#30 tag 24jam
Kisah-Kisah Ular yang Diabadikan dalam Alquran
Alquran mengabadikan kisah-kisah ular. [679] url asal
#alquran #kisah-ular-dalam-alquran #ular #kisah-ular #islam #tafsir-alquran
(Republika - Iqra) 23/09/24 14:00
v/15505039/
REPUBLIKA.CO.ID, TAIF -- Kisah-kisah ular diabadikan dalam Alquran. Kebanyakan ayat-ayat tersebut berkaitan dengan kisah mukjizat yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Musa. Dalam ayat Alquran digambarkan apa yang terjadi saat pertemuan antara Nabi Musa dan Firaun.
"Dan Musa berkata, “Wahai Fir'aun! Sungguh, aku adalah seorang utusan dari Tuhan seluruh alam, aku wajib mengatakan yang sebenarnya tentang Allah. Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku.” Dia (Fir'aun) menjawab, “Jika benar engkau membawa sesuatu bukti, maka tunjukkanlah, kalau kamu termasuk orang-orang yang benar.” Lalu (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya." (al-A'raf :104-107)
Ular disebut tsu‘ban, hayyan, dan jan. Dalam cerita Nabi Musa dikisahkan bahwa tongkat yang ia lemparkan berubah menjadi seekor ular yang merayap (hayyatun
tas‘a) (Toha: 20). Di tempat lain disebutkan tongkat itu bergerak- gerak laksana seekor ular yang gesit (ka'annaha jan) (al-Qasas: 31).
Disebutkan pula bahwa tongkat itu berubah menjadi ular yang sebenarnya (su‘banun mubin) (al-A'raf: 107, asySyu'ara': 32). Perbedaan ungkapan itu bisa dipahami dengan menjadikan beberapa peristiwa itu sebagai sebuah proses.
Artinya, pada awalnya tongkat itu berubah menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat, kemudian berubah menjadi seekor ular kecil yang gesit, dan akhirnya menjadi ular besar yang sebenarnya. Ada pula yang menafsirkan bahwa tongkat Nabi Musa telah berubah menjadi seekor ular yang lincah dan gesit seperti ular
kecil, namun sangat menakutkan seperti ular besar.
Sebagian mufasir yang lain mengatakan bahwa perbedaan ungkapan itu disebabkan perbedaan tempat terjadinya mukjizat—mukjizat terjadi berkali-kali di tempat yang berbeda. Menurut yang terakhir ini perubahan bentuk tongkat menjadi ular jantan yang besar terjadi di hadapan Firaun, sedangkan perubahannya menjadi ular kecil terjadi pada malam ketika Nabi Musa diseru Allah untuk pertama kalinya.
Ada juga yang memahami su'ban berarti ular yang panjang dan lincah, hayyah berarti tumpukan badan ular yang menyatu dan menakutkan, sedang jan berarti ular
yang sangat menakutkan. Perbedaan penampakan ular itu disesuaikan dengan tempat, sasaran, dan tujuan penampakannya.
Perbedaan penyebutan bentuk ular dalam kisah Nabi Musa merupakan salah satu bukti kehebatan Alqur'an dalam memilih kata-kata yang harmonis sesuai situasi dan konteks kisah secara keseluruhan. Kalau tongkat itu hanya berubah menjadi seekor ular yang merayap, mengapa Musa melihat ular itu bergerak gesit dan seberapa besar ular itu hingga membuat Firaun begitu takut ketika Musa melemparkan tongkatnya, masih perlu jawaban.
Pertemuan Musa dan Firaun merupakan kisah yang sering diulang dalam al-Qur'an, bahkan bisa dikatakan kisah ini adalah peristiwa yang paling banyak diulang dari sekian banyak pengulangan kisah-kisah dalam AlQur'an. Pemunculan mukjizat ular ini dapat dipahami sebagai upaya Al-Qur'an untuk menunjukan arti penting pertemuan Musa dan Firaun.
Bahwa pada setiap zaman akan ada perseteruan antara yang hak dan batil, yang berkesudahan dengan kemenangan yang hak dan berasal dari Allah. Dalam Surah Toha: 66 dan asy-Syu'ara': 44, ular-ular yang dilemparkan oleh penyihir-penyihir Firaun diungkapkan dengan lafal hibal.
Hibal (plural) dalam dua ayat ini oleh para mufasir ditafsirkan sebagai tali, yakni tali yang terlihat oleh mata manusia. Tali-tali tersebut dengan pengaruh sihir mereka tampak seperti ular-ular yang bergerak dan menjalar untuk menakuti Nabi Musa. Akhirnya, berkat mukjizat yang diberikan Allah, Nabi Musa melemparkan tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular besar yang memakan ular-ular penyihir Firaun. Ini membuktikan betapa sihir tidak akan dapat mengalahkan mukjizat Allah.
