Mengapa Homo Sapiens Hidup Lebih Lama dari Spesies Manusia Lain?
Satu per satu kerabat Homo sapiens menghilang. Homo sapiens menjadi spesies manusia yang hidup paling lama dibandingkan kerabat manusia lainnya. Halaman all
(Kompas.com) 25/07/24 13:00 12052422
KOMPAS.com -Manusia modern (Homo sapiens) adalah satu-satunya perwakilan pohon keluarga manusia yang masih hidup.
Sebelumnya, menurut Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian di Washington, D.C setidaknya ada sembilan spesies Homo, termasuk H. sapiens yang tersebar di seluruh Afrika, Eropa, dan Asia sekitar 300.000 tahun yang lalu.
Tapi satu per satu, kecuali H. sapiens menghilang.
Neanderthal dan kelompok Homo yang dikenal sebagai Denisovan sempat hidup berdampingan dengan H. sapiens selama ribuan tahun, dan mereka bahkan kawin silang, sebagaimana dibuktikan dengan potongan DNA mereka yang masih ada pada banyak orang saat ini.
Namun pada akhirnya, Denisovan dan Neanderthal juga lenyap. Sekitar 40.000 tahun yang lalu, menjadikan H. sapiens sebagai hominin terakhir yang tersisa.
Mengapa H. sapiens bertahan ketika semua kerabat kita punah?
Seperti dikutip dari Live Science, Homo erectus adalah spesies Homo pertama yang muncul, menyebar ke seluruh Afrika dan Asia Timur.
Selama ratusan ribu tahun, semakin banyak spesies yang menyusul: Homo heidelbergensis,Homo naledi, Homo floresiensis, dan Homo luzonensis, serta H. sapiens, Neanderthal, dan Denisovan.
Setelah muncul di Afrika, H. sapiens bermigrasi ke Eropa yang sudah menjadi rumah bagi Neanderthal. H. sapiens juga menuju ke Asia, tempat mereka akhirnya bertemu dengan Denisovan.
Bukti dari DNA manusia saat ini menunjukkan bahwa kelompok-kelompok ini berinteraksi, dan mungkin saja H. sapiens mengalahkan kelompok tersebut dan mungkin spesies Homo lain yang belum teridentifikasi.
“Meskipun kita tidak tahu apa peran kita dalam kepunahan mereka, tampaknya penyebaran kita di Afrika memberikan tekanan pada spesies lain melalui persaingan untuk mendapatkan sumber daya,” kata kata Elizabeth Sawchuk, kurator asosiasi evolusi manusia di Cleveland Museum of Natural History.
Strategi sosial yang fleksibel juga dapat membantu H. sapiens bertahan di tengah kepunahan spesies lain.
“Salah satu alasan mengapa kita bisa melakukan penyebaran dengan sangat efektif adalah karena kita telah belajar beradaptasi dengan berbagai lingkungan tidak hanya secara biologis, namun juga secara budaya melalui teknologi dan perilaku kita,” tambah Sawchuk.
“Spesies kita sangat sukses dalam berpindah-pindah dan kawin, yang mungkin menjadi salah satu alasan kita masih ada,” katanya lagi.
Perubahan iklim global juga diperkirakan berkontribusi terhadap kepunahan beberapa spesies Homo, tetapi sulit untuk mengatakan seberapa besar peran perubahan iklim itu dalam kepunahan.
Misalnya, spesies kita, Homo sapiens berevolusi di Afrika namun selamat dari Zaman Es di Eropa sedangkan Neanderthal yang beradaptasi dengan kondisi dingin, tidak bertahan.
Masuk akal jika penyebab kepunahan lebih dari sekedar iklim.
Pada akhirnya apa yang menghancurkan kerabat Homo kita menurut Sawchuk kemungkinan merupakan kombinasi beberapa faktor dengan sedikit kebetulan yang membuka peluang bagi H. sapiens untuk berkembang dan mengambil alih.
Kendati demikian, H. sapiens pun sebenarnya pernah nyaris punah. Analisis genetik baru-baru ini terhadap lebih dari 3.000 orang di kelompok Afrika dan non-Afrika menunjukkan keragaman genetik yang lebih rendah dari yang diperkirakan.
Para ilmuwan menelusuri hal tersebut berdasarkan hambatan perkembangbiakan antara 813.000 dan 930.000 tahun yang lalu yang menemukan populasi Homo global berada di angka sekitar 1.300 selama lebih dari 100.000 tahun.
“Penting untuk diingat bahwa kelangsungan hidup kita tidak terjamin,” kata Sawchuk.
#homo-sapiens #manusia #hominin #homo-sapiens-hidup-lebih-lama-dari-spesies-manusia-lain