#30 tag 24jam
BoXing, Alat Pemisah Sperma Bikinan Mahasiswa UGM untuk Hasilkan Anakan Sapi Perah Sesuai Keinginan
Inovasi ini diharapkan menjadi terobosan baru yang dapat dikembangkan di industri sapi perah untuk mendapatkan pedet berjenis kelamin betina. [372] url asal
#boxing #inovasi-ugm #mahasiswa-ugm #alat-pemisah-sperma-sapi #sapi-perah
(MedCom) 03/10/24 21:06
v/15927787/
Jakarta: Sebanyak lima mahasiswa lintas disiplin ilmu yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PLM-KC) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengembangkan alat untuk memisahkan sperma yang membawa sifat kelamin anakan sapi perah, bernama BoXing. Nantinya, jenis kelamin yang dilahirkan dapat disesuaikan dengan keinginan peternak.BoXing memang masih dalam bentuk prototype atau purwarupa, tetapi sudah bisa digunakan secara fungsional. Inovasi ini diharapkan menjadi terobosan baru yang dapat dikembangkan di industri sapi perah untuk mendapatkan pedet berjenis kelamin betina.
“Proyeksi kebutuhan susu Indonesia ini perlu dibarengi dengan inovasi yang dapat meningkatkan efisiensi inseminasi buatan (IB) dengan menggunakan sperma dari pejantan unggul yang sudah dilakukan pemisahan. Jadi jenis kelamin anakan dapat disesuaikan,” kata Ketua Tim, Diva Aurellia Mahsanabila, dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis, 3 Oktober 2024.
Ide yang dibawa oleh Tim PKM-KC adalah teknologi pemisahan sperma dengan memanfaatkan sifat dielektris dari sperma. Sperma yang membawa jenis kelamin betina memiliki panjang kepala dan ketebalan membran yang lebih besar dibandingkan dengan sperma yang membawa jenis kelamin jantan.
Hal ini akan berpengaruh terhadap respons yang dihasilkan akibat medan listrik yang diterapkan. Sehingga, dalam medan listrik yang tidak homogen, sperma yang membawa jenis kelamin betina (X) dan sperma yang membawa jenis kelamin jantan (Y) akan menghasilkan respons berupa menjauhi elektroda sperma X dan mendekati elektroda sperma Y.
“Perbedaan respons inilah yang kemudian dimanfaatkan sebagai prinsip utama dalam sexing sperma sapi perah,” ujar Lukas Ivander, salah satu anggota tim.
Lukas menjelaskan dengan prinsip tersebut perakitan BoXing menerapkan metode Dielektroforesis-Mikrofluida yang diintegrasikan sehingga membentuk Lab-on-a-chip (LoC). Tim PKM-KC berharap prototype BoXing ini mampu dikembangkan lebih lanjut guna meningkatkan efisiensi program IB dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang veteriner.
Sehingga dapat membantu pihak-pihak terkait dalam melakukan pemisahan sperma untuk mendapatkan anakan ternak unggul yang diinginkan.
Tim PKM-KC terdiri atas Diva Aurellia Mahsanabila (Kedokteran Hewan 2021), Nuhita Aunilah (Teknik Biomedis 2021), Lukas Ivander Mario Andrean (Kedokteran Hewan 2022), Farhan Rahmat (Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol 2023), dan Ahmad Aziz Adyatma Salman (Teknik Mesin 2022) ini didampingi oleh drh. Agung Budiyanto, M.P., Ph.D., yang memiliki keahlian di bidang reproduksi ternak.
| Baca juga: Mahasiswa UGM Kembangkan ReuMate, Alat Deteksi Dini Penyakit Rheumatoid Arthritis |
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(REN)
Kronologi Mahasiswa UGM Tewas di Kamar Kos Diduga Bunuh Diri, Pintu Terkunci
Polisi masih menyelidiki motif mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang ditemukan tewas diduga bunuh diri di kamar kos kawasan Mlati, Sleman, DIY - Bagian all [160] url asal
#mahasiswa-ugm #bunuh-diri #kabupaten-sleman
(iNews - Terkini) 12/08/24 18:38
v/14315443/
YOGYAKARTA, iNews.id – Polisi masih menyelidiki motif mahasiswa UGM Yogyakarta yang ditemukan tewas diduga bunuh diri di kamar kos kawasan Mlati, Sleman, DIY, Senin (12/8/2024).
Saat ini, jenazah korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY.
Kapolsek Mlati, Kompol Irwantoro mengatakan, korban berinisial F asal Riau diduga bunuh diri di dalam kamar. Hal itu dikuatkan dengan bekas jeratan di leher korban dan ditemukannya tali di tempat kejadian.
Namun, penyebab pasti kematian korban masih dalam penyelidikan. “Kalau dugaan itu korban mengakhiri hidupnya di dalam kamar. Kami temukan bekas jeratan di leher dan tali,” katanya.
Saksi mata sekaligus pemilik rumah kos, Irawan Setyo mengatakan, awalnya dihubungi keluarga korban untuk membangunkan F. Setelah pintu kamar diketuk beberapa kali dan tidak ada respons, Irawan kemudian membuka pintu kamar dengan kunci cadangan.
“Saat ditemukan, kondisi tubuh korban tergeletak di belakang pintu kamar. Korban merupakan mahasiswa Fakultas Tekhnik UGM asal Riau. Sudah 3 tahun tinggal di sini,” katanya.
Editor: Kastolani Marzuki
Kuliah Sambil Bisnis, Agnes Lulus S2 dari UGM dengan Predikat Cum Laude
Agnes memutuskan lanjut kuliah S2 setelah terpendam 10 tahun. [811] url asal
#wisuda-ugm #ugm #mahasiswa-ugm #wirausaha
(MedCom) 09/08/24 19:08
v/13946713/
Jakarta: Agnes Puspita Sari, senang bukan main. Impiannya lanjut kuliah S2 sejak 10 tahun lalu berbuah manis.Dia lulus Program Magister Manajemen Kampus Yogyakarta pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) dengan predikat Cum Laude. Dia lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97 yang diraih selama studi 1 tahun 7 bulan 3 hari.
Agnes lulus S2 di usia 36 tahun. Dia mengaku tidak pernah mengubur mimpinya untuk lanjut S2 lantaran ingin terus belajar.
“Bisa belajar sebanyak-banyaknya adalah tentang meningkatkan peluang. Apa pun itu saya yakin sebuah perubahan ke arah positif akan terjadi,” ucap dia dikutip dari laman ugm.ac.id, Jumat, 9 Agustus 2024.
Pada 2022, Agnes membuat sebuah keputusan besar yang mengubah jalan hidupnya. Di masa pandemi covid-19, ia mendapatkan banyak hikmah.
Mimpi-mimpi yang dulunya sempat meredup, kembali berkobar terlebih dengan adanya dukungan dari sang suami untuk melanjutkan kuliah. Tak tanggung-tanggung, di waktu bersamaan Agnes membuat sebuah momen perubahan karier signifikan dalam hidupnya.
Dia memilih resign dari pekerjaanya yang terbilang cukup mapan dan menjadi impian banyak orang. Ia sudah bekerja di Group Danone Specialized Nutrition, tepatnya di PT Sarihusada Generasi Mahardika sebagai Production Supervisor.
