#30 tag 24jam
Laba Entitas Grup Pelindo IPCC dan IPCM Kompak Tumbuh
laba PT Indonesia Kendaraan Terminal (IPCC) dan PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM), duo entitas anak usaha Grup Pelindo, kompak bertumbuh. - Halaman all [1,066] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #grup-pelindo #ipcc #ipcm #indonesia-kendaraan-teriminal-ikt #jasa-armada-indonesia-jai #entitas-usaha-pelindo #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 29/10/24 12:17
v/17217225/
JAKARTA, investor.id – PT Indonesia Kendaraan Terminal (IPCC) dan PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM), duo entitas usaha Grup Pelindo, kompak menorehkan laba tahun berjalan masing-masing bertumbuh sebesar 4,28% dan 1,10% pada periode Januari-September 2024.
Manajemen IPCC mengklaim, trafik IPCC secara konsolidasi sampai September 2024 telah mengalami pertumbuhan sebesar 13,5% yoy atau setara 90.820 unit, berkat pembukaan terminal Semayang di Balikpapan dan pengoperasian satelit baru di Trisakti, Banjarmasin pada Oktober 2024.
Ekspansi-ekspansi tersebut dinilai telah men-generate pendapatan, sehingga torehan laba bersih IPCC terangkat sebesar 4,28% menjadi Rp 148,02 miliar dari sebelumnya Rp 141,92 miliar. Termasuk laba per saham dasar yang naik 4,2% dari Rp 78,06 menjadi Rp 81,40 per saham.
Lebih spesifik lagi, Manajemen IPCC juga menyebutkan, penanganan kargo alat berat dan truk/bus di seluruh wilayah kerja perseroan melambung sebesar 74,1%.
Direktur Keuangan, SDM dan Manajemen Risiko IPCC, Wing Megantoro menyampaikan, dari sisi rasio profitabilitas, IPCC memperlihatkan kinerja cukup positif sehubungan dengan naiknya laba tahun berjalan yang membuat Net Profit Margin IPCC pada kuartal III-2024 menguat menjadi 26,24% dibanding periode sama tahun lalu sebesar 25,89%.
Diikuti dengan kenaikan EBITDA Margin sebesar 46,7%. Menurut Wing, IPCC concern untuk meningkatkan efisiensi operasi pada semua lini yang diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi investor.
“Hingga saat ini, IPCC memiliki pondasi keuangan yang solid ditandai dengan tidak memiliki pinjaman dalam bentuk obligasi, perbankan atau instrumen keuangan lainnya sehingga ruang pendanaan untuk melakukan ekspansi bisnis terbuka,” papar Wing dalam keterangan resminya, Selasa (29/10/2024).
Merujuk rilis laporan keuangan interim yang berakhir 30 September 2024, IPCC mengumumkan telah membukukan pendapatan operasi IPCC naik sebesar 6,87% dari sebelumnya Rp 548 miliar, menjadi Rp 585 miliar. Didukung oleh pendapatan dari bisnis pelayanan jasa terminal perseroan yang lebih tinggi 8,63% dari Rp 504 miliar menjadi Rp 548 miliar.
Lantaran, terminal IPCC kebanjiran unit kendaraan listrik (electric vehicle/EV) seperti BYD, Wuling, Citroen, Vinvast dan AION serta merek-merek lain khususnya cabang Jakarta terhitung sejak Juni 2024 di mana per bulannya meningkat 19% dengan total 15.988 unit.
Sayangnya, pendapatan IPCC dari bisnis pelayanan jasa barang justru agak terpukul dari semula berkontribusi Rp 30 miliar, pada kuartal III-2024 terpangkas menjadi Rp 18,29 miliar. Sebaliknya, bisnis pelayanan rupa-rupa usaha dan pengusahaan tanah, bangunan, air dan listrik secara serempak menunjukkan kenaikan.
Beban pokok pendapatan IPCC membengkak sebanyak 19,12% menjadi Rp 343 miliar, akibat meningkatnya beban konsesi, bahan dan utilitas, hingga beban eksploitasi lainnya.
