Kisah Ular Dalam Alquran
Ular merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT.
(Republika) 24/07/24 20:07 11959752
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ular merupakan salah satu hewan yang disebutkan dalam Alquran. Sejumlah ayat menyinggung perihal ular dalam kaitannya dengan mukjizat para utusan-Nya, seperti Nabi Musa AS. Salah seorang rasul yang bergelar ulul azmi itu menghadapi Firaun yang didampingi pembesar istana dan kalangan penyihir.
Dalam surah al-A’raf ayat 104-107 dijelaskan, artinya, “Dan Musa berkata: ‘Hai Firaun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.’
Firaun menjawab: ‘Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya (tsu’ban mubiin).”
Dalam surah lain, Allah SWT menerangkan pertemuan yang lebih terdahulu, yakni antara Musa AS dan ular sebagai tanda kekuasaan-Nya. Seperti dikisahkan dalam surah al-Qasas ayat 30-32, yang berarti, “Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: ‘Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam. dan lemparkanlah tongkatmu.
Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit (ka annahaa jaan), larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh.
(Kemudian Musa diseru): ‘Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.’”
Senada dengan ayat di atas, surah Ta Ha juga menuturkan tentang keadaan Nabi Musa AS ketika pertama kali menerima wahyu. Saat itu, Allah SWT menyuruhnya agar melemparkan tongkat yang sedang dipegangnya. Seketika, tongkat itu berubah menjadi ular. “Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat (hayyatun tas’aa)” (QS Ta Ha: 20).
Istilah untuk ‘ular’ dalam ayat-ayat di atas berlainan, yakni tsu’ban mubiin, ka annahaa jaan, dan hayyatun tas’aa. Sebagian ahli tafsir mengatakan, hal itu dapat dipahami sebagai sebuah proses.
Pada awalnya, tongkat Nabi Musa AS berubah menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat, dan akhirnya ular besar yang sebenarnya. Ada pula yang menafsirkan, tongkat Nabi Musa AS telah berubah menjadi seekor ular yang lincah dan gesit seperti halnya ular kecil. Namun, wujudnya sangat menakutkan seperti ular besar.
Sebagian mufasir yang lain mengatakan, perbedaan ungkapan itu disebabkan tempat terjadinya mukjizat yang berlainan. Menurut pendapat ini, perubahan bentuk tongkat itu menjadi ular jantan yang besar terjadi pada saat Nabi Musa AS di hadapan Firaun. Adapun perubahannya menjadi ular kecil terjadi pada malam hari ketika Nabi Musa AS menerima wahyu untuk pertama kalinya.
Perbedaan penyebutan bentuk ular dalam kisah Nabi Musa AS itu merupakan salah satu bukti kehebatan Alquran. Setiap diksi yang digunakan harmonis, sesuai situasi dan konteks kisah secara keseluruhan. Kalau tongkat itu, umpamanya, hanya berubah menjadi seekor ular yang merayap, mengapa Musa AS melihat ular itu bergerak gesit. Demikian pula, betapa besar ular itu yang awalnya mewujud tongkat Nabi Musa itu sehingga Firaun begitu takut.
#ular-dalam-alquran #kisah-ular #kisah-nabi-musa #mukjizat-nabi-musa
https://khazanah.republika.co.id/berita/sh4pt7458/kisah-ular-dalam-alquran