“Resign dari pekerjaan rutin, belajar berbisnis, dan kuliah lagi di jurusan bisnis untuk mendukung kebutuhan utama saat itu yaitu membangun bisnis sendiri,” ujar dia.
Akhirnya Agnes melanjutkan studi di Prodi Master of Business Administration (MBA) di Kampus Yogyakarta dengan mengambil Program Senior Executive MBA (SEMBA). “Ternyata mimpi 10 tahun lalu tidak berubah. Apa yang diimpikan dahulu terhambat karena keterbatasan, kini bisa dilakukan. Mimpi tidak berubah, hanya jalan untuk merealisasikan saja yang berbeda,” kenang dia.
Sembari mencari gelar MBA, ia merintis bisnis di bidang Food and Beverage (FnB). Agnes menjalankan perusahaan rintisan bernama Kitchensync melalui kolaborasi dengan tiga rekannya.
Kitchensync didirikan untuk menyediakan solusi bagi pelaku bisnis FnB, terutama restoran kecil hingga menengah (UMKM), yang membutuhkan layanan dukungan operasional. Kitchensync memiliki bisnis inti yaitu menyediakan bahan baku dan produk setengah jadi, serta layanan riset dan pengembangan produk.
Perusahaan ini berafiliasi dengan beberapa merek restoran seperti Nolda Pocha (restoran bertema makanan jalanan Korea), Nasi Iskandar (restoran bertema Melayu/Nasi Kandar), dan Oetak-oetak (Pempek dari Palembang), yang total cabangnya kini berjumlah lebih dari 15, tersebar di Jawa, Bali, dan Sumatra.
“Selain itu kita juga memiliki merek restoran sendiri bernama Udon Mura yaitu restoran bertema Jepang yang berlokasi di Tangerang Selatan,” ucap Co-Founder dan COO Kitchensync itu.
Menjalankan bisnis bukanlah hal mudah, terlebih bagi dirinya yang tergolong pemain baru. Bisnis yang masih seumur jagung ini sempat mengalami kondisi maju dan mundur.
Saat awal memulai bisnis, salah satu founder tiba-tiba mundur begitu saja. Selain itu, turn over karyawan cukup tinggi.
“Namun, show must go on dengan berbekal visi dan misi dan jelas kami terus melanjutkan apa yang sudah dirancang dan syukurlah pada akhirnya bisa terus berlanjut hingga sekarang,” kata dia.
Saat ini, mereka sedang mengembangkan bisnis berkelanjutan dengan merancang bisnis berbasis Cloud Kitchen. Agnes mengaku tidak memiliki pengalaman apa pun saat memulai bisnis.
Namun, ia memiliki kemauan dan tekad kuat untuk berbisnis. Karenanya, ia mendorong siapa pun yang ingin berbisnis untuk tidak takut bermimpi besar.
“Mulai saja, sebesar apa pun bisnis selalu dimulai dari hal kecil. Asalkan memiliki mimpi yang besar dan bentuk lingkaran pertemanan yang mendukung. Sebab, orang-orang terdekatmu adalah cerminan dirimu di masa kini dan mendatang,” tutur dia.
Agnes mengakui menjalani kuliah sekaligus berbisnis tentu tidak mudah dijalani. Namun, dengan manajemen waktu yang baik, keduanya bisa berjalan beriringan.
Untuk membantu proses pembelajaran di sela-sela menjadi pebisnis, ia menerapkan beberapa trik. Salah satunya, membuat rangkuman dari berbagai buku literatur dan slide dari dosen per chapter dengan tulisan tangan.
Upaya lain yang Agnes lakukan adalah rutin mengakses informasi melalui berbagai media pembelajaran terkait bisnis. Biasanya, rutinitas itu ia lakukan 30 menit hingga 1 jam menjelang tidur.
Lalu, di sela-sela perjalanan dari Jakarta, kota tempat bermukim Agnes saat ini, ke Yogyakarta untuk berkuliah, ia sempatkan membaca materi yang akan dibahas saat perkuliahan.
“Saya memanfaatkan waktu perjalanan kereta Jakarta-Jogja setiap minggu untuk membaca materi yang akan dibahas di perkuliahan esok harinya di kelas weekend atau fullday di hari Sabtu. Selain itu juga melakukan diskusi dengan teman-teman kuliah untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda-beda dari berbagai profesi dan industri,” papar dia.
Agnes menyampaikan menjadi bagian dari keluarga besar MM UGM Yogyakarta adalah sebuah kebanggaan dan kesempatan emas yang tidak semua orang bisa rasakan. Di sini, dia tidak hanya belajar tentang teori dan konsep-konsep manajemen, tetapi juga menyerap berbagai nilai-nilai penting yang akan membentuk karakter dan kesiapan dalam menghadapi dunia profesional.
“Beberapa nilai berharga yang saya ambil selama menjalani kuliah adalah soal integritas dan etika, kemandirian dan inovasi untuk menjadi pemimpin yang visioner, serta kolaborasi dan kerja sama. Nilai-nilai itu sangat membantu saya, terlebih dalam mengembangkan bisnis,” ujar Agens.
| Baca juga: Kisah Arnia, Putri Buruh Tani dari Aceh Jadi Maba di Teknik Nuklir UGM |
(REN)
Ekstrak Anggur Merah dan Potensinya untuk Mengatasi Neuropati Diabetik
Neuropati diabetik merupakan salah bentuk komplikasi dari penyakit diabetes melitus. [364] url asal
#neuropati-diabetik #diabetes #diabetes-militus #anggur-merah #ekstrak-anggur-merah #mahasiswa-ugm #mahasiswa #ugm
(MedCom) 07/08/24 17:19
v/13674116/
Jakarta: Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan penelitian inovatif untuk mengatasi komplikasi Neuropati diabetik. Neuropati diabetik merupakan salah bentuk komplikasi dari penyakit diabetes melitus yang menyebabkan gangguan pada saraf tepi ditandai dengan gejala sering kesemutan, nyeri, atau mati rasa.Upaya mengatasi komplikasi umum dari Diabetes Melitus (DM) ini menggunakan senyawa bioaktif dari buah anggur merah. Diharapkan dapat memberikan terapi yang lebih efektif dalam mengelola neuropati diabetik.
Penelitian ini dilakukan oleh lima mahasiswa dari berbagai fakultas, yaitu Puji Kurnellawati dan Adha Fauzi Hendrawan dari FK-KMK, Fauziah Rahma Zora Rustiawan dan Araya Pangastuti dari Fakultas Farmasi serta M. Syuja Rizqullah dari Sekolah Vokasi. Tim ini dibimbing oleh Dr. Rio Jati Kusuma, S.Gz., MS. dari Gizi Kesehatan FK-KMK UGM. Kelimanya meneliti potensi resveratrol dalam NLC untuk mencegah perkembangan neuropati pada model hewan DM.
Puji Kurnellawati menerangkan, dalam penelitian ini, tim mahasiswa menggunakan ekstraksi anggur merah untuk memperoleh resveratrol, yang kemudian dienkapsulasi dalam Nanostructured Lipid Carrier (NLC)NLC. Selanjutnya diuji pada tikus wistar digunakan sebagai subjek penelitian dalam rangka menguji tingkat efektivitas terapeutik ini.
