#30 tag 24jam
Kuliah Sambil Kerja, Arfi Lulus Program Doktor UGM 2,5 Tahun dengan IPK 4.00
Pekerjaan dan profesi tidak mengganggu jadwal kuliah Arfi. [572] url asal
#wisuda-ugm #ugm #arbani-fitriani #doktor-ugm #wisudawan-tercepat-ugm
(MedCom) 24/10/24 12:29
v/16928622/
Jakarta: Kesibukan sebagai Direktur Stellar HR Consulting dan dosen di Universitas Esa Unggul tak membuat Dr. Arbani Fitriani, S.Psi., M.Si., CHt., berhenti menimba ilmu. Arfi lulus dari Program Studi S3 Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM).Kelulusan makin spesial, sebab ia berhasil menyelesaikan masa studi dalam kurun waktu 2 tahun 6 bulan 23 hari. Dia lulus dengan IPK 4.00.
Perempuan yang belum genap berumumr 40 tahun itu merupakan seorang certified hypnotherapist, yang basis keilmuannya di psikologi. Arfi mengaku bersyukur bisa menyelesaikan studi doktor dengan waktu singkat.
“Selama kuliah, saya ini menjalani triple job sebagai Direktur, Dosen, dan Terapis Psikologi. Apalagi selama studi S3 saya enggak pernah cuti,” ungkap Arfi dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis, 24 Oktober 2024.
Meski sibuk dengan pekerjaan dan profesi sebagai psikolog, Arfi mengaku tidak mengganggu jadwal kuliahnya. “Pokoknya, kesibukan kerja bukan halangan untuk kita lulus cepat,” kata dia.
Meski lulus tercepat, Arfi mengaku sempat digadang oleh dosen pengujinya akan menyelesaikan doktor dengan waktu lebih lama atau tidak tepat. Sebab, penelitian disertasinya sempat dianggap dosen penguji terlalu kompleks dan tidak cocok untuk program doktor.
Namun, hal itu tidak menyurutkan langkahnya sama sekali. Justru, ia membuktikan mampu menyelesaikan studi dengan waktu tercepat.
Disertasi yang dipilihnya membangun model mengenai “Prediktor Keterikatan Kerja”. Topik ini bermula dari peraturan Menteri BUMN Dahlan Iskan saat itu, yang mewajibkan setiap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengukur keterikatan kerja dari karyawannya.
Keterikatan kerja ini dipercaya, ketika muncul pegawai BUMN bisa memberikan pelayanan publik. Topik disertasi yang dinilai kompleks ini menguji 14 koefisien jalur dan 15 variabel, yang menghasilkan 9 hipotesis, serta membahas cara membangun faktor-faktor prediktor keterikatan, khususnya dalam konteks pasca pandemi sehingga bisa menjadi rekomendasi kebijakan bagi BUMN.
Segala upaya dan kerja keras Arfi berbuah manis, ketika dosen penguji memuji hasil disertasinya. Penelitian Arfi dianggap dapat menjadi dua disertasi dengan tema kompleks seperti itu.
“Dua tahun lima bulan saya Yudisium. Ujian sidang tertutup itu dua tahun lima bulan,” tutur dia.
Soal tips bisa menyelesaikan kuliah dan disertasi lebih cepat, Arfi menuturkan ia menyiapkan proposal penelitian sejak jauh hari. Dia juga berkonsultasi dengan profesor-profesor setahun sebelum memasuki perkuliahan.
“Jadi saat saya masuk kuliah proposalnya sudah siap,” kata dia.
Hal ini membawanya bisa mengambil sidang proposal saat duduk di bangku semester 2. Tak hanya itu, penting pula menjalin komunikasi dan bersikap sopan dengan promotor, karena mereka sangat membantu kecepatan lulus mahasiswa.
Ia menyebut pencapaiannya sekarang ini dapat diraih karena disiplin diri yang baik dan cara pikir studi merupakan bagian dari ibadah. Menurutnya, dengan menjadikan hal yang dilakukan sebagai ibadah, akan ada keinginan memberikan yang terbaik untuk Tuhan.
