#30 tag 24jam
Belajar dari Kisah Nabi Harun, Islam Bolehkan Nepotisme?
Nabi Harun adalah saudara Nabi Musa AS. [471] url asal
#nepotisme #islam-memandang-nepotisme #kisah-nabi-musa #kisah-nabi-harun
(Republika - Khazanah) 29/07/24 13:43
v/12524402/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nepotisme berarti 'kecenderungan untuk mengutamakan atau menguntungkan sanak saudara sendiri, terutama dalam jabatan.' Lantas, bagaimanakah Islam memandang perkara ini?
Memang, ada nabi-nabi yang melibatkan anggota keluarganya untuk membantunya dalam memimpin umat. Misalnya, Nabi Musa AS yang memohon kepada Allah agar Dia mengangkat derajat saudaranya, Nabi Harun AS. Hal ini disebut dalam Alquran surah Taha ayat ke-29 hingga 32.
وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي . هَارُونَ أَخِي . اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي . وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي .
Artinya, “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku; teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku.”
Dalam Tafsir Kementerian Agama, dijelaskan bahwa ayat di atas menerangkan bahwa Nabi Musa AS mengusulkan kepada Allah agar yang diangkat menjadi pembantunya adalah Harun. Namun, pengangkatan itu bukan berarti nepotisme.
Kakak Nabi Musa AS tersebut adalah sosok yang saleh. Harun AS pun memiliki kapabilitas yang tidak dipunyai Musa AS, yakni antara lain ucapannya fasih.
Intonasi bicaranya saudara Nabi Musa itu pun seperti umumnya orang Mesir. Sebab, ia banyak bergaul dengan orang-orang Mesir.
Bandingkanlah dengan Nabi Musa, yang sejak bayi dirawat di Istana Firaun. Sebab, seorang elite istana, yakni istri Firaun yang diam-diam meyakini tauhid, Asiah, menemukannya saat masih bayi terapung di sungai.
Sewaktu masih kecil, Musa AS juga pernah mengalami kejadian. Suatu ketika, Firaun marah karena Musa kecil menarik janggutnya. Asiah lalu menenangkan sang suami dan mengatakan bahwa "dia masih kecil" sehingga belum mengerti, mana tindakan yang berbahaya.
Firaun lantas mengujinya dengan meletakkan buah dan bara api kecil di hadapannya. Musa kecil bermaksud meraih buah-buahan, tetapi tangannya dialihkan oleh malaikat. Maka, ia pun mengambil bara api dan meletakkannya di lidahnya. Akibatnya, lidah Musa AS menjadi cedal sejak saat itu.
Begitu diangkat menjadi nabi, Musa memohon kepada Allah agar kekakuan di lidahnya dihilangkan sebagian, sebatas agar kata-katanya bisa dipahami orang-orang. Sufi Hasan al-Bashri mengomentari hal ini: "Para rasul hanya meminta sebatas yang diperlukan. Karena itulah, lidah Musa masih kaku."
Jadi, permintaan Musa AS agar Allah mengangkat adiknya menjadi asistennya bukan lantaran nepotisme. Sebab, memang kapabilitas yang dimiliki Harun AS dapat melengkapi apa-apa yang tidak dimiliki sang rasul dari kalangan Bani Israil itu.
Sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Dzar al-Ghifari, pernah meminta kepada Rasulullah SAW agar dirinya dapat menduduki sebuah jabatan publik. Namun, Nabi SAW tidak memperkenankan permintaan itu, padahal ia adalah seorang sahabat yang saleh dan dekat dengan beliau.
Sebab, penilaian Nabi SAW didasarkan pula pada aspek meritokrasi, bukan nepotisme. Dalam pandangan Rasulullah SAW, Abu Dzar belum pantas menduduki jabatan karena besarnya amanah yang akan ditanggungnya.
Lebih lanjut, Rasulullah SAW menekankan dua hal yang harus terpenuhi ketika menduduki sebuah jabatan, yaitu kepantasan dalam mengembannya dan cara memperoleh jabatan pun mesti secara baik.
