Ribuan jiwa yang mengungsi akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki kondisinya memprihatinkan, mereka kekurangan air bersih dan penerangan saat di malam hari. - Bagian all [331] url asal
JAKARTA, iNews.id- Gunung Lewotobi Laki-Laki mengamuk. Erupsi gunung berapi yang berada di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu sejak 3 November 2024 semakin intens.
Pada 9 November 2024, erupsi kembali terjadi dengan lebih besar, menghasilkan kolom abu yang mencapai ketinggian 9 kilometer dan melontarkan material pijar hingga sejauh 7 kilometer dari puncak gunung.
Letusan gunung berapi tersebut tidak hanya menampilkan pemandangan alam yang dramatis, tetapi juga membawa dampak sangat serius bagi masyarakat sekitar.
Dampak paling menyedihkan dari erupsi ini, jatuhnya korban jiwa dan ribuan warga terpaksa mengungsi. Material vulkanik yang terlempar dari Gunung Lewotobi Laki-Laki menjadi penyabab banyaknya korban.
Sebagian besar, para korban terjebak dalam reruntuhan maupun menghirup abu vulkanik dalam jumlah besar. Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki juga mengakibatkan kerusakan pada infrastruktur.
Rumah-rumah penduduk, fasilitas umum, pertanian dan perkebunan tertutupi abu vulkanik yang tebal sehingga mengancam produksi pangan.
Selain itu, erupsi gunung berapi berdampak pada lingkungan. Ekosistem di sekitar gunung rusak akibat terpapar material vulkanik dan perubahan suhu yang drastis.
Hutan-hutan yang menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna rusam, sehingga mengancam kelestarian keanekaragaman hayati.
Ribuan jiwa yang mengungsi akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki kondisinya memprihatinkan. Mereka kekurangan air bersih dan penerangan saat di malam hari.
Sejak Jumat, 8 November 2024, para pengungsi, mulai dari anak-anak hingga lansia, berdesakan di ruangan sekolah dan tenda-tenda darurat yang dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Desa Lewoingu, Kecamatan Titehena .
"Lampu belum ada sejak kami menginap," ujar Matias, salah satu warga Desa Hewa di posko pengungsian, Sabtu (9/11/2024).
Pos Pemantau Terancam Pindah
Kepala Balai Pemantauan Gunungapi dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Nusa Tenggara, Zakarias Dedu Ghele Raja menyampaikan, hingga Jumat (8/11/2024) para petugas masih berjaga di Pos Pemantauan Gunung Api.
Dia memastikan jika kondisi sudah tidak kondusif, pos pemantauan akan dipindahkan ke Gunung Lewotobi Perempuan. "Kami masih standby untuk melihat aktivitas seismik atau letusan berikutnya. Kalau memang kondisi sudah tidak kondusif maka akan mengungsi," kata Zakarias.
Skandal suap yang melibatkan tiga hakim PN Surabaya dan mantan pejabat MA dalam kasus vonis bebas Ronald Tannur menjadi tamparan keras bagi wajah peradilan. - Bagian all [427] url asal
JAKARTA, iNews.id - Skandal suap yang melibatkan tiga hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dan mantan pejabat Mahkamah Agung (MA) dalam kasus vonis bebas Ronald Tannur menjadi tamparan keras bagi wajah peradilan Indonesia. Tindakan koruptif ini tidak hanya mengorbankan nyawa seorang korban, tetapi juga menggerogoti kepercayaan publik terhadap lembaga peradilan yang seharusnya menjadi benteng terakhir bagi keadilan.
Vonis bebas yang diperoleh Ronald Tannur atas kasus pembunuhan yang begitu keji merupakan bukti nyata bahwa uang dapat membeli segalanya, bahkan keadilan. Skandal ini membuka tabir buruk tentang praktik suap yang diduga sudah menjadi rahasia umum di kalangan penegak hukum.
Masyarakat bertanya-tanya, berapa banyak lagi kasus serupa yang belum terungkap? Kasus ini menjadi pengingat bagi semua bahwa korupsi dan suap merupakan musuh bersama yang harus dilawan.
Penegak hukum harus bertindak tegas dan tanpa pandang bulu terhadap suap agar kepercayaan publik terhadap hukum dapat dipulihkan.
Usai penangkapan ketiga hakim dalam kasus tersebut, Gedung PN Surabaya dibanjiri karangan bunga. Tulisan karangan bunga itu penuh sindiran terhadap tiga hakim yang ditangkap oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) terkait kasus suap vonis bebas Ronald Tannur.
Ketiga hakim tersebut, Erintuah Damanik selaku hakim ketua, Mangapul dan Heru Hanindyo selaku hakim anggota. Deretan karangan bunga di depan Gedung PN Surabaya ini menjadi perhatian warga yang melintas.
