Delegasi AS Umumkan Modal Indonesia untuk Suntik Mati PLTU Rp16 Triliun Disetujui

Delegasi AS Umumkan Modal Indonesia untuk Suntik Mati PLTU Rp16 Triliun Disetujui

Delegasi AS umumkan US$1 miliar (Rp16 triliun) pembiayaan JETP telah disetujui. JETP sendiri disiapkan salah satunya membiayai pensiun dini PLTU batu bara.

(Bisnis.Com) 11/07/24 20:56 10452137

Bisnis.com,JAKARTA - Delegasi Amerika Serikat (AS) mengumumkan dana sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp16 Triliun pembiayaan Just Energy Transition Partnership (JETP) telah disetujui. Langkah menandai kemajuan dalam kesepakatan iklim bilateral yang pernah diadakan pada 2022. Indonesia sendiri berencana melakukan pensiun dini PLTU melalui dana ini dengan membangun pengganti energi terbarukan.

Kepastian dan JETO disampaikan oleh Assistant Secretary for International Trade and Development Alexia Latortue, bagian dari delegasi AS untuk menjaga momentum JETP, usai pertemunnya dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) pada Kamis (11/7/2024).

“Jadi US$1 miliar pembiayaan JETP telah disetujui, dan US$2,4 miliar lainnya sedang dalam proses negosiasi,” tuturnya.

Indonesia sendiri mendapatkan komitmen dana JETP sebesar US$10 miliar dari International Partners Group (IPG).

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Kemaritiman, Investasi, dan Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta W. Kamdani mengatakandengan adanya US$1 miliar yang telah disetujui dan sudah dapat langsung dimanfaatkan merupakan sebuah berita baik.

“Kami (Kadin dan pihak AS) benar-benar harus menunjukan memang realnya ini terjadi. Jadi ini big step saya rasa, untuk mulai seperti ini,” jelas Shinta.

Lebih rinci, dari US$1 miliar yang disetujui, Latortue menuturkan bahwa AS turut andil dalam proyek geothermal atau panas bumi Ijen, yakni salah satu proyek yang disetujui dan dibiayai oleh US Development Finance Corporation (DFC).

Mengutip keterangan resmi Kedutaan Besar AS untuk Indonesia, kesepakatan tersebut diumumkan pada Mei 2024 lalu oleh Wakil Chief Executive Officer (DCEO) DFC Nisha Biswal, dengan komitmen senilai US$126 juta dolar AS untuk perusahaan listrik Indonesia PT Medco Cahaya Geothermal.

Adapun komitmen DFC untuk perusahaan tersebut juga terkoordinasi dengan bank infrastruktur Indonesia PT SMI, pemberi pinjaman yang membiayai proyek saat ini.

“[Kesepakatan proyek panas bumi] dibiayai oleh US Development Finance Corporation, yang merupakan lembaga pembiayaan pembangunan kami. PT SMI juga ada di sana, jadi kami sangat gembira dengan kesempatan untuk meluncurkan proyek panas bumi ini,” terang Latortue.

Shinta, yang juga selaku Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menuturkan bahwa kabar ini menjadi berita baik bagi pelanggan usaha swasta.

Menurutnya, pihak swasta juga sangat terlibat dalam proses JETP, menimbang proyek-proyek datang dari banyak pelaku usaha. Shinta juga menilai bahwa lapangan pekerjaan juga menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam proyek kesepakatan iklim ini.

Terkait solar, pihaknya menunggu aturan dapat keluar yang nantinya juga dapat mendorong lebih banyak lagi untuk pendanaan.

“Jadi fundingnya sebenarnya sudah siap dan proyek-proyek di pipeline juga sudah ada, namun menunggu aturan ini (solar) yang keluar, kemudian ini bisa bergulir jadi nanti lebih banyak lagi akan perusahaan yang bisa memanfaatkan dari segi JETP,” jelasnya.

#suntik-mati-pltu #jetp #dana-jetp

https://hijau.bisnis.com/read/20240711/652/1781557/delegasi-as-umumkan-modal-indonesia-untuk-suntik-mati-pltu-rp16-triliun-disetujui