“Jadi dengan adanya kita menjadikan ini ibadah, segala sesuatu dimudahkan jalannya,” ujar dia.
Usai menyandang gelar doktor, Arfi akan menekuni keahliannya di bidang psikologi industri dan psikometri. Apalagi, dari hasil disertasinya menemukan terdapat perbedaan sistem kerja sebelum dan pasca pandemi.
Sehingga, akan ada prediktor keterikatan kerja yang baru yang perlu diperhatikan oleh organisasi. Ia menemukan teknologi merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam proses kerja, karena dengan berkat dukungan teknologi dapat membantu kerja dari karyawan atau pegawai di BUMN, terlebih untuk menunjang performa kerja mereka.
Selain itu, motivasi pelayanan publik juga perlu diperhatikan. Sebab, banyak pekerja melakukan pekerjaan melalui remote working serta harus ada kepemimpinan atau self leadership yang mendorong disiplin diri untuk dapat bekerja dengan baik.
| Baca juga: Cerita Faris dan Shafira Ikut Program Fast Track UGM, Kuliah Lagi Usai Wisuda S1 |
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(REN)
Kuliah Sambil Bisnis, Agnes Lulus S2 dari UGM dengan Predikat Cum Laude
Agnes memutuskan lanjut kuliah S2 setelah terpendam 10 tahun. [811] url asal
#wisuda-ugm #ugm #mahasiswa-ugm #wirausaha
(MedCom) 09/08/24 19:08
v/13946713/
Jakarta: Agnes Puspita Sari, senang bukan main. Impiannya lanjut kuliah S2 sejak 10 tahun lalu berbuah manis.Dia lulus Program Magister Manajemen Kampus Yogyakarta pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) dengan predikat Cum Laude. Dia lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97 yang diraih selama studi 1 tahun 7 bulan 3 hari.
Agnes lulus S2 di usia 36 tahun. Dia mengaku tidak pernah mengubur mimpinya untuk lanjut S2 lantaran ingin terus belajar.
“Bisa belajar sebanyak-banyaknya adalah tentang meningkatkan peluang. Apa pun itu saya yakin sebuah perubahan ke arah positif akan terjadi,” ucap dia dikutip dari laman ugm.ac.id, Jumat, 9 Agustus 2024.
Pada 2022, Agnes membuat sebuah keputusan besar yang mengubah jalan hidupnya. Di masa pandemi covid-19, ia mendapatkan banyak hikmah.
Mimpi-mimpi yang dulunya sempat meredup, kembali berkobar terlebih dengan adanya dukungan dari sang suami untuk melanjutkan kuliah. Tak tanggung-tanggung, di waktu bersamaan Agnes membuat sebuah momen perubahan karier signifikan dalam hidupnya.
Dia memilih resign dari pekerjaanya yang terbilang cukup mapan dan menjadi impian banyak orang. Ia sudah bekerja di Group Danone Specialized Nutrition, tepatnya di PT Sarihusada Generasi Mahardika sebagai Production Supervisor.
“Resign dari pekerjaan rutin, belajar berbisnis, dan kuliah lagi di jurusan bisnis untuk mendukung kebutuhan utama saat itu yaitu membangun bisnis sendiri,” ujar dia.
Akhirnya Agnes melanjutkan studi di Prodi Master of Business Administration (MBA) di Kampus Yogyakarta dengan mengambil Program Senior Executive MBA (SEMBA). “Ternyata mimpi 10 tahun lalu tidak berubah. Apa yang diimpikan dahulu terhambat karena keterbatasan, kini bisa dilakukan. Mimpi tidak berubah, hanya jalan untuk merealisasikan saja yang berbeda,” kenang dia.
Sembari mencari gelar MBA, ia merintis bisnis di bidang Food and Beverage (FnB). Agnes menjalankan perusahaan rintisan bernama Kitchensync melalui kolaborasi dengan tiga rekannya.