Jadi, jika memang kerabat atau orang dekat memliki kemampuan yang dibutuhkan, tidak mengapa untuk mengisi jabatan. Namun, bisa saja kedekatan tidak menjadi jalan untuk meraih jabatan, selama memang kapabilitasnya diragukan.
Kisah Ular Dalam Alquran
Ular merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. [508] url asal
#ular-dalam-alquran #kisah-ular #kisah-nabi-musa #mukjizat-nabi-musa
(Republika - Khazanah) 24/07/24 20:07
v/11959752/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ular merupakan salah satu hewan yang disebutkan dalam Alquran. Sejumlah ayat menyinggung perihal ular dalam kaitannya dengan mukjizat para utusan-Nya, seperti Nabi Musa AS. Salah seorang rasul yang bergelar ulul azmi itu menghadapi Firaun yang didampingi pembesar istana dan kalangan penyihir.
Dalam surah al-A’raf ayat 104-107 dijelaskan, artinya, “Dan Musa berkata: ‘Hai Firaun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.’
Firaun menjawab: ‘Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya (tsu’ban mubiin).”
Dalam surah lain, Allah SWT menerangkan pertemuan yang lebih terdahulu, yakni antara Musa AS dan ular sebagai tanda kekuasaan-Nya. Seperti dikisahkan dalam surah al-Qasas ayat 30-32, yang berarti, “Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: ‘Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam. dan lemparkanlah tongkatmu.
Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit (ka annahaa jaan), larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh.
(Kemudian Musa diseru): ‘Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.’”
Senada dengan ayat di atas, surah Ta Ha juga menuturkan tentang keadaan Nabi Musa AS ketika pertama kali menerima wahyu. Saat itu, Allah SWT menyuruhnya agar melemparkan tongkat yang sedang dipegangnya. Seketika, tongkat itu berubah menjadi ular. “Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat (hayyatun tas’aa)” (QS Ta Ha: 20).
Istilah untuk ‘ular’ dalam ayat-ayat di atas berlainan, yakni tsu’ban mubiin, ka annahaa jaan, dan hayyatun tas’aa. Sebagian ahli tafsir mengatakan, hal itu dapat dipahami sebagai sebuah proses.
Pada awalnya, tongkat Nabi Musa AS berubah menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat, dan akhirnya ular besar yang sebenarnya. Ada pula yang menafsirkan, tongkat Nabi Musa AS telah berubah menjadi seekor ular yang lincah dan gesit seperti halnya ular kecil. Namun, wujudnya sangat menakutkan seperti ular besar.
Sebagian mufasir yang lain mengatakan, perbedaan ungkapan itu disebabkan tempat terjadinya mukjizat yang berlainan. Menurut pendapat ini, perubahan bentuk tongkat itu menjadi ular jantan yang besar terjadi pada saat Nabi Musa AS di hadapan Firaun. Adapun perubahannya menjadi ular kecil terjadi pada malam hari ketika Nabi Musa AS menerima wahyu untuk pertama kalinya.
Perbedaan penyebutan bentuk ular dalam kisah Nabi Musa AS itu merupakan salah satu bukti kehebatan Alquran. Setiap diksi yang digunakan harmonis, sesuai situasi dan konteks kisah secara keseluruhan. Kalau tongkat itu, umpamanya, hanya berubah menjadi seekor ular yang merayap, mengapa Musa AS melihat ular itu bergerak gesit. Demikian pula, betapa besar ular itu yang awalnya mewujud tongkat Nabi Musa itu sehingga Firaun begitu takut.
Ayat Alquran Ini Ungkap Pesan Allah SWT untuk Nabi Musa Hadapi Kiamat
Kiamat merupakan salah satu rahasia Allah SWT [535] url asal
#kiamat #tanda-kiamat #tanda-tanda-kiamat #kiamat-nabi-musa #nabi-musa #kisah-nabi-musa #hari-kiamat #surat-taha-ayat-10-16
(Republika - Khazanah) 24/07/24 18:48
v/11954552/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Umat Islam diwajibkan meyakini akan datangnya hari kiamat, yakni hari pembalasan atau hari semua orang diadili dengan seadil-adilnya berdasarkan amal perbuatannya di dunia.
