Kinerja Waskita (WSKT) dan Penantian Proyek Bernilai Rp 3 Triliun
PT Waskita Karya Tbk (WSKT) kembali menelan pil pahit setelah laporan kinerja perseroan di semester I-2024 masih melanjutkan kerugian. - Halaman all
(InvestorID) 27/07/24 12:34 12294359
JAKARTA, investor.id – PT Waskita Karya Tbk (WSKT) kembali menelan pil pahit setelah laporan kinerja perseroan di semester I-2024 masih melanjutkan kerugian. Pada bagian yang lain, Waskita juga tengah menantikan penyelesaian dua proyek bendungan bernilai Rp 3,25 triliun yang kini terus dikebut.
Berdasarkan laporan keuangan Waskita yang dipublikasi baru-baru ini, emiten bersandi saham WSKT tersebut membukukan kerugian sebesar Rp 2,15 triliun pada paruh pertama 2024. Rugi itu membengkak dibandingkan rugi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2,07 triliun.
Penyebab menggelembungnya kerugian Waskita karena menurunnya pendapatan usaha perseroan dari Rp 5,27 triliun, menjadi Rp 4,47 triliun. Meski rugi, Waskita patut diapresiasi karena mampu melakukan efisiensi dari sisi beban pokok pendapatan yang semula Rp 4,81 triliun, defisit menjadi Rp 3,87 triliun.
Dalam laporannya, beban keuangan masih menjadi momok bagi salah satu anggota BUMN karya ini. Pasalnya, pada enam bulan pertama 2024, beban keuangan WSKT tercatat meningkat menjadi Rp 2,29 triliun ketimbang sebelumnya Rp 2,07 triliun.
“Beban keuangan merupakan beban bunga atas bank/non-bank, beban provisi, dan beban administrasi bank yang terkait dengan perolehan pinjaman Grup selama periode berjalan setelah dikurangi biaya bunga yang secar langsung dapat diatribusikan dengan biaya perolehan suatu proyek tertentu yang memenuhi syarat dan beban bunga atas utang obligasi,” tulis Manajemen Waskita Karya dalam laporan keuangan dikutip, Sabtu (27/7/2024).
Utang jangka pendek Waskita kepada perbankan sebagai pihak ketiga sebesar Rp 700 miliar. Kemudian utang bank yang jatuh tempo dalam setahun sebesar Rp 1,38 triliun dan utang obligasi sebesar Rp 1,36 triliun.
Jika ditotal, maka utang jangka pendek WSKT mencapai Rp 18,78 triliun dan utang jangka panjangnya mencapai Rp 63 triliun, sehingga utang Waskita secara keseluruhan menyentuh Rp 82,91 triliun.
Sementara jumlah ekuitasnya sebesar Rp 9 triliun. Dengan demikian, total aset Waskita yang berasal dari utang dan ekuitas hingga semester I-2024 sejumlah Rp 91,10 triliun, lebih kecil dibandingkan periode enam bulan tahun sebelumnya sebesar Rp 95 triliun.
Progres Bendungan Rp 3 Triliun
Di tengah performa perseroan yang masih bleeding itu, Waskita Karya mengumumkan progres pembangunan proyek Bendungan Jlantah dan Jragung di Jawa Tengah telah menunjukkan kemajuan cukup signifikan.
Kedua proyek dengan total nilai kontrak sebesar Rp 3,25 triliun tersebut diklaim bakal berperan strategis sebagai penyuplai air baku, pengendali banjir, sampai berpotensi menjadi pembangkit listrik tenaga mikro hidro.
Direktur Utama Waskita Karya Muhammad Hanugroho atau yang biasa disapa Oho mengungkapkan bahwa progress pembangunan Bendungan Jlantah saat ini sudah hampir selesai.
“Memasuki pekan keempat bulan ini, realisasinya bahkan sudah mencapai 86,09%,” ucap Oho saat meninjau langsung ke lokasi dengan didampingi Direktur Operasi II Waskita Karya Dhetik Ariyanto sekaligus berdiskusi dengan para tim di sana.
Dia menjealskan, bendungan yang didesain dengan tinggi 70 meter dari pondasi terdalam dan memiliki panjang 404 meter tersebut memiliki kapasitas tampung sebanyak 10,97 meter kubik (m3) dan kehadirannya akan membawa banyak manfaat.
Misalnya, sebagai penyuplai kebutuhan air baku 150 liter per detik (l/dt) bagi Kecamatan Jumapolo, Kecamatan Jumantono, Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar.
Selanjutnya, Bendungan Jlantah juga bermanfaat sebagai irigasi atau mengairi 1.494 hektar (ha) persawahan di Kecamatan Jatiyoso dan Jumapolo, kabupaten Karanganyar. Termasuk mampu mereduksi banjir hingga 70,33 meter kubik per detik (m3/dt) dengan volume 1,436 juta m3.
“Bendungan tersebut berpotensi pula sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro, dengan sebesar 625 kilowatt (kw),” beber Oho dalam keterangan resminya dikutip, Sabtu (27/7/2024).
Melihat lokasinya yang cukup strategis di antara Sungai Jlantah dan Sungai Puru di Desa Tlobo dan Karangsari, Oho bilang, Bendungan Jlantah dapat menjadi objek wisata, sehingga ada potensi mengembangkan sektor pariwisata dan agrowisata.
Berbeda dengan Jlantah, progres pembangunan Bendungan Jragung telah terealisasi hampir 50% dan ditargetkan pada bulan depan realisasinya meningkat menjadi 58%.
Oho menerangkan, bendungan Jragung yang berlokasi di Kabupaten Semarang ini akan menyuplai kebutuhan air baku di beberapa daerah di Jawa Tengah dengan cakupan sebesar 500 l/dt untuk Semarang, 250 l/dt ke Demak, dan 250 l/dt untuk Grobogan.
Sama seperti Jlantah, Bendungan Jragung juga menyimpan manfaat untuk menyuplai air irigasi di persawahan seluas 4.528 ha.
“Bendungan Jragung turut berpotensi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro berkapasitas sebesar 1.400 kw dan berpeluang untuk dikembangkan sebagai agrowisata,” jelas dia.
Sebagai informasi, dua proyesk bendungan berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) ini memiliki total nilai kontrak sebesar Rp 3,25 triliun yang terdiri atas nilai kontrak Bendungan Jlantah sebesar Rp 956 miliar dan Jragung senilai Rp 2,3 triliun.
“Waskita Karya sebagai BUMN Konstruksi berupaya menjaga kepercayaan pemerintah yang telah menunjuk kami untuk mengerjakan proyek Bendungan ini. Diharapkan bisa selesai tepat waktu, agar masyarakat segera dapat merasakan manfaatnya,” tutup Oho.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #wskt #wskt-saham #waskita-karya #bumn-karya #kinerja-waskita-semester-i-2024 #bendungan-jlantah #bendungan-jragung #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/market/368310/kinerja-waskita-wskt-dan-penantian-proyek-bernilai-rp-3-triliun