Yang pada gilirannya, peningkatan beban pokok pendapatan tersebut menggerus laba kotor IPCC cukup dalam dari Rp 259 miliar pada kuartal III-2023, menjadi Rp 242 miliar pada kuartal III-2024.
Beban operasi lain IPCC pada sembilan bulan tahun ini juga membengkak dari Rp 12,58 miliar, menjadi Rp 14,97 miliar, disebabkan oleh kenaikan tipis pajak final pendapatan keuangan dan lain-lain.
Akan tetapi, dari sisi penghasilan operasi, IPCC mencetak pertumbuhan signifikan menjadi Rp 4,3 miliar ketimbang sebelumnya Rp 72,48 juta. Begitupun dengan pendapatan keuangan IPCC yang melejit dari Rp 28,69 miliar menjadi Rp 30,88 miliar berkat pertumbuhan bunga deposito berjangka dari Rp 27,34 miliar menjadi Rp 29,98 miliar.
Adapun, bunga dari jasa giro tercatat melemah menjadi Rp 900 juta ketimbang sebelumnya mencapai Rp 1,45 miliar. Praktis, beban keuangan IPCC pada periode sampai September 2024 menyusut menjadi Rp 23,63 miliar dibanding tahun sebelumnya Rp 38,84 miliar.
Kinerja IPCM
Sama seperti IPCC, kinerja PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) pada sembilan bulan tahun ini juga mencetak laba tahun berjalan tumbuh sebesar 1,10% dari Rp 119,77 miliar menjadi Rp 121,10 miliar. Pertumbuhan ini mendongkrak laba per saham dasar IPCM menjadi Rp 22,95 per saham dari sebelumnya RP 22,70 per saham.
Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir pada 30 September 2024, pendapatan IPCM tercatat naik sebesar 10,31% secara yoy menjadi Rp 946,62 miliar dari sebelumnya Rp 858,11 miliar.
Utamanya, disumbang dari bisnis jasa pelayanan kapal yang naik 15,50% secara yoy menjadi Rp 873,51 miliar atau mencerminkan 92,27% dari total pendapatan. Bisnis ini meliputi penundaan sebesar Rp 812 miliar dan pemanduan sebesar Rp 61,49 miliar. Kontribusi pendapatan lainnya diperoleh dari jasa pengangkutan dan lainnya sebesar Rp 73,11 miliar.
Pendapatan jasa penundaan kapal yang terdiri dari pelabuhan umum senilai Rp 392,42 miliar, Terminal Khusus (Tersus) sebanyak Rp 317,63 miliar dan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) sebesar Rp 163,45 miliar.
Peningkatan pendapatan Pelabuhan Umum dan Tersus pada periode ini mengalami kenaikan, dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 20,37% dari periode tahun sebelumnya dan 39,64% dibanding periode 2023.
Ini menunjukkan IPCM mampu meningkatkan pertumbuhan volume bisnis pada sebagian besar segmen. Pertumbuhan IPCM juga diimbangi dengan kenaikan total aset sebesar 1,07% dari Rp 1,52 triliun pada 2023 menjadi Rp 1,54 triliun pada 9M-2024.
Direktur Utama IPCM, Shanti Puruhita optimistis, dari berbagai tantangan yang dihadapi pada tahun ini, perseroan akan mampu mencapai kinerja lebih baik dari sebelumnya dan mempertahankan fundamental perseroan yang baik.
“Upaya-upaya penerapan strategi perseroan dalam bentuk optimalisasi pelayanan, kesiapan armada dan crew, perawatan kapal serta peningkatan kerjasama dengan mitra, pembaharuan alat produksi dalam bentuk pembangunan kapal serta efektivitas pola kerja yang mengutamakan unsur keselamatan dalam pelayanan pemanduan penundaan kapal untuk kepuasaan pengguna jasa, merupakan komitmen kami,” paparnya.
Kinerja IPCM sampai kuartal III-2024 mampu terus dipertahankan dari beberapa aspek. Langkah IPCM untuk meningkatkan kerja sama dengan mitra strategis dan asosiasi masih terus dilakukan.