Beberapa hal yang diuji terkait kadar glukosa darah, respon nyeri, serta analisis ekspresi gen antioksidan dan histologi nervus sciaticus. “Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan NLC mampu menurunkan kadar glukosa darah dan inflamasi serta meningkatkan fungsi motorik pada tikus model DM,” ujar Puji dalam siaran persnya, Rabu 7 Agustus
Dari hasil penelitian, kata Puji, menunjukkan perbedaan signifikan dalam waktu jingkat kaki, kadar glukosa darah, dan kadar TNF-α antar kelompok perlakuan. Penemuan ini menunjukkan bahwa NLC tidak hanya meningkatkan bioavailabilitas resveratrol tetapi juga efektif dalam mengurangi gejala neuropati diabetik. “Pendekatan ini memiliki potensi besar sebagai terapi preventif yang lebih baik untuk penderita diabetes,” katanya.
Melalui metode enkapsulasi resveratrol dalam NLC, penelitian ini menurut Puji, tidak hanya memberikan solusi potensial bagi penderita neuropati diabetik, tetapi juga membuka peluang baru dalam pengembangan obat dan terapi.
Ia berharap hasil penelitian ini dapat diakses oleh masyarakat luas dan mendorong diskusi serta kolaborasi lebih lanjut dalam bidang riset obat-obatan. “Adanya temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan bagi pengembangan lebih lanjut dalam terapi neuropati diabetik dan membantu meningkatkan kualitas hidup para penderita diabet,” katanya.
| Baca juga: Tim Mahasiswa UGM Selamatkan Anggrek Langka di Gunungkidul |
(CEU)
Tim Mahasiswa UGM Selamatkan Anggrek Langka di Gunungkidul
Kurangnya perhatian terhadap anggrek ini menyebabkan Dendrobium capra mengalami penurunan populasi yang cukup signifikan. [432] url asal
#anggrek-langka #anggrek #dendrobium-capra #mahasiswa-ugm #tim-pkm-re-ugm #ugm
(MedCom) 07/08/24 10:43
v/13639547/
Jakarta: Sejumlah mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta (PKM-RE) menyelamatkan anggrek langka Dendrobium capra J.J.Smith di Gunungkidul, Yogyakarta. Anggrek ini tercatat berada dalam status Appendix II dalam CITES dan Endangered atau terancam punah dalam International Union for Conservation of Nature (IUCN).Kurangnya perhatian terhadap anggrek ini menyebabkan Dendrobium capra mengalami penurunan populasi yang cukup signifikan. Meski begitu, terdapat satu populasi Dendrobium capra yang baru ditemukan berada di wilayah hutan produktif di Gunungkidul, sebuah wilayah yang rawan terhadap intervensi manusia.
“Sekaligus ini new record karena baru ditemukan di wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta beberapa waktu lalu”, ujar salah satu mahasiswa Akmal Bunyamin dikutip dari laman ugm.ac.id, Rabu, 7 Agustus 2024.
Akmal menuturkan timnya melakukan penelitian dengan studi populasi anggrek Dendrobium capra sebagai upaya pemantauan eksistensi anggrek ini di habitat aslinya. Tim juga melakukan konstruksi DNA barcoding pada spesies ini untuk memudahkan proses identifikasi.
“Ini dikarenakan sulitnya membedakan antarspesies Dendrobium hanya dengan pengamatan morfologinya saja, karenanya kita juga menyediakan barcode sebagai identitas Dendrobium capra pada database," beber dia.
Akmal mengatakan survei studi populasi anggrek ini dilakukan di hutan kecil yang berlokasi di Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul yang berada pada ketinggian 192-211 mdpl yang tergolong sebagai dataran rendah. Pada populasi tersebut, ditemukan sebanyak 103 individu Dendrobium capra yang hidup secara epifit menempel pada pohon mahoni (Swietenia sp.) dan pohon jambu air (Syzygium sp.).
Dia menyebut dengan penelitian ini, anggrek Dendrobium capra dapat diselamatkan dari ancaman kepunahan dengan memantau kondisi di habitat alaminya. “Data ini juga dapat digunakan untuk menyusun strategi konservasi lebih lanjut,” ungkap dia.
Akmal menuturkan produk barcode dapat disetorkan ke basis data genetik publik seperti The National Center for Biotechnology Information (NCBI) sebagai identitas resmi Dendrobium capra secara molekuler. Hal ini penting karena sekuens tersebut belum tersedia dalam database dan diperlukan untuk memudahkan proses identifikasi Dendrobium capra yang semakin langka.
“Kita berharap dengan adanya penelitian ini dapat menjadi salah satu upaya dalam melestarikan biodiversitas Indonesia khususnya anggrek Dendrobium capra sebagai salah satu puspa pesona Indonesia agar tidak mengalami kepunahan”, imbuhnya.
Tim PKM-RE yang kesemuanya mahasiswa Fakultas Biologi UGM ini menamakan diri mereka Tim PKM-RE D’caprangers. Tim beranggotakan Akmal Bunyamin (angkatan 2021), Syafira Nurul Aisya (angkatan 2021), Astrid Rayna Afandi (angkatan 2022), Nimas Sukma Puspita (angkatan 2022), dan Dary Saka Fitrady (angkatan 2023).
Tim PKM-RE D’caprangers mendapat bimbingan dari Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M. Agr. Sc., dan tim dalam penelitiannya mendapatkan pendanaan dari Kemendikbudristek RI.
| Baca juga: IPB Punya 3 Anggrek Jenis Baru, Salah Satunya Dinamakan Rektor IPB Arif Satria |
(REN)
E-Tongue Inovasi Mahasiswa UGM untuk Deteksi Penyakit Alzheimer
e-Tongue sebagai alternatif terhadap efektivitas diagnosis penyakit Alzheimer. [280] url asal
#e-tongue #inovasi #mahasiswa #ugm #mahasiswa-ugm #alzheimer
(MedCom) 04/08/24 20:00
v/13271489/
Jakarta: Sebanyak lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan riset sekaligus mengembangkan potensi membran lipid pada lidah elektronik atau e-Tongue sebagai alternatif terhadap efektivitas diagnosis penyakit Alzheimer.Penyakit Alzheimer menjadi salah satu penyakit neurodegeneratif progresif, ditandai penurunan fungsi otak, terutama dalam hal daya ingat, penalaran, dan keterampilan berpikir. Hingga saat ini, alat diagnostik penyakit Alzheimer masih memiliki beberapa keterbatasan seperti invasif, mahal, dan tidak bisa dilakukan secara massal.
Kelima mahasiswa UGM ini bergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Riset Eksakta (PKM-RE) UGM. Tim yang beranggotakan Muhammad Rofii Ashari (Fisika 2022), Zuleika Arum (Fisika 2022), Putri Ardiana Dwi Rahmawati (Kimia 2022), Aulia Agustin (Fisika 2023), dan Jonathan Hamonangan Sihaloho (Kedokteran Umum 2023) dan didampingi Dr. Eng. Ahmad Kusumaatmaja, S.Si., M.Sc., ini mengembangkan riset terkait diagnosis dini penyakit Alzheimer menggunakan lidah elektronik.
Muhammad Rofii Ashari menerangkan, inovasi Lidah elektronik atau e-Tongue yang mereka kembangkan menggunakan sensor elektronik untuk mendeteksi serta membedakan berbagai rasa dan komponen kimia dalam suatu sampel. “Memadukan sensor yang sensitif dan teknologi machine learning, alat ini diharapkan dapat mendeteksi protein Aβ dan protein dalam darah,” ujarnya, dikutip dari laman UGM, Minggu, 4 Agustus 2024.