Kitchensync didirikan untuk menyediakan solusi bagi pelaku bisnis FnB, terutama restoran kecil hingga menengah (UMKM), yang membutuhkan layanan dukungan operasional. Kitchensync memiliki bisnis inti yaitu menyediakan bahan baku dan produk setengah jadi, serta layanan riset dan pengembangan produk.
Perusahaan ini berafiliasi dengan beberapa merek restoran seperti Nolda Pocha (restoran bertema makanan jalanan Korea), Nasi Iskandar (restoran bertema Melayu/Nasi Kandar), dan Oetak-oetak (Pempek dari Palembang), yang total cabangnya kini berjumlah lebih dari 15, tersebar di Jawa, Bali, dan Sumatra.
“Selain itu kita juga memiliki merek restoran sendiri bernama Udon Mura yaitu restoran bertema Jepang yang berlokasi di Tangerang Selatan,” ucap Co-Founder dan COO Kitchensync itu.
Menjalankan bisnis bukanlah hal mudah, terlebih bagi dirinya yang tergolong pemain baru. Bisnis yang masih seumur jagung ini sempat mengalami kondisi maju dan mundur.
Saat awal memulai bisnis, salah satu founder tiba-tiba mundur begitu saja. Selain itu, turn over karyawan cukup tinggi.
“Namun, show must go on dengan berbekal visi dan misi dan jelas kami terus melanjutkan apa yang sudah dirancang dan syukurlah pada akhirnya bisa terus berlanjut hingga sekarang,” kata dia.
Saat ini, mereka sedang mengembangkan bisnis berkelanjutan dengan merancang bisnis berbasis Cloud Kitchen. Agnes mengaku tidak memiliki pengalaman apa pun saat memulai bisnis.
Namun, ia memiliki kemauan dan tekad kuat untuk berbisnis. Karenanya, ia mendorong siapa pun yang ingin berbisnis untuk tidak takut bermimpi besar.
“Mulai saja, sebesar apa pun bisnis selalu dimulai dari hal kecil. Asalkan memiliki mimpi yang besar dan bentuk lingkaran pertemanan yang mendukung. Sebab, orang-orang terdekatmu adalah cerminan dirimu di masa kini dan mendatang,” tutur dia.
Agnes mengakui menjalani kuliah sekaligus berbisnis tentu tidak mudah dijalani. Namun, dengan manajemen waktu yang baik, keduanya bisa berjalan beriringan.
Untuk membantu proses pembelajaran di sela-sela menjadi pebisnis, ia menerapkan beberapa trik. Salah satunya, membuat rangkuman dari berbagai buku literatur dan slide dari dosen per chapter dengan tulisan tangan.
Upaya lain yang Agnes lakukan adalah rutin mengakses informasi melalui berbagai media pembelajaran terkait bisnis. Biasanya, rutinitas itu ia lakukan 30 menit hingga 1 jam menjelang tidur.
Lalu, di sela-sela perjalanan dari Jakarta, kota tempat bermukim Agnes saat ini, ke Yogyakarta untuk berkuliah, ia sempatkan membaca materi yang akan dibahas saat perkuliahan.
“Saya memanfaatkan waktu perjalanan kereta Jakarta-Jogja setiap minggu untuk membaca materi yang akan dibahas di perkuliahan esok harinya di kelas weekend atau fullday di hari Sabtu. Selain itu juga melakukan diskusi dengan teman-teman kuliah untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda-beda dari berbagai profesi dan industri,” papar dia.
Agnes menyampaikan menjadi bagian dari keluarga besar MM UGM Yogyakarta adalah sebuah kebanggaan dan kesempatan emas yang tidak semua orang bisa rasakan. Di sini, dia tidak hanya belajar tentang teori dan konsep-konsep manajemen, tetapi juga menyerap berbagai nilai-nilai penting yang akan membentuk karakter dan kesiapan dalam menghadapi dunia profesional.