Hari kiamat adalah rahasia yang hanya diketahui Allah SWT. Manusia hanya bisa melihat tanda-tanda semakin dekatnya hari kiamat berdasarkan sabda Rasulullah SAW.
Dalam Surat Taha ayat 10 sampai 16 dikisahkan pembicaraan Nabi Musa alaihissalam dengan Allah SWT, di dalamnya disinggung tentang hari kiamat.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
اِذْ رَاٰ نَارًا فَقَالَ لِاَهْلِهِ امْكُثُوْٓا اِنِّيْٓ اٰنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّيْٓ اٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِقَبَسٍ اَوْ اَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى
“(Ingatlah) ketika dia (Musa) melihat api, lalu berkata kepada keluarganya, “Tinggallah (di sini)! Sesungguhnya aku melihat api. Mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu atau mendapat petunjuk di tempat api itu.” (QS Taha Ayat 10).
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَلَمَّآ اَتٰىهَا نُوْدِيَ يٰمُوْسٰٓى ۙ
“Ketika mendatanginya (tempat api), dia (Musa) dipanggil, “Wahai Musa.” (QS Taha Ayat 11). Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
اِنِّيْٓ اَنَا۠ رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَۚ اِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى ۗ
“Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Lepaskanlah kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, yaitu Tuwa.” (QS Taha Ayat 12)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَاَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوْحٰى
“Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). (QS Taha Ayat 13)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
"Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka, sembahlah Aku dan tegakkanlah sholat untuk mengingat-Ku." (QS Taha Ayat 14)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
اِنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى
Sesungguhnya hari Kiamat itu (pasti) akan datang. Aku hampir (benar-benar) menyembunyikannya. (Kedatangannya itu dimaksudkan) agar setiap jiwa dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan. (QS Taha Ayat 15)
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ فَتَرْدٰى
“Janganlah engkau dipalingkan darinya (iman pada hari Kiamat) oleh orang yang tidak beriman padanya dan mengikuti hawa nafsunya sehingga engkau binasa.” (QS Taha Ayat 16)
Pada Surat Taha Ayat 15, Allah SWT menerangkan bahwa hari Kiamat itu pasti datang, tetapi Allah SWT sengaja merahasiakan dan tidak menjelaskan waktunya, kapan hari Kiamat itu terjadi.
Sengaja Allah SWT merahasiakan waktu terjadinya hari Kiamat, agar dengan demikian manusia selalu berhati-hati dan waspada serta siap untuk menghadapinya.
Dirahasiakannya kedatangan hari Kiamat sama halnya dengan dirahasiakannya kapan ajalnya seseorang itu tiba. Tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui kapan dan di mana ia akan mati.
Apabila seseorang mengetahui kapan ajalnya tiba tentunya ia akan berbuat semau hatinya, menurutkan hawa nafsunya, mengerjakan segala macam maksiat yang dikehendakinya. Sesudah ajalnya dekat barulah ia tobat dan Allah SWT akan menerima tobatnya sesuai dengan janji-Nya.
Tetapi kalau ia tidak tahu kapan ajalnya tiba, tentunya ia selalu hati-hati, perintah dikerjakannya, larangan dijauhinya. Apabila ia berbuat masiat, segera ia bertobat karena takut kalau ajalnya datang mendadak sebelum ia bertobat.
Jadi, gunanya kiamat dirahasiakan adalah supaya manusia giat berbuat baik, bila manusia yang seharusnya berbuat baik tetapi ia berbuat jahat, maka sangat pantaslah orang itu dihukum. Oleh karena itulah sangat adil bila yang berbuat baik itu diberi imbalan dan yang berbuat jahat diberi azab.
Pada Surat Taha Ayat 16, dijelaskan meski ayat ini ditujukan kepada Nabi Musa, tetapi itu merupakan pelajaran bagi kaum Muslimin. Allah meminta agar kita tidak terpengaruh oleh orang-orang yang tidak percaya kepada hari Kiamat dan orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya. Kalau kita ikuti keinginan orang-orang itu, maka kita akan merugi dan menyesal. Harta kekayaan, kemewahan tidak akan dapat menolong kita dari azab Allah. (Tafsir Kementerian Agama)