Pada 1 April 2024, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan RI secara resmi memberikan pelimpahan kepada IPCM untuk melaksanakan Pelayanan Jasa Pemanduan dan Penundaan Kapal di wilayah Perairan Pulau Obimayor-Pantai Barat pada Wilayah Perairan Pandu Luar Biasa Pelabuhan Laiwui Provinsi Maluku Utara.
“Sebagai perusahaan yang menjalankan bisnis pemanduan dan penundaan kapal, IPCM yang mengelola 94 unit kapal terus mengedepankan prinsip ramah lingkungan melalui penggunaan shore connection dan solar panel kapal. Selain itu, perseroan berkomitmen memenuhi harapan pengguna jasa melalui kualitas pelayanan, IPCM juga konsisten memberikan dampak positif dan berkelanjutan demi ekosistem yang lebih baik lagi,” tandas Shanti.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Senyum Lebar IPCC Hadapi Semester II-2024
IPCC bakal tersenyum lebar menghadapi semester II-2024 berkat proyeksi ekspor-impor mobil CBU yang diprediksi bertumbuh signifikan. - Halaman all [602] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #ipcc #ipcc-saham #indonesia-kendaraan-teriminal-ikt #grup-pelindo #mobil-cbu #ekspor-impor-mobil #sugeng-mulyadi #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 31/07/24 16:43
v/12758615/
JAKARTA, investor.id - PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC), entitas anak Grup Pelindo, bakal tersenyum lebar menghadapi kinerja semester II-2024. Ini menyusul proyeksi arus ekspor dan impor mobil Completely Built Up (CBU) yang diprediksi tumbuh signifikan.
Menurut Direktur Utama IPCC Sugeng Mulyadi, keyakinan IPCC terhadap pertumbuhan ekspor dan impor CBU tersebut paralel dengan potensi kenaikan permintaan mobil pada paruh kedua tahun ini.
Secara siklus, lanjut dia, permintaan kendaraan pada semester II-2024 biasanya lebih tinggi dibandingkan permintaan pada semester I-2024.
"Kami optimistis arus kargo mobil akan tumbuh di sisa tahun ini. Dari diskusi bersama para automaker, mereka bilang pengiriman akan meningkat pada semester II-2024," jelasnya di acara Media Visit di Jakarta Utara dikutip, Rabu (31/7/2024).
Sugeng berpandangan, pertumbuhan arus kargo mobil pada enam bulan kedua tahun ini juga akan didorong oleh meningkatnya produksi dari pabrikan mobil.
Sebagai contoh, produsen mobil asal Jepang akan mulai meningkatkan produksi pada paruh pertama 2024 setelah menyusun rencana produksi tahunan. Mengingat, tahun pajak di Jepang dimulai pada April.
Katalis lainnya, dia juga melihat, permintaan mobil dari negara-negara Meksiko, Arab Saudi atau negara kawasan Asia Tenggara pada semester II-2024 akan melonjak ditopang oleh hari perayaan keagamaan.
"Biasanya akan ada perayaan hari besar keagamaan atau perayaan lainnya yang banyak terjadi pada semester II-2024. Karena itu, kami optimistis arus kargo mobil bisa tumbuh," imbuh dia.
Namun secara konsolidasi, Sugeng bilang, arus kargo mobil CBU pada semester I-2024 telah mengalami penurunan sebesar 1,25% year-on-year (yoy).
Rinciannya, arus kargo mobil di terminal IPCC di Pelabuhan Tanjung Priok tercatat turun 14,96% yoy menjadi 260.033 unit. Sedangkan, arus kargo mobil di terminal satelit IPCC mencapai 133.006 unit, naik 44,2% daripada semester I-2023.
"Kami berharap, pabrikan mobil dapat mengirimkan seluruh kargo yang diproduksi di dalam negeri untuk diekspor melalui terminal IPCC, serta meningkatkan volume impor kendaraan. Sebab, kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) diproyeksikan mampu menyumbang sekitar 30.000 unit, khususnya mobil dari China," kata dia.
