Melepas Ketergantungan pada Sektor Tambang

Melepas Ketergantungan pada Sektor Tambang

Ekonomi NTB mengalami ketergantungan pada sektor pertambangan yang berpotensi mengancam kelestarian lingkungan. - Halaman all

(InvestorID) 30/07/24 08:52 12621931

JAKARTA, investor.id - Nusa Tenggara Barat, dengan keindahan alamnya yang memukau, sering disebut sebagai "tetasan surga". Namun, di balik keindahan itu, terdapat tantangan yang perlu diatasi, salah satunya adalah ketergantungan pada sektor pertambangan yang berpotensi mengancam kelestarian lingkungan.

Melihat hal ini, Bank Indonesia (BI) NTB mengambil peran aktif dalam mendorong implementasi ekonomi hijau sebagai solusi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Perubahan iklim yang semakin ekstrim, seperti peristiwa El Nino, telah memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas pertanian dan harga pangan. Kenaikan harga pangan, yang dikenal sebagai inflasi, menjadi perhatian serius bagi BI sebagai otoritas moneter yang memiliki mandat menjaga stabilitas nilai rupiah.

"Awalnya, BI sangat fokus pada ekonomi hijau karena dampak perubahan iklim yang ekstrim ini. Pemanasan global mengganggu suplai pangan dan menyebabkan inflasi," ujar Winda Putri Listya, Deputi Perwakilan BI NTB. Senin (29/7/2024).

Indonesia, termasuk NTB, telah berkomitmen untuk mencapai target net zero emission pada tahun 2060 sesuai dengan kesepakatan Paris. Komitmen ini mendorong BI di tingkat daerah untuk lebih aktif dalam mempromosikan ekonomi hijau.

"Kami di BI daerah terus berupaya mendorong ekonomi hijau. Kami melihat potensi besar NTB, terutama di sektor pariwisata dan pertanian yang bisa diintegrasikan dengan konsep ekonomi hijau," tambah Winda.

NTB memiliki potensi alam yang sangat kaya, namun struktur ekonominya masih sangat bergantung pada sektor pertambangan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, mengingat ketergantungan pada satu sektor dapat membuat ekonomi menjadi rentan.

"Kita harus diversifikasi ekonomi. Sektor pariwisata dan pertanian yang ramah lingkungan bisa menjadi alternatif yang menjanjikan," ungkap Winda.

BI NTB bersama pemerintah daerah telah mengidentifikasi sejumlah proyek investasi yang berpotensi besar dalam mendorong ekonomi hijau, seperti Energi Baru Terbarukan (EBT): Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dan angin. Pertanian Berkelanjutan: Penggunaan pupuk organik dan pengembangan sweet farming untuk menyerap karbon dioksida. Dan, Pariwisata Ramah Lingkungan: Pengembangan destinasi wisata yang berkelanjutan dan minim dampak lingkungan.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rumput laut memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menyerap karbon dioksida (CO2). Hal ini menjadikan NTB  memiliki banyak ekosistem rumput laut.

"Potensi rumput laut sangat besar. Kita bisa mengembangkan budidaya rumput laut yang berkelanjutan dan sekaligus berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon," ujar Winda.

Bank Indonesia NTB berperan penting dalam mendorong implementasi ekonomi hijau di NTB. Melalui berbagai inisiatif dan kerja sama dengan pemerintah daerah, BI berupaya membangun ekonomi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Potensi alam yang dimiliki NTB, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi kekuatan utama dalam mencapai tujuan tersebut.

Editor: Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #pertambangan #ebt #ntb #nusa-tenggara-barat #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/macroeconomy/368536/melepas-ketergantungan-pada-sektor-tambang