“Beberapa nilai berharga yang saya ambil selama menjalani kuliah adalah soal integritas dan etika, kemandirian dan inovasi untuk menjadi pemimpin yang visioner, serta kolaborasi dan kerja sama. Nilai-nilai itu sangat membantu saya, terlebih dalam mengembangkan bisnis,” ujar Agens.
| Baca juga: Kisah Arnia, Putri Buruh Tani dari Aceh Jadi Maba di Teknik Nuklir UGM |
(REN)
Cerita Ravidho Ramadhan, Doktor Termuda di UGM Lulus dengan IPK 4.00
Ravidho menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 dalam waktu lima tahun kemudian lanjut ke jenjang dokto atau S3. [472] url asal
#wisuda-ugm #doktor-termuda-ugm #doktor-ugm #ugm
(MedCom) 09/08/24 18:07
v/13941473/
Jakarta: Kebahagiaan Ravidho Ramadhan berlipat-lipat pada wisuda pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM). Tak cuma karena berhasil lulus dengan IPK sempurna alias 4,00 tapi juga meraih gelar doktor termuda dan tercepat pada usia 26 tahun.Laki-laki kelahiran Teluk Balengkong, Indragiri Hilir, Riau pada 1998 ini menuntaskan studinya di Program Studi Fisika Fakutas MIPA. Dia melakukan penelitian berjudul Validasi dan Pemanfaatan Data Satelit Global Precipitation Measurement untuk Analisis Curah Hujan dan Bencana Hidrometeorologi di Indonesia yang dibimbing oleh Dr. rer. nat. Wiwit Suryanto (Promotor), Prof. Sholihun (Co-Promotor), dan Prof. Marzuki (Co-Promotor).
Ravidho memulai perjalanan pendidikannya di Desa Tunggal Rahayu Jaya, Riau, sebuah desa transmigrasi dengan keterbatasan akses listrik. Pada usia 5 tahun, ia memulai pendidikan di SD, mengikuti jejak teman-teman sebayanya.
Pendidikan SMP dilanjutkan di kampung halaman dan SMA di kota kabupaten. “Saya menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 pada Jurusan Fisika Universitas Andalas melalui program Fast Track sehingga dapat menyelesaikan studi S1 dan S2 selama 5 tahun,” cerita dia dikutip dari laman ugm.ac.id, Jumat, 9 Agustus 2024.
Ia memilih fokus pada analisis variabilitas struktur vertikal curah hujan di Sumatera menggunakan data pengamatan permukaan dan satelit ketika S2. Ketertarikan Ravidho pada program S3 Fisika di UGM didorong oleh penawaran program By Research yang fleksibel.
Hal ini memungkinkan ia tetap bekerja sebagai asisten riset di Universitas Andalas. Ia menemukan promotor yang mendukung penelitian di bidang fisika atmosfer.
Ravidho menyebut minat terhadap bidang fisika di Indonesia menurun akibat rendahnya daya serap dunia kerja. “Tantangan ini memicu para penggiat fisika untuk lebih kreatif dalam mengaplikasikan ilmu fisika agar bermanfaat bagi masyarakat,” papar dia.
Salah satu tantangan terbesar selama studi adalah mengelola waktu antara studi doktoral dan pekerjaan sebagai asisten riset. Ravidho menekankan pentingnya komunikasi dengan promotor dan pembagian skala prioritas untuk menyelesaikan tugas-tugas secara efektif.
Untuk menjaga motivasi, Ia gemar membaca buku self-improvement dan berdiskusi untuk bertukar ide. Salah satu pencapaian yang membanggakan adalah artikel pertamanya berhasil diterbitkan di jurnal terindeks Q1 Scopus.
“Penelitian tugas akhir saya mengambil topik validasi dan pemanfaatan data satelit Global Precipitation Measurement (GPM) untuk analisis curah hujan dan bencana hidrometeorologi di Indonesia,” sebut dia.