Beberapa warga yang ditemui di sekitar PN Surabaya mengatakan, bahwa karangan bunga tersebut merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap putusan tidak adil terhadap Dini Sera yang dianiaya hingga tewas oleh kekasihnya, Ronald Tannur.
"Bersyukurlah akhirnya kebenaran itu terungkap. Kalau lihat tulisan-tulisan di sini itu ya menggambarkan suara dari masyarakat yang menilai keputusan atas Ronald Tannur itu ada sesuatu," kata Ana, salah satu warga yang melintas di lokasi.
Mereka berharap kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi aparat penegak hukum untuk selalu bertindak jujur dan adil. "Karangan bunga ini cukup kreatif ya. Ini sebenarnya cerminan dari kegelisahan masyarakat selama ini terhadap peradilan di Indonesia," kata warga lainnya, Rizal.
Sementara itu, keluarga korban merasa lega dianulirnya vonis bebas Ronald Tannur. Upaya yang selama ini dilakukan untuk mendapatkan keadilan, akhirnya tidak sia-sia.
"Lega berkat doa dan perjuangan keluarga selama ini dibawa ke sana ke mari sama kuasa hukum ada manfaatnya juga," ucap ayah korban, Ujang Suherman.
Meski lega, namun putusan hukuman lima tahun penjara terhadap Donald Tannur dinilai tidak sebanding atas kematian Dini Sera. Alfika Risma selaku adik korban menilai, seharusnya Donald Tannur dihukum seberat-beratnya atas perbuatannya yang menganiaya Dini Sera hingga tewas.
"Enggak terlalu puas sama keputusannya, kenapa cuma lima tahun padahal dari buktinya juga sudah jelas majelis hakimnya kena suap sedangkan di tuntutannya 20 tahun. Jadi kurang puas," katanya.
JAKARTA, iNews.id - Penemuan lima kerangka manusia di Situs Kumitir, Mojokerto menggemparkan dunia arkeologi Indonesia. Temuan ini memberikan wawasan baru tentang kehidupan dan budaya pada era Majapahit, salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.
Tim ekskavasi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur menemukan kerangka-kerangka ini dalam posisi yang unik dan tidak biasa.
Penemuan ini terjadi di area yang diyakini sebagai Istana Timur Majapahit atau Istana Bhre Wengker yang disebutkan dalam Naskah Negarakertagama dan didukung oleh peta rekonstruksi peneliti Belanda.
Lokasi ini semakin memperkuat dugaan bahwa kerangka-kerangka tersebut berasal dari era Majapahit.
Para ahli paleoantropologi dari Universitas Airlangga yang terlibat dalam penelitian ini menyatakan bahwa posisi penguburan yang rapi dan berjajar menunjukkan bahwa individu-individu ini mungkin dihormati dan dimakamkan dengan perlakuan khusus.
Namun, untuk memastikan asal usul dan periode pasti dari kerangka-kerangka ini, sampel akan dikirim ke laboratorium luar negeri untuk uji penanggalan lebih lanjut.
Penemuan ini tidak hanya menambah pengetahuan kita tentang sejarah Majapahit, tetapi juga membuka pintu bagi penelitian lebih lanjut tentang praktik penguburan dan kehidupan sosial pada masa itu.
Misteri di balik lima kerangka ini masih menunggu untuk diungkap sepenuhnya dan setiap temuan baru membawa lebih dekat pada pemahaman yang lebih mendalam tentang masa lalu.
5 Kerangka Manusia Posisi Tangan Terlipat di Dada
Ketua Tim Ekskavasi Situs Kumitir, M Ikhwan mengatakan, ekskavasi ini merupakan lanjutan tahun 2020 lalu yang menemukan talut sebanyak 2 kilometer di sekitar Situs Bhree Kahuripan.
Ekskavasi dilakukan selama 23 hari mulai 20 September hingga 9 Oktober. Dalam ekskavasi itu akan dilakukan penggalian di lima titik di sekitar situs Bhree Kahuripan dengan luas mencapai 500 meter persegi.
“Saat dilakukan ekskavasi, tim menemukan lima kerangka manusia yang ditemukan tidak berjauhan. Kelima kerangka ditemukan di sektor D, sebelah barat makam Dusun Bendo,” katanya, beberapa waktu lalu.
Kelima kerangka tersebut ditemukan dalam posisi tengkurap dengan tangan terlipat di depan dada, merupakan posisi yang unik dan jarang ditemukan dalam penguburan tradisional.
"Kelima kerangka tersebut ditemukan berjejer rapi dengan posisi kepala mengarah ke barat laut dan kaki ke tenggara," ucapnya.