Strategi Berkelanjutan
Ke depan, dalam menghadapi tantangan serta prospek peningkatan bisnis otomotif, IPCC fokus pada pengembangan strategi bisnis berkelanjutan dengan berupaya memperluas pengelolaan terminal kendaraan di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
Harapannya, dapat menciptakan konektivitas antar terminal dan menurunkan biaya logistik dengan proses yang efisien dan terintegrasi.
Pada Semester II 2024, IPCC berharap semua produsen mobil dapat mengirimkan seluruh kargo yang diproduksi di dalam negeri untuk diekspor melalui terminal IPCC, serta meningkatkan volume impor kendaraan.
Hingga akhir 2024 dan seterusnya, kendaraan listrik diestimasikan mampu menyumbangkan sekitar 30.000 unit, khususnya mobil dari China. Produsen mobil lainnya diperkirakan akan mengalami peningkatan produksi pada Semester II 2024 untuk mengejar target yang tertinggal pada Semester I 2024.
Sementara itu, pada semester pertama 2024, IPCC berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 2,24% year-on-year (YoY) pada Semester I-2024 menjadi Rp 80,69 miliar dari sebelumnya Rp 78,91 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Kinerja positif ini didukung oleh peningkatan arus kargo alat berat sebesar 44,23% (YoY) dan kargo truk dan bus sebesar 21,82% (YoY) di Terminal Satelit, meskipun terjadi penurunan arus kargo mobil CBU sebesar 1,25% (YoY) secara konsolidasi. Proporsi terbesar arus kargo mobil CBU berasal dari Terminal Satelit sebesar 40,94%, Terminal Internasional 40,74%, dan Terminal Domestik sebesar 18,32%.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Beda Nasib Kinerja IPCC dan IPCM di Semester I-2024
PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) dan PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM), Grup Pelindo, melaporkan kinerja pada semester I-2024. - Halaman all [542] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #ipcc #ipcm #grup-pelindo #ipcc-semester-i-2024 #ipcm-semester-i-2024 #indonesia-kendaraan-teriminal-ikt #jasa-armada-indonesia-jai #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 29/07/24 12:15
v/12522143/
JAKARTA, investor.id – PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) dan PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM), dua entitas anak Grup Pelindo, melaporkan nasib kinerja berbeda pada semester I-2024. IPCC mencetak pertumbuhan laba, sedangkan laba IPCM tergerus.
Mengacu pada laporan keuangan unaudited, IPCC mencetak laba tahun berjalan sebesar Rp 80,68 miliar, tumbuh sebesar 2,24% dibanding laba pada periode sama tahun lalu sebesar Rp 78,91 miliar. Akan tetapi, pendapatan operasi IPCC terkoreksi 1,83% dari sebelumnya Rp 366 miliar, menjadi Rp 360 miliar.
Menurunya pendapatan operasi IPCC disebabkan oleh melemahnya pendapatan dari segmen pelayanan jasa barang yang sebelumnya menghasilkan Rp 20,25 miliar, ambruk menjadi Rp 5,88 miliar.
IPCM kebalikannya. Laba tahun berjalan pada semester I-2024 turun dari Rp 83,93 miliar menjadi Rp 78,27 miliar. Namun, pendapatan bersih IPCM naik menjadi Rp 598 miliar dari sebelumnya Rp 567 miliar.
Merujuk pada laporan keuangan unaudited IPCM yang sudah dipublikasi, penurunan laba IPCM tidak lepas dari membengkaknya sejumlah beban. Mulai dari beban pokok pendapatan yang meningkat dari Rp 425 miliar menjadi Rp 461 miliar, sehingga hal ini memang laba kotor perseroan menjadi Rp 137 miliar dari sebelumnya Rp 142 miliar.
Beban umum dan administrasi IPCM juga naik tipis menjadi Rp 43 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 42 miliar, beban operasi lainnya yang melonjak menjadi Rp 3,24 miliar ketimbang sebelumnya Rp 1,80 miliar, termasuk beban keuangan yang melejit menjadi Rp 1,12 miliar daripada sebelumnya Rp 662 miliar.
