Laba Indonesia Kendaraan Terminal (IPCC) Tumbuh
PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) atau IKT mencetak laba tahun berjalan pada kuartal II-2024 sebesar Rp 80,68 miliar, tumbuh 2,24%. - Halaman all
(InvestorID) 22/07/24 21:27 11710655
JAKARTA, investor.id – PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) atau IKT mencetak laba tahun berjalan sebesar Rp 80,68 miliar pada kuartal II-2024, alias tumbuh 2,24% dibanding periode sama tahun lalu yang membukukan laba sebesar Rp 78,91 miliar. Menariknya, pertumbuhan laba ini terjadi di tengah pendapatan operasi IPCC yang terkoreksi 1,83% dari sebelumnya Rp 366 miliar, menjadi Rp 360 miliar pada triwulan II-2024.
Merujuk laporan keuangan unaudited IPCC yang dipublikasi pada Senin (22/7/2024), menurunya pendapatan operasi entitas anak Grup Pelindo ini disebabkan oleh melemahnya pendapatan dari segmen pelayanan jasa barang yang sebelumnya menghasilkan Rp 20,25 miliar, ambruk menjadi Rp 5,88 miliar.
Di sisi lain, pendapatan dari bisnis pelayanan jasa terminal justru menguat dari sebelumnya Rp 336 miliar, menjadi Rp 340 miliar. Begitupun dengan pendapatan dari pelayanan rupa-rupa usaha yang hanya naik tipis menjadi Rp 4,89 miliar, ketimbang periode sebelumnya Rp 4,71 miliar. Termasuk pendapatan dari bisnis pengusahaan tanah, bangunan, air dan listrik yang meningkat menjadi Rp 8,50 miliar dari sebelumnya Rp 5,85 miliar.
Pelanggan IPCC dengan kontribusi melebihi 10% masih dipegang PT Bandar Krida Jasindo dengan sumbangsih sebesar Rp 85,90 miliar pada kuartal II-2024, lebih tinggi dari sebelumnya Rp 48 miliar. Pelanggan berikutnya datang dari PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia sebesar Rp 66,38 miliar, selanjutnya PT Astra Daihatsu Motor sebesar Rp 21,57 miliar, dan PT Easternindo Carmitra Lintas sebesar Rp 27 miliar.
Sementara ditinjau dari segmen geografisnya, pendapatan IPCC mayoritas didominasi dari mesin utamanya, pelabuhan Tanjung Priok dengan kontribusi Rp 328 miliar. Menyusul berikutnya, pelabuhan Belawan, Sumatera Utara sebesar Rp 9,83 miliar, Makassar, Sulawesi Selatan sebesar Rp 8,5 miliar, Pontianak, Kalimantan Barat sebesar Rp 7,31 miliar, dan pendapatan dari pelabuhan Gresik, Jawa Timur sebesar Rp 5,72 miliar.
Sebagian besar pendapatan dari pelabuhan-pelabuhan tersebut mengalami pertumbuhan. Bahkan, pelabuhan Balikpapan, Kalimantan Timur, yang pada kuartal II-2023 belum menorehkan pendapatan, kini sudah menjadi salah dua stream pendapatan IPCC. Sayangnya, pendapatan dari Tanjung Priok dan Belawan sampai periode Juni tahun ini cenderung lebih kecil bila dikomparasikan dengan periode sama tahun lalu.
Di tengah pendapatan operasi yang terkoreksi, beban pokok pendapatan IPCC malah pembengkakan. Peningkatan beban terutama berasal dari gaji upah dan kesejahteraan karyawan dari semula menghabiskan Rp 44,65 miliar, melejit menjadi Rp 62,16 miliar. Penyusutan nilai aset juga terjadi yang akhirnya membuat beban IPCC naik menjadi Rp 53,13 miliar dari sebelumnya Rp 46,12 miliar.
Beban konsesi ikut naik dari sebelumnya Rp 7,68 miliar, menjadi Rp 10,20 miliar, beban eksploitasi lainnya pun terkatrol dua kali lipat dari Rp 6,88 miliar menjadi Rp 12,17 miliar, sehingga total beban pokok pendapatan IPCC pada kuartal II-2024 meningkat dari Rp 194 miliar, menjadi Rp 224 miliar.
Kabar baiknya, total aset IPCC pada kuartal II-2024 bertumbuh menjadi Rp 1,86 triliun yang ditopang dari pertumbuhan total aset lancar perseroan menjadi Rp 891 miliar, ketimbang sebelumnya Rp 759 miliar. Sedangkan total aset tidak lancar IPCC sedikit tergerus menjadi Rp 978 miliar, daripada sebelumnya Rp 1 triliun.
Aset Lancar
Direktur Keuangan IPCC Wing Megantoro menjelaskan, kenaikan aset IPCC disokong oleh adanya kenaikan piutang usaha yang berasal dari pihak ketiga dan pihak berelasi.
“Pihak ketiga naik sebesar 44,69%da akibat kenaikan piutang PT Bandar Krida Jasindo dan PT Anugrah Permata Samudra sebesar Rp 16 miliar sebagai buntut dari penerapan single billing di IPCC serta kenaikan produksi dari pelanggan baru di area domestik maupun area satelit,” terang Wing dalam keterangan resminya, Senin (22/7/2024).
Sedangkan, piutang usaha dari pihak berelasi naik sebesar 3.828% berkat adanya piutang dari PT Pelindo Multi Terminal Branch Balikpapan yang sebelumnya dilakukan pelunasan. Adapun dari sisi total liabilitas, IPCC mengoleksi peningkatan dari sebelumnya Rp 565 miliar, menjadi Rp 679 miliar dan ekuitas terpangkas dari Rp 1,22 triliun menjadi Rp 1,19 triliun.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #ipcc #ipcc-saham #indonesia-kendaraan-teriminal-ikt #grup-pelindo #kinerja-kuartal-ii-2024-ipcc #pt-pelabuhan-indonesia-pelindo #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/market/367774/laba-indonesia-kendaraan-terminal-ipcc-tumbuh