Rofii menceritakan riset yang dilakukan oleh tim ini tidak lantas selalu mulus. Terkadang mereka juga mengalami beberapa kendala di lapangan. Salah satu tantangannya adalah meningkatkan akurasi pendeteksian dari sensor yang dibuat.
“Tim sempat mengalami tantangan dalam hal menentukan membran yang paling optimal dan pemilihan machine learning untuk digunakan pada sensor,” kenangnya.
Rofii berharap inovasi lidah elektronik bisa menjadi metode untuk diagnosis penyakit alzheimer melalui sampel darah dengan akses mudah tanpa SDM ahli, cepat, dan terjangkau.
| Baca juga: Mahasiswa UGM Teliti Khasiat Bawang Dayak untuk Obat Alternatif Kanker Lidah |
(CEU)
Mahasiswa UGM Teliti Khasiat Bawang Dayak untuk Obat Alternatif Kanker Lidah
Bawang Dayak, tanaman yang berasal dari Pulau Kalimantan berpotensi sebagai alternatif penyembuhan kanker. [519] url asal
#bawang-dayak #khasiat-bawang-dayak #bawang #dayak #mahasiswa-ugm #mahasiswa #ugm #kanker-lidah
(MedCom) 04/08/24 12:43
v/13240109/
Jakarta: Penemuan Tim Mahasiswa UGM dalam Program Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) mengungkapkan khasiat bawang dayak untuk alternatif penyembuhan kanker. Bawang Dayak merupakan salah satu jenis tanaman yang berasal dari Kalimantan.Tim mahasiswa UGM yang terdiri dari Ribka Wijayanti dan Dwina Aulia (Kedokteran Gigi 2022), Anisah Qurrotu Aini (Biologi 2022), serta Naila Nurfadhilah dan Atikah Nur Hanifah (Farmasi 2022) bawah bimbingan Prof. drg. Supriatno, M.Kes., MD.Sc.,Ph.D, Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi UGM ini berhasil mengembangkan senyawa antioksidan menjadi zat penghambat pertumbuhan sel kanker.
Kanker lidah terjadi akibat adanya aktivitas gen proto-onkogen yang menyebabkan proliferasi sel berlebihan dan inhibisi gen supresor tumor. Perubahan genetik tersebut menyebabkan pertumbuhan sel tidak terkendali hingga membentuk tumor.
Tumor dapat bersifat jinak atau ganas, dan sifat tumor ganas inilah yang kemudian disebut kanker. Saat ini, pengobatan terkait berbagai jenis kanker masih terus dikembangkan. Kendala dalam penyembuhan penyakit kanker umumnya dikarenakan pesatnya pertumbuhan sel kanker dari pusat hingga menyebar ke seluruh tubuh.
Menurut Ribka, salah satu anggota tim yang mengenyam Program Studi Pendidikan Dokter Gigi UGM itu menjelaskan alasan mengapa bawang dayak perlu diolah dengan metode khusus agar, mendapatkan hasil yang maksimal untuk penanganan kanker. Ia menerangkan, Bawang Dayak merupakan tanaman dengan antioksidan yang tergolong sangat kuat, kaya akan senyawa isoliquiritigenin dan iso eleutherine, senyawa flavonoid, dan oxyresveratrol.
“Beragam senyawa terapi yang terkandung dalam satu tanaman tidak akan mampu dimanfaatkan sekaligus sebagai agen terapi jika hanya menggunakan metode ekstraksi konvensional,” terangnya, dilansir dari laman UGM, Minggu, 4 Agustus 2024
Guna memaksimalkan kandungan bawang dayak dan menyalurkan langsung ke organ sasaran, tim mahasiswa UGM menggunakan metode Plant Derived-Exosome Like-Nanoparticle (PDENs). Metode ini melepaskan bagian kecil sel untuk berkomunikasi antar sel dan mengatur kekebalan terhadap serangan patogen.
Penelitian dimulai dengan mengisolasi PDENs bawang dayak dengan teknik presipitasi berbasis polimer menggunakan PEG6000 sehingga didapatkan larutan PDENs bawang dayak. “Senyawa ini kemudian diuji pada sel kanker lidah manusia dengan berbagai konsentrasi,” katanya.
Hasilnya, jumlah sel kanker yang hidup mengalami penurunan karena terjadi apoptosis dan jumlah sel yang berproliferasi mengalami penurunan pada penggunaan PDENs bawang dayak yang lebih tinggi.
Dwina Aulia, anggota tim lain yang juga merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UGM menuturkan, hasil uji lab tersebut membuktikan bahwa kandungan dalam bawang dayak menggunakan metode PDENs mampu menghambat perkembangan dan mematikan sel kanker lidah manusia secara efektif.
Meski penelitian ini masih dalam tahap uji pre-klinik, namun apabila makin dikembangkan nantinya dapat menjadi landasan baru dalam pengobatan kanker mulut menggunakan herbal medicine. “Kolaborasi antar lintas jurusan, penelitian ini mengilhami kami semua untuk terus menggali potensi alam yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia,” jelas Dwina.
Tidak hanya dari Kalimantan, tanaman bawang dayak saat ini telah banyak dikembangkan di banyak tempat termasuk oleh kelompok petani di Danurejan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Budidayanya pun tidak sulit, karena bawang dayak secara alami tumbuh liar di hutan Kalimantan. Melalui metode penanaman intensif budidaya, bawang dayak sudah bisa dipanen dalam waktu enam bulan. “Mudahnya proses penanaman, perawatan, dan banyaknya khasiat yang dimiliki tentu memberikan nilai ekonomi yang dapat dikembangkan oleh UMKM masyarakat,” katanya.
| Baca juga: Pertama di Indonesia, Mahasiswa Doktor UI Kembangkan Penentuan Terapi Stroke dengan AI |
(CEU)
Mahasiswa UGM Sulap Buah Tempayang Jadi Permen Antikaries
Dalam literatur, ekstrak buah tempayang memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans dan pembentukan biofilm pada gigi. [397] url asal
#karies-gigi #permen-antikaries #inovasi-ugm #mahasiswa-ugm #tempayang
(MedCom) 01/08/24 13:13
v/12870306/
Jakarta: Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) turut mendukung target pemerintah, yakni Indonesia bebas karies pada 2023. Tim mengembangkan formulasi baru permen antikaries gigi berbasis teknologi nano menggunakan ekstrak buah tempayang (Sterculia lychnophora) dan nano kitosan.Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) Nasional pada 2018 menunjukkan data 92,6 persen anak usia 5-9 tahun mengalami masalah karies gigi. Hal ini akibat tingginya konsumsi makanan manis di kalangan anak-anak.
Tim mahasiswa UGM terdiri atas Salsabila Desti Winarno (Farmasi 2022), Nabila Fahrida Rahma (Farmasi 2022), Meilafaisa Wilis Alfidia (Kimia 2022), Almadhitya Salsabila (Kedokteran Gigi 2022), dan Ade Zulfa Imania (Farmasi 2022). Penelitian dilaksanakan selama tiga bulan, pada Mei hingga Juli 2024 dengan bimbingan dosen Farmasi UGM, Marlyn Dian Laksitorini.
Almadhitya Salsabila menjelaskan penggunaan buah tempayang dalam riset ini berdasarkan pengamatan keseharian masyarakat Pemalang yang memanfaatkannya sebagai obat tradisional. Bahkan, dalam literatur ekstrak buah tempayang memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans dan pembentukan biofilm pada gigi.
Tim peneliti juga memanfaatkan nano kitosan sebagai bahan tambahan dalam formulasi permen anti karies. Nanopartikel kitosan telah terbukti efektif dalam meningkatkan aktivitas antibakteri terhadap S. mutans.
“Keunggulan lain dari nanopartikel kitosan adalah biodegradable, biocompatible, dan tidak mempengaruhi estetika gigi,” tutur Almadhitya dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis, 1 Agustus 2024.
Bakteri Streptococcus mutans mengubah sukrosa menjadi glukan menggunakan enzim glukosiltransferase, membentuk biofilm, dan menghasilkan asam. Proses ini menurunkan pH di sekitar gigi, menyebabkan demineralisasi enamel dan dentin.
“Oleh karena itu, kami menggunakan bahan xylitol dan sorbitol sebagai pengganti sukrosa,” ujar Nabila, anggota tim lainnya.
Nabila menjelaskan penggunaan xylitol dan sorbitol juga dapat membantu mempertahankan tekstur kenyal pada permen gummy karena memiliki sifat hidrasi tinggi. Hal ini membuat permen mudah dikunyah dan memiliki konsistensi yang baik.
“Selain itu, xylitol dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans, mengurangi produksi asam yang merusak enamel gigi, serta meningkatkan produksi air liur untuk menetralkan keasaman plak,” jelas dia.
Nabila berharap penelitian ini dapat menjadi landasan untuk pengembangan lebih lanjut dalam bidang kesehatan gigi pada anak di Indonesia. Selain itu, hasil riset ini juga dapat diterapkan dalam pengabdian masyarakat melalui pembuatan modul atau video untuk meningkatkan pemahaman dan pemanfaatan produk dapat menjadi peluang kewirausahaan.
”Kami berharap bahwa produk ini tidak hanya membantu menjaga kesehatan gigi dan mulut anak-anak, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan,” tutur dia.
| Baca juga: Mahasiswa UGM Teliti Campuran Ekstrak Rosella dan Bekatul Beras Hitam untuk Penurun Kolesterol |
(REN)
Mahasiswa UGM Teliti Campuran Ekstrak Rosella dan Bekatul Beras Hitam untuk Penurun Kolesterol
Penelitian ini dilatarbelakangi tingginya bahaya kolesterol bagi kesehatan masyarakat. [536] url asal
#mahasiswa-ugm #rosella #bekatul-beras-hitam #penurun-kolesterol #inovasi-mahasiswa-ugm
(MedCom) 30/07/24 13:17
v/12652005/
Jakarta: Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan potensi tanaman kombinasi ekstrak Rosella dan bekatul beras hitam sebagai penurun kadar kolesterol. Campuran ekstrak tersebut diformulasikan dalam bentuk serbuk sehingga mudah dikonsumsi.Penelitian diajukan dalam Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Riset Eksakta (PKM-RE) UGM dan mendapat pendanaan dari Kemendikbudristek RI. Anggota tim PKM-RE UGM terdiri atas Anggi Abdillah Surya Amni, Khoirun Nafisah (Kimia, 2022), Anes Arjuni, Luna Azahara (Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, 2022), dan Rani Mutiara (Kedokteran, 2023) dengan pendampingan dari dosen Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, UGM, Wahyu Dwi Saputra.
Anggi menjelaskan penelitian ini dilatarbelakangi tingginya bahaya kolesterol bagi kesehatan masyarakat. Pihaknya ingin menawarkan solusi yang bisa diakses seluruh lapisan masyarakat.
“Kami ingin menemukan solusi yang alami dan mudah diakses oleh masyarakat untuk mengatasi masalah ini," kata Anggi dikutip dari laman umg.ac.id, Selasa, 30 Juli 2024.
Kebiasaan mengonsumsi makanan berminyak dan berlemak bisa meningkatkan risiko penimbunan kolesterol dan dapat menimbulkan penyakit berbahaya, seperti jantung dan stroke. Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023 dan Riset Kesehatan Dasar 2018, frekuensi konsumsi makanan berlemak masyarakat Indonesia meningkat signifikan dari 41,7 persen menjadi 50,4 persen seiring dengan peningkatan prevalensi kolesterol total tinggi.
Anggi mengungkapkan tren saat ini menunjukkan masyarakat memiliki ketertarikan pada pola hidup sehat dan mendorong banyak orang beralih ke beras hitam. Hasil gilingan beras ini berupa bekatul dengan kandungan pengikat kolesterol belum dimanfaatkan secara optimal
“Hal inilah yang mendorong kami untuk menciptakan inovasi pemanfaatan bekatul beras hitam dengan mencampur ekstraknya bersama bunga rosella,” papar dia.
Salah satu anggota tim peneliti, Nafisah, menuturkan bekatul beras hitam mengandung senyawa bioaktif yang lebih banyak dibandingkan dengan beras merah maupun putih. Bekatul memiliki senyawa metabolit sekunder berupa karotenoid, fenolik, tanin, saponin, alkaloid serta senyawa flavonoid.
Sementara itu, rosella memiliki memiliki potensi sebagai pengikat kolesterol, antioksidan, antidiabetes, antiinflamasi, dan antihipertensi karena mengandung komponen fitokimia seperti polifenol, alkaloid, flavonoid, saponin, dan tannin.
“Kami memilih bekatul beras hitam karena kandungan senyawa bioaktifnya yang tinggi. Ditambah dengan ekstrak rosella, kami berharap bisa menciptakan formula yang efektif untuk menurunkan kolesterol,” tutur dia.
Anes menjelaskan proses pembuatan formulasi untuk masing-masing ekstrak serta campuran ekstrak rosella dan bekatul dengan berbagai perbandingan. Selanjutnya, dilakukan analisis senyawa bioaktif, penurunan kadar kolesterol, dan uji sifat fisikokimia sampel.
Hasil penelitian memperlihatkan campuran ekstrak rosella dan bekatul beras hitam dapat menurunkan kadar kolesterol hingga 68,39±0,26 persen dengan kandungan total antosianin, total fenolik, dan total flavonoid yang cukup tinggi serta kualitas serbuk yang baik berdasarkan uji sifat fisikokimia.
“Hasil penelitian kami menunjukkan potensi besar dalam menurunkan kolesterol dengan bahan alami,” jelas Anes.
Luna meneybut penemuan ini membuka peluang besar untuk memanfaatkan bahan alami dalam mengatasi masalah kolesterol tinggi. Tim berharap ada penelitian dan pengembangan lebih lanjut terhadap produk formulasi minuman serbuk tersebut.
“Dengan semangat inovasi dan kolaborasi, kami berharap temuan ini dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan masyarakat Indonesia,” ucap dia.
Anggota tim lainnya, Rani, berharap penelitian ini menjadi solusi untuk mengatasi masalah kesehatan dan dapat ditemukan melalui pemanfaatan sumber daya alam di lingkungan sekitar rumah.
