Pengamat Sebut 2-3 Paslon Bisa Terbentuk pada Pilkada Jakarta, Tak Tertutup Peluang Lawan Kotak Kosong
Pengamat politik Agus Baskoro sebut bukan tidak mungkin terjadi lawan kotak kosong pada Pilkada Jakarta, jika tak ada nama final dari kubu lawan Anies Halaman all
(Kompas.com) 10/07/24 12:39 10302941
JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro berpandangan bahwa tiga poros mungkin bisa terbentuk dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta 2024.
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur pertama yang mungkin terbentuk adalah Anies Baswedan dengan Sohibul Iman yang sudah dideklarasikan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Hanya saja, menurut Agung, pasangan ini bisa berlayar apabila PKS yang saat ini sudah mendapat dukungan dari Perindo mendapatkan bantuan kekuatan Partai Nasdem.
Pasalnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) nampak memberikan resistensi terhadap duet Anies-Sohibul Iman.
“Misalkan PKS kemudian Nasdem sama Perindo itu kan cukup ya, total 30 kursi. Itu cukup karena minimal 22 kursi (mengajukan calon kepala daerah),” kata Agung dalam program Obrolan Newsroom bersama Kompas.com, Selasa (9/7/2024).
Pasangan calon (paslon) kedua, dari kubu Koalisi Indonesia Maju (KIM) yang terdiri dari Partai Gerindra, Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Demokrat, serta Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
“Pasangan kedua itu misalkan Ridwan Kamil kita asumsikan (dengan) Kaesang, kursinya sudah lebih dari cukup, 50 kursi mungkin kalau tidak salah,” ujarnya.
Terakhir, paslon yang mungkin bisa terbentuk dari kubu PKB dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Sebab, gabungan perolehan kursi kedua partai tersebut mencukupi untuk mengajukan calon gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (cawagub) pada Pilkada Jakarta 2024.
“Kemudian, pasangan PDI-P sama PKB. PDI-P ada 15 kursi, PKB 10 kursi jadi 25 kursi, 22 kursi sudah terpenuhi. Kalau skemanya seperti itu, ya sebenarnya ada tiga pasang, tinggal siapa nih (yang diusung),” kata Agung.
Namun, dia mengingatkan bahwa situasi politik saat ini masih cair meskipun menyisakan waktu kurang dari dua bulan jelang pembukaan pendaftaran paslon ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Agung mengatakan, bukan tidak mungkin akhirnya hanya terbentuk dua paslon apabila Anies Baswedan memilih salah satu antara PKS atau kemungkinan koalisi PKB bersama PDI-P.
"Anies pilih salah satu dan bisa saja nanti polanya berubah menjadi dua pasang saja. Misalkan Anies ke PKS, yang PKB ini melebur ke KIM. Atau ketika Anies pilih PKB-PDIP maka PKS melebur ke KIM,” ujarnya.
Bahkan, menurut Agung, tidak menutup kemungkinan hanya ada satu paslon apabila tidak ada kandidat kuat yang mampu menandingi Anies Baswedan.
“Jadi sangat cair dan tidak menutup kemungkinan satu pasang melawan kotak kosong kalau sampai diujung memang tidak ada nama final di kubu lawannya Anies,” katanya.
Belum ada pengumuman koalisi dan bakal calon
Sebagaimana diketahui, belum ada koalisi resmi yang terbentuk jelang pembukaan pendaftaran calon kepala daerah pada 27 Agustus 2024.
Meskipun, partai-partai yang tergabung di Koalisi Indonesia Maju kemungkinan akan tetap bersama pada Pilkada Jakarta 2024. Seperti Partai Gerindra, Golkar, PAN, Demokrat, dan PSI.
Sementara itu, PKS baru mendapatkan dukungan dari Perindo terkait pengusungan untuk duet Anies Baswedan-Sohibul Iman. Tetapi, belum ada deklarasi koalisi yang terbentuk.
Kemudian, PKB dan PDI-P diketahui sudah melakukan komunikasi terkait sejumlah pilkada meskipun belum resmi terbentuk kerja sama dari ketua partai ini.
Demikian juga, belum ada paslon yang resmi terbentuk. Baru ada duet Anies-Sohibul Iman yang dideklarasikan sepihak oleh PKS. Walau akhirnya didukung oleh Perindo.
Namun, gabungan perolehan kursi PKS dan Perindo pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024 di Jakarta, belum memenuhi syarat pencalonan kepala daerah sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang (UU) Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Wali Kota, dan Bupati (Pilkada).
KIM juga diketahui belum mengeluarkan nama yang akan resmi diusung pada Pilkada Jakarta. Meskipun, nama mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menjadi kandidat terkuat sejauh ini.
Lalu, muncul juga nama Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep yang digadang-gadang cocok mendamping Ridwan Kamil.
Sementara itu, duet Anies Baswedan-Andika Perkasa sempat mencuat dari PKB dan PDI-P. Tetapi, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menyebut, belum ada keputusan final terkait kandidat yang akan diusung pada Pilkada Jakarta.
Perolehan suara dan kursi di Jakarta
Berdasarkan hasil Pileg 2024 di Jakarta, PKS sebagai partai dengan perolehan suara tertinggi tetap perlu berkoalisi untuk mengajukan cagub dan cawagub. Sebab, partai yang digawangi Ahmad Syaikhu ini hanya memperoleh 18 kursi sehingga masih butuh empat kursi lagi.
Dalam UU Pilkada disebut bahwa syarat pencalonan kepala daerah melalui partai politik (parpol) adalah diusung oleh parpol atau gabungan parpol yang memiliki kursi minimal 20 persen di DPRD provinsi maupun kabupaten/kota.
Selain itu, parpol maupun gabungan parpol juga bisa mengajukan calon kepala daerah dengan menggunakan gabungan perolehan suara parpol sebanyak 25 persen.
Demikian juga partai politik lainnya butuh berkoalisi pada Pilkada Jakara 2024.
Berikut perhitungan jumlah suara dan kursi partai politik di DPRD DKI Jakarta:
- PKB 470.682 suara yang setara dengan 10 kursi
- Gerindra 728.297 suara, setara dengan 14 kursi
- PDI-P 850.174 suara, setara dengan 15 kursi
- Golkar 517.819 suara, setara dengan 10 kursi
- Nasdem 545.235 suara, setara dengan 11 kursi
- PKS 1.012.028 suara, setara dengan 18 kursi
- PAN 455.906 suara, setara dengan 10 kursi
- Demokrat 444.314 suara, setara dengan 8 kursi
- PSI 465.936 suara, setara dengan 8 kursi
- Perindo 160.203 suara, setara dengan 1 kursi
- PPP 153.240 suara, setara dengan 1 kursi.
#pks #anies-baswedan #pilkada #pilkada-2024 #anies #koalisi-indonesia-maju #pilkada-jakarta-2024