Adapun beban pajak penghasilan badan menurun dari Rp 24 miliar, menjadi Rp 19,56 miliar. Alhasil laba tahun berjalan IPCM terpangkas menjadi Rp 78 miliar. Penurunan laba ini mengakibatkan laba per saham dasar IPCM turun tipis menjadi Rp 14,83 per saham dibandingkan sebelumnya Rp 15,91 per saham.
Dari sisi aset, IPCM menunjukkan peningkatan dari Rp 1,52 triliun atau sekitar 4,4% pada posisi akhir 2023, menjadi Rp 1,59 triliun pada paruh pertama tahun ini. peningkatan ini berkat kenaikan aset lancar perseroan sebesar 10,8% dari Rp 889 miliar menjadi Rp 986 miliar pada Juni 2024.
Menurut Direktur Utama IPCM, Shanti Puruhita, upaya IPCM dalam meningkatkan kinerja operasional bersama mitra strategis telah menunjukkan hasil yang sesuai harapan. “Ekspansi yang kami lakukan ke wilayah Indonesia Timur juga telah memperlihatkan potensi pendapatan yang semakin baik dan meningkat,” ujar Shanti dalam keterangan resminya dikutip, Senin (29/7/2024).
“IPCM masih berkomitmen kepada pemegang saham selain juga konsisten menjaga pertumbuhan perseroan. Hal ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah dan harapan kepada para pemegang saham akan investasinya di saham IPCM,” imbuhnya.
Seperti diketahui, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) IPCM pada 12 Juni 2024 telah menyetujui penetapan penggunaan laba IPCM pada tahun buku 2023 yang seluruhnya berjumlah Rp 157,6 miliar digunakan sebagai dividen final sebesar Rp 118 miliar (kurang lebih 75%) atau sebesar Rp 22,41 per saham. Keputusan ini sekaligus untuk menunjukkan apresiasi serta komitmen IPCM kepada pemegang saham dan investor.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Laba Indonesia Kendaraan Terminal (IPCC) Tumbuh
PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) atau IKT mencetak laba tahun berjalan pada kuartal II-2024 sebesar Rp 80,68 miliar, tumbuh 2,24%. - Halaman all [695] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #ipcc #ipcc-saham #indonesia-kendaraan-teriminal-ikt #grup-pelindo #kinerja-kuartal-ii-2024-ipcc #pt-pelabuhan-indonesia-pelindo #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 22/07/24 21:27
v/11710655/
JAKARTA, investor.id – PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) atau IKT mencetak laba tahun berjalan sebesar Rp 80,68 miliar pada kuartal II-2024, alias tumbuh 2,24% dibanding periode sama tahun lalu yang membukukan laba sebesar Rp 78,91 miliar. Menariknya, pertumbuhan laba ini terjadi di tengah pendapatan operasi IPCC yang terkoreksi 1,83% dari sebelumnya Rp 366 miliar, menjadi Rp 360 miliar pada triwulan II-2024.
Merujuk laporan keuangan unaudited IPCC yang dipublikasi pada Senin (22/7/2024), menurunya pendapatan operasi entitas anak Grup Pelindo ini disebabkan oleh melemahnya pendapatan dari segmen pelayanan jasa barang yang sebelumnya menghasilkan Rp 20,25 miliar, ambruk menjadi Rp 5,88 miliar.
Di sisi lain, pendapatan dari bisnis pelayanan jasa terminal justru menguat dari sebelumnya Rp 336 miliar, menjadi Rp 340 miliar. Begitupun dengan pendapatan dari pelayanan rupa-rupa usaha yang hanya naik tipis menjadi Rp 4,89 miliar, ketimbang periode sebelumnya Rp 4,71 miliar. Termasuk pendapatan dari bisnis pengusahaan tanah, bangunan, air dan listrik yang meningkat menjadi Rp 8,50 miliar dari sebelumnya Rp 5,85 miliar.
