangunan ini juga dikenal sebagai Benteng Merah, menyimpan cerita tentang perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.
Benteng Merah dibangun pada 1833, atas perintah Gubernur Jenderal Van De Bosch sebagai bagian dari strategi Belanda untuk memperkuat kontrolnya di wilayah selatan Jawa. Benteng ini memiliki bentuk yang unik, yaitu segi delapan dengan delapan sudut yang menjorok keluar.
Bentuk bangunan ini dirancang untuk memudahkan pasukan Belanda dalam memantau pergerakan musuh dari segala arah.
Benteng Van Der Wijck terbuat dari batu bata merah dan memiliki dua tingkat. Pertama terdiri dari beberapa ruangan yang digunakan sebagai tempat tinggal prajurit Belanda, gudang senjata dan ruang interogasi. Tingkat kedua terdapat meriam besar yang menghadap ke arah barat.
Dinding benteng yang tebal dan kokoh dengan ketinggian mencapai 10 meter, menjadi bukti kejayaan arsitektur Belanda pada masa itu. Pada beberapa bagian dinding terdapat lubang-lubang kecil yang berfungsi sebagai tempat mengintai.
Benteng Van Der Wijck menjadi saksi bisu pergolakan rakyat Kebumen melawan penjajah Belanda. Pada masa Perang Diponegoro (1825-1830), benteng ini menjadi basis pertahanan Belanda yang digunakan untuk menyerang pasukan Diponegoro.
Banyak kisah tragis yang terjadi di benteng ini, termasuk cerita tentang para pejuang kemerdekaan yang dipenjara dan disiksa oleh Belanda. Benteng ini menjadi simbol penindasan dan kekejaman penjajah, sekaligus pengingat akan kegigihan rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Saat ini, Benteng Van Der Wijck telah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik di Kebumen. Pengunjung dapat menjelajahi benteng, melihat ruangan-ruangan peninggalan Belanda, dan mempelajari sejarah perjuangan rakyat Kebumen melawan penjajah.
Di sekitar benteng terdapat taman yang indah dan asri, pengunjung dapat bersantai dan menikmati pemandangan alam yang indah. Benteng Van Der Wijck merupakan tempat yang tepat untuk belajar tentang sejarah, mengenang perjuangan para pahlawan dan menikmati keindahan alam Kebumen.
Lokasi: Desa Gombong, Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah