Komisi VIII Desak Kemenag Cari Solusi Sempitnya Tenda Jemaah Haji

Komisi VIII Desak Kemenag Cari Solusi Sempitnya Tenda Jemaah Haji

Ketua Komisi VIII DPR Ashabul Kahfi mendesak Kemenag untuk mencari solusi terkait sempitnya tenda jemaah haji. Apa kata Ashabul? Halaman all

(Kompas.com) 16/07/24 10:20 10938873

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komisi VIII DPR Ashabul Kahfi mengatakan pihaknya tidak memiliki kekuatan untuk menambah luas tenda jemaah haji yang tidur sempit-sempitan di Mina dan Arafah.

Ashabul mengatakan, yang terpenting adalah ruang jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tetap terbuka selama ibadah haji.

Meski begitu, Ashabul mendesak Kementerian Agama (Kemenag) harus memberikan solusi terkait sempitnya tenda yang didapat jemaah haji reguler asal Indonesia.

"Komisi VIII DPR bersama Kemenag selalu mengevaluasi untuk peningkatan kualitas layanan. Namun kami tidak punya power untuk menambah kekuasaan tenda setiap jemaah. Bagi saya, biarlah tempat tenda yang sempit, namun ruang jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah terbuka luas," ujar Ashabul saat dimintai konfirmasi Kompas.com, Selasa (16/7/2024).

"Ya (tenda sempit) tetap masalah, harus ada solusi," sambungnya.

Ashabul menjelaskan, dirinya turut mendorong pemerintah Arab Saudi untuk memperbaiki fasilitas bagi para jemaah haji.

Misalnya adalah dengan membangun tower atau tenda berlantai supaya bisa menampung lebih banyak jemaah haji.

"Solusi lainnya tanazul. Jemaah yang pondokannya dekatan dengan tenda di Mina. Mereka tetap stay di hotel, ke Mina hanya saat pergi melontar. Setelah melontar balik ke hotel atau pondokan. Wilayah Syisah itu kan dekat dengan Mina," papar Ashabul.

Sementara itu, Ashabul turut mengusulkan agar kuota haji setiap negara dikurangi supaya jemaah yang berangkat mendapat kenyamanan dengan ruang yang luas.

Sebab, kondisi desak-desakan selama ibadah haji merupakan dampak dari kepadatan manusia dari jumlah jemaah haji yang hadir di lokasi tersebut.

Meski begitu, khusus Indonesia, Ashabul ingin kuota haji yang didapat tetap bertambah.

"Ke depan indonesia tetap memperjuangkan penambahan kuota untuk mengurai antrean panjang calon jemaah kita," katanya.

"Secara pribadi, saya berharap pada seluruh pihak untuk berpikir jernih dan positif terhadap setiap keadaan dari pelaksanaan ibadah haji. Secara spiritual, berangkat haji adalah panggilan Allah SWT untuk menjadi tamunya. Pemerintah hanya pihak yang terkait dalam membantu para tamu Allah dalam mewujudkan panggilannya yang hanya ditujukan pada orang-orang tertentu," imbuh Ashabul.

Sebelumnya, Dirjen Penyelenggara Ibadah Haji dan Umroh (PHU) Hilman Latief mengatakan, tenda sempit untuk jemaah haji Indonesia sudah lumrah terjadi dari masa ke masa.

Khususnya, tenda yang digunakan jemaah haji untuk bermalam di Mina dan Arafah.

Hilman mengatakan, kepadatan memang tak bisa dihindari karena haji dihadiri oleh jemaah dari seluruh dunia.

"Mau jemaah dari mana pun di situ pasti padat orang. Tidurnya katanya berjejer kayak ikan, dari zaman nabi juga seperti itu," ujar Hilman saat temu media di Aryaduta Hotel, Jakarta Pusat, Senin (15/7/2024).

"Jadi berjejer namanya tinggal di tenda Pak, jadi berjejer seperti itu," sambung Hilman.

Dia menjelaskan, jemaah Indonesia hanya mendapat ukuran 82 sentimeter per kavling untuk tempat tidur.

Itu pun harus berkurang setelah Indonesia mendapat kuota tambahan 10.000 jemaah reguler sehingga kepadatan di tenda semakin terasa.

"Nah, ini yang kemudian kita simulasikan bagaimana agar nanti ke depan kepadatan itu lebih bisa diatasi. Kalau padatnya tidak bisa, pasti padat, kecuali masalah kuota berkurang," ujarnya.

#kemenag #komisi-viii #jemaah-haji #tenda-jemaah-haji-terlalu-kecil

https://nasional.kompas.com/read/2024/07/16/10203661/komisi-viii-desak-kemenag-cari-solusi-sempitnya-tenda-jemaah-haji