Nabi Musa agak takut dan ragu untuk bernegosiasi dengan Firaun dan para pejabatnya. Sementara ulama mengatakan bahwa Musa bukannya ragu untuk menjalankan misi tersebut. Ia sangat yakin akan perintah dan janji Allah, hanya saja ia belum sepenuhnya mendalami apa yang Allah bebankan kepadanya.
Lebih-lebih, Musa sedang mempunyai masalah yang belum terselesaikan dengan Firaun saat itu. Musa dikejar-kejar tentara Firaun karena salah seorang anak buahnya mati di tangan Musa. Belum lagi masalah itu selesai, Allah justru memintanya menemui Firaun dan mengingatkannya akan eksistensi Allah.
Karena pertimbangan itu ia menyatakan keberatannya dari sudut manusiawinya, suatu hal yang kemudian dijawab oleh Allah dengan mengijinkan Harun, saudara Musa, untuk ikut dengannya dalam misi ini.
Kisah Ular Dalam Alquran
Ular merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT. [508] url asal
#ular-dalam-alquran #kisah-ular #kisah-nabi-musa #mukjizat-nabi-musa
(Republika - Khazanah) 24/07/24 20:07
v/11959752/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ular merupakan salah satu hewan yang disebutkan dalam Alquran. Sejumlah ayat menyinggung perihal ular dalam kaitannya dengan mukjizat para utusan-Nya, seperti Nabi Musa AS. Salah seorang rasul yang bergelar ulul azmi itu menghadapi Firaun yang didampingi pembesar istana dan kalangan penyihir.
Dalam surah al-A’raf ayat 104-107 dijelaskan, artinya, “Dan Musa berkata: ‘Hai Firaun, sesungguhnya aku ini adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam, wajib atasku tidak mengatakan sesuatu terhadap Allah, kecuali yang hak. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku.’
Firaun menjawab: ‘Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka datangkanlah bukti itu jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang benar.’ Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya (tsu’ban mubiin).”
Dalam surah lain, Allah SWT menerangkan pertemuan yang lebih terdahulu, yakni antara Musa AS dan ular sebagai tanda kekuasaan-Nya. Seperti dikisahkan dalam surah al-Qasas ayat 30-32, yang berarti, “Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: ‘Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam. dan lemparkanlah tongkatmu.
Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit (ka annahaa jaan), larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh.
(Kemudian Musa diseru): ‘Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.’”
Senada dengan ayat di atas, surah Ta Ha juga menuturkan tentang keadaan Nabi Musa AS ketika pertama kali menerima wahyu. Saat itu, Allah SWT menyuruhnya agar melemparkan tongkat yang sedang dipegangnya. Seketika, tongkat itu berubah menjadi ular. “Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat (hayyatun tas’aa)” (QS Ta Ha: 20).
Istilah untuk ‘ular’ dalam ayat-ayat di atas berlainan, yakni tsu’ban mubiin, ka annahaa jaan, dan hayyatun tas’aa. Sebagian ahli tafsir mengatakan, hal itu dapat dipahami sebagai sebuah proses.
Pada awalnya, tongkat Nabi Musa AS berubah menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat, dan akhirnya ular besar yang sebenarnya. Ada pula yang menafsirkan, tongkat Nabi Musa AS telah berubah menjadi seekor ular yang lincah dan gesit seperti halnya ular kecil. Namun, wujudnya sangat menakutkan seperti ular besar.
Sebagian mufasir yang lain mengatakan, perbedaan ungkapan itu disebabkan tempat terjadinya mukjizat yang berlainan. Menurut pendapat ini, perubahan bentuk tongkat itu menjadi ular jantan yang besar terjadi pada saat Nabi Musa AS di hadapan Firaun. Adapun perubahannya menjadi ular kecil terjadi pada malam hari ketika Nabi Musa AS menerima wahyu untuk pertama kalinya.
Perbedaan penyebutan bentuk ular dalam kisah Nabi Musa AS itu merupakan salah satu bukti kehebatan Alquran. Setiap diksi yang digunakan harmonis, sesuai situasi dan konteks kisah secara keseluruhan. Kalau tongkat itu, umpamanya, hanya berubah menjadi seekor ular yang merayap, mengapa Musa AS melihat ular itu bergerak gesit. Demikian pula, betapa besar ular itu yang awalnya mewujud tongkat Nabi Musa itu sehingga Firaun begitu takut.