Kebiasaan meletakkan HP yang sedang dicas di atas kasur bisa berujung petaka, terutama jika dilakukan dalam waktu yang lama, seperti berjam-jam. - Bagian all [501] url asal
JAKARTA, iNews.id - Kebiasaan mengisi daya (mengecas) handphone (HP) pada malam hari menjelang tidur sering dilakukan oleh banyak orang agar baterai HP terisi penuh saat bangun. Namun, kebiasaan meletakkan HP yang sedang dicas di atas kasur bisa berujung petaka, terutama jika dilakukan dalam waktu yang lama, seperti berjam-jam.
Salah satu risiko terbesar dari kebiasaan ini, potensi terjadinya kebakaran. Meletakkan perangkat elektronik yang sedang dicas di atas kasur dapat menyebabkan panas berlebih yang berpotensi memicu api.
HP meledak dan terbakar saat diisi daya merupakan kejadian yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan cedera serius, bahkan kematian.
Salah satu contoh terbaru terjadi di Batam, seorang driver ojek online (ojol) mengalami luka bakar serius hingga 90 persen setelah HP miliknya meledak saat dicas pada Jumat, 11 Oktober 2024 pukul 09.00 WIB. Pemuda bernama Bastian Sihombing itu mengecas HP dengan posisi di atas kasur dan tertidur pulas.
Kejadian yang sama juga dialami oleh pemuda di Dusun Pathuk Kidul, Desa Batu Retno, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Rabu (9/10/2024). Pemuda bernama Iyan Budi Kusumo (34) itu ditemukan tewas di dalam kamar kosnya.
Saat ditemukan kondisi bagian atas jasad korban gosong. Saat itu korban posisi tertidur di atas kasur dan menggunakan headset serta HP dengan posisi dicas.
Peristiwa-peristiwa ini menunjukkan betapa berbahayanya mengecas HP sambil tidur, terutama jika menggunakan perangkat yang tidak aman atau dalam kondisi tidak diawasi. Selalu pastikan untuk menggunakan charger yang sesuai dan hindari mengecas HP di tempat tidur untuk mengurangi risiko kebakaran atau kecelakaan listrik.
Dosen Peneliti Tidak Tetap, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), Kiki Adi Kurnia menjelaskan, kasus ledakan pada telepon genggam (HP) terjadi saat telepon digunakan terlalu lama hingga mengalami kenaikan suhu. Selain itu, kata dia bisa juga karena diletakannya telepon genggam pada tempat yang panas.
"Dua kegiatan tersebut yang dapat membuat elektrolit pada baterai mengering dan menguap. Semakin kering elektrolit maka posisi katoda dan anoda semakin mendekat. Ketika katoda dan anoda bertemu, ledakan pada telepon genggam, terjadi,” ujar Kiki dikutip dari laman ITB, Sabtu (12/10/2024).
Untuk menghindari insiden ledakan saat mengecas. Dikutip dari Diskominfo Kota Bogor, ada beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan, yaitu
- Gunakan charger original atau sesuai yang disarankan oleh produsen HP.
- Jangan Charger HP hingga 100 Persen. Ternyata cara mengecas HP sampai daya penuh malah berpotensi mengurangi umur penggunaan baterai.
Idealnya HP dicas pada kapasitas 80 atau 90 persen saja karena itu, lebih baik hindari mengisi baterai sampai 100 persen. Saat kapasitasnya sudah 80 atau 90 lebih baik untuk segera dicabut.
- Jangan menggunakan HP saat mengecas karena dapat meningkatkan suhu baterai. Cara mengecas HP yang benar dalam keadaan mati. Sebenarnya, tidak masalah mengecas dengan keadaan handphone menyala, namun, lebih disarankan untuk melakukannya saat kondisi HP mati.
- Ganti baterai yang sudah mulai menggelembung atau menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
- Jauhkan dari benda mudah rerbakar saat mengecas HP di dekat benda yang mudah terbakar seperti kasur atau bantal.
Langkah-langkah pencegahan ini dapat mencegah risiko HP meledak atau terbakar saat mengecas. Tetap waspada dan selalu prioritaskan keselamatan saat mengecas HP.
Selama 11 hari pencarian tanpa henti, pelarian Indra Septiarman, pembunuh dan pemerkosa terhadap Nia Kurnia Sari, gadis penjual gorengan, akhirnya berakhir. - Bagian all [598] url asal
JAKARTA, iNews.id - Selama 11 hari penuh ketegangan dan pencarian tanpa henti, pelarian Indra Septiarman (26 tahun), pembunuh dan pemerkosa terhadap Nia Kurnia Sari, gadis penjual gorengan, akhirnya berakhir. Indra, yang selama ini bersembunyi dari kejaran polisi dan kemarahan warga, ditemukan di loteng rumah kosong daerah Nagari Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Kisah tragis ini bermula ketika Nia, yang sehari-hari berjualan gorengan keliling, dilaporkan hilang pada 6 September 2024. Dua hari kemudian, tubuhnya ditemukan terkubur dengan tangan terikat dan tanpa busana.