Motivasi terbesar Ravidho datang dari keluarga, terutama ibu yang selalu menekankan pentingnya pendidikan. Dosen pembimbingnya, Prof. Marzuki, juga memberikan dampak besar dalam perkembangan akademisnya.
Sebagai anak pertama dan suami, ia bertekad menjadi panutan bagi orang-orang tercinta. Setelah menyelesaikan studi S3, Ia akan menjalani program post-doctoral di Kyoto University melalui program Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) dengan Prof. Hiroyuki Hashiguchi sebagai host researcher.
Ravidho meyakini yang telah ia capai dapat dicapai oleh siapa pun dengan kemauan kuat. “Satu hal yang saya yakini, pendidikan adalah salah satu jalan paling masuk akal untuk meningkatkan taraf hidup kita dan keluarga di masa depan,” tutur dia.
| Baca juga: Pernah Menjadi Pedagang Asongan, Kini Suyanta Jadi Profesor di UGM |
(REN)
Dosen UNS Awardee S3 Fisipol UGM Lulus Cum Laude
Dia berharap ilmu yang didapat bisa mendukung pendidikan dan pengajaran di kampusnya kelak. [293] url asal
#awardee-fisipol-ugm #beasiswa-fisipol-ugm #wisuda-ugm #dosen-uns #mahasiswa-ugm
(MedCom) 25/07/24 16:08
v/12071803/
Jakarta: Likha Sari Anggreni, 38, berhasil menyelesaikan pendidikan doktornya di program studi (prodi) Ilmu Komunikasi Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM). Kelulusan Likha makin spesial karena dia merupakan satu dari 27 wisudawan program doktor yang lulus dengan predikat Cum Laude.“Saya bersyukur, saya menjadi angkatan pertama awardee dari prodi S3 Ilmu Komunikasi yang diwisuda,” kata Likha dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis, 25 Juli 2024.
Likha merupakan penerima beasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM angkatan pertama untuk jenjang doktor. Dia mengungkapkan kuliah jenjang S3 lantaran tuntutan dari pekerjaannya sebagai pengajar di dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS).
Dia berharap ilmu yang didapat bisa mendukung pendidikan dan pengajaran di kampusnya kelak. “Studi S3 ini saya tempuh karena tuntutan sebagai dosen yang ke depan akan diwajibkan seluruh dosen minimal strata pendidikan doktor,” beber dia.
Likha berhasil meraih Cum Laude dengan IPK 3,8. Dia menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 3 tahun 4 bulan dengan topik disertasi yang dipilihnya, yaitu Communication Identity of Womenpreneur.
Dia mengaku tidak mudah menyelesaikan pendidikan doktor. Sebab, saat pertama kali masuk kuliah di masa pandemi covid-19 melanda, sehingga pembelajaran selama satu tahun pertama dilaksanakan secara daring.
“Baru bisa ketemu dengan teman-teman dan dosen secara offline di tahun kedua,” beber dia.
Selama menjalani masa perkuliahan, Likha mengaku dosen-dosen dan juga staff administrasi di program studi Ilmu Komunikasi sangat membantu dan mendukung proses perkuliahannya dari awal hingga saat ini. Usai menyelesaikan pendidikan doktornya di UGM, Likha akan kembali aktif mengajar di kampus UNS.
Saat ini, tidak ada kata yang mampu mengungkapkan perasaannya selain mengucap rasa syukur atas kelulusannya. “Selesai sudah utangku kepada bangsa, mama, papa, dan suami. Selesai sudah pendidikan formal jenjang tertinggi,” ucap dia.
| Baca juga: Wisuda UGM Dihadiri Ganjar Pranowo, Beri Pesan Ini |
(REN)
Wisuda UGM Dihadiri Ganjar Pranowo, Beri Pesan Ini
Sebanyak 991 orang lulus dari Program Pascasarjana UGM. [1,015] url asal
#wisuda-ugm #wisuda #ugm #ganjar-pranowo-wisuda-ugm #ganjar-pranowo
(MedCom) 25/07/24 10:50
v/12043684/
Jakarta: Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Wisuda Program Pascasarjana Periode IV Tahun Akademik 2023/2024 pada Rabu, 24 Juli 2024. Sebanyak 991 orang lulus dari Program Pascasarjana UGM.Rinciannya, 834 lulusan Program Magister (S2), termasuk 10 wisudawan warga negara asing, 80 lulusan Program Spesialis, 5 lulusan Program Subspesialis, 72 lulusan Program Doktor (S3), termasuk 2 orang wisudawan berasal dari warga negara asing.
