5 Pihak yang Siap "Hancurkan" Israel Bila Perang Besar Arab Terjadi
5 pihak ini disinyalir siap melayangkan serangan terhadap Israel apabila perang terjadi.
(Bisnis.Com) 31/07/24 14:58 12747729
Bisnis.com, JAKARTA - Israel mendapat banyak kecaman dari berbagai pihak setelah menewaskan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Iran, pada Rabu (31/7/2024).
Kematian Haniyeh bisa memicu perang besar Arab yang akan merugikan Israel, apabila tindakannya tidak berhati-hati.
Meski kerap diperingati dan diminta untuk melakukan genjatan senjata, Israel nampak tak peduli dan ingin terus melanjutkan perang di Gaza.
Qatar mengutuk keras serangan mematikan militer Israel terhadap pemimpin Hamas Ismail Haniyeh.
Negara yang menjadi penengah perang itu mengatakan bahwa tindakan sembrono Israel, bisa meningkatkan keterangan yang berujung kekacauan.
"Qatar mengutuk keras pembunuhan Dr. Ismail Haniyeh di Teheran dan menganggapnya sebagai kejahatan keji dan eskalasi berbahaya, serta pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan kemanusiaan," demikian pertanyaan Kemenlu Qatar yang dikutip Reuters.
Berikut ini 5 pihak yang menyatakan ancamannya terhadap Israel, di mana mereka bisa ikut terjun membela Palestina dalam perang yang teradi di Gaza.
Hamas
Kematian Pemimpin Ismail Haniyeh menyebabkan Hamas memberikan isyarat adanya perang terbuka terhadap Israel.
Juru bicara senior Hamas Sami Abu Zuhri menegaskan bahwa Hamas akan melancarkan perang terbuka untuk membebaskan Yerusalem.
Hizbullah
Melansir dari ABC News, bukan hanya Hamas yang ingin perang besar terjadi dengan Israel. Hizbullah, kemungkinan akan melayangkan perang yang banyak ditakuti oleh semua orang yang terlibat.
Hizbullah bukanlah lawan yang enteng. Pada tahun 2006, Israel kalah saat berperang dengan Hizbullah.
Selain itu, Hizbullah dilatih, diberi sumber daya, dan dipersenjatai oleh Iran. Terlebih mereka kini menguasai bandara internasional Beirut, dimana senjata dapat terbang dari Iran kapan saja.
Para pejuang Hizbullah pun jauh lebih terasah dan profesional dari pada Hamas.
Iran
Iran juga masih memiliki dendam kesumat, setelah Israel berkali-kali melayangkan serangan dan cuci tangan akan masalah tersebut.
Para pemimpin Iran turut menyalahkan Israel atas kecelakaan helicopter yang menyebabkan Presiden Ebrahim Raisi tewas.
Meskipun laporan menyebutkan bahwa cuaca menjadi penyebab kecelakaan helikopter. Namun sejumlah pihak mengklaim ada campur tangan Israel untuk melakukan sabotase.
Tak hanya itu, Iran juga dimungkinkan akan melayangkan serangan setelah rudal melayang ke beberapa wilayah di Teheran.
Pada April lalu, Israel terang-terangan melancarkan serangan di Damaskus, Suriah, yang menyebabkan beberapa orang menjadi korban.
Mantan komandan Korps Garda Revolusi Iran, Mohsen Rezaie pun mengklaim bahwa Israel akan membayar mahal atas serangan mematikan militernya yang menewaskan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh pada Rabu, (31/7/2024).
Klaim itu ditegaskan olehlaporan media pemerintah Iran, Rezaie. Namun perang besar ini tidak akan terjadi apabila belum ada persetujuan dari Petinggi Iran.
Sekutu Hizbullah...
Houthi
Apabila perang dimulai, Houthi disinyalir akan membantu sekutunya, Hizbullah, untuk melangsungkan serangan terhadap Israel.
Pihak Houthi pun sebelumnya telah memperingatkan Israel untuk berhenti melakukan agresi militer di pinggiran Ibu Kota Lebanon.
Turki
Kementerian Luar Negeri Turki menegaskan bahwa serangan mematikan tersebut bertujuan untuk meningkatkan cakupan perang di Gaza ke tingkat regional atau kawasan.
Kemenlu Turki juga menilai bahwa pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh oleh militer Israel di Teheran menjadi bukti bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tidak berniat mencapai perdamaian dengan Palestina.
"Telah terungkap sekali lagi bahwa pemerintah Netanyahu tidak memiliki niat untuk mencapai perdamaian," kata Kemenlu Turki dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Reuters.
Sebelumnya, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menjadi sorotan setelah memberikan ancaman serius bagi Israel.
Ia mengatakan bahwa Israel telah membuat kesalahan fatal. Erdogan kemudian mengisyaratkan bahwa Turki akan mengirimkan militer untuk memasuki Israel, demi membantu Palestina.
Erdogan menyampaikan Turki harus menjadi negara yang kuat sehingga bisa membantu Palestina. Hal ini sama seperti saat mereka melakukan intervensi ke Libya dan terlibat operasi militer Azerbaijan di Nagorno Karabakh.
"Kita harus sangat kuat agar Israel tidak dapat melakukan hal-hal konyol ini terhadap Palestina. Sama seperti kita memasuki Karabakh, sama seperti kita memasuki Libya, kita mungkin melakukan hal serupa kepada mereka," kata Erdogan pada Minggu (28/7), dikutip dari Reuters.
#israel #palestina #israel-vs-palestina #gaza #perang-di-gaza #israel-vs-hamas #pemerintah-israel #hamas #iran #hizbullah #houthi #turki #perang-besar-arab