Pelanggan IPCC dengan kontribusi melebihi 10% masih dipegang PT Bandar Krida Jasindo dengan sumbangsih sebesar Rp 85,90 miliar pada kuartal II-2024, lebih tinggi dari sebelumnya Rp 48 miliar. Pelanggan berikutnya datang dari PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia sebesar Rp 66,38 miliar, selanjutnya PT Astra Daihatsu Motor sebesar Rp 21,57 miliar, dan PT Easternindo Carmitra Lintas sebesar Rp 27 miliar.
Sementara ditinjau dari segmen geografisnya, pendapatan IPCC mayoritas didominasi dari mesin utamanya, pelabuhan Tanjung Priok dengan kontribusi Rp 328 miliar. Menyusul berikutnya, pelabuhan Belawan, Sumatera Utara sebesar Rp 9,83 miliar, Makassar, Sulawesi Selatan sebesar Rp 8,5 miliar, Pontianak, Kalimantan Barat sebesar Rp 7,31 miliar, dan pendapatan dari pelabuhan Gresik, Jawa Timur sebesar Rp 5,72 miliar.
Sebagian besar pendapatan dari pelabuhan-pelabuhan tersebut mengalami pertumbuhan. Bahkan, pelabuhan Balikpapan, Kalimantan Timur, yang pada kuartal II-2023 belum menorehkan pendapatan, kini sudah menjadi salah dua stream pendapatan IPCC. Sayangnya, pendapatan dari Tanjung Priok dan Belawan sampai periode Juni tahun ini cenderung lebih kecil bila dikomparasikan dengan periode sama tahun lalu.
Di tengah pendapatan operasi yang terkoreksi, beban pokok pendapatan IPCC malah pembengkakan. Peningkatan beban terutama berasal dari gaji upah dan kesejahteraan karyawan dari semula menghabiskan Rp 44,65 miliar, melejit menjadi Rp 62,16 miliar. Penyusutan nilai aset juga terjadi yang akhirnya membuat beban IPCC naik menjadi Rp 53,13 miliar dari sebelumnya Rp 46,12 miliar.
Beban konsesi ikut naik dari sebelumnya Rp 7,68 miliar, menjadi Rp 10,20 miliar, beban eksploitasi lainnya pun terkatrol dua kali lipat dari Rp 6,88 miliar menjadi Rp 12,17 miliar, sehingga total beban pokok pendapatan IPCC pada kuartal II-2024 meningkat dari Rp 194 miliar, menjadi Rp 224 miliar.
Kabar baiknya, total aset IPCC pada kuartal II-2024 bertumbuh menjadi Rp 1,86 triliun yang ditopang dari pertumbuhan total aset lancar perseroan menjadi Rp 891 miliar, ketimbang sebelumnya Rp 759 miliar. Sedangkan total aset tidak lancar IPCC sedikit tergerus menjadi Rp 978 miliar, daripada sebelumnya Rp 1 triliun.
Aset Lancar
Direktur Keuangan IPCC Wing Megantoro menjelaskan, kenaikan aset IPCC disokong oleh adanya kenaikan piutang usaha yang berasal dari pihak ketiga dan pihak berelasi.
“Pihak ketiga naik sebesar 44,69%da akibat kenaikan piutang PT Bandar Krida Jasindo dan PT Anugrah Permata Samudra sebesar Rp 16 miliar sebagai buntut dari penerapan single billing di IPCC serta kenaikan produksi dari pelanggan baru di area domestik maupun area satelit,” terang Wing dalam keterangan resminya, Senin (22/7/2024).
Sedangkan, piutang usaha dari pihak berelasi naik sebesar 3.828% berkat adanya piutang dari PT Pelindo Multi Terminal Branch Balikpapan yang sebelumnya dilakukan pelunasan. Adapun dari sisi total liabilitas, IPCC mengoleksi peningkatan dari sebelumnya Rp 565 miliar, menjadi Rp 679 miliar dan ekuitas terpangkas dari Rp 1,22 triliun menjadi Rp 1,19 triliun.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News