Temuan ini memicu kemarahan dan kesedihan mendalam keluarga korban dan masyarakat sekitar. Polisi bergerak cepat, menetapkan Indra sebagai tersangka utama. Indra merupakan residivis kasus pencabulan pada 2013 dan narkotika 2017.
Pencarian intensif dilakukan, menyisir berbagai lokasi hingga akhirnya, pada 19 September 2024, Indra ditemukan bersembunyi di loteng rumah kosong. Penangkapan ini tidaklah mudah dan menegangkan, warga yang geram hampir saja melampiaskan amarah mereka pada Indra saat dia diturunkan dari loteng.
Bagaimana fakta di balik kasus pembunuhan tersebut? Semoga keluarga korban mendapatkan keadilan dan pelaku mendapatkan hukuman setimpal.
Kapolda Sumbar Irjen Pol Suharyono mengungkapkan, pembunuhan yang dilakukan tersangka diawali keinginan memerkosa korban, Nia Kurnia Sari.
Awalnya, kata dia tersangka bersama tiga temannya membeli gorengan yang dijual korban. Saat itu, ada keinginan memerkosa, sehingga tersangka mencegat korban di tengah jalan.
“Setelah itu, tersangka membekap korban hingga pingsan. Saat itu lah, tersangka menyeret korban ke perbukitan dan memerkosanya. Kemudian korban dikuburkan di perbukitan,” ucapnya.
Ahli hukum pidana dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar mengatakan, hukuman berat bisa dikenakan karena tersangka merupakan penjahat kambuhan. Bukan hanya hukuman seumur hidup, namun kata dia bisa saja tersangka diancam dengan hukuman mati.
"Ya sangat mungkin, tergantung kekuatan alat bukti yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU)," ujar Abdul Fickar kepada iNews.id, Sabtu (21/9/2024).
Menurutnya, hukuman seberat apapun hampir tidak berpengaruh pada perbuatan seseorang karena biasanya kejahatan itu terjadi ketika puncak keinginan bertindak melawan hukum itu terjadi.
"Jika jiwa sama sekali kosong dari nilai-nilai agama maka manusia hampir tidak ada bedanya dengan setan," ucapnya.
Dia menuturkan, seseorang terjebak menjadi penjahat kambuhan karena kurangnya aktivitas dalam mengarungi kehidupan. Konsentrasi orang itu, lanjut dia hanya pada nafsu birahinya, hampir tidak ada hal lain yang menjadi perhatian dan tanggung jawabnya.
"Melihat realitasnya seharusnya menjadi perhatian para hakim di pengadilan. Kendalanya ada hukuman maksimal yang tidak boleh dilewati tanpa pertimbangan yang cermat dan detail. Karena itu hakim punya kebebasan memutus hukuman sepanjang ada pertimbangan yang kuat mendukungnya, termasuk menjatuhkan hukuman maksimal, mati," katanya.
Sementara itu, Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Ida Ruwaida Noor menjelaskan, orang yang mempunyai kelainan seksual, sehingga ketika sudah dihukum pun, belum tentu menimbulkan efek jera. Termasuk tersangka pembunuh gadis penjual gorengan itu yang merupakan residivis.
Saat bebas dari lapas, kata dia dan kembali ke masyarakat maka pertanyaannya adalah apakah ada pendampingan dalam proses reintegrasi sosial dan pengawasannya.
"Bagaimana peran dan keterlibatan masyarakat? Ketika tidak jelas tempat tinggalnya maka seharusnya tidak dibebaskan dulu karena akan menghambat proses re-integrasi sosial dan pengawasan oleh keluarga dan masyarakat," ucapnya.
Sedangkan, korban dalam kasus ini bisa disebut sebagai pekerja anak, dinilai rawan bekerja di ruang terbuka (jalanan), apalagi perempuan, pedagang keliling, tentunya sangat berisiko.
Menurutnya, perlu ada pembinaan dan pendampingan sehingga mereka berhati-hati dan waspada dalam melayani pembeli, termasuk tidak bersedia diajak ke tempat-tempat sepi dan rawan, meski ditawari akan diborong jualannya.
"Masih banyak anak jalanan, pekerja anak di jalanan (dagang dll) yang kondisinya rawan, tanpa perlindungan," katanya.
Dia mengungkapkan, pelaku kejahatan biasanya menyasar pada korban yang lemah dan di tempat yang memungkinkan. "Infonya si pelaku sudah merencanakan tindak kejahatan dan asusilanya dan mempelajari kebiasaan korban dalam berdagang," katanya.