Prosesi wisuda turut dihadiri Ketua Umum Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA), Ganjar Pranowo, dan Gubernur Kalimantan Tengah, Sugianto Sabran. Kehadiran Sabran lantaran sang istri sebagai salah satu lulusan yang diwisuda.
Dalam kesempatan itu, Ganjar menyematkan pin KAGAMA kepada dua lulusan. Dia juga memberikan pesan kepada wisudawan.
Ganjar mengingatkan Indonesia saat ini sedang mengalami darurat kesehatan mental. Kesehatan mental menjadi tema menarik untuk diangkat karena ketertarikan dan kepedulian terhadap persoalan ini akan menjadikan bangsa Indonesia kuat, lebih baik, dan memiliki tingkat kesehatan yang bagus.
"Diangkatnya tema ini karena tingginya angka bunuh diri di kalangan generasi muda dalam beberapa waktu terakhir. Problem kejiwaan ini ternyata banyak diidap secara sembunyi oleh banyak orang di Indonesia,” kata Ganjar dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis, 25 Juli 2024.
Ganjar mengatakan perguruan tinggi sebagai penghasil ilmu pengetahuan memiliki pekerjaan rumah besar pada persoalan ini. Dia menekankan perlu kehadiran negara memberikan fasilitas untuk menyelesaikan persoalan ini.
Sementara itu, Rektor UGM, Ova Emilia, menyinggung
teknologi kecerdasan buatan (AI) yang akan mengalami perkembangan cukup pesat dalam dekade-dekade mendatang. Teknologi ini bisa membantu banyak pihak, pemerintah maupun industri dalam pengambilan keputusan.
Meski begitu, kehadiran teknologi ini berisiko dan berdampak negatif terhadap pelanggaran hak cipta, juga kekayaan intelektual serta kebocoran data pribadi. Tidak hanya sampai di situ, era disrupsi revolusi industri 4.0 banyak profesi yang hilang, namun juga bermunculan jenis profesi baru.
Mengutip laporan Lembaga riset Internasional, McKinsey Global Institute diprediksi pada 2030 ada sekitar 75 hingga 375 juta pekerjaan hilang. Sehingga, akan terjadi job loss sekaligus job gain.
Ova menyebut setiap lulusan perguruan tinggi mesti memiliki kompetensi yang memiliki peluang untuk berkarya dan bekerja sesuai bidang keilmuan yang ditekuninya.
"Namun sebaiknya kita tidak bergantung dengan satu keterampilan yang dimiliki. Apa pun gelar dan bidang ilmu yang memang semakin dibutuhkan, akan tetapi dengan memiliki technical skill dan social skill, soft skill dari lintas disiplin ilmu akan menjadikan saudara para lulusan semuanya lebih unggul dan berdaya tawar tinggi,” kata Ova.
Pada wisuda kali, jumlah lulusan perempuan mendominasi dibandingkan dengan lulusan pria. Jumlah wisudawan pria 445 orang (44,90 persen) dan wisudawan perempuan 546 orang (55,10 persen).
Untuk Program Magister (S2) masa studi rata-rata adalah 2 tahun 2 bulan dan waktu studi tercepat berhasil diraih Stephanus Bimo Dwi Prasetyo dari Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis, yang menyelesaikan studinya dalam waktu 1 tahun 2 bulan 10 hari.
Rerata usia lulusan Program Magister periode ini adalah 29 tahun 6 bulan 15 hari. Lulusan termuda adalah Frista Chairunnisa dari Program Studi Magister Bioteknologi, Sekolah Pascasarjana, dengan usia 22 tahun 9 bulan 27 hari.
