Laba Vale Indonesia (INCO) Semester I Longsor hingga 82%

Laba Vale Indonesia (INCO) Semester I Longsor hingga 82%

Vale Indonesia (INCO) membukukan penurunan drastis laba periode berjalan pada semester I-2024. - Halaman all

(InvestorID) 29/07/24 19:47 12556300

JAKARTA, investor.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 37,28 juta pada semester I-2024, longsor hingga 82% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 207,8 juta.

Pendapatan Vale Indonesia juga ambles 27,3% menjadi US$ 478,75 juta dari US$ 658,96 juta. Begitu juga dengan laba usaha yang terpangkas 74,6% menjadi US$ 48,87 juta dari US$ 192,91 juta. Laba bruto pun tergerus 72% menjadi US$ 61,58 juta dari US$ 220,47 juta.

Meski demikian, Vale Indonesia telah mencetak laba sebesar US$ 31,1 juta pada kuartal II-2024, meningkat signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya. Emiten berkode saham INCO tersebut juga menghasilkan EBITDA positif sebesar US$ 72,4 juta pada kuartal II-2024, naik 38% dibandingkan kuartal sebelumnya.

Presiden Direktur dan CEO Vale Indonesia (INCO), Febriany Eddy menjelaskan, laba kuartal II-2024 telah memperhitungkan kerugian yang belum terealisasi sebesar US$ 6,1 juta atas pengakuan nilai wajar aset derivatif, yaitu hak partisipasi dalam investasi perseroan di PT Kolaka Nickel Indonesia.

Esensi dari penyesuaian harga derivatif adalah kerugian yang tidak terealisasi dan bersifat non-operasional. “Jika dinormalisasi, kami mencatat laba sebesar US$ 35,9 juta pada kuartal II-2024, lebih tinggi 122% dibandingkan kuartal sebelumnya,” jelas dia dalam keterangannya, Senin (29/7/2024).

Adapun penjualan INCO pada kuartal II-2024 sebanyak 17.505 metrik ton nikel matte, yang menghasilkan pendapatan US$ 248,8 juta atau meningkat 8% dibandingkan kuartal sebelumnya. Hal itu disebabkan oleh realisasi kenaikan harga rata-rata nikel sebesar 12% menjadi US$ 14.214 per ton pada kuartal II-2024 dibandingkan US$ 12.651 per ton pada kuartal I-2024.

“Meskipun kondisi pasar yang tidak menentu, kami tetap berkomitmen untuk mengoptimalkan kapasitas produksi, meningkatkan efisiensi, dan mengurangi biaya,” tutur Febriany.

Sejalan dengan penurunan pengiriman pada kuartal tersebut, beban pokok pendapatan INCO turun menjadi US$ 207,3 juta pada kuartal II-2024 dibandingkan kuartal I-2024 yang sebesar US$ 209,8 juta. Penurunan total beban pokok pendapatan juga didukung oleh penurunan konsumsi bahan bakar dan batu bara, yang disertai dengan penurunan harga batu bara.

Volume Produksi 

Volume produksi INCO pada kuartal II-2024 sedikit turun 9% dibandingkan kuartal I-2024. Hal itu seiring kegiatan pemeliharaan, yang sangat penting untuk operasi perseroan dalam jangka panjang. Secara year on year (yoy), produksi perseroan hanya sedikit lebih rendah sebesar 2%, yang menunjukkan konsistensi kinerja.

Selain itu, INCO melaporkan bahwa produksi pada semester I-2024 lebih tinggi 3% dibandingkan semester I-2023. “Kami optimis dengan prospek produksi kami dan berharap operasi berjalan lancar hingga akhir tahun. Tujuan kami adalah mencapai target produksi sekitar 70.800 metrik ton nikel dalam matte pada 2024, meningkat dari target tahun lalu,” ungkap Febriany.

Adapun kas dan setara kas INCO mencapai US$ 832,1 juta pada 30 Juni 2024, naik dari US$ 730,8 juta pada 31 Maret 2024. INCO telah mengeluarkan belanja modal sekitar US$ 61 juta pada kuartal II-2024, meningkat dari US$ 57,4 juta pada kuartal I-2024.

“Kami akan terus menerapkan manajemen kas secara hati-hati untuk menjaga ketersediaan kas,” pungkas Febriany.

Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #inco #laba-inco #vale-indonesia #saham-inco #harga-nikel #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/market/368496/laba-vale-indonesia-inco-semester-i-longsor-hingga-82