“Karenanya kami merasa bangga dapat berkontribusi dalam penelitian ini. Harapannya hasil penelitian kami bisa dikembangkan dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujar Rani.
| Baca juga: Penelitian Mahasiswa UGM: Daun Sirih Hijau Berpotensi Tingkatkan Produktivitas Ayam Broiler |
(REN)
Fiqka Balas Bully dengan Prestasi, Diterima Kuliah Gratis di FKH UGM
Fiqka berap mendapat ejekan lantaran kondisi keluarganya yang miskin. [832] url asal
#fkh-ugm #fkh #ugm #snbp-2024 #snbp #mahasiswa-ugm #mahasiswa
(MedCom) 29/07/24 10:46
v/12514784/
Jakarta: Refiqka Asmilla Rahma tak menyangka bisa lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM). Dia tak percaya meski sudah bolak balik buka pengumuman.“Entah berapa kali buka tutup pengumuman. Berulang kali saya bertanya, benar ndak ini,” ucap Fiqka dikutip dari laman ugm.ac.id, Senin, 29 Juli 2024.
Awalnya, dia memilih Program Studi Kedokteran Hewan IPB University. Seiring berjalannya waktu, salah satu temannya menentukan pilihan yang sama.
Ia sempat dipanggil pihak sekolah untuk mengganti pilihan. Kebijakan SMA Negeri 1 Soralangun, Jambi berkeinginan mereka yang mendapat kuota SNBP memiliki peluang besar diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Ia mengalah dan menuruti arahan pihak sekolah.
“Bingung waktu itu. Karena memang tidak mungkin dalam satu sekolah diperbolehkan memilih perguruan tinggi dan prodi yang sama,” beber dia.
Saat batas akhir pendaftaran semakin mepet, teman-temannya mendorong agar Fiqka memilih Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Keraguan muncul. Fiqka lantas meminta pendapat ibunya, Wiwik Purwaningsih.
Tak kunjung bisa menentukan, ia teringat pesan ayahnya saat duduk di kelas XI 'koe ne wes lulus arep neng endi?' Ia mengaku selalu terngiang pertanyaan itu. Tak lama, sang paman yang juga adik kandung ibu di Klaten memintanya memilih UGM. Namun, dia masih ragu.
“Om tidak berani kayaknya, UGM itu terlalu tinggi,” ucap Fiqka memberi jawab.
Fiqka sangat bersyukur dikelilingi orang-orang yang peduli dan mencintai. Meski, tak sedikit juga yang tidak suka padanya.
Fiqka lahir dari pasangan Kasto dan Wiwik Purwaningsih dan memiliki adik kandung Ferizka Asmilla Rahma. Kasto yang penjual mi ayam keliling di seputar Pasar Soralangun meninggal dunia saat Fiqka duduk di kelas V SDN 64/VII Sukasari II Kec. Sarolangun.
Setelah itu, ibunya Wiwik Purwaningsih menikah lagi dengan Suyatno yang berprofesi sebagai tenaga serabutan di Perkebunan Kelapa Sawit. Pasangan ini dikaruniai anak M. Raka Dirga Wijaya.
“Ya sekarang ini, saya hidup bersama ayah sambungan, karena ibu menikah lagi karena merasa tidak kuat kalau membiayai hidup sendirian,” ungkap Fiqka.
Kemiskinan membuat Fiqka sering mengalami ejekan teman sejak kecil. Tak jarang, ia menahan semua itu dan menangis ketika sampai di rumah.
Ejekan yang terus ia alami menjadikannya terbiasa dan kuat. Ia bersyukur bisa berdiam tak membalas apa pun saat teman-temannya yang tak suka padanya mengejek.
Bahkan, saat duduk di bangku SMA Negeri 1 Sarolangun, sebagian teman-temannya justru gemas dengan sikap Fiqka. Teman-teman yang peduli padanya berharap Fiqka membalas mereka yang membully. Namun, sekali lagi Fiqka memilih berdiam, diam, dan diam.
“Kenapa mesti membalas? Ya sudah, sejak kecil aku mengalami itu. Sejak itu aku hanya ingin bapak nantinya bisa mengambil rapor dengan tegak kepala biarpun miskin,” ucap Fiqka.
Fiqka tidak membalas dengan cacian namun dengan prestasi-prestasi membanggakan. Almarhum Kasto selalu bangga manakala sedang mengambil rapor kenaikan kelas.
Kasto selalu bangga karena Fiqka menjadi langganan yang terbaik di kelasnya. Prestasi-prestasi ini terus berlanjut saat bersama ayah sambungnya, Suyatno.
Saat duduk di bangku SMA Negeri 1 Soralangun, ia meraih juara 4 Olimpiade Kebumian tingkat kabupaten Tahun 2022. Juara 2 Olimpiade Kebumian tingkat kabupaten Tahun 2023 dan Juara 1 lomba Cipta Puisi tingkat kabupaten 2023. Ia juga aktif berorganisasi di Kerohanian Islam (Rohis) dan sebagai penghafal Al-Q’uran (Tahfiz).
Fiqka mengungkapkan membagi waktu menjadi kunci keberhasilannya meraih prestasi. Gadis yang memiliki hobi membaca ini selalu meluangkan waktu belajar setelah salat isya hingga pukul 22.30.
“Kalau sampai jam 23.00, aku malah kadang pusing. Makanya harus membatasi,” beber dia.
Saat jam kosong pelajaran ia memanfaatkan waktu membaca novel. Ia asyik di bawah meja membaca novel.
Baginya, kelas kosong pelajaran tidak bisa dimanfaatkan untuk belajar. Kelas kosong biasanya ribut karenanya ia memilih membaca novel.
Fiqka mengaku masuk tipe orang yang bisa belajar ketika fokus. Apabila belum fokus, mudah buyar. Namun, ketika sudah fokus apa pun yang terjadi ia tidak peduli.
“Di rumah kan banyak buku. Kalau sudah pegang buku dan fokus sampai dipanggil pun saya tidak mendengar,” beber dia.
Tak cuma belajar, ia juga kerap membantu ibunya menjemur jagung sebelum berangkat sekolah saat musim kemarau di rumahnya yang terletak di rumahnya di Sungai Batu RT 10 RW 3 Sukasari Kec. Sarolangun Kab. Sarolangun Prov. Jambi. Ia tak segan membawa dagangan jagung marning dan keripik tempe ibunya untuk dijual di sekolahnya.
“Lumayan berapa pun keuntungan bisa membantu pembiayaan kebutuhan rumah,” ucap Fiqka.
Fiqka lega diterima kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan UGM . Apalagi, mendapatkan subsidi UKT 100 persen dari UGM. Baginya, kesempatan kuliah di UGM membuka harapan baru untuk keluarganya.
“Pinginnya kuliah nanti lancar, setelah lulus ada sih niatan kembali ke daerah transmigrasi di Jambi, karena di sini kan belum ada dokter hewan, dan banyak pemilik sapi dan kambing,” ucap dia.
Wiwik Purwaningsih, kini bisa tersenyum lega melihat Fiqka diterima kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan UGM dengan mendapatkan subsidi UKT 100 persen. Ia berharap Fiqka akan baik-baik kuliah di UGM dan diberi kelancaran.