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) rata-rata untuk lulusan Program Magister (S2) periode ini adalah 3,73. Sementara itu, yang berpredikat Pujian pada periode ini sejumlah 382 lulusan (45,80 persen), berpredikat Sangat Memuaskan sejumlah 393 orang (47,12 persen), dan berpredikat Memuaskan sejumlah 59 orang (7,08 persen), dan pada lulusan program Magister (S2) periode ini terdapat 16 lulusan yang memiliki IPK tertinggi 4,00.
Untuk Program Spesialis, masa studi rata-rata Program Spesialis periode ini adalah 4 tahun, dan waktu studi tercepat diraih Iswandi Darwis dari Program Studi Jantung dan Pembuluh Darah, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, yang berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 2 tahun 8 bulan 15 hari.
Rerata usia lulusan Program Spesialis periode ini adalah 34 tahun 6 bulan 15 hari, dan lulusan termuda diraih Adiguna Putra Walianto dari Program Studi Program Studi Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, dengan usia 27 tahun 2 bulan 16 hari.
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) rata-rata untuk lulusan Program Spesialis adalah 3,74. Lulusan Program Spesialis periode ini yang berpredikat Pujian sejumlah 42 lulusan (52,50 persen), berpredikat Sangat Memuaskan sejumlah 29 lulusan (36,25 persen), dan berpredikat Memuaskan sejumlah 7 lulusan (8,75 persen), dan 2 lulusan (2,50 persen) tanpa predikat.
Pada lulusan program Spesialis periode ini terdapat 4 orang yang memiliki IPK tertinggi 4,00 yang keseluruhannya berasal dari Program Studi Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi.
Untuk Program Subspesialis masa studi rata-rata Program Subspesialis adalah 3 tahun, dan waktu studi tercepat diraih Dwita Dyah Adyarini dari Program Studi Subspesialis Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, yang berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu 2 tahun 10 bulan 8 hari. Iapun juga berhasil meraih IPK tertinggi 3,91 sekaligus berpredikat Pujian.
Rerata usia lulusan Program Subspesialis periode ini adalah 38 tahun 7 bulan 15 hari, dan lulusan termuda diraih Erlangga Prasamya dari Program Studi Subspesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, yang menyelesaikan studinya dalam usia 33 tahun 11 bulan 5 hari.
Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) rata-rata untuk lulusan Program Subspesialis adalah 3,77. Lulusan Program Subspesialis periode ini yang berpredikat Pujian sebanyak 1 orang lulusan (20 persen), selebihnya sebanyak 4 orang (80 persen) berpredikat Sangat Memuaskan.
Untuk Program Doktor masa studi rata-rata Program Doktor adalah 4 tahun 7 bulan, dan waktu studi tercepat diraih Saudari Vincencia Septaviani Issera Sulistya Putri dari Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana, yang menyelesaikan studinya dalam waktu 2 tahun 7 bulan 12 hari.
Rerata usia lulusan Program Doktor adalah 41 tahun 6 bulan 16 hari, dan lulusan termuda adalah Ravidho Ramadhan dari Program Studi Doktor Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, yang menyelesaikan studi Program Doktoralnya pada usia 26 tahun 5 bulan 5 hari.
IPK rata-rata lulusan Program Doktor (S3) periode ini adalah 3,85. Sementara yang berpredikat Pujian sebanyak 27 orang lulusan (37,50 persen), berpredikat Sangat Memuaskan sebanyak 38 orang lulusan (52,78 persen) dan berpredikat Memuaskan sebanyak 7 orang lulusan (9,72 persen). Pada lulusan program Doktor periode ini terdapat 12 wisudawan yang memiliki IPK tertinggi 4,00 sekaligus berpredikat Pujian.
| Baca juga: Mendobrak Batas Anak Tukang Ukir: Ulfatun Nikmah, Lulusan SMK Raih Gelar Magister FEB UGM |
(REN)