Obligasi Korporasi Jatuh Tempo pada Semester II-2024 Capai Rp 83,5 Triliun
Pefindo umumkan jumlah surat utang yang jatuh tempo pada Semester II-2024 capai Rp 83,5 triliun. Perusahaan swasta memimpin jumlah tersebut - Halaman all
(InvestorID) 19/07/24 05:30 11264595
JAKARTA, investor.id - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengumumkan jumlah surat utang yang akan jatuh tempo pada Semester II-2024 mencapai Rp 83,5 triliun. Perusahaan swasta memimpin jumlah utang jatuh tempo ketimbang BUMN grup pada paruh kedua tahun ini.
Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto mengatakan, memasuki paruh kedua 2024, korporasi bersiap menghadapi gelombang jatuh tempo obligasi korporasi yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.
“Berdasarkan data terbaru dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per akhir Juni, nilai obligasi yang jatuh tempo dari Juli hingga Desember 2024 mencapai Rp83,5 triliun, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2023,” jelasnya dalam Media Update Pefindo di Jakarta, Kamis (18/7/2024).
Berdasarkan pembagiannya, Suhindarto menyebut nilai surat utang yang jatuh tempo lebih besar pada kelompok Swasta (Non-BUMN) dibandingkan dengan BUMN grup. Adapun secara nilai, total nilai surat utang korporasi dari Non-BUMN yang akan jatuh tempo pada Semester II-2024 adalah sebesar Rp 43,15 triliun.
“Sementara dari BUMN Grup, total nilai surat utang jatuh jatuh tempo untuk periode yang sama adalah sebesar Rp 40,37 triliun,” ucapnya.
Sedangkan berdasarkan sektornya, sektor perbankan dan multifinance menjadi yang terbesar, dengan kelompok BUMN Grup mendominasi di sektor perbankan, sementara Non-BUMN mendominasi pada sektor multifinance.
Mengenai kemampuan pelunasan obligasi korporasi, Assistant Vice President Financial Institution Ratings Kresna Armand menyatakan, pada paruh kedua pembayaran obligasi jatuh tempo diproyeksikan berjalan stabil.
“Kami melihat tidak ada masalah signifikan di sektor Financial Institution (FI) tahun lalu, dan kondisi tahun ini diperkirakan akan tetap stabil. Tidak ada prospek yang mengkhawatirkan terkait pelunasan utang jatuh tempo di tahun 2024 dari sektor FI,” ujar dia.
Kesiapan Pelunasan
Sementara itu, Assistant Vice President Non-Financial Institution Ratings Martin Pandi menambahkan pandangan dari sektor non-keuangan, khususnya sektor komoditas dan utilitas, kesiapan pelunasan bergantung pada kondisi mikro tiap perusahaan. “Namun, beberapa tantangan makro bisa mengancam kemampuan pelunasan, seperti tingkat bunga yang tinggi dan risiko geopolitik. Perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang asing juga berpotensi menghadapi kesulitan jika nilai tukar tidak stabil," ungkapnya.
Head of Non-Financial Institution Yogie Surya Perdana menekankan pentingnya mitigasi risiko oleh perusahaan. Kesiapan jatuh tempo obligasi di level emiten adalah kasus per kasus. Perusahaan yang mampu mengelola risiko mata uang dan bunga dengan baik akan memiliki risiko gagal bayar yang lebih rendah.
“Rating kredit tinggi menjadi indikator kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban keuangan,” ujarnya.
Yogie juga menggarisbawahi bahwa perusahaan dengan rating rendah perlu mendapat perhatian lebih. Emiten dengan rating BBB ke bawah, terutama yang memiliki obligasi jatuh tempo dalam waktu dekat, perlu diperhatikan. “Kondisi makro yang memburuk atau fluktuasi nilai tukar dapat meningkatkan risiko gagal bayar,” tutupnya.
Editor: Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #obligasi-korporasi #obligasi-jatuh-tempo #non-bumn #bumn-grup #pefindo #berita-ekonomi-terkini