“Saya mau nyangoni apa, saya juga tidak punya. Berdoa saja semoga Fiqka selalu sehat, bisa kuliah dengan baik dan jangan lupa salat,” pesan dia.
| Baca juga: Sempat Dapat Ranking 10 Terbawah di SMA, Happy Kerja Keras hingga Diterima UGM Lewat SNBP |
(REN)
Cerita Emil Anak Transmigran di Mamuju Tengah Kuliah Gratis di UGM, Siswa Pertama di Sekolahnya
Berbagai cara ia lakukan untuk bisa masuk UGM tanpa tes dengan mengikuti berbagai perlombaan. [793] url asal
#maba-ugm #mahasiswa-ugm #kuliah-gratis-ugm #snbp-ugm #snbp-2024-ugm
(MedCom) 22/07/24 17:08
v/11686311/
Jakarta: Made Emilia Cahyati, 18, masih tak percaya diterima di program studi Ilmu dan Industri Peternakan, Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) lewat Jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2024. Emil merupakan siswa pertama SMA 1 Pangale, Kabupaten Mamuju Tengah yang diterima kuliah di kampus UGM."'Emil, yakin mau ambil UGM?'”, 'Saya yakin Bu'," kenang Emil meski dalam hatinya tidak percaya diri dikutip dari laman ugm.ac.id, Senin, 22 Juli 2024.
Emil meyakinkan dirinya memilih kuliah di UGM karena sejak bangku sekolah dasar hingga bangku SMP dan SMA tidak bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah Favorit. Bahkan, jarak sekolah SMA dari rumahnya ditempuh hingga 45 menit naik kendaraan roda dua melewati area kebun sawit.
“Saya bergantian dengan teman setiap tiga hari sekali gantian bawa motor, patungan bensin,” kenang Emil.
Pernah sesekali ban bocor, Emil dan temannya terpaksa datang terlambat sampai ke sekolah. Apabila ban bocor di jalan, ia menunggu teman satu sekolah lainnya yang melintas untuk membantu mendorong atau menelepon ayahnya untuk menjemput.
Selama di bangku sekolah, Emil langganan juara kelas masuk rata-rata tiga besar. Ketertarikannya pada pelajaran matematika dan sastra mendorongnya mengikuti berbagai perlombaan dan sering berhasil menjadi juara.
Emil pernah mendapat juara 1 bidang matematika pada lomba Olimpiade Sains Nasional Tingkat Mamuju pada April 2023 se-Sulawesi Barat. Selain itu, ia juga pernah meraih juara 1 bidang lomba menulis cerpen pada Festival Lomba Siswa Nasional (FLS2N) jenjang SMA tingkat Kabupaten Mamuju Tengah.
Di tingkat nasional, Emil juga pernah lolos lomba Utsawa Dharmagita Agama Hindu tahun 2021 yang diselenggarakan Dirjen Bimbingan Masyarakat Hindu Kemenag RI untuk kategori remaja. Lalu di 2024, ia kembali lolos di ajang yang sama yang diselenggarakan di Solo, Jawa Tengah.
Meski tinggal di kawasan Transmigran, tidak menyulutkan langkah Emil mengenyam kuliah di kampus UGM. Berbagai cara ia lakukan untuk bisa masuk UGM tanpa tes dengan mengikuti berbagai perlombaan.
“Dari awal memang saya sudah niat mau masuk UGM karena Yogyakarta terkenal dengan pendidikannya. Dulu saja sekolah SMP saya termasuk daerah 3T. Lalu SMA saya tidak masuk daftar ranking 1000 SMA terbaik di Indonesia, paling tidak saya bisa masuk ke kampus favorit,” kata dia.
Upaya Emil terbayar. Tidak hanya lolos masuk UGM tanpa tes, Emil juga mendapat beasiswa UKT pendidikan Unggul Bersubsidi sebesar 100 persen atau biaya kuliah gratis dari UGM.
Dukungan penuh orang tua
Emil beruntung mendapat dukungan penuh dari orang tuanya. Ayahnya, I Kadek Somadana, 44, dan Ni Luh Ernawati, 40, merupakan transmigran yang kini tinggal di Desa Tommo 1, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.Desa ini berada di area kawasan Transmigrasi yang berada sekitar 84 kilometer dari Kota Mamuju. Keduanya mengelola lahan sawit seluas kurang lebih satu hektare yang jaraknya hanya 50 meter dari rumahnya.
Di desa ini hampir semua keluarga transmigran bertanam sawit setelah padi tidak lagi cocok untuk ditanam di bekas rawa yang sudah mengering. Kadek mengolah lahan sawit milik ayahnya.
Selama hampir 15 tahun, keluarga Kadek menggantungkan penghasilan dari hasil panen kebun sawit. Setiap dua minggu sekali, Kadek bisa panen sekitar 4-5 kuintal buah sawit. Satu kilogram buah sawit dijual Rp2.000 ke pengepul.
“Rata-rata setiap bulan dapat sekitar Rp2 juta,” beber Kadek.
Uang dari penghasilan ini digunakan Kadek untuk menghidupi tiga orang anaknya dan kedua orang tuanya yang tinggal serumah dengannya. Sambil menunggu panen sawit, Kadek juga bekerja serabutan bila ada tetangga yang mengajaknya menjadi buruh harian lepas.
Ada juga tetangga yang mengajaknya untuk mengangkut hasil panen sawit atau mengolah bibit kebun sawit. Kebetulan, Kadek pernah 10 tahun bekerja sebagai mandor di perusahaan sawit Astra mengurusi plasma nutfah.
Meski dari kecil dan besar hidup di wilayah transmigran, Kadek memiliki tekad kuat untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang perguruan tinggi.
Sang kakek, Made Yarnita, 69, juga sumringah melihat sang cucu melanjutkan kuliah di kampus UGM. Meski, ia tak tahu banyak soal pendidikan.
Namun, Yarnita ingat persis pada 1983, ia mengajak istri dan anaknya baru satu, Kadek umur 3 tahun, berangkat naik kapal dari Buleleng, Bali merantau ke Mamuju sebagai transmigran bersama ratusan kepala keluarga lainnya.
Mendaftar sebagai transmigran, menjadi satu-satunya pilihan bagi Yarnita untuk mengubah masa depan keluarganya. Di Buleleng, kenangnya, ia tidak punya tanah untuk digarap dan sehari-hari bekerja sebagai buruh tukang kayu.
Sesampainya di Tommo, Yarnita hanya diberi rumah papan seluas 5x7 meter. Jalan masih berupa tanah liat, belum ada listrik dan di sekitar pekarangan masih dikelilingi hutan dan rawa.
Berangsur-angsur, warga transmigran menebang pohon, lalu mengolah lahan untuk menanam padi dan sesekali menjadi tenaga serabutan di desa lain. Kini, bekas papan rumah tersebut masih tersimpan rapi di depan rumah anaknya.
Yarnita sengaja tidak ingin menjualnya, sebagai kenangan rumah itulah tanda perjuangannya untuk mengubah nasib supaya anak dan cucunya tahu awal kehidupan para transmigran di masa lalu.
| Baca juga: Lolos SNBP di UGM dan Raih UKT Rp 0, Ini Kisah Syifa Anak Buruh Tani Sumbar |
(REN)
Cerita Haru Moses Patibang, Anak Petani Singkong yang Berhasil Kuliah Gratis di UGM
Natan sempat meminta moses untuk menunda keinginannya untuk kuliah. [910] url asal
#ugm #kuliah-gratis #moses-patibang #mahasiswa-ugm #mahasiswa #anak-petani-singkong #petani-singkong #petani #singkong #tana-toraja #kip-kuliah #kuliah
(MedCom) 16/07/24 13:55
v/10958406/
Jakarta: Natan Kapitong, 55 tahun sempat meminta putranya, Moses Patibang,18 tahun untuk menunda keinginannya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Atau jika tak tertahankan keinginan kuliah Moses, Natan meminta agar putranya memilih kampus yang tidak jauh dari Toraja.Tak sampai hati sebenarnya bagi Natan untuk meminta hal tersebut kepada bungsunya, namun keterbatasan biaya menjadi salah satu hal yang membuatnya terpaksa menyampaikannya. Dalam lima tahun terakhir Natan menjadi orang tua tunggal untuk menghidupi ketiga orang anaknya.
