"Jokowi Effect" dan Dukungan Anak Muda di Balik Elektabilitas Tinggi Kaesang di Jateng
Peneliti Litbang Kompas mengungkap sejumlah faktor yang membuat elektabilitas Kaesang Pangarep jadi yang tertinggi di Jawa Tengah. Halaman all
(Kompas.com) 22/07/24 11:51 11658171
JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Litbang Kompas Yulius Brahmantya Priambada mengungkapkan sejumlah faktor yang dianggap membuat elektabilitas Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep menjadi yang paling tinggi di Jawa Tengah (Jateng) berdasarkan hasil survei Litbang Kompas pada Juni 2024.
Yulius memaparkan, usia Kaesang yang terbilang masih muda, yakni 29 tahun, menjadi faktor utama mengapa anak Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu disukai anak muda di Jateng.
Terlebih, Kaesang juga mampu memanfaatkan ruang media digital, khususnya media sosial, dalam sarana berkomunikasi.
"Dia sudah lama dikenal sebagai conten creator. Akun medsosnya punya banyak pengikut (total 8 jutaan follower di IG, YouTube, dan TikTok). Viewsnya juga besar, menandakan banyak diminati kawula muda," ujar Yulius saat dimintai konfirmasi Kompas.com, Senin (22/7/2024).
Yulius menjelaskan, Kaesang dekat dengan banyak influencer ternama, mulai dari Atta Halilintar, Tretan Muslim, Coki Pardede, hingga Kiky Saputri.
Selain itu, Kaesang juga dikenal sebagai pengusaha muda dengan produk-produk yang sempat populer di kalangan muda, seperti SangPisang dan Markobar.
Walhasil, berdasarkan survei Litbang Kompas bulan lalu, Kaesang meraih elektabilitas tertinggi di Jateng dengan 7 persen.
Kaesang di atas Kapolda Jateng Irjen Ahmad Luthfi yang menduduki posisi 2 dengan elektabilitas 6,8 persen dan mantan Wagub Jateng Taj Yasin yang mengantongi elektabilitas 3,2 persen di posisi 3.
Masih merujuk survei Litbang Kompas, basis pendukung terkuat Kaesang berasal dari generasi muda, khususnya generasi Z (di bawah 24 tahun) dan generasi Y (24-40 tahun).
Dalam hal ini, tingkat popularitas Kaesang di kalangan anak muda mencapai 90 persen, sedangkan tingkat kesukaannya berada di level 80,8 persen.
Meski demikian, banyak pemilih rasional yang tidak mendukung Kaesang di Jateng.
Pemilih rasional yang dimaksud ialah pemilih yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan berstatus sosial ekonomi atas.
Menurut Yulius, pemilih rasional umumnya menentukan pilihan berdasarkan kapabilitas dan pengalaman figur.
"Dengan kata lain, pemilih rasional butuh bukti-bukti yang bisa menjadi dasar pertimbangan mereka. Sedangkan, Kaesang belum memiliki banyak bukti itu. Ia baru terjun ke politik praktis pada September 2023, yakni ketika ia didapuk menjadi Ketum PSI," tuturnya.
"Satu-satunya prestasi gemilang yang dimiliki Kaesang sejauh ini adalah menaikkan suara PSI sebesar 60,7 persen dari Pileg 2019 ke Pileg 2024. Itu pun masih belum mampu meloloskan PSI ke Senayan. Alasan ini juga diperkuat ketika aspek kurangnya kinerja dan pengalaman menjadi kelemahan terbesar yang dipersepsikan responden (21,6 persen)," sambung Yulius.
Akan tetapi, apakah modal kuat dari dukungan anak muda sudah cukup bisa membuat partai politik mengusung Kaesang di Jateng?
Yulius berpendapat dukungan yang didapat Kaesang dari anak muda sudah bisa membuatnya mendapatkan kendaraan politik untuk berlabuh di Pilkada Jateng 2024.
Sebab, berdasarkan DPT Pemilu 2024, jumlah pemilih muda di Jateng (Gen Z dan Y) mencapai 52,9 persen dari 28,2 juta pemilih.
Dengan menguasai dukungan anak muda, ini jelas menjadi keunggulan utama Kaesang dalam soal perhitungan elektoral dan kontestasi Pilkada di Jateng.
Apalagi, Yulius mengingatkan, ada Jokowi effect yang pasti membantu mendongkrak elektabilitas Kaesang di Jateng, mengingat itu merupakan kampung halamannya sendiri.
"Belum lagi ditambah dengan faktor Jokowi effect, di mana Jokowi memiliki basis pendukung dan loyalis yang cukup besar di Jawa Tengah," imbuhnya.
#kaesang-pangarep #pilkada-jateng #kaesang-pilkada-jateng #elektabilitas-kaesang-di-jakarta-dan-jateng