Sehari-hari, Natan mengandalkan penghasilan dari pekerjaan sehari-hari sebagai petani singkong dan tukang ojek panggilan. Rata-rata dalam sebulan, Natan hanya menghasilkan kurang dari 500 ribu rupiah.
Keluarga Natan tinggal di rumah kayu yang jauh dari kota dan pemukiman warga, di Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja. Untuk menuju rumahnya hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki melewati jalan setapak berbatu yang licin, hampir tanpa penerangan, dan berlumpur di tengah hutan kecil.
Untuk membiayai kehidupannya dan anak-anaknya, masih harus dibantu anak pertamanya yang bekerja sebagai buruh bangunan di Papua dan membantu bayar biaya kuliah anak keduanya di salah satu universitas swasta di Toraja.
Keterbatasan ekonomi menjadi alasan Natan untuk meminta anak bungsunya agar menunda keinginan melanjutkan ke bangku kuliah. Kalaupun terpaksa, ia meminta untuk memilih kampus yang tidak jauh dari Toraja.
Kuliah Gratis di UGM
Akan tetapi sang anak terus bersikeras dan meyakinkan dirinya jika pilihan kuliah di UGM demi masa depannya kelak. Natan pun melunak, saat tahu Moses mendaftar lewat jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP). Yang dilakukannya hanyalah berdoa untuk kelulusan sang anak tercinta.Sampai tibalah pada 26 Maret 2024 tepat di hari Selasa, Moses menghadiri suatu acara ibadah di gereja. Waktupun terus berjalan hingga ibadah telah selesai dan perasaannya yang sudah mulai campur aduk ketika akan membuka pengumuman SNBP di ponselnya.
Sambil berlari dan teriak sekeras-kerasnya, seperti ingin mengabarkan siapa saja kabar baiknya. “Puji Tuhan, saya lulus UGM…saya lulus UGM!”
Begitu haru dan senangnya, hingga membuat seluruh jemaat dan sang Pendeta ikut bahagia karena berita baik Moses hari itu. Moses menjadi satu-satunya siswa lulusan SMA Negeri 3 Toraja yang tahun ini diterima berkuliah di UGM.
Sang Ayah pun seperti mimpi mendapat kabar bahwa Moses lolos seleksi untuk berkuliah di UGM. Ia adalah orang yang mendukung penuh apa yang menjadi cita-cita anaknya untuk berhasil menempuh pendidikan lanjut menempuh pendidikan di universitas ternama di Indonesia.
Mimpi Moses untuk bisa berkuliah di UGM sejak ia duduk di bangku SMP kini menjadi kenyataan nyata. Anak bungsu dari tiga bersaudara asal Tana Toraja ini, berhasil diterima kuliah di prodi Ilmu Komunikasi Fisipol UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP).
Tidak hanya itu, namanya pun kini terdaftar sebagai calon mahasiswa penerima KIP Kuliah. Bahkan saat registrasi, ia mendapat subsidi UKT 100 persen.
Di bangku SMA, Moses adalah siswa yang selalu mendapat peringkat ke dalam 5 besar di sekolah. Moses menuturkan, bahwa untuk bisa lulus seleksi SNBP ia selalu berusaha untuk mempertahankan nilai dan prestasinya sejak ia duduk di kelas 10.
Diterima kuliah di prodi Ilmu Komunikasi, Moses mengaku juga tidak lepas dari sosok Najwa Shihab yang menjadi idolanya. “Saya ingin memiliki kemampuan berbicara di depan publik yang baik seperti Najwa Shihab dan kalau sudah lulus kelak saya bercita-cita ingin menjadi dosen” harapnya.
Persembahan untuk Sang Ibu
Moses yang menjadi piatu sejak 5 tahun lalu ini dengan haru mengucapkan terima kasih untuk mendiang Sang Ibu. Sosok yang amat berarti bagi hidupnya. Ia menuturkan almarhum ibunya adalah separuh hidupnya yang selalu ada di dalam hidupnya.“Terima kasih mama telah merawat saya dari kecil hingga saya bertumbuh menjadi pribadi yang kuat, tanpa kehadiran mama di hidupku saya hanya sebutir debu yang tidak berarti dan ini saya persembahkan untuk mama saya,” tuturnya dikutip dari laman UGM.
Hingga sekarang, Moses selalu ingat pesan yang disampaikan oleh sang Ibunda dan memegang prinsip hidup dari sang Ibu yang selalu menjadi pegangan hidupnya hingga ia berada ada di titik ini. “Kamu harus belajar yang rajin dan giat hingga menggapai cita-cita yang setinggi langit,” kata Moses menirukan pesan Ibunya.
Meski setelah ini Natan akan hidup seorang diri, namun ia bahagia karena Moses telah berhasil menjemput salah satu mimpi besarnya, berkuliah di UGM. Sang ayah berharap, semoga UGM dapat selalu memberi kemudahan dan bantuan kepada anaknya, selama menempuh kuliah.
Natan juga berharap Moses dapat tepat waktu menyelesaikan kuliah di UGM, belajar yang tekun, dan sebuah kebanggaan jika anaknya mampu menjadi contoh bagi masyarakat. Selama nanti menuntut ilmu di UGM, Natan berpesan agar Moses yang akan berangkat meninggalkan Toraja untuk selalu ingat dan mengandalkan Tuhan dalam setiap aktivitasnya kelak.
“Moses tidak akan berada di titik ini tanpa campur tangan Tuhan,” ungkapnya.
Bagi Natan, subsidi UKT 100 persen yang diberikan UGM seperti sebuah mimpi yang jadi nyata untuk keluarganya yang memiliki beban finansial yang tidak sedikit. “Saya lebih senang dan saya mengucap terima kasih kepada pemerintah yang dapat memberi subsidi untuk anak saya kuliah. Karena secara ekonomi kami tidak mampu, pendapatan kami di bawah 500 ribu setiap bulan, sehingga kalau untuk membiayai kuliah di UGM kami tidak mampu,” katanya terisak.
Sebagai universitas nasional, Universitas Gadjah Mada terus berkomitmen kuat untuk memberikan akses pendidikan tinggi kepada semua lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi kurang mampu melalui salah satunya program subsidi UKT.
Subsidi ini diberikan berdasarkan kondisi ekonomi mahasiswa, sehingga memastikan bahwa biaya kuliah tetap terjangkau bagi semua kalangan. Calon mahasiswa dapat mengajukan permohonan subsidi UKT dengan menyertakan dokumen-dokumen yang menunjukkan kondisi ekonomi mereka.
| Baca juga: Kisah Love’s, Anak Penjual Rempeyek Kuliah Gratis di FEB UGM Tanpa Tes |
(CEU)